Perasaan Tersembunyi sang Anak Emas

Title            : Perasaan Tersembunyi sang Anak Emas

Author      : Park Anhhi

Date            : 26 Maret 2013 – 12 April 2013

Lenght       : Oneshoot

Rating        : PG

Genre         : Brothership, Comedy

Cast             :

  • Kim Joon Myeon               [Suho]
  • Byun Baek Hyun                [Baekhyun]
  • Park Chan Yeol                  [Chanyeol]
  • Do Kyung Soo                     [D.O]
  • Kim Jong In                         [Kai]
  • Oh Se Hoon                          [Sehun]
  • Lee Soo Man                        [SM Entertainment’s owner]
  • Dan teman-teman

Prolog

Anak emas. Apa sih itu?

Anak emas adalah istilah untuk mereka yang diistimewakan oleh orang lain. Istilah untuk mereka yang dimanja dan diutamakan dari yang lain. Istilah untuk anak kesayangan.

Kedengarannya asyik, tapi tidak selamanya menjadi anak emas adalah hal yang menyenangkan.

Posisi anak emas bisa menjadi sesuatu yang membuatmu terkucilkan dari yang lain.

Terutama bila di sekitarmu terlalu banyak orang yang iri.

Author POV

“KAI!!! Nggak usah sok kamu ya!!!!”

Kai yang saat itu baru menenggak air minum hanya menatap D.O dan Baekhyun yang balik menatapnya garang. Kai menunduk dengan patuh. “Maaf, hyung… ada masalah apa?”, tanyanya dengan sopan. Ia tidak paham dengan pembicaraan ini.

“Eeh, pakai pura-pura nggak tahu lagi!!!”, D.O mengomel, “Kamu mau sombong ya!! Kami tahu, di performance tadi kamu dipuja-puja oleh staff karena dance­-mu yang sempurna itu!! Nggak seperti dance-ku yang lebih mirip orang kesurupan, iya kan??!!”

“Mentang-mentang dance-mu bagus, jangan kamu pikir kamu bisa seenaknya ya!!!”, sekarang Baekhyun yang mengomel, “Dance kita semua memang nggak sebagus kamu, Kai sang main dancer! Kamu mau membunuh kita ya?? Kalau kamu nge-dance dengan bagus, kita semua bakal kelihatan tolol di atas panggung!!!!”

“Maaf…”, Kai semakin menunduk, “Maaf, hyung… aku akan menahan diri agar tidak terlalu menonjol di atas panggung…”

“Seharusnya kamu lakukan dari dulu”, ujar D.O dingin, “Terlalu sombong kamu”

“Menyebalkan!”, tambah Baekhyun, tak kalah dingin.

Kai hanya terdiam. Sembilu terasa menusuk hatinya saat mendengar ucapan-ucapan sinis dari member yang sangat ia sayangi. Kai hanya bisa terpaku kala D.O dan Baekhyun meninggalkannya dengan tatapan tajam. Ia melirik member EXO-K yang lain, tapi wajah mereka tidak jauh berbeda dari D.O dan Baekhyun.

Kai menghela nafas.

Lagi-lagi seperti ini.

***

“Hei, semuanya!!”, Suho memasuki dorm dengan wajah sumringah, “Kita dapat kue dari SHINeesunbaenim lho!!! Katanya ada salah seorang staff SHINee yang berulang tahun, dan kita kebagian kue juga!!!!”

“Asyiiikkkk………!!!!!!!”, semua member EXO-K bersorak. Mereka melompat, menari, dan berputar-putar di ruang tamu. Tingkah mereka seperti manusia yang belum pernah makan kue saja. Semua member bersorak, kecuali satu orang.

Dari balik pintu dapur, Kai menatap sendu kehebohan itu. Ia merasa hatinya teriris saat melihat EXO-K di sana, tertawa bersama dengan akrab tanpa dirinya. Ia ingin bergabung dengan mereka, tapi itu tidak mungkin. Bahkan saat Suho pergi ke dapur untuk mengambil pisau, ia tidak tampak repot-repot mengajak Kai bergabung. Suho hanya memasuki dapur, mengambil pisau dan pergi seakan tidak melihat apapun, padahal Kai berdiri tepat di sampingnya. Kai benar-benar tidak dianggap.

Sudah bisa ditebak, saat Kai melewati ruang tamu tempat EXO-K membagi kue, tidak ada satupun member yang mengajaknya bergabung. Mereka menyadari kehadiran Kai, namun pura-pura tidak menyadari. Mereka biarkan Kai lewat seakan dia hantu. Mereka bahkan tidak memberi Kai potongan kue. Kai yang sengaja melambatkan langkahnya langsung masuk kamar, berusaha menahan tangis.

Dari balik pintu, Kai masih bisa mendengar suara tawa dan canda member lain. Sehun yang kuenya jatuh, atau Chanyeol yang rebutan sisa kue sama Suho, atau D.O yang suap-suapan sama Baekhyun. Satu yang paling membuat Kai sedih adalah, tidak adanya dia di kebersamaan itu. Kai mengambil nafas, menarik kembali semua air matanya, dan menghembuskannya perlahan. Ia melangkah menuju mejanya di sudut kamar dan membuka catatan hariannya, lalu menulis sesuatu di sana.

Apa salahku? Tuhan, aku hanya ingin dekat dengan member EXO-K, karena aku sangat menyayangi mereka.

Aku tidak tahu apa-apa. Mereka semua membenciku tanpa alasan yang tidak kuketahui. Mereka tidak mengakui keberadaanku sebagai member EXO-K. Mereka tidak pernah memanggil namaku. Mereka tidak menyayangiku. Di depan kamera mereka biasa saja padaku, tapi bila kamera sudah dimatikan, sikap mereka akan berubah padaku.

Aku salah apa, Tuhan?

Sebegitu bencikah mereka kepadaku?

Tidak ada yang berubah sejak kecelakaan itu.

“AAAHHH!!!! Suho hyuuuungg!!!! Kueku diambil sama D.O hyuung!!!!!”, samar-samar Kai bisa mendengar rengekan si kecil Sehun. Seketika tangannya berhenti menulis.

“Bukan! Sehun yang nawarin kuenya padaku!!”, sekarang suara D.O yang terdengar.

“Nggak! Aku nggak nawarin ye”

“Sudah, sudah”, suara Suho terdengar di telinga Kai, “Kapan-kapan hyung belikan kue untuk kalian. Sudah, jangan berantem terus. Mau kue bagian hyung?”

“Mau, mau!!!”

Kai tidak begitu jelas mendengar lanjutannya karena suara semua member tumpang-tindih. Yang bisa Kai dengar hanya suara tawa di sela ucapan-ucapan mereka. Kai menelan kembali air matanya, dan memutuskan untuk tiduran di kasur lalu menutup kepalanya dengan bantal, berusaha tidak mendengar apapun.

Seperti yang baru ia tulis, Kai sama sekali tidak akrab dengan EXO-K, teman grup-nya sendiri. Ia juga tidak paham kenapa. Setiap hari Kai selalu berusaha mengakrabkan diri, seperti bersikap baik atau membantu member yang kesulitan, tapi mereka seakan tidak bisa menerima kehadiran Kai. Kai selalu berusaha mencari kesalahan apa yang ia buat di masa lalu. Apapun itu, sampai saat ini ia belum menemukannya.

Semua member EXO-K jarang berbicara dengan Kai. Kalaupun bicara, itupun dengan setengah hati atau marah-marah seperti kejadian siang tadi. Tidak pernah EXO-K tertawa bersama Kai, berangkulan dengan akrab khas sahabat karib. Kai yang awalnya sekamar dengan D.O, kini sendirian karena D.O tidak mau sekamar dengannya. D.O bahkan rela sempit-sempitan bersama Chanyeol dan Baekhyun, saking nggak maunya sekamar dengan Kai. Mau tidak mau, hal ini menambah luka hati Kai.

Sikap EXO-K padanya ditentukan dengan ada tidaknya kamera. Kai bisa menemukan sosok EXO-K yang hangat dan baik padanya bila kamera sedang menyala di depan mereka. Tapi bila kamera sudah tidak menyala lagi, EXO-K akan kembali pada sosok mereka yang sesungguhnya. Sosok yang cuek dan tidak mengakui keberadaan Kai. Terkadang Kai berharap ada kamera yang bersedia mengikutinya 24 jam, agar EXO-K terus bersikap baik padanya, tapi tentu itu mustahil.

