MAMA On Film

MAMA ON FILM_melurmutia

 

Author : melurmutia

Casts : EXO member

Genre : Fantasy, songfict

Rating : PG-13

Length : Two shoot

Disclaimer : Terinspirasi full dari lagu kebesaran fandom kita, MAMA =_=

Note : Pas ngedit poster itu aku baru sadar kalau phoenix milik Chanyeol seperti berwujud peri, atau aku salah lihat ya? Ini two shoot, jadi part 2-nya nanti nyusul

Tolong beri komentar setelah dibaca :D

Don’t plagiarize my posts!

********************************************

 

 

Luhan membuka matanya perlahan. Saat kesadarannya telah sempurna, betapa terkejutnya ia mendapati dirinya sedang terbaring di tengah jalan. Dengan sigap dan penuh tanya, ia seketika berdiri dan menoleh kanan kiri dengan cepat. Ia tercengang. Kepalanya menengadah. Di sekelilingnya, bangunan-bangunan megah menjulang tinggi. Orang-orang berjalan lalu lalang begitu saja, tanpa peduli bahwa sejak tadi ada seseorang yang tertidur di tengah jalan aspal. Mobil-mobil yang melaju tidak banyak dan untung saja tidak menggilas tubuhnya yang kurang berotot. Suasana kota itu sangat ramai. Matanya membelalak saat beberapa makhluk aneh ikut berjalan, berbaur dengan manusia. Burung aneh beterbangan di langit, membuat Luhan terkesima untuk beberapa lama. Ia bingung. Tidak mengerti jalan pikirannya sendiri yang seolah mempermainkannya.

Dimana aku?

Hal itu yang pertama kali terlintas di pikirannya. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat, memejamkan mata, seakan ingin mengusir segala keanehan itu. Namun, apa yang dlihatnya adalah nyata. Kini Luhan melihat orang-orang itu bertindak seolah-olah mereka bukan manusia. Apa itu tadi? Dalam sekejap orang itu berubah menjadi kucing? Luhan menoleh ke sisi yang lainnya. Orang itu menyulap bunga menjadi kaleng minuman. Lagi-lagi Luhan menggeleng kuat sambil menutup mata. Ia mematung. Ini benar-benar sungguhan!

A.. annyeonghaseyo! Aku mau bertanya, ini dimana ya?” sapa Luhan saat menghampiri seorang pria tua.

Careless… Careless… Shoot anonymous… Anonymous…

Orang itu justru melihat Luhan dengan tatapan sinis dan tajam. Ia berlalu begitu saja meninggalkan Luhan di belakang. Tentu saja Luhan kaget. Apa ia berlaku tidak sopan? Pemikiran sementaranya menyimpulkan bahwa orang-orang ini mungkin tidak memakai bahasa Korea. Mungkin bahasa Mandarin? Bahasa Inggris?

“Ahh… chakkamannyo! Aku cuma bertanya soal…”

Bruk! Seseorang menabrak Luhan dari sisi lain. Luhan tidak menyadari keberadaan orang itu. Saat ia menoleh, orang itu memasang ekspresi seolah ingin membunuhnya.

“Minggir!” serunya dingin.

Heartless… Mindless… No one who care about me…

Orang itu menggunakan bahasa aneh. Luhan mengerutkan kening. Anehnya, ia mengerti ucapan orang itu. Apa yang terjadi? Sekali lagi ia menengadah menatap gedung-gedung tinggi di kota asing itu. Berusaha untuk menemukan jawaban pertanyaannya seorang diri.

***

Pikirannya berkonsentrasi penuh. Bila ia buyar, saat itu juga orang itu akan menyerangnya. Ia hanya bisa menghindar dan melindungi diri. Itulah kelemahan kekuatannya. Tidak mampu menyerang balik lawannya. Dengan segenap kekuatannya, ia terbang di udara secepat kilat. Ia berputar-putar di udara, membuat lawannya kebingungan di bawah sana. Sang naga yang ikut menyertainya terus memberikannya kekuatan, demi menghindari luapan api dari pria yang sedang berdiri di permukaan tanah.

“Kau juga hati-hatilah, Ronn!” kata orang itu kepada naga raksasa di sisinya.

