THE LOYAL GUARDIANS (Part 2): The Chaos in the House

The Loyal Guardians_melurmutia

 

Author : melurmutia

The casts : EXO member

Genre : Family, Friendship, Comedy

Rating : General

Length : Series

Disclaimer : Terinspirasi dari Kuroshitsuji. Ide dan alur cerita tetap murni dari author.

Note : Part 2-nya udah ada ^^ tetap support fanfic-ku ya hehe

Tolong tinggalkan komentar setelah dibaca!

Don’t plagiarize my post!

**********************

 

“Permisi, Tuan!”

Kris meletakkan tangannya ke dahi Suho yang sedang terbaring di tempat tidurnya. Ia menarik tangannya setelah beberapa lama merasakan suhu tubuh tuannya itu dan tak mengatakan apa pun. Suho terlihat begitu terengah-engah, wajahnya memerah. Luhan kembali mengatur suhu ruangan. Bunyi kenop pintu kamar membuat perhatian kedua guardian itu teralihkan. Di ujung sana, Sehun datang membawa termometer dan obat penurun demam. Dengan canggung, Sehun berjalan ke arah Kris. Sang kepala pelayan itu menyambutnya dengan wajah dingin.

“Kenapa lama sekali? Apa yang kau lakukan?” bisik Kris pelan.

Yang ditanya hanya diam menunduk tanpa ekspresi. Kris tetap menatapnya dengan tajam. Luhan hanya mengembuskan napas pelan dan segera mengambil benda-benda itu dari tangan Sehun.

“Sudahlah Kris! Dia guardian baru. Wajar kan?” bela Luhan sambil tetap berbisik.

Setelah mendengar kata-kata Luhan, saat itu pula Kris kembali berpaling ke tuannya. Situasi ini benar-benar menyebalkan. Oh Sehun, guardian baru yang direkrut Suho, kemarin malam datang ke rumah itu dan mengejutkan seluruh guardian lain. Bukankah sebelumnya ia menolak bekerja untuk Suho? Kenapa harus datang tiba-tiba? Sekarang ini pun, Suho jatuh sakit. Ia bahkan tidak sempat memberikan pelatihan untuk guardian baru itu dan justru menjadi penghambat dalam pekerjaan mereka sekarang. Sungguh situasi yang tidak tepat.

“Berapa suhu tubuhnya?” tanya Kris kepada Luhan di sampingnya.

“38,2°C, tinggi sekali. Bagaimana ini?” jawab Luhan dengan mata membesar melihat angka termometer di tangannya.

Kris tidak memberikan tanggapan apapun. Ia menatap Suho yang memejamkan mata dengan datar. Tuannya itu sangat keras kepala. Harus dengan cara apa lagi ia harus membujuknya agar mau ke rumah sakit. Ia kembali teringat kejadian saat ia bersikeras membujuk Suho untuk berobat ke dokter dan… ia berdecak. Tidak mau membicarakan dan memikirkan kejadian tersebut.

***

Sementara itu…

Nuguya?” gertak Tao dengan kedua tangan dikepal.

Kesepuluh lelaki itu tertawa. Tao semakin waspada. Malam itu, orang-orang yang berpenampilan seperti gangster memanjat tembok pagar yang menjulang, entah bagaimana caranya, sehingga alarm rumah berbunyi. Kini, di halaman depan rumah yang luas, Tao dikelilingi oleh orang-orang itu. Tao menelan ludah, memerhatikan setiap langkah mereka, jika ada gerakan tiba-tiba yang berniat untuk menyerangnya. Satu lawan sepuluh. Guardian yang lain pada kemana sih? -___-

Tiba-tiba tiga orang dari seluruh sisi berlari ke arahnya sambil berteriak kencang. Dengan cekatan Tao melancarkan jurus bela dirinya. Ia melayang di udara, melakukan gerakan tendangan berputar dengan keras dan tidak tanggung-tanggung, membuat tiga orang itu langsung tersungkur. Beberapa orang kembali menghadangnya. Tao berusaha menangkis pukulan dan tendangan mereka, tetap fokus pada pandangannya. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Walau bagaimana pun, ia tidak sanggup menghadapi mereka seorang diri. Tao mulai kehabisan tenaga dan saat itu pula, ia menerima pembalasan dari mereka. Ia merasakan tinjuan keras di wajahnya, tendangan kuat di perutnya, dan beberapa pukulan, membuatnya semakin tidak berdaya.