Kai merasa ia sendirian di dunia ini. Keluarganya jauh, dan ia tidak punya teman karena jarang pergi ke sekolah. Satu-satunya kelompok yang ia harapkan bisa menjadi keluarga justru tidak mengakui keberadaannya. Kai selalu berharap, saat EXO-K sedang tertawa bersama sambil berangkulan, ia bisa menemukan dirinya di sana. Namun hingga saat ini hal itu tak kunjung terjadi. Kai bahkan tidak pernah tertawa lagi sejak dia debut, kecuali kalau disuruh sama om kameramen.

“Huweee……!!!!! Kuenya dihabisin sama D.O hyuuunggg……!!!!”, sekali lagi Kai bisa mendengar rengekan si kecil Sehun. Duh, dasar maknae.

“Jangan nangis, Sehun”, kali ini Baekhyun yang bicara, “Sehun mau kueku? Masih ada sedikit, kok”

“Mau, hyung…”

Air mata menggenang di pelupuk mata Kai. Sebagai member termuda kedua, ia juga ingin bermanja-manja pada hyung-nya seperti Sehun. Ingin dia diperhatikan oleh Suho, disayang oleh Baekhyun, tertawa bersama D.O, bercanda bersama Chanyeol, dan dihormati oleh Sehun. Namun sebanyak apapun Kai memohon pada bintang jatuh, hal itu tak kunjung terjadi. EXO-K tetap sedingin es padanya.

Kai menangis dalam diamnya.

***

Kai membuka matanya yang terasa berat. Ia meraih jam weker di sebelah bantal, dan ternyata sudah jam 07.00 pagi. Jangan tanya kenapa ia masih bisa leha-leha di kasur seperti ini. Kai sudah biasa bangun sendiri tanpa ada member yang membangunkannya. Jangankan membangunkan, masuk kamarnya saja member lain tidak pernah sudi.

Ogah-ogahan, Kai turun dari kasur. Di luar sepi sekali. Kai jadi teringat kejadian minggu lalu, saat EXO-K meninggalkannya sendirian. Saat itu EXO-K ada jadwal pagi-pagi, dan tidak ada member yang membangunkan Kai, jadi Kai ditinggal. Bukannya memarahi Kai yang molor, manager malah memarahi member lain yang meninggalkan Kai. Bagaimanapun, kebencian mereka bertambah karena hal ini.

Kai membuka pintu kamar dan melangkah menuju kamar mandi. Saat melewati dapur, ia menghentikan langkahnya kala menatap kue di meja makan. Kening Kai berkerut.

“Kue apa ini? Punya siapa?”, ia bergumam. Ini bukan kue dari SHINee kemarin malam karena bentuk dan warnanya berbeda. Rasa-rasanya juga nggak mungkin ada kue jatuh dari langit. Kai menghampiri kue tersebut dan tercengang membaca tulisan di atasnya.

Happy Birthday, Kai.

We love you forever ^^

Kai melongo seperti kuda nil minta makan. Apaan nih? Kai baru ingat kalau hari ini hari ulang tahunnya. Saking banyaknya hal yang mengganggu pikirannya, ia sampai lupa. Ohya, siapa yang memberi kue ini? Mengingat semua perlakuan buruk EXO-K padanya, rasanya bukan mereka yang memberikannya. Lalu… siapa?

Kai menoleh saat mendengar pintu kulkas dibuka. Benar saja, kini ada Baekhyun di depan kulkas, sedang mengubek-ubek isinya. Baekhyun masih mengenakan piyamanya yang berwarna ungu muda dengan gambar kelinci dan anggur. Sedikit takut, Kai mendekati Baekhyun.

Baekhyun yang menyadari Kai sedang mendekatinya, hanya melirik sinis, “Mau apa kamu?”

“Nggak… anu…”, Kai jadi gagap, “Kue di meja makan itu… dari siapa ya?”

Baekhyun terdiam sejenak, masih dengan wajahnya yang sinis. “Mana kutahu. Tadi pagi-pagi ada kiriman, tapi bukan aku yang membuka pintu. Tanya sama Suho hyung sana”

“Eh… Suho hyung kan belum bangun…”

“Apa pentingnya sih? Tanya nanti saja kan bisa”, Baekhyun menutup pintu kulkas, “Masa’ hanya untuk sesuatu yang nggak penting, kamu sampai membangunkan hyung. Kamu nggak tahu ya kalau dia lagi capek? Egois kamu”

Kai tertunduk. Kan? Mana mungkin member EXO-K yang begini memberi kue ulang tahun padanya. Nggak mungkin juga selama ini mereka pura-pura jahat, lalu saat Kai pulang nanti dorm sudah penuh dengan balon, dan mereka akan memberikan surprise pada Kai. Lalu mereka hidup bersama selamanya. Memangnya ini dongeng, huh?

Tanpa mengucapkan apapun, Baekhyun kembali masuk kamar, mungkin mau melanjutkan tidur. Kai terpaku di tempatnya. Ia menatap kue di meja makan. Tulisan itu. Lilin berbentuk angka 19 itu. Semuanya dari siapa? Entah kenapa Kai sangat penasaran. Meskipun tahu tidak mungkin, Kai tetap berharap bahwa EXO-K yang memberikan ini.

Tiba-tiba Kai melihat Suho melintas, mungkin dia mau ke kamar mandi. Segera Kai berseru. “Suho hyung!!!!”

Suho menoleh, tampak tidak suka dipanggil ‘hyung’ oleh Kai. “Apa maumu?”

Hyung, anu…”, Kai menghela nafas, “Kue di meja makan itu dari siapa ya? Baekhyun hyungbilang, hyung yang menerimanya…”

Suho terdiam sejenak. “Memang aku. Terus kenapa?”

“Siapa pengirimnya, hyung?”

“Sooman appa”, jawaban pendek Suho membuat Kai melongo. Sooman? Lee Sooman yang itu? Ayolah, siapa yang tidak kenal Lee Sooman? Pemilik SM Entertainment, agensi artis terkenal di Korea maupun luar negri itu. SM Entertainment telah mendidik artis-artis yang berjaya di masanya. EXO-K pun berada di bawah naungan agensi ini.

Dan orang itu… baru saja memberikan kue ulang tahun pada Kai, artis yang baru debut , yang belum terkenal-terkenal banget ini?

Wow.

“Sooman appa?”, Kai tercengang, “Sungguh, hyungHyung nggak bohong kan??”

Suho menatap Kai dari atas ke bawah, “Kamu itu bego atau apa sih? Kamu mau menghinaku ya?? Aku bukan pembohong, tahu!! Nggak usah sombong kamu, mentang-mentang dapat kue ulang tahun dari pemilik SM!!!!”

“Ah… maaf…”, Kai menundukkan kepalanya, “Maaf, hyung… maksudku bukan seperti itu…”

“Terserahlah, aku tidak peduli”, Suho melengos pergi, “Pagi-pagi kamu sudah membuatku marah. Bisa-bisa setelah EXO-K pensiun nanti, aku kena darah tinggi”, ujarnya sadis. Tanpa berucap apa-apa lagi, Suho masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Kai terpaku di tempat. Dua perasaan muncul di hatinya, bercampur dan membentuk kombinasi yang aneh. Senang karena ia dapat kue ulang tahun dari pemilik SM, dan sedih karena alasan yang tidak terlalu jelas. Harusnya Kai tahu, sekalipun matahari berwarna biru, belum tentu EXO-K akan bersikap baik padanya. Kai melirik kue di atas meja, dan menghela nafas.

Kenapa ya, ada kekecewaan yang terselip di hatinya.

***

Siang itu, EXO-K ada jadwal di Music Bank. Sembari menunggu waktu tampil, mereka berleha-leha di waiting room. Kai menatap sedih kepergian para staff dan penata rias. Kalau tidak ada mereka, EXO-K ‘yang sesungguhnya’ akan tampak. Tiba-tiba saja Kai merasa takut.