Sang naga seketika mengerti perkataan tuannya dan merendahkan lehernya pelan sebagai wujud hormatnya. Saat lawannya mulai kebingungan, ia langsung terbang rendah dengan cepat, menimbulkan bunyi dentuman di udara yang luar biasa keras, dan seketika mendarat tepat di hadapan orang itu. Lawannya melotot kaget karena ia langsung mencengkeram jaket kulitnya di depan dadanya. Pria di depannya tertawa lepas. Ia sempat merinding mendengar suara berat darinya. Dari luar, orang itu terlihat lemah dan periang. Namun, sungguh ia orang yang berbahaya.

“Wah wah! Sekarang kau mulai berniat menyerangku, Kris?” terka orang itu tanpa memudarkan tawanya yang mengerikan.

“Chanyeol-ah, hentikan! Kita akhiri saja. Sampai kapan kita terus begini?” balas Kris dingin.

“Sampai aku benar-benar bisa menghabisimu.”

Kris melirik ke bawah. Ia bisa melihat kedua telapak tangan orang itu mengeluarkan api kecil yang siap membakar tubuh. Ia bahkan tidak berani bernapas melihatnya. Namun, ia tidak berniat sedikit pun melonggarkan cengkeramannya.

It feels like I’m turning away as I have lost it

There’s no choice but to hold it in

Though I shut my eyes

“Ahhhhhh!!! Jangan mendekat!!!”

Suara teriakan membuyarkan kemarahan mereka berdua. Di tepi lapangan luas itu, mereka melihat seorang pria yang menyeret mundur tubuhnya dengan kedua kaki dan lengan di tanah karena begitu ketakutan melihat makhluk di depannya. Makhluk berwujud fairy-phoenix milik Chanyeol justru semakin mendekatinya. Kris menyipitkan mata dan perlahan menyadari situasi tersebut. Hatinya berkecamuk melihat orang itu. Teralihkan oleh hal tersebut, ia baru melepaskan cengkeramannya. Chanyeol sudah tidak mempedulikan keberadaan Kris lagi. Ia jusru berjalan menghampiri orang itu dan phoenix-nya. Naga raksasa milik Kris berniat mendekati orang itu juga. Namun, Kris menahannya. Naga itu terlihat kebingungan.

“Aku mengerti maksudmu Ronn. Akhirnya orang itu datang. Tapi, kita lihat dulu situasi ini.”

***

Luhan melangkahkan kakinya berat. Ia tidak tahu sudah seberapa jauh ia berjalan. Kini, pusat kota sudah semakin tak terlihat. Langit mulai terlihat kemerahan. Sudah sore? Apa di negeri ini ada sore hari juga? Ia menghela napas berat secara berlebihan. Tidak ada seorang pun yang peduli padanya, bahkan sekedar untuk menjawab pertanyaannya. Semua orang seolah menghindarinya. Apa ini hanya mimpi? Bagaimana cara untuk terbangun dari semua mimpi buruk ini?

Ia sampai pada sebuah taman kecil yang hampir mirip dengan taman dekat rumahnya. Sekali lagi ia menghela napas dengan frustrasi. Lagi-lagi orang aneh. Mereka hanya bermain di taman seperti biasa. Akan tetapi, cara bermain mereka tidak biasa. Mata Luhan terfokus pada seorang lelaki berwajah polos berambut kecoklatan sama sepertinya yang sedang duduk di bangku taman. Lelaki itu membuat sebuah pusaran angin mungil dan berputar-putar bagaikan gasing di dekat kakinya. Lelaki itu tersenyum melihat pusaran angin itu sambil bertopang dagu. Luhan cukup dibuat kagum oelahnya.

Tiba-tiba Luhan melihat beberapa gadis melintas di depan lelaki itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat lelaki itu mengayunkan sebelah tangannya. Seketika rok para gadis itu terangkat ke atas, menimbulkan kekacauan. Setelah terdengar jeritan para gadis yang mencoba menahan roknya dari hembusan angin kencang itu, wajah Luhan ikut merona. Para gadis itu berlari meninggalkan lelaki itu yang hanya tertawa jahil. Apa ia yang menciptakan hembusan angin itu? Luhan sudah tidak sanggup menahan rasa penasarannya. Dengan marah dihampirinya lelaki itu di bangku taman dan berdiri di hadapannya tanpa rasa takut sedikit pun.

“Apa yang barusan kau lakukan pada mereka?” tanya Luhan dengan nada meninggi.

Orang itu menatap Luhan kebingungan.

“Ahhh! Sudahlah, lupakan! Tapi, kali ini kau yang harus menjawab pertanyaanku. Katakan padaku dimana ini!” seru Luhan.

