THE LOYAL GUARDIANS (Part 3) : Truth Or Dare

The Loyal Guardians_melurmutia

 

Author : melurmutia

The Casts : EXO member

Genre : Family, Friendship

Rating : PG-15

Length : Series 

Disclaimer : I do not on the casts. Terinspirasi dari Kuroshitsuji. Ide cerita tetap murni dari author.

Note : Maaf aku baru posting sekarang karena sibuk banget dengan urusan kampus. Hehehe… Mianhaeyo~ Happy reading! ^^

Tolong beri komentar setelah dibaca ;)

Don’t plagiarize my post!

***************************************

 

 

Truth or dare!”

Kyungsoo menaikkan dagunya dengan tatapan geram di depan wajah Xiumin, seolah hendak menantang, membuat gardener di depannya salah tingkah.

Aish! Mau truth atau dare, semuanya sama saja kan?” Xiumin mencoba bertahan.

Tao dan Lay di security room hanya bisa geleng kepala dan melipat tangan di dada melihat dua guardian itu beradu mulut. Untuk ke sekian kalinya, Kyungsoo berhasil memergoki Xiumin terekam kamera pengawas yang diam-diam mencicipi Samgyetang (sup ayam ginseng) dari panci sebelum dihidangkan. Seperti biasa, Kyungsoo langsung meneriakinya truth or dare. Kalau Xiumin memilih truth, artinya ia benar-benar mengakui kesalahannya sehingga Kyungsoo akan mengadukannya ke Kris agar ia diberi hukuman. Sebaliknya, jika ia memilih dare, ia ditantang melaporkan dirinya sendiri ke Kris. Kedua pilihan itu tidak ada yang menguntungkannya.

“Kenapa kau pelit sekali? Tidak seperti Lay. Aku kan cuma mencicipi kuah supnya. Kau pikir jadi tukang kebun itu gampang apa? Energiku banyak terbuang. Tidak sepertimu yang hanya mengaduk-aduk sup di depan kompor sambil berkacak pinggang dengan sebelah tangan!” bela Xiumin dengan bibir maju.

Mata Kyungsoo langsung membulat dan hampir melompat keluar. Ia baru saja akan menjitak dahi Xiumin yang lebar. Namun, Tao sudah maju duluan, melerai mereka dengan kedua tangannya.

“Kalian berdua hentikan. Cepat kembali ke pekerjaan kalian! Xiumin, kau sudah menyiapkan bunga mawar putih favorit agassi? Bagaimana dengan kalian berdua? Apa hidangannya sudah siap di atas meja? Agassiakan sampai sebentar lagi,” ujar Tao datar.

Malam itu, ketiga guardian di depan Tao langsung berhambur keluar security room dengan tergesa-gesa begitu Tao menyodorkan pesan dari Kai bahwa ia dan agassi sudah memasuki gerbang Maiin Vision Village. Tao hanya menghela napas pendek dengan malas. Beberapa menit kemudian, dari monitor besar, mobil yang dikemudikan Kai sudah berbelok memasuki gerbang rumah sehingga ia hanya perlu menekan tombol di ruang monitoring itu untuk membuka gerbang.

***

Ya! kalian berdua kenapa tinggal diam saja? Jinjja!”

Mendengar lengkingan suara Chen, Baekhyun dan Chanyeol seakan baru sadar dari lamunannya. Keduahousekeeper itu bersama-sama membentangkan bed cover baru di kedua sisi tempat tidur. Mereka merapikan tempat tidur hingga tidak kusut sedikit pun. Ketiga guardian itu sedang membersihkan kamar tamu yang sudah sebulan ini tidak ada yang menempatinya.

“Menyebalkan sekali! Kenapa pesta pertunangan Tuan Suho dimajukan? Kita bahkan belum membereskan banyak hal dan tiba-tiba Kris sudah memberi perintah ini itu!” gerutu Baekhyun sambil memperbaiki letak dasinya di depan cermin.

Chanyeol menggulung bed cover lama yang berdebu dengan serampangan dan memasukkannya ke dalam keranjang cucian. Tidak lama kemudian, ia sudah ikut berada di depan cermin bersama Baekhyun, menata rambutnya dengan ujung jari. Chen juga ikut-ikutan membetulkan rompinya.