“TAO-YA!!!”

Suara para guardian sejenak mengalihkan perhatian gangster itu. Kesempatan emas! Tao kembali mengumpulkan tenaganya dan kembali menyerang mereka dengan penuh amarah karena sudah berani berurusan dengannya. Kai, Kris, Lay, dan Luhan berlari dari samping halaman rumah dari paviliun belakang menghampiri Tao. Para guardian itu langsung berhambur membantu Tao berkelahi. Suasana saat itu semakin memanas, membuat halaman rumah berantakan. Tao, Kai, dan Kris banyak melakukan gerakan tendangan dan tinju, sedangkan Lay dan Luhan lebih banyak menghindar daripada menyerang. Sesekali mereka berdua ikut melayangkan tinju dan berakhir dengan mengibaskan tangan mereka di udara karena sakit.

***

Sementara itu, Baekhyun, Chanyeol, Chen, dan Kyungsoo masih bersembunyi dan mengintip di balik tembok rumah halaman depan, menyaksikan perkelahian sengit, tidak berani bergabung. Nyali mereka menciut saat Kris, Kai, Lay, dan Luhan langsung berlari ke kerumunan itu membantu Tao, sementara mereka bertindak seperti pecundang, bagaikan lelaki lemah. Tubuh mereka merinding, membuat jantung memompa gila-gilaan.

“A, ayo kita bantu mereka!” bisik Chen sambil mendorong tubuh Chanyeol di depannya.

Pabo!  Kau mau mati ya? Zaman sekarang, masalah harus diselesaikan pakai otak. Bukan pakai otot!” gertak Chanyeol cari alasan lalu memukul pelan perut Chen dengan sikunya.

Ottokke? Kita tetap harus melakukan sesuatu!” Baekhyun menggigit jari-jarinya.

“Bagaimana kalau kita berjaga di dalam rumah saja? Jangan sampai mereka menyakiti Tuan!” usul Kyungsoo.

Mereka pun mengendap-endap melangkah ke depan rumah, menekan tombol password, dan membuka pintu. Tiba-tiba, Xiumin berlari dari arah paviliun belakang menyusul mereka lalu membelalak, baru menyadari apa yang terjadi. Situasi ini sungguh tidak bagus, membuat Baekhyun, Chanyeol, Chen, dan Kyungsoo menahan napas. Sebentar lagi, Xiumin pasti meledak!

“HEIIII KALIAN!!! DILARANG MENGINJAK RUMPUT!!!”

Tuh kan!

Seruan sang tukang kebun membuat para gangster dan guardian berhenti berkelahi. Para preman itu malah berteriak dan berlari menyerbu mereka yang berdiri di depan pintu masuk utama. Tao, Kris, Kai, lay, dan Luhan terkejut dan berusaha mengejar mereka agar tidak masuk ke dalam rumah.  Baekhyun, Chen, Chanyeol, Kyungsoo, dan Xiumin kaget bukan main lalu menjerit masuk terbirit-birit. Mereka lalu buru-buru menutup kedua daun pintu namun terlambat. Berandalan itu dengan mudahnya menyambar masuk, membuat Xiumin tersungkur. Para guardian lain melangkah mundur dengan perlahan seiring orang-orang itu menghampiri mereka.

“Kalian membuat halaman berantakan! Tidak akan kumaafkan!” geram Xiumin takut-takut.

Beberapa di antara mereka langsung menyerbu Xiumin. Tukang kebun itu hanya bisa membiarkan dirinya menerima tendangan karena ia sendiri tidak tahu harus bagaimana melawannya. Tiba-tiba Xiumin bangkit berdiri dan langsung berlari ke sudut ruangan, mengambil stick golf Suho, dan mengayunkannya di kaki para gangster itu sehingga mereka seketika terjatuh. Saat itu pula, Xiumin berlari menghindari mereka.