“Siapa kau?” tanya orang itu datar.

“KATAKAN PADAKU!!!” gertak Luhan lantang, stres, marah.

Orang itu terdiam, tetapi tidak sedikit pun tergerak oleh seruan Luhan. Pandangannya lalu bergeser ke tangan Luhan, mencari-cari sesuatu. Perlahan kedua mata orang itu membesar. Ia kembali menatap Luhan dengan kening berkerut, melukiskan ekspresi penuh tanya di wajah datarnya. Ia bangkit berdiri dan melangkah mendekat. Orang itu bertingkah seolah-olah ingin menyakitinya hingga Luhan harus berjalan mundur. Namun, orang itu dengan cepat meremas wajah Luhan dengan satu tangan. Luhan sempat terbelalak dan dibalas dengan tatapan dalam dari orang itu, seakan ikut penasaran terhadapnya. Setelah beberapa lama, ia melepaskan tangannya dari wajah Luhan.

Orang ini… orang dalam takdir itu…

Lelaki itu berlalu meninggalkannya setelah berbicara pada dirinya sendiri. Saat itulah ketidaksabaran Luhan memuncak. Ia berlari menghampirinya dan dengan cepat memutar tubuh lelaki itu. Luhan mencengkeram kuat kedua lengan orang di depannya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku!” lirih Luhan menahan emosi.

“Kau dari Bumi?” orang itu bertanya balik setelah menepis kasar kedua tangan Luhan.

Mendengar pertanyaan orang itu membuat Luhan benar-benar tidak menyangka dan semakin sulit untuk memercayainya. Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Jadi, ini memang bukan bumi. Sungguh tidak masuk akal.

“Sekarang kau ada di planet EXO, tepatnya di negeri MAMA,” jawab orang itu singkat dan langsung berbalik hendak pergi.

“Hah? Cha… chakkaman! Kau tidak sedang bergurau kan?” Luhan kembali menahannya. “Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku terbangun di tengah jalan dan semua orang seketika memiliki kekuatan-kekuatan aneh. Mereka…”

“Aku tidak peduli!” jawab orang itu dingin.

“Tunggu! Bagaimana kau tahu aku dari Bumi?”

“Kau punya ini?”

Orang itu memperlihatkan simbol yang terpasang di sela-sela jarinya. Luhan mengangkat sebelah alisnya. Ia terdiam dan kembali ke situasi beberapa menit yang lalu, saat orang itu membuat pusaran angin, saat orang itu menjahili gadis-gadis tadi dengan hembusan angin. Pikirannya kembali saat ia pertama kali terbangun di tengah kota dengan orang-orang yang memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Entah kesimpulannya benar atau tidak, ia mulai mengerti keadaan yang dihadapinya. Simbol kekuatan.

“Bagaimana aku bisa kembali?” tanya Luhan lagi. Kali ini dengan nada pelan.

Orang itu kembali tidak menghiraukannya. Ia mepercepat langkahnya meninggalkan orang Bumi itu di belakangnya.  Namun, di setiap langkah kaki itu, perasaannya kacau balau. Orang Bumi itu telah datang dan sesuai dengan takdir yang tertulis. Ia akan mengubah MAMA menjadi apa yang dikehendakinya.

“Terima kasih…”

Orang itu menghentikan langkahnya dan menoleh. Terkejut. Apa yang dikatakannya?

“Setidaknya kau sudah memberitahuku tentang tempat ini. Maaf jika kau tersinggung. Aku Luhan. Kuharap kita bisa saling mengenal.”

Terima kasih? Orang itu membisu, menatap tidak percaya orang Bumi yang tersenyum tulus di depannya. Kenapa orang itu mengatakan hal demikian? Mereka seharusnya musuh bebuyutan. Penghuni MAMA benar-benar tidak hidup dalam lingkup yang seperti itu. Hanya ada kebohongan, putus asa, tidak saling peduli, dan saling menyakiti. Senyum tulusnya itu… Apakah ini suatu awal dari apa yang dikehendakinya? Apa ia harus memercayainya?

“Namaku Sehun.”