Molla! Tapi… menurutku pertunangan ini pasti demi kepentingan bisnis,” jawab Chanyeol tanpa menatap Baekhyun.

“Kudengar agassi seeorang anak pemilik hotel mewah,” Chen menambahkan.

Bingo! Ini permainan orang kaya! Kalian dengar rumor tidak? Mereka seperti hendak memanfaatkan Tuan untuk menyelamatkan hotel mereka yang sedang sekarat itu melalui perjodohan. Memangnya siapa yang bisa mengalahkan kekuatan resort Tuan Suho!” seru Chanyeol sambil mengangguk yakin dan berjalan mundur perlahan-lahan dari cermin.

PRANGGG!!!

Chanyeol terlalu bersemangat membanggakan tuannya, membanding-bandingkan orang yang paling ia hormati itu dengan orang lain sehingga ia tidak sadar menyenggol vas bunga berisi mawar putih segar rangkaian Xiumin di tepi bufet dengan lengannya. Sontak Chen dan Baekhyun langsung berbalik dari cermin dengan mata melotot.

“YA! PARK CHANYEOL!!!” teriak Baekhyun kaget dan mendesah frustrasi melihat kepingan vas bertebaran di lantai. Ia mengacak-acak rambutnya yang sebelumnya telah tertata rapi. “Aishhh kau membuat pekerjaan baru lagi! Agassi sebentar lagi datang. Bagaimana kalau ia terluka karena menginjak ini? Tuan akan…. aigooaku tidak mau tahu! Jangan libatkan aku!”

“Aku akan melaporkanmu ke Kris!” ancam Chen sambil menunjuk-nunjuk Chanyeol dengan ujung penyedot debu.

“Hei aku kan nggak sengaja,” T___T Chanyeol mematung kaku.

Baekhyun benar-benar tidak mau ambil pusing lagi, membuat Chanyeol ikut protes. Namun, sesuatu terlintas di pikiran Chen begitu saja yang membuatnya terdiam sejenak. Ia langsung tersenyum jahil lalu menyuruh kedua temannya itu berhenti berkomat-kamit dan membisiki mereka sesuatu.

“Serahkan semua padaku!” kata Chen enteng. “Biar aku yang bersihkan semua ini. Asal kalian mau mengikuti permainanku.”

Mworago?” seru Baekhyun dan Chanyeol bersamaan dengan alis terangkat.

Truth or dare…”

***

Kai melajukan mobil yang membawa tunangan Suho ke depan pintu masuk. Sehun dengan datar namun sigap langsung maju membukakan pintu mobil. Kaki jenjang dengan high heels berkilauan membuat mata para guardian yang berbaris berseberangan di depan pintu pun melirik. Luhan menurunkan barang bagasi dan bersama Sehun berjalan di belakang gadis itu. Agassi berambut cokelat panjang dengan balutan dress putih elegan mulai menjajaki tangga hendak memasuki rumah. Para guardian serentak membungkuk pelan seraya gadis itu berjalan melewati mereka, meninggalkan wangi parfum lembut di udara. Di sisi lain, dalam posisinya yang sedang membungkuk memberi hormat, jantung Chanyeol berdegup cepat tak keruan.

Kalau kau memilih truth, kau harus mengakui kesalahanmu ini ke Kris dan mendapatkan hukumanmu. Kalau kau memilih dare, aku janji tidak akan melaporkanmu ke Kris. Sebagai gantinya, kau harus melakukan ini…

A… annyeonghaseyo aga..ssi. Jeoneun… Park Chanyeol imnida!”

Gadis itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik ke kiri dengan perlahan, menatap lelaki jangkung yang berdiri tegap seorang diri dengan wajah pucat pasi. Para guardian lain membesarkan mata, mulut mereka terbuka lebar, melirik pelan housekeeper yang telah bertingkah tidak sopan terhadap tunangan tuan mereka dengan tatapan tidak percaya. PABO!!! Ini masalah besar! =___=

Chanyeol menelan ludah dan memasang senyum tipis. Kakinya bergetar hebat. Ia melirik Chen dan Baekhyun di depannya yang tersenyum geli. Heol! Lihat saja kalian nanti!