“YAAA!!! KENAPA KAU MEMATAHKAN STICK GOLF TUAN???” teriak Chen dari ujung ruangan.

Xiumin hanya mengangkat bahu. Berandalan lain menghampiri Chen dengan penuh raungan, membuat Chen gemetaran. Mereka lalu membanting guci besar di dekat sofa. Chen otomatis naik pitam.

“AHHHHH GUCI KESAYANGAN NYONYA BESAR!!!!” teriak Chen dengan mulut terbuka lebar. “Roh Nyonya Besar di alam baka akan menghantuimu karena perbuatanmu ini!”

Chen tentu saja ikut menyambar mereka, berusaha memukul dan menendang. Sementara itu Kyungsoo terjebak oleh para preman itu di antara meja tengah dapur. Sejak tadi ia hanya menghindari orang-orang itu, mengelilingi meja besar dapur, seperti main kejar-kejaran.

“Kita hentikan saja ini, arra? Kalau kalian mau damai, aku akan masakkan Lobster with Lemon Butterfavorit Tuan Suho. Kalian tidak tergiur?” usul Kyungsoo yang terdengar mustahil.

“Berani-beraninya kau menyuguhkan kami masakan itu. Kami ini alergi udang!”

“O, ohhh… Kalau begitu maaf deh! Aku kan nggak tahu!” -___-

Kesabaran mereka sepertinya sudah habis. Mereka mempercepat larinya untuk menangkap Kyungsoo yang berdiri di seberang meja. Tanpa pikir panjang Kyungsoo menyambar kotak berisi biji kopi di atas meja lalu berlari menghindar. Di saat yang tepat, ia menghamburkan biji kopi itu ke lantai dan membuat mereka tergelincir lalu menghantam kerasnya marmer.

Di sisi lain Baekhyun dan Chanyeol tidak mampu melakukan apapun. Mereka berdiri di sudut tembok, terhalang oleh para gangster itu.

“Kami mohon ampun!” pinta Baekhyun pasrah, memasang wajah belas kasihan.

“Dasar bodoh! Kenapa kau memohon ampun?” Chanyeol memukul bahu Baekhyun. Perhatiannya lalu tertuju pada kerumunan berandal di depannya. “Apa tujuan kalian ke sini? Mencuri atau apa?”

Mereka tidak menjawab pertanyaan Chanyeol. Masing-masing preman itu mencengkeram kerah baju Baekhyun dan Chanyeol sambil tersenyum meremehkan. Namun, belum sempat mereka melayangkan tinju, Kai dan Lay datang memberikan satu pukulan di wajah. Baekhyun dan Chanyeol langsung lari bersembunyi di balik punggung mereka. Namun, Kai dengan penuh keberanian perlahan melangkah maju. Sorot matanya seakan siap menusuk mereka.

“Wah, wah! Kau tidak lihat caramu berkelahi tadi? Kau tidak merindukannya?” tanya salah seorang preman itu.

Kai mengepalkan tangan sambil menahan napas. Secepat kilat ia balik mencengkeram baju orang itu dengan kalap. Orang di depannya malah tertawa.

“Kenapa kau mengacau di sini?” geram Kai.

“Bukankah karena tuan muda keparat itu sehingga kau yang mengacau di sini? Mengkhianati kami? Kau tahu semenjak kau pergi, orang-orang itu sering datang untuk menghabisi kami?”

Kai melonggarkan cengkeramannya. Sorot matanya tak setajam sebelumnya. Kini berganti sendu. Suara orang di depannya bergetar, seperti menahan tangis.

“Gangster itu kini mengambil alih tempat kami, bahkan kehidupan kami. Kau pasti tidak tahu sehancur apa kami saat ini. Karena ketua kami… kau… bahkan pergi meninggalkan kami. Semua ini karena kau mau menjadi budak orang bernama Kim Joonmyun itu!”

Kai menundukkan kepala. Pikirannya sejenak kembali ke masa lalu. Masa saat ia dan para preman itu tergabung dalam kelompok gelap, dimana mereka banyak melakukan tindak kejahatan untuk sekedar bertahan hidup. Masa saat dimana kehidupannya dipenuhi oleh perkelahian melawan gangster bebuyutannya mengenai perebutan tempat kekuasaan. Masa-masa suram yang melingkupinya. Sampai Suho datang mengulurkan tangan untuknya.