MAMA! Answer me, why did the people change

Did they notice the existence of that time

They forgot how to love and lost their heart to care

They’re busy living with their backs turned on each other

***

Luhan menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangan. Sebisa mungkin keberadaannya di balik semak tebal lapangan itu tidak diketahui oleh dua orang yang kelihatannya sedang bertarung. Nampak seeorang lelaki dengan naga raksasa yang mengiringinya terbang menembus angkasa dengan kecepatan yang luar biasa. Sebisa mungkin arah pandang Luhan mengikuti ke mana orang itu melaju. Sementara lelaki yang satunya sedang berdiri di tengah lapangan, menyerang orang yang melayang di atasnya dengan semburan api dari tangannya, menciptakan warna terang menyala. Keadaan di lapangan itu kian memanas oleh api tersebut. Di dekat orang itu juga ada makhluk yang mendampinginya.

Tiba-tiba makhluk yang bercahaya seperti api itu menoleh ke arah semak. Luhan terkejut dan langsung merinding. Tidak butuh waktu lama makhluk itu sudah berada di depannya. Pada awalnya, mulut Luhan seolah terkunci, tidak mampu berteriak. Ia jatuh terduduk, menyeret badannya ke belakang menjauhinya. Saat makhluk itu mulai mengeluarkan api lebih banyak dari tubuhnya, Luhan mulai berteriak.

“Ahhhhhh!!! Jangan mendekat!!!”

Ketakutan Luhan memuncak. Ia gemetaran, kedua matanya kian melebar. Ia sudah tidak peduli lagi makhluk apa itu. Yang ia sangat harapkan saat ini adalah semoga makhluk itu tidak menyakitinya. Luhan menutup mata rapat-rapat, tidak sanggup lagi melihatnya.

“Hentikan, Jane!”

Seketika makhluk itu menunduk dan menjauh. Luhan terkesima dengan peristiwa itu. Dari posisinya yang terkulai di tanah, ia melihat sosok pria yang jangkung. Dari parasnya, sepertinya ia orang baik. Lelaki itu makin bersinar oleh api yang dipancarkan makhluk di sampingnya. Luhan tersenyum lega dan lagsung bangkit berdiri. Ia membungkuk beberapa kali.

“Terima kasih sudah menolongku! Terima kasih! Terima ka…”

Luhan tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena orang itu tiba-tiba meremas wajahnya dengan sebelah tangan, sama seperti yang Sehun lakukan di taman tadi. Ia menatap dalam Luhan. Jantung Luhan kembali berpacu ketakutan. Tangan yang mencengkeram wajahnya sangat panas. Ia melirik simbol di jari tangan orang itu dekat wajahnya. Simbol yang berbeda dengan milik Sehun. Kalau makhluk api tadi adalah miliknya, berarti itu simbol api. Benarkah?

Setelah beberapa lama, orang itu melepaskan tangannya dari wajah Luhan dengan kasar dan berjalan meninggalkannya. Luhan merasakan wajahnya seolah melepuh. Ia meringis kesakitan sambil menyaksikan orang itu pergi, meninggalkan jejak api di setiap langkah.

“Biar kulihat wajahmu!”

Dengan cepat Luhan berpaling ke arah suara itu. Sosok jangkung yang lain berdiri di depannya. Kali ini bukan makhluk api yang menemaninya, melainkan seekor naga.

“Kau juga akan menyakitiku?” kata Luhan pasrah.

“Namaku Kris. Biar kulihat wajahmu.”

Orang itu kembali mengulang perkataannya setelah memperkenalnya namanya. Ia lalu melakukan hal yang sama, meremas wajahnya dengan satu tangan dan menatapnya dalam. Luhan kembali meringis kesakitan, mengingat kulitnya yang mungkin mengelupas karena panas yang disebabkan oleh orang yang sebelumnya.

“Kita segolongan,” kata Kris sambil tersenyum tipis.

“Ma.. maksudmu?” tanya Luhan sambil tetap merintih kesakitan.

“Kau memang orang dimaksud oleh takdir. Ikutlah denganku!” kata Kris tenang setelah melepaskan tangannya.

“Kenapa harus?”

“Kau mau kembali ke Bumi kan? Kau harus percaya padaku. Kita bicarakan masalahmu di tempatku.”

Full of envy behind that anonymous mask

Even after seeing the end, you’re still full with hunger

Are you satisfied now?

Luhan terdiam. Baiklah, orang itu berhasil mencuri perhatiannya. Luhan dengan ragu mengikuti langkah orang itu. Yang membuatnya bingung adalah orang itu menuntunnya ke arah naga raksasa, seperti hendak mempersilahkannya naik ke punggung makhluk mengerikan itu. Luhan tertawa frustrasi. Bagaimana mungkin?