Namun, siapa yang menyangka bahwa gadis itu memberikan reaksi di luar dugaan. Ia menatap Chanyeol dari ujung kaki hingga ujung rambut dan tersenyum nakal. Ia mengedipkan sebelah matanya manis ke arahhousekeeper itu dan langsung melewati pintu masuk disusul Luhan dan Sehun. Kedua servant itu melotot menatap Chanyeol sejenak. Para guardian itu serempak menghantam bahu Chanyeol bertubi-tubi.

“Kau sadar apa yang kau lakukan barusan? Itu sama saja dengan pengkhianatan terhadap Tuan!” bisik Lay dengan nada meninggi.

“Bego! Bagaimana kalau agassi melapor kalau kau menggodanya di pintu masuk isshhh?” geram Xiumin.

“Kau tahu kan reaksi Tuan kalau marah. Ia kalap. Kau bisa mati!” teriak Kyungsoo pelan.

Chanyeol hanya menggaruk-garuk kepala. Tidak berpikir panjang. Ia sebelumnya hanya punya niat awal untuk bercanda bersama Baekhyun dan Chen. Lagipula, ia hanya menyapa gadis itu, bukannya mau menggodanya. Salah gadis itu kan yang duluan main mata kepadanya. Chanyeol mulai frustrasi. Diliriknya kamera pengawas yang terpasang di sudut kanan pilar sambil meringis.

“Mau bagaimana lagi,” keluhnya pasrah T^T

***

“Silahkan, Tuan…”

Sehun dengan sopan menyodorkan jam tangan biru. Suho terlihat berpikir sejenak dan menyipitkan pandangan pada jam tangan tersebut setelah mengambilnya dari kotaknya lalu berpaling memandang Sehun dan mengembalikan jam tangan itu pada servant-nya sambil tersenyum. Meski berwajah datar, Suho dapat melihat jelas raut kebingungan terlukis di wajah Sehun. Kenapa tidak dipakai? Begitu guardian tersebut memerhatikan lebih detail, jarum jam tangan mewah itu tidak bergerak. Mati.

Jeosonghamnida…

Sehun membungkuk pelan meminta maaf. Hal tersebut membuat Kris sempat melemparkan tatapan tajam kepadanya, membuat servant itu kembali menunduk dalam. Entah dengan cara apa lagi untuk melatih servantbodoh itu agar lebih tanggap sedikit dengan sekitarnya. Luhan pun datang membawakan jam tangan yang lainnya.

“Tuan, menurutku jam tangan ini cocok dipakai untuk bertemu agassi,” usul Luhan sambil tersenyum ramah, menyodorkan jam tangan putih.

“Hmm… ne, gomawoyo Luhan,” jawab Suho tersenyum ramah.

Sementara Suho sibuk mengenakan jas barunya, Kris melirik ponselnya dari saku celana dan memantau posisi Kai yang sebentar lagi hendak memasuki gerbang rumah.

“Kris, dimana mereka sekarang?” tanya Suho sambil tetap menatap dirinya dengan jas di cermin.

“Mereka sudah tiba di gerbang, Tuan,” jawab Kris pelan.

“Luhan, Sehun, kalian duluan ke bawah. Bawa dia ke teras dekat kolam renang. Aku akan menyambutnya di sana,” perintah Suho tegas.

Ne, algaesumnida!” jawab kedua servant itu bersamaan.

Luhan dan Sehun berjalan mundur untuk beberapa langkah sebelum menutup pintu kamar Suho. Kini Kris menyodorkan parfum kepada tuannya. Maskulin, namun tidak terlalu menyengat. Hening sesaat. Kris sama sekali tidak berniat angkat bicara duluan saat itu. Terlebih lagi setelah apa yang Suho perintahkan padanya sebelumnya. Ia lebih memilih diam.

“Kau sudah menyiapkan segalanya untuk pesta besok?” tanya Suho pelan.

Kris memberanikan diri menatap langsung wajah tuannya untuk beberapa lama. Tiba-tiba darahnya berdesir cepat, jantungnya berdetak lebih kencang. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap bersikap tenang. Dengan sopan ia mengiyakan. Suho lalu memberi kode untuk mengambilkan tab di atas meja. Setelah menyentuh beberapa icon di layarnya, ia melihat tunangannya berdiri di depan pintu masuk sedang menatap nakal salah satu guardiannya lalu mengedipkan sebelah mata. Senyum Suho mengembang.