Chanyeol menutup pintu waiting room dan melirik Kai yang masih duduk di kursi rias. Kai bisa melihat lirikan sinis Chanyeol dari cermin di hadapannya. Seketika ia merinding. Sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

“Asyik ya, dirias paling terakhir. Waktunya jadi lebih banyak dari kita-kita”, sindir Chanyeol pedas.

“Dasar istimewa”, imbuh Sehun.

Kai ingin menangis, namun ia membendungnya. Ia tidak bisa menangis di tempat ini. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan EXO-K yang ia sayangi. Ia harus kuat.

“Mau bagaimana lagi”, Chanyeol duduk di sofa yang terletak di sudut waiting room, bersatu dengan member lain, “Anak emas kan harus diutamakan”

Kening Kai berkerut mendengarnya. Anak emas?, pikirnya tidak paham. Kai terlalu sibuk berpikir hingga tidak menyadari kehadiran Suho dan Baekhyun yang sudah berdiri di kanan-kirinya.

“Kenapa tidak menjawab!! Bisu ya??”, Suho menggebrak meja dengan keras, membuat ponsel Kai di ujung meja hampir terjatuh. Sigap ia menangkapnya.

“Sombong kamu ya!! Tidak merespon ucapan hyung!!!”, Baekhyun merebut kasar ponsel di tangan Kai, “Nggak usah mainan ponsel!! Rookie kayak kita nggak boleh punya ponsel, tahu!!!Hyung saja nggak punya, masa’ kamu punya!!! Sok gaya kamu!!!”

“Maaf, hyung…”, Kai merunduk patuh, “Ponselnya kumatikan kok, hyung…”

“Sama saja, bodoh!!!”, bentak Suho, “Semua sunbaenim kita tidak punya ponsel saat mereka baru debut!! Kenapa kamu malah punya??! Kamu mau melawan ya?? Dasar sok!!!”

Kai semakin tertunduk.

“Buat apa sih ponsel ini???”, Baekhyun mengacungkan ponsel tepat di depan wajah Kai, “Ngapain kamu bawa-bawa ponsel kalau nggak diaktifkan, bodoh??? Rookie seperti kita nggak boleh punya ponsel!!! Kamu mau diam-diam menghubungi pacarmu ya??! Ayo ngaku!!!”

Kai hanya bisa terdiam. Tangannya meremas satu sama lain, berharap rasa sakit dapat mengalahkan rasa sedih. Dari cermin ia bisa melihat pantulan member lain yang menatapnya penuh benci. Hati Kai ditusuk sembilu.

“Kenapa tidak menjawab??!!”, Suho menoyor kepala Kai, “Nggak bisa menjawab, ha?? Punya mulut tidak???”

Kai mengelus kepalanya. Suho, leader EXO-K yang sangat ia hormati dan ia sayangi tega menyakitinya. Apalagi hari ini adalah hari ulang tahunnya. Coba saja kalau Sehun yang ulang tahun, pasti Suho memujanya sampai mati. Air mata Kai mulai muncul di permukaan.

“Makan ini ponsel!!”, Baekhyun melempar ponsel tepat di pangkuan Kai. Segera Kai tangkap sebelum jatuh dan pecah. “Rookie aja belagu!! Mau jadi apa kamu nanti??! Dasar bodoh!!! Sok!!!”

Hati Kai terasa ditusuk tombak tajam berkali-kali. Setelah memukul kasar kedua bahu Kai, Suho dan Baekhyun kembali duduk bersama EXO-K di sudut waiting room. Kai menggenggam erat ponselnya, berusaha keras menahan air mata yang berdesakan ingin keluar. Ia tidak boleh menangis di sini.

“Sudah tahu rookie nggak boleh punya ponsel, masih saja dilanggar”, Chanyeol menggumam, “Tukang pamer”

“Buat apa sih ponselnya, hyung?”, imbuh Sehun, “Kalau dimatikan kan nggak bisa dipakai juga. Terus buat apa dibawa? Gimana sih??”

“Dia nggak mikir sampai sana kali”, D.O menimpali, “Cuma mikir gimana caranya supaya tampil gaya dan keren di depan orang lain. Kurang eksis ya?”

Kai tidak tahan lagi. Sebelum air matanya benar-benar tumpah, ia segera lari keluar dari waiting room. Beberapa orang tertabrak, tapi ia tidak peduli. Kemanapun kakinya melangkah, ia juga tidak peduli. Ia hanya ingin sendiri. Ia butuh ketenangan. Ia ingin sendiri agar bisa menangis sepuasnya.

BRUK!!

“Maaf… tunggu!! Kai??”, seseorang menahan lengan Kai, “Kai, kenapa kamu menangis??”

Kai menoleh dan melongo habis-habisan saat melihat Lee Sooman berdiri di hadapannya. Mimpi apa dia semalaman, bisa-bisanya ketemu di sini. Segera Kai hapus air matanya. Kalau make-up-nya luntur kan nggak asyik juga, warna hitam berleleran di sekitar matanya.

“Kamu menangis, Kai?”, Sooman menatap Kai, “Kenapa? Ada masalah apa?”

Sempat terpikirkan di benak Kai untuk menceritakan semua perlakuan sinis EXO-K padanya, namun ia tidak mau mengambil kemungkinan mereka akan dimarahi oleh Sooman. Jadi ia memilih untuk diam saja. “Nggak kok, nggak apa-apa. Terima kasih…”

Sooman masih menatap Kai cemas, “Sungguh? Kalau ada apa-apa, kamu bisa menceritakannya padaku…”

“Terima kasih. Sungguh, aku tidak apa-apa…”, Kai memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan, “Ngomong-ngomong, kenapa anda ada di sini?”

“Iya, sedang ada urusan”, jawab Sooman dengan senyum, “Kamu benar tidak apa-apa, Kai? Jangan ragu untuk cerita padaku”

“Terima kasih, tapi aku tidak apa-apa…”, Kai menolak halus. Belum sempat ia memikirkan kalimat selanjutnya, ia sudah mendengar suara Suho.

“Kaaaiii…!!!!!”, Suho menghampiri Kai dari kejauhan, “Kita dipanggil manager lho, ayo cepat”, ia meraih lengan Kai.

Kai menatap Suho datar. Selalu saja seperti ini. Kalau ada orang lain, siapapun itu, baik Suho maupun member EXO-K yang lain pasti akan bersikap baik padanya. Coba saja kalau saat ini tidak ada Sooman, pasti Suho sudah mencak-mencak sambil ngomel seperti tante-tante tua.

“Sooman appa?? Kenapa anda ada di sini???”, Suho melongo melihat sang pemilik SM Entertainment berdiri kalem di depan mereka. sudah jadi kebiasaan bagi EXO-K untuk memanggil Sooman dengan ‘appa’, karena mereka sudah menganggap Sooman layaknya ayah sendiri.

“Iya, ada urusan”, jawabnya santai, “Kalian sudah waktunya tampil? Sukses, ya!”

“Ya, terima kasih”, Suho dan Kai membungkuk bersamaan, membuat Sooman tersenyum. Di matanya EXO-K kelihatan akrab-akrab saja. Baguslah. Karena biasanya, rookie memiliki banyak masalah. Nggak klop sesama memberlah, atau apalah.

“Oh iya, Suho…”, panggilan Sooman membuat Suho mengangkat kepalanya, “Aku ada di lantai atas saat kalian selesai tampil nanti. Kamu ajak EXO-K, kecuali Kai, untuk menemuiku di sana. Paham?”

Suho melirik Kai. Meskipun hanya sekilas, Kai bisa merasakan rasa benci dari sana. Suho kembali menatap Sooman dan tersenyum, “Ya, saya paham. Akan saya ajak member-member saya ke sana nanti”

Tiba-tiba Kai merasa perutnya mulas.

***

Kira-kira apa yang Sooman appa dan EXO-K bicarakan ya?

Aku sangat penasaran. Aku juga ingin ikutan, tapi dilarang oleh Sooman appa. Aku disuruh menunggu.

Duh, aku penasaran.

Kai membaca ulang tulisannya di catatan hariannya. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, tapi EXO-K masih belum selesai diajak ‘bicara’ oleh Sooman.  Tadinya Kai disuruh pulang duluan, namun ia menolak karena malas sendirian di dorm. Sembari menunggu EXO-K, daritadi Kai menunggu di lobi gedung KBS seperti apa. Mendadak ia galau.