“Kau gila?” ejek Luhan, sama sekali tidak berniat menungganginya.

“Kita akan terbang jauh. Kau pikir aku harus menggendongmu?” balas Kris datar.

Luhan berdecak kesal mendengarnya. Kris membantunya naik walau ia agak sedikit terganggu karena Luhan beberapa kali menjerit takut setelah mendengar sang naga terus mengeluarkan suara-suara aneh. Dengan tangan yang bergetar hebat Luhan merangkul kuat leher sang naga yang menurutnya menjijikkan. Kris kembali melayang di udara dengan begitu cepat, kembali menghasilkan bunyi dentuman keras, seakan menguasai angkasa. Sang naga pun terbang mengikutinya diiringi jeritan panjang Luhan.

***

Sehun menghempaskan tubuhnya ke belakang begitu saja di padang rumput luas dekat tempat tinggalnya. Ia mengontrol angin untuk menahan tubuhnya agar tidak langsung menghantam permukaan rumput yang keras hingga terbaring dengan sempurna. Ia menyandarkan kepala di kedua lengannya, menatap langit MAMA yang mulai menghitam. Kejadian tadi benar-benar tidak disangka olehnya. Ia bertemu dengan Luhan, makhluk Bumi. Seseorang yang tak bersimbol, tanpa kekuatan.

Sehun tersenyum, membayangkan makhluk itu entah akan membawa kebahagian di negeri tersebut atau justru menjerumuskan dirinya dalam kematian. Sehun mengubah posisi baringnya menghadap ke kiri. Ia kembali menimbang-nimbang. Saat ia meremas wajah makhluk Bumi itu, kedua iris matanya tidak berubah kemerahan.

“Berarti makhluk Bumi itu golongan M… Ck!” Sehun berdecak kecewa.

Orang itu sudah pasti akan menjadi musuhnya, musuh golongan K. Ia sungguh tidak mengharapkan hal tersebut. Yang menjadi masalah adalah bagaimana jika yang lain tahu bahwa ia barusan berbincang-bincang panjang lebar dengan seorang musuh.

“Sehun!!!”

Baekhyun, lelaki yang berukuran tubuh lebih pendek dari Sehun ikut berbaring di sampingnya, menghadap ke langit. Ia lalu membuat cahaya-cahaya kecil mirip kunang-kunang dengan menyentilkan jari-jarinya di udara, menerangi gelap malam. Sehun masih membelakanginya dengan perasaan berkecamuk. Ia lalu terpaku pada cahaya-cahaya itu. Haruskah ia menceritakannya?

“Aku bertemu orang itu tadi,” Sehun memulai pembicaraan setelah hening panjang.

“Ngg? Siapa? Si cronic Tao? Kalian duel lagi? Dia membawamu ke masa lalu lagi, ya?” tebak Baekhyun asal.

Suasana hati Sehun seketika berubah kesal. Pertarungannya dengan orang golongan M itu selalu berakhir dengan kekalahannya karena si pengendali waktu itu terus memutar waktu jauh ke masa lalu, masa yang sungguh kelam bagi Sehun, membuatnya makin tidak berdaya.

Ayah Sehun adalah golongan K dan ibunya golongan M. Mereka saling jatuh cinta tanpa mengetahui golongan masing-masing. Mereka berdua bahkan memang tidak ingin mengetahuinya. Rasa takut akan perbedaan golongan yang akan menghancurkan semua membuat mereka saling tutup mulut. Sampai akhirnya masing-masing pusat golongan mengetahui hal tersebut, orangtua Sehun sampai harus menerima kematiannya.

“Bukan bodoh!” bantah Sehun jengkel.

“Terus siapa hah?” tanya Baekhyun santai.

“Orang Bumi dalam takdir.”

Mata Baekhyun membesar. Ia seketika melompat dan duduk di depan Sehun, tidak percaya. Ia tidak menyangka Sehun dengan santainya mengatakan hal demikian.

“Benarkah? Kau serius?” tanya Baekhyun memastikan. “Itu artinya kita akan melakukan penyerangan ke golongan M sebentar lagi.”

“Aku mohon jangan memberitahu yang lain dulu!” ujar Sehun yang seketika ikut terduduk, memasang wajah penuh harap. “Apa kau tidak percaya takdir itu? Ia mungkin akan menyatukan golongan kita. Tidak akan ada lagi pertempuran. Kau tidak menginginkannya?”