“………..truth or dare. Mana yang kau pilih pada akhirnya?”

Kali ini Kris benar-benar tersentak mendengar kata-kata Suho. Sang master menatapnya dengan ekspresi serius sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Suho masih menunggu jawaban Kris. Sang kepala pelayan itu menghela napas pelan sebelum menjawab. Tuannya ini benar-benar nekat, tidak main-main.

Dare.”

Jeongmalyo?” seru Suho tidak percaya. Ia tertawa kecil.

Ne… Apapun demi Tuanku…”

Suho terdiam mendengar jawaban tersebut dan kembali tersenyum lembut. Kris membungkuk pelan. Suho berpaling darinya sambil tetap tersenyum, berjalan melewati Kris, lalu terhenti. Ia menolehkan kepala ke arahbutler-nya.

“Tapi… jangan terlalu keras padanya. Aku tidak mau dia terluka.”

Kris kembali mengiyakan dan membungkuk pelan seraya Suho meninggalkan ruangan seorang diri, tanpa didampingi olehnya. Saat Suho benar-benar meninggalkan kamarnya, baru Kris menghela napas berat. Ia terduduk malas di sofa kamar itu sambil menatap lampu gantung sejenak, memikirkan pertunangan besok. Ia lalu meraba saku celananya, mengeluarkan ponsel, menyentuh icon tertentu, menempelkan benda tersebut di telinganya sambil terus menatap lampu gantung elegan.

“Kai? Kau sendirian di sana? Mana Tao?”

Ani… Tao ada bersamaku di security room. Wae? Ya… Jadi, apa yang kau pilih? Truth? Dare?

Dare,” jawab Kris singkat sambil memutar bola mata. Suara Kai seperti sedang mengunyah sesuatu. Apa mereka berdua sedang makan?

Jinjja? Wuooohh pesta pertunangan besok pasti sangat mengesankan! Hahaa…

***

Malam semakin larut. Baekhyun, Chanyeol, Xiumin, dan Chen sedang mengintip Kyungsoo, Lay, Luhan, dan Sehun sedang melayani tunangan Suho menikmati hidangan pembuka di teras kolam renang. Keduahousehold cook dan servant itu tersenyum. Sepertinya mereka berdua mendapatkan pujian atas makanan lezat yang tersaji di meja. Gadis itu juga sesekali mencium wangi bunga mawar putih rangkaian Xiumin.

“Astaga… Lihat agassi itu. Dia memeluk bunga pemberianku sejak tadi,” kata Xiumin sambil berbinar.

“Hush! Diamlah!” Chen menyenggol lengan Xiumin.

“Tapi… meskipun cantik menurutku gadis itu sepertinya tidak sebaik yang kuduga. Buktinya kenapa ia main mata ke Chanyeol tadi?” tanya Baekhyun kepada dirinya sendiri.

“Wah… kau cemburu padaku, ya?” tebak Chanyeol asal, membuat Baekhyun ingin muntah mendengarnya.

Michyeosseo? Cemburu apanya? Sial! =__=” sangkal Baekhyun dengan cepat.

Mereka berempat lalu melihat Suho turun tangga dari lantai dua seorang diri menuju kolam renang. Otomatis para guardian itu merapatkan diri di tempat persembunyian mereka. Dari jauh mereka melihat Suho yang sudah berdiri di dekat gadis itu. Kyungsoo, Lay, Luhan, dan Sehun langsung membungkuk. Merasa kurang mendapatkan informasi karena tempat persembunyian para guardian itu kurang strategis, mereka memutuskan untuk pindah ke tempat persembunyian yang lebih dekat dengan kolam renang. Suho lalu menyuruh Kyungsoo, Lay, Luhan, dan Sehun untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Kedelapan guardian itu pun berkumpul layaknya segerombolan kambing mengintip di balik celah dinding, menyaksikan suasana romantis yang sangat tidak patut untuk mereka saksikan sambil mencuri dengar.

“Kau menyukai suasana rumah ini?” tanya Suho lembut.