Kai menghela nafas, memutuskan untuk berhenti menulis karena penglihatannya sedikit kabur. Sebenarnya Kai merasa keadaannya sedikit memburuk belakangan ini. Entah bagaimana kepalanya sering sakit dan pusing. Ia juga sering merasa mual. Sebagai antisipasi kalau-kalau ia jatuh sakit atau apa, Kai minum obat mulai kemarin, namun hasilnya belum tampak.

Kai menyandarkan kepalanya di kursi, tiba-tiba saja merasa lelah. Pikirannya berputar, mulai mengaduk masa lalu. Entah sudah berapa kali Kai menelan rasa iri saat melihat para sunbaenim-nya akrab satu sama lain. Kai terus bertanya-tanya mengapa ia dan EXO-K tidak bisa seperti itu. EXO-K mungkin terlihat akrab di depan layar, tapi di belakang semua itu EXO-K bisa menjadi pribadi yang sangat berbeda. Kai merasa hidup di dua dunia.

Segala cara sudah Kai lakukan untuk mengakrabkan diri dengan EXO-K, dan tidak ada satupun yang berhasil. EXO-K tetap sinis dan sedingin es padanya. Kai sempat tidak tidur beberapa hari karena memikirkannya. Tidak ada yang berubah. Sekeras apapun Kai berusaha meruntuhkan tembok di antara mereka, tetap tidak ada yang berubah. Tidak ada yang berubah sejak kecelakaan itu.

Kepala Kai mendadak pening begitu mengingat semuanya. Kenapa pula hidupnya harus se-‘menarik’ ini? Dulu saat masih trainee, EXO-K baik-baik saja padanya. Entah kenapa sejak debut, sikap mereka langsung berubah.

Kai menghela nafas.

“… Benar-benar deh!! Menyebalkan sekali anak itu!!!”

Samar-samar Kai bisa mendengar derap langkah dan suara manusia. Ia mengerutkan kening dan menajamkan telinganya.

“… Keterlaluan banget!! Apa sih maunya!!!”

Nah, sekarang suaranya semakin terdengar jelas. Kai menoleh dan melihat semua member EXO-K turun dari tangga. Mereka hanya melirik Kai sinis dan pergi begitu saja.

“Eh, tunggu!!”, Kai membereskan barangnya lalu mengenakan topi dan jaketnya, “Hyung!!! Sehun!!! Tunggu…”

Apa daya, EXO-K bahkan tidak menoleh sedikitpun. Kai segera berlari keluar dari gedung KBS untuk menyusul. EXO-K masih berdiri di depan sana. Pandangannya sempat kabur sesaat, tapi ia tidak peduli. Segera ia hampiri EXO-K yang entah ngapain itu. Nafasnya sedikit tersengal. “Hyung… Sehun… kalian sudah selesai bicara dengan Sooman appa?”

Tidak ada yang menjawab.

Kai masih berusaha menormalkan nafas. Entah kenapa belakangan ini badannya juga sering merasa lelah. Bahkan untuk naik-turun tangga saja, Kai harus menormalkan nafasnya selama lima menit. Kai merasa tubuhnya menjadi aneh.

Tepat sebelum Kai bertanya lagi, Suho sudah mendahuluinya. “Apa yang kamu katakan pada Sooman appa tadi?”

Kai berpikir sejenak. Apa yang ia katakan pada Sooman tadi sepertinya bukan sesuatu yang penting. Hanya ucapan ‘aku baik-baik saja’ selama berkali-kali. Apa pentingnya sih?

“BISA MENJAWAB NGGAK!!!!!!!!!”

Bentakan tiba-tiba dari Suho membuat Kai langsung berjengit kaget. “Iya hyung!!! Bisahyung!!!”, ucapnya latah, “Aku… aku tadi nggak ngomong apa-apa sama Sooma appa kokhyung…”

“Halah, bohong kamu ya!!!”, Suho mendorong bahu Kai, “Nggak usah sok lemah, minta dilindungin sama Sooman appa segala!!! Kami semua sudah tahu sifatmu itu!!! Benar-benar buruk!!!”

“Kamu mau tahu apa yang Sooman appa katakan pada kami?”, kini Chanyeol yang bicara, “Katanya ‘Kalian baik-baiklah pada Kai. Entah karena alasan apa, tadi dia menangis. Aku tidak apa yang terjadi padanya karena dia tidak mau cerita. Mungkin kalian juga tidak penyebabnya. Aku minta pada kalian untuk lebih memperhatikan dan membantu Kai. Siapa tahu ia sedang ada masalah. Bisakan kalian melakukannya?’”

Kai hanya melongo seperti apa.

“Kamu mau tahu lagi??”, Baekhyun membuka mulut, “Kami disuruh menjagamu, juga mengecek keadaanmu. Kami harus selalu menemanimu agar kamu selalu terlindungi. Kami tidak boleh meninggalkanmu saat kamu terluka atau sakit. Intinya, kami HARUS selalu ada untukmu!!! Hah, memangnya kami apa ini?? Bodyguard?? Babysitter?? Yang benar saja!!!”

Kai terdiam mendengar rentetan kalimat dari Baekhyun. Seperti mimpi buruknya selama ini akan terulang lagi, dan firasatnya selalu benar.

“Kenapa harus Kai hyung sih?”, Sehun seperti biasa, tenang namun menusuk, “Kita semua harus menjaga Kai hyung. Kenapa harus Kai hyung? Di sini aku yang maknae, bukan hyung.Kalau semuanya sibuk menjaga Kai hyung, aku dijaga siapa? Harusnya kan Kai hyung yang menjagaku”

“Sehun, kamu lupa ya?”, Suho menimpali, “Kai kan anak emas. Tentu saja kita harus menjaganya. Kalau terjadi sesuatu sama dia kan gawat. Iya kan, anak emas?”, ia melirik Kai.

Yang dilirik hanya mengerutkan kening. “Anak emas? Maksud kalian apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Kai terdiam sejenak, lalu menatap Sehun. “Sehun, kamu tidak usah cemas. Aku mau kok, menjaga Sehun. Kita bisa saling menjaga—”

“Ih!!”, D.O menyela, “Saling menjaga? Sama kamu?? Dih, ogah banget!!! Mending aku dijaga sama tikus daripada kamu!! Hih!!!”

Kai terdiam.

“Ngomong apa sih kamu sama Sooman appa??”, Suho menatap Kai dingin, “Bisa-bisanya sampai kita dibilangin harus menjaga kamu. Usiamu berapa sih?? Dasar anak emas!!!”

Lagi. Kata itu lagi. Kenapa tiap kali EXO-K memarahinya, selalu ada kata ‘anak emas’ di kalimat mereka. Sebenarnya maksudnya apa? “Aku… aku tidak mengerti…”

“Apanya!”

“Kenapa kalian semua selalu menyebutku ‘anak emas’?”, Kai menatap satu-persatu member EXO-K di hadapannya, “Aku tidak mengerti maksud kalian. Anak emas itu apa? Apa hubungannya denganku? Kenapa kalian selalu menyebutku ‘anak emas’? Tolong beritahu aku”

Suho maju selangkah dan menatap Kai dengan tatapan penuh benci. “Kamu ini bodoh atau bego? Kamu ini lulus sekolah nggak sih? Bagaimana bisa kamu tidak tahu istilah ‘anak emas’!!! Aah, atau sebenarnya kamu pura-pura tidak tahu untuk menghina kami semua? Iya kan???!!!”

Kai menggeleng, “Nggak, hyung!!!! Sungguh aku tidak tahu apa maknanya. Anak emas itu apa? Anak yang berlumuran emas?”, tebaknya penuh kepolosan.

“Bukan, idiot!!!”, bentak Suho, “Anak emas itu kamu!!! Kamu yang selalu diperhatikan oleh Lee Sooman!!! Kamu yang diistimewakan oleh semua orang!!! Kamu yang mengeluarkan tiga teasersolo!!! Kamu yang selalu muncul di teaser kami!!!! Kamu yang selalu berada di tengah!!! Kamu yang selalu harus eksis dan muncul dimana-mana!!!! Kamu yang menjadi anak kesayangannya Lee Sooman!!! Anak emas itu kamu!!!!”

Kai terdiam. Pelan otaknya mencerna semuanya.