“Kau ini benar-benar… Coba kalau kau mengatakan hal itu di hadapan seluruh golongan K, kau akan mati saat ini juga!” nada suara Baekhyun meninggi.

“Karena itulah aku menceritakannya padamu. Hanya kau yang paling kupercaya!”

Tiba-tiba tubuh mereka terguncang. Permukaan tanah bergetar sesaat, seperti gempa kecil. Saat ia menoleh, Kyungsoo yang berdiri di dekatnya melotot. Sehun melemparkan pandangan memohon kepada Baekhyun, berharap ia tidak menceritakan apa pun pada orang yang sedang berdiri itu. Baekhyun hanya menghela napas.

“Dimana Kai?” tanya Kyungsoo sinis.

“Aku tidak tahu dan berhentilah membuat gempa dengan kakimu!” gertak Baekhyun. “Ada apa?”

“Kita harus bersiap. Chanyeol bilang ia baru saja bertemu dengan orang Bumi dan orang itu golongan M. Pusat sudah mengetahuinya dan melaporkan kita harus segera melakukan penyerangan. Bergegaslah! Sehun, Ayo jangan tidur saja di situ!”

Baekhyun langsung menatap Sehun dalam diam. Sehun bahkan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Darahnya berdesir cepat, jantungnya memompa lebih kencang. Chanyeol bertemu dengannya? Orang Bumi bernama Luhan itu bahkan belum menemukan kekuatannya. Ia benar-benar dalam bahaya. Sehun tertunduk, mengepalkan kedua tangannya dalam marah. Sebentar lagi, pertarungan yang sesungguhnya akan terjadi. Sama sekali tidak terbayang olehnya. Kenapa harus begini? Apa selamanya akan ditakdirkan seperti ini? Tidak akan ada damai untuk keduanya.

Why won’t we look each other in the eye anymore?

Why won’t we communicate? Why won’t we love?

Chanyeol dan Suho baru datang menghampiri mereka. Sehun langsung menatap Chanyeol, benar-benar tidak menyangka bahwa temannya itu juga bertemu dengan Luhan, menjerumuskan orang Bumi itu dalam bahaya besar. Sehun menelan ludah. Tubuhnya masih bergetar.

“Ughhh! Kalau saja makhluk Bumi itu tidak datang, aku pasti sudah menghabisi Kris di duel tadi!” seru Chanyeol tanpa sadar sudah membakar sekeliling rerumputan di padang rumput itu.

“Sudahlah! Kau harus tenang! Kita harus bersiap. Bisa saja kita mati di pertempuran nanti!” Suho menasihati dan meredam api dengan kekuatan airnya menggunakan kedua tangannya.

Tiba-tiba muncul sesosok lelaki yang diselubungi asap hitam, mengagetkan yang lainnya. Orang itu baru saja berteleportasi entah dari mana.

“Ada yang mencariku?” canda Kai yang baru datang.

Kyungsoo menghela napas dengan marah. “Tidak! Kau tidak perlu repot-repot ke pertempuran karena kekuatanmu pada dasarnya hanya untuk melarikan diri!”

“Hei, jangan begitu! Kita harus kompak saat menghabisi M nanti. Jadi, jangan marah padaku!’ Kai memasang wajah memelas, membuat Kyungsoo semakin gusar menatapnya.

“Sudahlah! Sekarang ayo kita ke pusat!” kata Suho.

Semuanya mengangguk dengan serius, kecuali dirinya, Sehun. Saat teman-temannya yang lain sudah berjalan menjauh, ia masih tinggal berdiri di tempatnya. Sehun melihat orang-orang di sekitarnya. Semua penghuni MAMA golongan K sudah menuju pusat perbatasan wilayah antar golongan dengan begitu menggebu-gebu, penuh amarah, dan langkah kaki mereka tegas, membuat Sehun makin terdiam. Sehun melangkah pelan, terus berjalan menunduk hingga tidak menyadari bahwa sepasang mata tajam dan menusuk sedang menatapnya dari depan. Kai, memergokinya sedang berbincang panjang lebar dengan orang Bumi itu sore tadi. Daripada golongan M tersebut, temannya itu masih lebih harus diwaspadai.

Tearing up to the reality that hurts

Say MAMA if you can change it, say MAMA

-To be continued-

Credit: mydearexo

One thought on “MAMA On Film

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s