Ne… Terima kasih untuk mawar putih ini. Indah sekali,” jawab gadis itu tersipu.

Para guardian yang sedang mengintip langsung menjulurkan lidah dengan jengkel, tidak menyukai bagaimana tuan mereka dipermainkan olehnya. Ular berbisa.

“Syukurlah kalau kau menyukainya,” tambah Suho tanpa mengalihkan pandangannya pada gadis itu.

“Tapi… ngg… Kim Joonmyun ssi, besok adalah hari pertunangan kita. Bolehkah aku… aku…”

Tanpa pikir panjang, Suho mengulurkan sebelah tangannya kepada gadis itu, membuat gadis itu berbinar sambil tersenyum lebar. Ia menyambut tangan Suho yang hangat. Suho berjalan mundur beberapa langkah lalu tiba-tiba menarik gadis itu ke dekatnya dan dalam sekejap, gadis itu sudah berada dalam rangkulannya. Para guardian yang mengintip serentak menutup mulut mereka dengan kedua tangan. Mereka tiba-tiba menggebu-gebu.

“Gawat! Ayo kita pergi. Jangan mengintip lagi! -___-“ pinta Lay kepada teman-temannya.

Pabo! Kenapa kita harus pergi? Sekarang bagian yang seru >O<!!!” ujar Baekhyun bersemangat.

Cahaya lampu di halaman tersebut membuat suasana kian romantis. Cahaya bulan menambah terangnya remang malam. Mereka melihat kedua orang di tepi kolam itu saling menatap satu sama lain untuk beberapa lama. Suho lalu membelai rambut gadis itu begitu lembut.

“Kenapa?”

“Bolehkah aku… mengenalmu lebih jauh lagi, Suho ssi?”

Suho terdiam mendengar cara gadis itu menyebut namanya. Ia tersenyum dan membisikkan sesuatu kepada gadis itu.

May I…”

Gadis itu tidak butuh waktu lama untuk menjawab.

Just do it…”

Di kejauhan, para guardian itu melihat tuannya mendekatkan wajahnya secara perlahan ke hadapan gadis itu, menutup mata, dan mengecup lembut bibir gadisnya, membuat para guardian itu terkejut, panas, kelabakan, salah tingkah, segala macam! Chanyeol sampai tidak berkedip menyaksikannya sambil menutup kuat-kuat mata Baekhyun dengan tangannya, membuat temannya itu kian memberontak.

Ya! Lepaskan! Yaaa!!!! ;;;A;;;)” jerit Baekhyun pelan, berusaha menyingkirkan tangan Chanyeol dari pandangannya.

Mwoya ige…” @___@ Kyungsoo sampai tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Guardian lain menjerit-jerit pelan tidak jelas, wajah mereka ikut memerah, kecuali dua servant itu. Luhan dan Sehun. Mereka menatap Suho dan gadis itu dengan raut wajah yang sulit ditebak, tenang. Mereka berdua tersenyum bersamaan.

Truth or dare…

***

Sore itu di ruang tengah yang luas, ditengah-tengah para tamu undangan dan wartawan, pria tua itu berdiri, tertawa senang mengumumkan bahwa putri tunggalnya akan bertunangan dengan Suho. Pidato panjangnya sempat membuat Xiumin menguap diam-diam. Para guardian yang menyebar di beberapa lokasi pesta hanya bisa menatap pasrah tuannya yang berdiri di samping pria tua gemuk itu. Suho tersenyum berseri-seri setiap kali menerima pujian mengenai dirinya dan tunangannya.

“Karena itu… aku mempercayakan putriku padamu, Kim Joonmyun ssi!”

Sang ayah dari gadis itu mengarahkan tangannya ke ujung tangga lantai dua, membuat semua tamu undangan dan wartawan mendongak ke atas, menanti sang gadis untuk menuruni tangga dengan anggunnya. Namun, beberapa menit telah berlalu. Gadis itu tak kunjung turun. Ekspresi orang-orang itu berubah bingung dan Luhan dengan permisi berjalan cepat menuju lantai dua. Setelah beberapa saat, mereka menemukan Luhan menuruni tangga seorang diri dengan ekspresi serius, membisikkan sesuatu di telinga Suho. Tuannya itu menatap Luhan dengan raut wajah yang sama seriusnya. Luhan lalu menyodorkan ponsel yang ditemukannya di kamar tidur gadis itu dan membiarkan sang ayah membacanya.