Kai memang mengeluarkan tiga teaser solo. Ia memang muncul di semua teaser member lain. Ia memang selalu berada di tengah di setiap formasi dance mereka. Tapi ia tidak merasa diistimewakan oleh orang lain. Ia tidak merasa selalu diperhatikan oleh Lee Sooman. Ia tidak merasa menjadi anak emasnya Lee Sooman. Kai mengerutkan kening.

Tiba-tiba saja ia teringat ucapan Lee Sooman dulu saat memperkenalkan EXO-K pada semua staf SM Entertainment. Hanya dia yang dirangkul oleh Lee Sooman, sementara yang lain jalan sendiri-sendiri.

“Ini EXO-K, grupband terbaru SM yang akan debut bulan depan. Yang itu Suho, sebelahnya itu Sehun, lalu Baekhyun, D.O, dan Chanyeol. Nah, yang ini namanya Kai. Dia anak kesayanganku di EXO-K. Kalian baik-baik padanya ya”

Kai merasa sesuatu menusuk ulu hatinya.

“Sudah tahu??”, Chanyeol membuka mulut, “Atau kamu ingat ucapan Sooman appa sebelum kita semua debut?? Dengan jelas memproklamasikan pada semua orang bahwa kamu adalah anak emasnya. Apa semua bukti itu kurang untukmu, hah?????”

Kai terdiam. Ia tatap satu-persatu member EXO-K. Kebencian dan dendam tergambar dengan jelas di wajah mereka. Satu-persatu kenangan setelah EXO-K debut jalan-jalan di pikiran Kai. Saat EXO-K memarahinya. Saat EXO-K terus mencari-cari kesalahannya. Saat EXO-K memanfaatkan kelemahannya. Saat EXO-K tidak mengakui keberadaannya. Saat EXO-K terlihat sangat membencinya. Semua itu hanya karena Kai adalah anak emas Lee Sooman? Itukah alasan yang selama ini dicari oleh Kai?

Hyung… Sehun…”, Kai tidak percaya ia akan mengatakan ini, “Kalian… iri…?”

PLAK!!!!

Rasa perih menjalari pipi kiri Kai setelah Suho mendaratkan tamparan keras di sana. Kai hanya bisa terdiam sembari mengelus pipi kirinya. Suho… seseorang yang sangat Kai kagumi luar-dalam menamparnya. Kai menatap member EXO-K yang lain. Mereka tampak terkejut dengan kelakuan Suho, namun tidak ada satupun yang berniat membela Kai. Kai merasa matanya mulai memanas. Sesaat setelah ditampar Suho, pandangannya mengabur.

“Suho hyung…”, Kai menatap Suho dalam-dalam, “Kenapa hyung menamparku…?”

Suho tidak langsung menjawab. Sedikit penyesalan tampak terlihat di wajahnya, namun ia tidak mengakuinya. “Karena aku benci kamu”, ucapnya dingin, “Kita semua membencimu, Kai. Tidak ada yang menginginkan kehadiranmu di sini. Tidak ada yang mau kamu. Kita semua benci kamu. Selamanya akan benci kamu. Pergilah, Kai. Jangan pernah kembali lagi”

Tepat setelah Suho menyelesaikan kalimatnya, air mata Kai menetes. Ia tatap member lain di belakang Suho, dan mereka tidak tampak repot-repot membela Kai sedikitpun. Hati Kai ditusuk sembilu. “Baiklah. Kalau memang itu yang kalian inginkan, baiklah. Aku akan pergi”

Kai berbalik dan melangkahkan kakinya yang terasa berat. Angin malam menerpa tubuhnya, membuatnya merasa dingin. Kai selalu berharap EXO-K bisa menjadi tempatnya pulang. Bisa menjadi teman sekaligus keluarganya. Bisa menjadi sahabat sejatinya. Hanya karena satu perasaan iri, semua harapannya hancur berantakan.

Kai tidak tahu kemana harus pergi. Pikirannya terasa kosong, tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Kai sempat berharap EXO-K akan menahan kepergiannya, namun tak kunjung terjadi. Saat Kai memberanikan diri untuk menoleh, EXO-K sudah tidak ada. Mereka sudah pergi.

Kai hanya bisa membiarkan air matanya menetes.

***

Kai merapatkan jaketnya kala angin dingin menerpa. Sudah hampir tengah malam dan ia masih melangkahkan kakinya di pelosok Seoul. Kai tidak tahu harus pergi kemana. Ia tidak bisa pulang. Sempat terpikirkan di benaknya untuk ‘mengungsi’ di dorm SHINee, tapi ia tidak tahu alamatnya. Kai merasa terbuang.

Kai melangkahkan kakinya ke pertokoan yang jauh dari pusat kota. Capek, Kai duduk di emperan toko yang sudah tutup. Keheningan malam dan angin dingin menjadi temannya. Kai mengelus pipinya yang sedikit lebam karena tamparan Suho. Kepalanya juga berdenyut-denyut. Perutnya pun bergemuruh. Kai baru ingat, ia belum makan malam. Tadinya ia menunggu EXO-K untuk makan bersama, ternyata ia malah diusir.

Kai menghela nafas. Sungguh ia membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya. Selama ini Kai selalu mencari alasan mengapa EXO-K jahat kepadanya, dan ia sama sekali tidak menyangka bahwa mereka iri kepadanya. Kai benar-benar sedih. Karena dari semua ini, ia tidak tahu bahwa ia adalah anak emas Lee Sooman. Kai tidak tahu bagaimana harus bersikap.

Sekali lagi, Kai menghela nafas.

“Kamu Kai EXO kan?”

Kai mengangkat kepalanya. Entah sejak kapan di hadapannya sudah berdiri lima cewek berwajah angkuh. Kai mengerutkan kening. “Memangnya kenapa? Kalian siapa?”

Bukannya menjawab, mereka malah tersenyum sinis. “Oooh… jadi sebenarnya selama ini EXO memiliki rahasia toh…”

Kai semakin tidak paham. “Rahasia apa?”

“Kamu memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu??”, salah satu dari mereka membentak, “Yah, kalaupun kamu mau menyangkal juga percuma. Kami semua memiliki bukti yang akurat”

“Haah?”, Kai mulai kesal atas ketidakjelasan ini, “Kalian ini bicara apa sih?? Jadi orang itu yang jelas dong!!!”

“NIH!!!!”, cewek yang berdiri paling dekat dengan Kai menunjukkan sebuah foto tepat di depan muka Kai, “Maksud kami itu, INI!!!! Kamu pasti tidak akan bisa menyangkal!!!”

Kai memperhatikan foto itu dengan seksama. Ia bisa menemukan dirinya di sana. Ia juga menemukan Suho di sana. Yang paling membuat Kai terkejut adalah, foto itu menampakkan kejadian saat Suho menampar Kai barusan. Sangat jelas. Sangat nyata.

Kai membeku.

“Nah, kamu mau bilang apa???”, foto itu ditarik dari pandangan Kai, “Kamu tidak akan bisa menyangkal!! Kami punya bukti di sini!!!!”

Kai hanya terdiam.

“Naah, enaknya foto ini kita apakan ya???”, salah satu dari mereka berseru, “Kalau kita jual ke majalah, pasti laku keras!!! EXO akan kehilangan pamor mereka!! Tidak hanya itu, SM Entertainment juga pasti kena imbasnya!!! Hahaha!!!!”

Kai mulai menatap mereka tidak suka. Perasaannya mengatakan ia harus menghentikan mereka. Bukan karena EXO bakal kehilangan pamor atau apa, tapi Kai merasa tidak enak kalau parasunbaenim-nya juga terseret dalam masalah ini. Belum lagi kalau EXO-K dimarahi habis-habisan oleh Lee Sooman. Kai tidak tega. Kai harus menghentikan mereka.

“Kalian tidak akan melakukannya”, Kai berdiri, “Kalau aku mengambil bukti itu”

“Eeh, memangnya kamu bisa???”, gerombolan di hadapan Kai mundur selangkah, “Coba saja kalau kamu berani!!!”