“Kalau kalian mau mendengar ini… Aku sama sekali tidak pernah menikmati hidupku sebagai gangster. Tapi, saat-saat bersama kalian, aku tidak akan pernah melupakannya. Biar bagaimana pun, dulu kita pernah bersama-sama. Maafkan aku… Sekarang semua itu sudah berakhir. Aku menyukai hidupku yang sekarang. Aku sangat menyukainya. Karena itu, aku mohon hentikan …”

Mendengar pernyataan Kai, preman itu terdiam. Namun, ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia kemudian maju dan memberikan Kai satu pukulan di wajah. Kai hanya terdiam.

***

Suasana malam di ruangan itu sangat hening. Ruangan itu kedap suara. Tidak terdengar apa pun, kecuali bunyi denting jam. Hanya lampu tidur yang menerangi ruangan itu. Dengan lemah Suho memaksakan dirinya turun dari tempat tidur. Sehun lalu menutupi punggung tuannya dengan jaket hangat. Suho lalu bangkit berdiri, berjalan pelan ke arah jendela kaca raksasa, mengintip di balik gorden. Nampak Kris, Kai, Tao, Lay, dan Luhan di bawah sana sedang berkelahi melawan beberapa lelaki yang tidak dikenalnya di halaman depan. Ia lalu kembali berjalan ke tempat tidurnya dan duduk di ujungnya, menghadap ke Sehun. Suho memerhatikan Sehun yang terus menunduk.

“Bagaimana hari pertamamu bekerja di sini?” tanya Suho santai.

Sehun tidak langsung menjawab. Ia bingung bagaimana harus menjawabnya. Suho bahkan menyadari kejadian yang sedang berlangsung di luar. Mengapa ia sesantai itu? Sehun sebenarnya tidak peduli dengan apa yang terjadi. Ia masih memasang ekspresi datar.

Suho tersenyum melihat Sehun yang tidak memberikan reaksi apapun. Suho memberi kode kepada Sehun untuk menuangkan secangkir teh. Sehun seketika menunduk dan langsung menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Mata servant itu sempat membelalak saat ia sempat menumpahkan teh tidak tepat ke cangkirnya.

Jeosonghamnida,” kata Sehun pelan meminta maaf.

Suho tertawa pelan. Ia menerima secangkir teh dari Sehun dan menyesapnya dengan perlahan. Sehun mulai memberanikan diri angkat bicara.

“Tuan, boleh aku tanya satu hal?”

“Apa itu?”

“Kenapa kau mau mempekerjakan orang sepertiku?”

Suho berhenti menyesap teh hangatnya. Ia seakan tertegun lalu kembali memberikan cangkir teh itu kepada Sehun. Suho tersenyum tipis.

“Karena aku percaya kau bisa melindungiku, sama seperti yang mereka lakukan sekarang.”

Sehun menatap kedua bola mata tuannya untuk beberapa detik. Hatinya seolah lapang. Jawaban Suho barusan sungguh membuatnya seakan melayang. Siapa yang menyangka ia akan tersenyum? Sehun lalu membungkuk dalam dengan pelan.

“Sungguh suatu kehormatan untukku, Tuan.”

***

Suasana di ruang tengah kian kacau. Berandalan itu kini beramai-ramai menyerbu ke lantai dua, menapaki tangga dengan brutal sambil berteriak. Para guardian lain jadi kelabakan.

“YAAA!!! JANGAN NAIK!!!” teriak Baekhyun lantang.

“Gawat! Mereka menuju kamar Tuan!” Kris menyadari langkah mereka.