Mianhaeyo, abojie… Aku tidak bisa…

Suasana pesta langsung tak terkendali. Para tamu mulai bertanya-tanya, saling mengeraskan suara mengenai keberadaan gadis itu. Para wartawan ikut mengerumuni ayah sang gadis yang marah bukan main dengan sikap kurang ajar putrinya yang mempermalukannya dan juga Suho di hadapan publik. Yang ada dalam pikirannya, rencananya untuk menyelamatkan hotelnya pun gagal. Ayah sang gadis berteriak-teriak frustrasi dan bertingkah kasar kepada setiap wartawan yang melontarkan beribu-ribu pertanyaan kepadanya. Sehun dan Luhan juga langsung membuka jalan, membawa Suho yang syok menuju kamarnya di lantai dua.

Di sisi lain, para guardian di lantai dasar dengan segala keterkejutan tersebut langsung berlari, berbaris menutupi tangga, menghalang para wartawan itu dengan susah payah untuk naik ke lantai dua. Situasi semakin ricuh.

“Aduuh… Arggghh… Mohon jangan naik ke atas. Mohon pengertiannya!” teriak Kyungsoo merentangkan kedua tangannya kepada para wartawan yang hendak menerobos.

“Jangan-jangan, ini semua gara-gara truth or dare konyolmu! Mereka batal bertunangan… AHHHHH T___T” seru Chanyeol kepada Chen yang ikut gelisah dan ketakutan. “Bagaimana kalau Tuan Suho tahu tentang kejadian di pintu masuk kemarin… AHHH MATILAH!!!”

MwoYa… mana mungkin -___-“ Chen berusaha tetap tenang. “Diamlah bodoh!”

“Bagaimana selanjutnya?” teriak Xiumin melirik guardian lain.

Molla…” jawab Lay singkat.

Di sudut matanya, para guardian lain tidak melepaskan pandangannya pada Suho, Luhan, dan Sehun yang berjalan ke kamar. Luhan dan Sehun sesekali mencuri pandang ke lantai satu. Suasananya kian ribut. Suho dengan kening berkerut tetap tenang menyusuri lorong kamarnya. Suho langsung berjalan masuk kamar dengan cepat, membiarkan Sehun menutup pintu kamar. Ia melepaskan jasnya dan mengerang kepanasan. Luhan menyetel suhu ruangan. Sehun menuangkan air ke dalam gelas, kali ini tidak tumpah. Ia lalu menyodorkannya ke Suho. Tuannya itu meneguk air putih itu sampai habis dan mendesah lega. Ia kembali memberi kode kepada Sehun untuk kembali menuangkan air. Sayang sekali untuk yang satu ini, Sehun meleset menuangkannya. Air itu sedikit mengenai punggung tangan Suho yang memegang gelas, membuat Luhan berteriak secara spontan.

“Ahhh Sehuna!!!”

Suho malah tertawa melihatnya. Ia mengibas-ngibaskan sebelah tangannya yang tidak memegang gelas ke udara.

Gwaenchanayo Luhan… Hahaha…”

Jeosonghamnida! Jeongmal jeosonghamnida!” Sehun membungkuk berkali-kali.

Suho malah menepuk pundak Sehun dan kembali meneguk air putih di gelasnya. Ia mengelap ujung bibirnya yang basah dengan punggung tangan sambil tertawa ringan.

“Bagaimana? Truth or dare kali ini menyenangkan bukan?” canda Suho kemudian. “Kuharap guardian lain di bawah baik-baik saja menangani para wartawan itu.”

Luhan dan Sehun saling menatap dalam senyum, seakan bersekongkol dengan tuannya.

“Tapi, Tuan… Bagaimana kelanjutan kontraknya?” tanya Luhan santai.

“Aku sama sekali tidak melihat adanya prospek yang lebih bagus lagi di hotel mereka walaupun sedikit kubantu. Itu merugikanku. Ya… anggap saja media mengetahui hal ini sebagai bentuk penolakan mereka bekerja sama denganku… Setidaknya media berada di pihakku. Ahh Sehun, tolong siapkan piyamaku. Luhan, siapkan air panas untukku!” ujar Suho merebahkan dirinya ke sofa dengan senyum lebar. Ia meregangkan seluruh tubuhnya.