Kai segera merebut foto itu, namun ia kalah gesit. Gerombolan manusia di hadapannya sudah lari duluan. Kai geram. Kalau ia tidak merebut foto itu, kalau ia tidak menghapus bukti itu, EXO-K akan mendapatkan tekanan yang berat. Kai tidak mau. Kai tidak tega melihat EXO-K dihina-hina oleh majalah dan semua orang. Kai tidak sampai hati. Ia harus merebut foto itu.

Segera Kai berlari mengejar. Tidak ia pedulikan tubuhnya yang meraung minta istirahat. Gerombolan tadi sudah pecah, tersebar kemana-mana. Yang Kai kejar hanya satu, cewek berambut pirang yang memegang foto. Kalau foto itu ada di tangan Kai, semua akan selesai. Kai tahu, mereka tidak memiliki copy­-an foto itu karena diambil oleh kamera polaroid, bukan kamera digital. Kamera polaroid adalah kamera yang bisa langsung mencetak foto yang diambil. Kai rasa mereka juga tidak sepintar itu untuk menggandakan fotonya.

Entah dapat kekuatan darimana, Kai merasa larinya lebih cepat dari biasanya. Begitu cepat hingga ia berhasil menangkap lengan cewek berambut pirang, sang pemegang foto. Entah memang Kai yang larinya cepat, atau ceweknya saja yang larinya lambat. “Lepas!!!!”, cewek itu meronta.

“Aku akan melepaskanmu, kalau kamu melepas foto itu”, Kai berusaha menormalkan nafasnya dalam tenang.

“Enak saja!! Kamu pikir kamu siapa???”, tolaknya mentah-mentah.

“Baiklah. Kalau dengan cara halus tidak bisa, akan kulakukan dengan kasar”, Kai merebut foto itu, namun gagal. Kai terus berusaha menggapai foto itu. Kepalanya yang pusing, pandangannya yang mengabur, tubuhnya yang terasa lemas, semua tidak ia indahkan. Yang ia pedulikan hanya bagaimana merebut foto itu dan pergi dari sini. Semua ini bukan demi dia, tapi demi EXO-K. Pada akhirnya, Kai berhasil merebut foto itu. Segera Kai genggam erat-erat sebelum direbut balik.

DUAGH!!!!!!!

Kai masih memikirkan langkah selanjutnya saat ia merasakan benturan keras di kepalanya. Kai terhuyung beberapa saat, lalu ambruk ke tanah. Kepalanya pusing sekali. Pandangannya mengabur. Samar-samar ia masih bisa mendengar suara-suara di sekitarnya.

“Kamu!! Kenapa kamu pukul dia dengan kamera!!! Lihat, sekarang dia tidak sadarkan diri!!!!!”

“Aku hanya mencoba menolongmu!!!!”

“Aku tidak butuh bantuanmu!!!!”

“Cukup! Kenapa kalian malah ngeributin itu?? Sekarang kita harus bagaimana?? Kita bisa dituntut, tahu!!!”

“Ayo kabur!!!”

“Iya, lebih baik kita kabur!!!!”

“Cepat!!!!”

Kai bisa mendengar derap langkah kaki, semakin lama semakin menjauh dari pendengarannya. Dalam sekejap saja, kesunyian kembali menemani Kai. Gerombolan cewek itu benar-benar kabur. Kai tidak peduli, sebab bukti masih ada di tangannya. Kai tersenyum tipis.

Hyung… Sehun… aku capek…”

Kai merasakan sesuatu yang hangat di tangannya, dan sebelum ia tahu apa itu, ia sudah memejamkan matanya.

***

Suho menghela nafas berat. Rasanya ia ingin mati saja saat melihat Kai di ruang ICU dengan berbagai macam selang di badannya. Suho merasa lebih dari bodoh. Leader macam apa dia? Mana ada leader yang membiarkan anak buahnya jalan-jalan sendirian dengan kondisi sakit di malam hari? Mungkin hanya dia.

Suho mencoba menelan air matanya.

Hyung…”, panggilan kecil dari Sehun membuat Suho menolehkan kepalanya, “Hyung tidak istirahat? Hyung sudah berdiri di sini lebih dari tiga jam kan? Istirahatlah dulu, hyung. Biar aku yang memantau kondisi Kai hyung…”

“Aku tidak apa-apa kok”, Suho mengulas senyum, “Sehun saja yang istirahat. Nggak usah mencemaskan hyung

Hyung…”, Sehun bersikeras.

Suho menghela nafas dan menatap Sehun, “Sehun, hyung-mu yang lain sedang apa?”

“Tidur”

“Nah, hyung minta tolong pada Sehun, tolong jaga mereka ya”, Suho menaruh tangannya di bahu Sehun, “Kalau ada apa-apa, hyung akan segera memberitahu Sehun. Sekarang, tolong Sehun jaga yang lain untuk hyung ya”

“Siap”, dan Sehun langsung kembali ke ruang tunggu, bersama member-member lain yang tidur di sana.  Tidak heran mereka mengantuk, sekarang masih jam tiga pagi.

Suho tersenyum tipis. Mana bisa ia duduk dan leyeh-leyeh sementara anak buahnya di sana, dengan berbagai macam selang infus? Ia tidak bisa melakukannya. Sejak tiga jam yang lalu, Suho terus memperhatikan Kai dari balik jendela ruang ICU. Dokter-dokter sibuk di sekelilingnya. Salah satu dari mereka sudah memberitahukan Suho, bahwa Kai mengalami benturan di kepalanya dan tidak sadarkan diri. Karena sebelumnya Kai sudah sakit, kondisi Kai semakin buruk. Suho merasa bodoh karena membiarkan hal ini terjadi. Apalagi ia peyebab salah satu rasa sakit Kai. Tangannya masih terasa panas sejak menampar Kai tadi.

Suho mengutuk dirinya sendiri.

Kertas kusut di tangan Suho masih ia genggam erat-erat. Foto itu. Foto dimana Suho menampar Kai seakan balik menamparnya. Suho sangat tahu, kalau foto ini diketahui oleh masyarakat, pamor EXO maupun SM Entertainment akan turun drastis. Membayangkan Kai yang merebut foto ini hingga terluka membuat Suho ingin berteriak. Kalau Kai saja mampu melindunginya, kenapa ia tidak mampu? Tidak ada member EXO-K yang tahu hal ini. Coba saja kalau mereka tahu, bisa-bisa mereka menangis meraung-raung. Biar saja Suho simpan hingga waktunya tiba.

“Suho”

Refleks Suho segera memasukkan foto di tangannya ke dalam saku. Tadinya Suho kira Sehun atau yang lain memanggilnya, dan ia membeku kala menatap Lee Sooman berdiri di hadapannya. “Sooman appa…”

Imajinasi liar Suho mengatakan bahwa Sooman akan menggamparnya habis-habisan karena telah membuat anak emasnya terluka. Kenyataannya, Sooman hanya menatap Suho sejenak lalu bertanya, “Mana membermu yang lain?”

“Lagi… tidur…”

“Bangunkan mereka. Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian”

“Baik”, Suho segera melesat ke ruang tunggu. Tidak sampai sepuluh menit, Suho sudah kembali dengan member-member EXO-K di belakangnya. Wajah mereka rata-rata sama, menyiratkan rasa cemas dan takut. Cemas akan kondisi Kai, dan takut akan kemungkinan mereka dibuang satu-satu ke laut oleh Sooman.

Sooman hanya bisa menghela nafas, lalu menatap Kai yang terbaring di ruang ICU. “Sebenarnya apa yang terjadi?”

Suho terdiam, pun dengan member lain. Apa yang bisa mereka katakan di saat seperti ini? Mengaku bahwa selama ini mereka mem-bully Kai? Entah bagaimana Suho belum siap melakukannya. Bisa Kai bayangkan betapa kecewanya Sooman kalau tahu hal ini. Atau sesuatu yang lebih ekstrim, Sooman akan langsung membunuhnya di tempat.

“Suho, aku bertanya padamu”

Suho tahu ia tidak bisa lari lagi, jadi ia putuskan untuk mengakhiri semuanya. “Sooman appa… sebelumnya ada yang ingin kami katakan padamu. Kami akan bersikap jujur. Selama ini… kami mem-bully Kai…”

Sooman terdiam.