Terjadilah aksi saling kejar-kejaran. Di sepanjang jalan menuju kamar Suho, para gangster itu merusak perabot rumah, mendobrak setiap pintu di lantai dua untuk memastikan yang mana kamar tuan besar mereka. Mereka tiba di sebuah lorong panjang berkarpet. Di setiap jarak dindingnya terpasang lampu-lampu elegan. Di ujung lorong sana, sebuah pintu besar terpampang jelas. Semua orang pun pasti tahu bahwa kamar itu adalah kamar Suho. Namun, mereka melihat seseorang sedang berdiri di depan pintu. Orang itu memakai seragam guardian dengan ekspresi datar. Para preman itu berhenti berlari, begitu pula dengan guardian di belakangnya.

“Sehun-ah?” lirih Luhan dari belakang.

“Biarkan kami masuk!” perintah salah seorang berandalan itu.

Sehun menatap mereka dengan tenang. Ia melirik sejenak daun pintu.

“Maaf, Tuan kami sedang tidak ingin diganggu. Mohon pengertiannya,” jawab Sehun seolah tidak terjadi apa-apa.

Tentu saja gangster itu marah mendengarnya, ditambah lagi dengan cara Sehun mengucapkannya. Salah satu dari mereka mendekat ke depan guardian baru itu dan tiba-tiba satu pukulan keras melayang cepat ke wajahnya. Sehun merasa tidak menyangka ia akan mendapat perlakuan tersebut. Ia menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya dengan ibu jari. Saat melihat darah itu, ia mendesah pelan.

“Sial…”

Bisikan Sehun tidak begitu terdengar oleh mereka. Sehun lalu menghujani mereka dengan pandangan tajam. Sangat mengerikan, membuat preman dan para guardian itu sejenak merinding. Dengan tenang, Sehun mengambil sesuatu dari meja kecil di dekat pintu, seperti sebuah masker besar. Setelah mengenakannya, ia menekan beberapa kode nomor pada alat yang terpasang di dinding. Sejenak, para gangster itu kebingungan, sampai saat para guardian itu menyadari hal tersebut.

“Gawat!” kata Kris, membuat guardian lain terbelalak kaget.

Kris dan yang lainnya berlari menjauhi lorong tersebut, membuat para gangster itu makin kebingungan. Tiba-tiba dari langit-langit lorong tersemprot asap tebal. Untuk beberapa saat gangster itu ketakutan dengan kejadian tersebut. Para guardian lain berusaha menjauh dari tempat itu, namun terlambat. Mereka semua tiba-tiba terhuyung, kesadaran mereka seolah-olah kian menipis. Para gangster tersebut satu per satu ambruk ke karpet, pingsan.

“Jangan hirup asap itu!” teriak Kris ke guardian lain sambil menutup hidungnya dengan sebelah lengannya.

Beberapa guardian berpegangan di dinding, pandangan mereka seolah berputar-putar, lalu menahan tubuh mereka agar tidak tertidur, namun sia-sia. Mereka ikut ambruk bersama yang lain. Setelah asap itu pudar, yang tersisa hanya Kris, Lay, dan Sehun. Mereka bertiga hanya berdiri lalu menatap mereka yang terbaring pingsan di karpet. Lay dan Kris mendesah bersamaan.

“Pukul berapa sekarang?” tanya Kris kepada Lay tanpa menatap guardian itu.

“Pukul lima subuh. Sebentar lagi Tuan akan bangun,” jawab Lay sambil melirik jam tangannya.

Kris melihat Sehun di ujung sana melepas masker besar dari wajahnya. Ia meletakkan masker itu di atas meja kecil dan pandangannya tertuju ke Kris. Melihat Kris sedang melototinya, ia segera menunduk, masih dengan ekspresi datar.

“Waktu kita hanya satu jam. Kita bertiga harus segera membereskan rumah ini,” ujar Kris sambil terus menatap Sehun di ujung sana.

“Yang benar saja! Dalam waktu satu jam ini hanya kita bertiga? Aku bukan housekeeper! Itu bukan tugasku!” seru Lay protes.

“Setelah membersihkan rumah, kau cepat sajikan sarapan untuk tuan. Gunakan bahan yang tersisa di dapur. Setelah itu, aku akan menahan guardian baru pembuat masalah itu!” kata Kris dingin seolah penuh dendam, membuat Sehun semakin terpuruk.

“Hei, santai saja!” -____- jawab Lay menenangkan Kris.

-To be continued-

Credit : mydearexo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s