NeAlgeseumnida…” jawab kedua servant itu berseri-seri.

***

“Kau mau roti coklat ini?” tanya orang bertopeng rajut hitam itu lembut sambil berlutut pada gadis di depannya.

Gadis itu berteriak meronta-ronta di sudut ruangan, duduk sambil memeluk kedua lututnya, menangis menendang-nendang orang yang ada di depannya, meneriakinya agar segera menjauh.

“Aku mohon lepaskan aku… Hari ini… hari pertunanganku… Wae…”

Orang itu hanya meletakkan roti coklat di atas meja dan bergegas keluar ruangan dan menguncinya dari luar. Tiba-tiba gadis itu bangkit dari tempatnya dan menggedor-gedor pintu.

“Keluarkan aku! Beri tahu aku jumlah uang tebusanmu! Suho akan membayarmu bahkan memberimu lebih. Aku mohon, keluarkan aku!!!”

Lelaki itu mendesah keras sambil berkacak pinggang. Ia membuka topeng rajut hitam yang menutupi wajahnya karena kepanasan, memperbaiki rambutnya yang berantakan dan basah oleh keringat dengan kesal. Ia menggebungkan kedua pipinya sambil menatap langit-langit. Setidaknya, gadis itu tidak melihat wajahnya.

“Sudah aku bilang beberapa kali agassi. Kami tidak akan meminta uang tebusan, ataupun membunuhmu, atau berbuat sesuatu yang buruk padamu. Kami cuma disuruh untuk membawamu ke sini. Kami bahkan dilarang menyakitimu!”

“Bohong! Siapa bos kalian? Kalau bukan demi semua itu, kenapa orang itu menyuruh kalian untuk menculikku?” teriak gadis itu dari balik pintu.

Aishhh kami tidak menculikmu agassiokay??? Kami kan tidak mengikat kaki dan tanganmu. Kami juga tidak menutup mulutmu dengan lakban! Kami hanya memintamu untuk tinggal sebentar di sini.”

Kojimal!!! Keluarkan aku!” tangis gadis itu pecah.

Sumpah nih cewek! -___-

Lelaki itu berjalan keluar gubuk kosong, meninggalkan gadis itu sendirian di dalamnya. Ia lalu menghampiri mobil yang terparkir di dekatnya, menghampiri dua orang temannya di sana.

“Bagaimana? Dia sudah mau makan?” tanya Kris.

Kai hanya melemparkan pandangan ke sepanjang hutan pinus di sekelilingnya dengan kesal. Tao tertawa terpingkal-pingkal.

“HAHAHAHAHA…. Bahkan playboy sepertimu tidak mempan!”

Mereka bertiga sudah bergantian masuk ke dalam membujuk gadis itu untuk makan. Percuma saja.

“Apa pestanya sudah berakhir? Sampai kapan juga kita di sini?” ujar Tao sambil melahap mie instannya. Kai tiba-tiba menyerobot ikut makan.

Kris menatap mereka berdua dengan malas. Dari kaca jendela mobil yang terbuka, ia menatap langit sore yang mulai menghitam sambil merenungi kembali percakapannya bersama tuannya. Merenungi betapa ia akan melakukan apapun, meski itu mempertaruhkan nyawanya. Ia bahkan tidak merasa bahwa apa yang sedang dilakukannya ini adalah hal gila. Di pikirannya, hanya berupa perintah biasa. Simpel. Demi sang master…

 

“Kau mau mengakui secara jujur tentang rencana jahatku ini di depan publik atau berani menahan gadis itu hingga acara pertunanganku batal? Truth or dare. Mana yang kau pilih pada akhirnya?”

“Dare.”

“Jeongmalyo?”

“Ne… Apapun demi Tuanku…”

“Tapi… jangan terlalu keras padanya. Aku tidak mau dia terluka.”

 

-To be continued-

Credit : mydearexo

One thought on “THE LOYAL GUARDIANS (Part 3) : Truth Or Dare

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s