“Kami iri padanya, appa…”, Baekhyun melanjutkan, “Kami iri karena dia anak kesayangan appa. Kami iri karena dia selalu diperhatikan oleh appa. Karena itu kami bully dia. Tidak ada orang yang tahu hal ini, karena kami melakukannya diam-diam. Kami melakukannya di balik kamera”

“Kami selalu memarahinya, appa”, D.O membuka mulut, “Kami tidak pernah mengakui keberadaannya sebagai member EXO-K. Aku bahkan tidak mau lagi sekamar dengannya. Setiap kesalahan kecilnya selalu kami besar-besarkan. Kami selalu mencari alasan agar bisa mengganggunya. Tiada hari bagi kami untuk tidak mem-bully dia

“Kami juga tidak akrab dengannya”, kini Chanyeol yang bicara, “Kami jarang berbicara dengannya. Kami tidak tahu apa kebiasaan ataupun hobinya, juga kesukaannya. Kami bahkan tidak tahu tanggal lahirnya. Kami terlalu sibuk dengan rasa iri dan benci kami, hingga kami tidak punya waktu untuk memperhatikannya. Padahal Kai hafal setiap sisi diri kami”

“Aku juga tidak pernah menghormatinya”, si kecil Sehun bergumam, “Aku lebih muda darinya, tapi aku tidak pernah menunjukkan rasa hormatku pada Kai hyung. Aku bahkan ikut mengata-ngatain dia. Aku bukan maknae yang baik. Aku bukan adik yang baik untuk Kai hyung

Suho mengeluarkan lipatan foto di sakunya dan memberikannya ke Sooman. Cepat atau lambat, bukti ini akan ketahuan. Suho sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya. “Appa… coba lihat ini”

Sooman menerima kertas lecek dari Suho dan tertegun begitu melihat gambar yang tercetak di sana.

“Aku menamparnya, appa”, ujar Suho tak lama kemudian, “Setelah appa meminta kami untuk lebih menjaga dan memperhatikan Kai, kami benar-benar marah dan benci padanya. Kai sempat menebak bahwa kami iri, dan aku sangat tidak suka kalau dia tahu. Refleks aku menamparnya dan mengusirnya. Lalu dia pergi dari hadapan kami, dan semua ini terjadi”

Sooman hanya terdiam mendengar semua penjelasan yang masuk ke telinganya. Sungguh ia sama sekali tidak menyangka EXO-K memiliki masalah seperti ini. Ia tidak tahu harus bilang apa.

“Maafkan kami, appa”, Suho menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Silahkan appa marahi kami sepuasnya. Kami akan menerima semuanya. Karena kelalaianku, Kai jadi begini. Appa boleh menghukum kami dengan apa saja”

Sooman terdiam sejenak. “Mana mungkin aku menghukum kalian. Kalian semua adalah anak-anak yang kubanggakan. Aku tidak akan memarahi kalian, tapi aku hanya meminta satu hal pada kalian. Apakah kalian ingat kecelakaan yang kalian alami tiga bulan yang lalu?”

Suho maupun member EXO-K yang lain mengangguk. Tentu saja mereka ingat kecelakaan itu. Saat itu untuk pertama kalinya, lagu EXO-K menduduki peringkat pertama di Music Bank. Sepulang jadwal malam itu, mereka memutuskan untuk merayakannya bersama. Member lain menyuruh Kai pulang duluan karena mereka tidak ingin ada Kai, dan ia menurut. Siapa yang tahu dalam perjalanan pulang, mobil yang mereka naiki ditabrak oleh bus? Semua member, bahkan sopir terluka.

“Aku bersyukur kalian sudah pulih”, Sooman melanjutkan, “Luka kalian sangat parah. Salah langkah sedikit saja, mungkin kalian sudah pergi dari dunia ini. Chanyeol dan D.O, kalian kehilangan banyak darah. Kalian ingat golongan darah kalian?”

“A”, jawab mereka berbarengan.

Sooman tersenyum, “Nah, golongan darah Kai juga A. Kalian tahu, ia mendonorkan darahnya untuk kalian. Setelah ia sampai di rumah sakit, Kai menangis tak henti-henti melihat kondisi kalian. Aku saja sampai bingung bagaimana mendiamkannya. Aku sampai minta bantuan SHINee untuk menemani dia. Setelah kalian dipindah ke kamar rawat, Kai tidak bisa berhenti menjaga kalian. Suho, Kai menungguimu setiap malam. Ia berpindah-pindah kamar rawat, berharap salah satu dari kalian siuman. Setiap kali infus kalian habis, Kai segera meminta perawat menggantinya. Kai juga rutin mengganti perban kalian. Bila dokter datang memeriksa kalian, Kai hadir di sana dan tidak mau keluar. Kurasa Kai tidak tidur selama kalian masih dirawat”

Semua member membentuk mulutnya menjadi huruf O.

“Aku bukan ingin menyalahkan Chanyeol dan D.O, tapi Kai mendonorkan banyak darah untuk kalian”, Sooman melanjutkan, “Percaya atau tidak, kini Kai menunjukkan gejala kurang darah. Diam-diam ia minum suplemen penambah darah. Ia sering pusing dan pingsan kalau kecapekan, semua itu karena ia kurang darah”

Semua member kini menundukkan kepalanya.

“Untuk lebih jelasnya, kalian bisa membaca ini”, Sooman menyodorkan sebuah buku bersampul biru di hadapan Suho, “Semua kebenaran tertulis di sini”

Suho menerima buku tersebut dalam diam. Apa ini? Ia balik-balikkan halamannya, baru sekitar lima yang diisi. Sedikit ragu, ia buka halaman pertama.

Tadinya buku ini hanya buku lamaku yang kosong. Kuputuskan untuk diisi dengan keluh kesahku saja.

Sebab semakin hari aku semakin tidak tahu harus bagaimana.

Aku tidak punya tempat mengadu tentang sikap mereka.

Suho terdiam. Meskipun ia tidak mau, tangannya memaksa untuk membuka halaman selanjutnya.

Hari ini, EXO-K masih bagaikan es padaku.

Tuhan, tolong tunjukkan padaku mengapa mereka seperti ini.

Aku sayang mereka. Aku ingin bisa akrab dengan mereka. Tuhan, Engkau pemilik hati mereka. Tolong bukakan pintu hati mereka untukku.

Apa salahku? Tuhan, aku hanya ingin dekat dengan member EXO-K, karena aku sangat menyayangi mereka.

Aku tidak tahu apa-apa. Mereka semua membenciku tanpa alasan yang tidak kuketahui. Mereka tidak mengakui keberadaanku sebagai member EXO-K. Mereka tidak pernah memanggil namaku. Mereka tidak menyayangiku. Di depan kamera mereka biasa saja padaku, tapi bila kamera sudah dimatikan, sikap mereka akan berubah padaku.

Aku salah apa, Tuhan?

Sebegitu bencikah mereka kepadaku?

Tidak ada yang berubah sejak kecelakaan itu.

Suho mulai menghela nafas. Sekali lagi, tangannya memaksa untuk terus membuka halaman berikutnya. Suho membalikkan halaman dan tulisan Kai memenuhi tiga halaman selanjutnya. Rupanya Kai menulis tiga halaman sekaligus. Sedikit takut, Suho membacanya.

“Suho hyung?”, si kecil Sehun bergumam, “Kenapa? Kok hyung nangis?”

Mati-matian Suho berusaha menelan air matanya, namun ia tidak bisa. Setelah membaca tulisan terakhir Kai, air matanya sudah tidak tertampung lagi. Ia menangis. Untuk pertama kalinya di hadapan member-membernya, ia tunjukkan air matanya.

Hyung…”, Baekhyun menatap Suho cemas, “Kenapa? Itu buku apa, hyung?”

“Bacakan dong!!”, seru Chanyeol, mulai ngaco.

Suho menggeleng. Ia menyodorkan buku itu pada Chanyeol dan mengisyaratkan mereka untuk membaca sendiri. Meski bingung, mereka menurut. Suho terduduk di lantai, tidak mau pusing dan jatuh pingsan karena tangisannya sendiri. Suho masih berusaha menahan air matanya, namun itu sulit. Tulisan Kai sangat menusuk ulu hatinya.

Semua member berpandangan sejenak, lalu membaca bersama-sama.

Akhir-akhir ini banyak masalah. Aku lelah menghadapinya, namun aku kuat menghadapinya.

Hari ini aku berulang tahun. Rasa sedih terasa merayap karena tidak ada EXO-K yang tahu hal itu. Pagi tadi, aku mendapat kiriman kue dari Sooman appa. Melihatnya, EXO-K justru memarahiku. Mengatakan aku sombong, manja, dan semacamnya.

Aku sangat ingin berkata, di ulang tahunku aku tidak meminta apapun selain kehadiran mereka, namun aku tidak bisa.

Tadi aku juga dimarahi saat menunggu waktu tampil di Music Bank. Karena aku dirias terakhir, dan karena ponsel yang kubawa. Suho dan Baekhyun hyung memarahiku habis-habisan, karena katanya rookie sepertiku nggak boleh punya ponsel.

Aku ingin menjelaskan pada mereka, bahwa ponsel itu milik Taemin hyung yang rusak. Dia memintaku untuk memperbaikinya karena di dekat dorm ada servis ponsel. Tapi aku tidak bisa bilang.

Kurasa belakangan ini kondisi tubuhku memburuk. Tadi saat tampil aku hampir limbung, untungnya aku mampu menyadarkan diriku sendiri. Aku tidak mau membuat EXO-K khawatir, meskipun aku sangsi apakah mereka memikirkan kondisiku.

Setelah jadwal EXO-K selesai di Music Bank, Sooman appa mengajak mereka bicara kecuali aku. Kenapa aku tidak diajak ya? Aku kan penasaran. Aku ini anak yang kepo.

Kira-kira apa yang Sooman appa dan EXO-K bicarakan ya?

Aku sangat penasaran. Aku juga ingin ikutan, tapi dilarang oleh Sooman appa. Aku disuruh menunggu.

Duh, aku penasaran.

Daritadi aku menunggu, tapi mereka belum juga selesai. Padahal aku ingin segera pulang. Suplemen penambah darahku tidak kubawa dan kini kepalaku pusing-pusing. Mana aku belum makan malam pula. Aku sengaja menunggu EXO-K, karena kita bisa makan bersama nanti.

Habis. Tulisan Kai sudah tidak terlihat lagi. Tentu saja. Setelah Kai selesai menulis kalimat tadi, ia diusir oleh EXO-K. Mana sempat ia nulis-nulis?

Reaksi semua member sama seperti Suho, kini mereka semua menangis bersama-sama. Baekhyun dan Chanyeol melantai, memeluk Suho bersama-sama. D.O menangis dalam diamnya. Sehun sendiri sudah teriak-teriak, “UWAAAAA!!!! Kai hyung, jangan matiiiiii!!!!!”

Rasa bersalah kini menyelimuti EXO-K. Buku itu telah membuka hati mereka. Satu-persatu ingatan mereka saat mem-bully Kai seakan membunuh dari dalam. Kai tidak pernah berontak. Ia tidak pernah memarahi balik atau melawan saat ia dimarahi untuk sesuatu yang tidak jelas. Kai juga tidak pernah mengadu meski ia berhak melakukannya. Ia hanya diam dan menerima semuanya. Karena ia sayang EXO-K.

“HUWEEE!!!!”, teriakan heboh si kecil Sehun malah semakin keras, “Hyung, Kai hyung tidak akan apa-apa kan?? Kai hyung tidak akan mati kan?? Aku masih mau ketemu Kai hyung!!!! Huwaaangg…”

D.O merangkul Sehun yang masih nyerocos seperti apa. Pasalnya ia sendiri tidak yakin apakah Kai akan baik-baik saja. Sedari tadi Kai belum membuka matanya. Kalau seandainya EXO-K akan menjadi lima orang, D.O tidak akan bisa berhenti menyalahkan diri sendiri.

“Kalian semua sedang apa?”

Mendengar suara itu, semua member menoleh. Mereka melongo habis-habisan kala melihat Kai di sana, berdiri dengan selang infus di sebelahnya. Bahu Kai di pegang oleh Sooman, antisipasi kalau anak itu tiba-tiba jatuh. Semua member tertegun.

Kai sendiri kebingungan. Yang ia ingat terakhir kali adalah, ia dipukul dan dilarikan di rumah sakit. Mimpi apa semalam? Begitu bangun, ia melihat EXO-K menangis meraung-raung di luar ruang ICU. Pada ngapain sih?

“KAI HYUUNNGGG…….!!!!!”, Sehun berlari memeluk Kai. Kai sendiri hanya bengong, karena nggak pernah berada dalam radius 1 cm dengan Sehun. “Maafkan aku, hyung. Mulai sekarang aku akan menjadi adik yang baik. Aku nggak akan ngata-ngatain hyung lagi. Aku akan menghormatimu, hyung

Kai shock.

Belum selesai dengan rasa shock-nya, Baekhyun, Chanyeol, dan D.O memeluknya berbarengan. “Maafkan kami, Kai. Kami sudah benar-benar jahat kepadamu. Kami nggak akan mengulanginya lagi. Kami akan menyayangimu. Kami akan memanjakanmu seperti kami memanjakan Sehun. Maafkan kami, Kai. Maafkan kami…”

Kai tambah shock. Ini pada ngapain sih? Ada acara apaan kok pada insyaf barengan seperti ini?

Kai menatap Suho. Ia sudah tidak melantai, kini ia berdiri dengan wajah sendu. Kai ingin tahu alasan di balik wajah itu, namun ia takut bakal digampar lagi. Saat Suho mendekatinya, Kai hanya bisa tertunduk takut. Tidak bisa dipungkiri sudut hatinya trauma.

Di luar dugaan, Suho justru mengelus pipi Kai yang tadi ia tampar. “Apa masih sakit?”

“Hah?”

“Pipimu, apa masih sakit?”

Kai menggeleng, “Sudah nggak kok, hyung

“Hm…”

Kai hanya bisa melongo seperti apa saat Suho juga memeluknya. Demi apapun, ini ngapain sih? “Maafkan aku, Kai. Aku tidak akan menjahatimu lagi. Kamu adalah memberku. Adik yang seharusnya kulindungi. Tidak sepantasnya aku menyakitimu. Kuakui aku memang iri karena kamu anak kesayangan Sooman appa. Karena itulah aku tidak bisa berhenti mengganggumu. Namun di luar semua itu, sesungguhnya aku sangat menyayangimu”

Kai terdiam. Suho yang tadi menamparnya penuh benci, kini memeluknya dengan mengatakan bahwa ia menyayangi Kai? Perasaan Kai campur aduk. Antara bahagia dan bingung, semua menjadi satu. Apa yang Kai harapkan selama ini, apakah akan menjadi kenyataan?

Suho melepas pelukannya dan tersenyum, “Cepat sembuh ya. Nanti setelah kamu pulang, kita rayakan ulang tahunmu bersama-sama”

“Ayo, ayo!!!”, malah Chanyeol yang semangat, “Kai, kamu suka makanan apa? Mulai sekarang kamu harus cerita semuanya padaku. Apa yang kamu suka, apa yang kamu benci, siapa yang orang yang kamu suka, pokoknya ceritakan semua padaku!!”

“Eeh, kenapa harus ke kamu? Aku juga bisa!!!”, D.O menimpali, “Kai, kamu cerita padaku saja. Jangan sama Chanyeol, nanti rahasiamu nggak aman lho”

“Kamu pikir aku biang gosip?”

“Aku juga mau tahu lebih banyak tentang kamu, Kai”, imbuh Baekhyun, “Daripada cerita ke dua anak ini, mending sama aku aja. Apalagi kalau masalah cinta-cintaan, wah aku masternya!!!!”

“Sehun juga mauuu…”, lolong Sehun.

Kai hanya bisa membentuk mulutnya menjadi huruf O.

Suho melirik Kai, lalu tertawa sejenak. “Maaf, ya. Kuharap kamu bisa mengerti. Mereka memang gila”

Kai tersenyum mendengarnya. Ia tahu, kini ia tidak sendirian lagi. Tadi saat Kai membuka mata, ia sangat terkejut ada Sooman di sisinya. Sooman bilang padanya, bahwa kini penderitaannya sudah usai. EXO-K akan kembali padanya. Kai tidak akan bisa lebih bahagia dari saat ini.

“Aku tahu, Kai”, Suho bergumam, “Ternyata kita semua adalah anak kesayangan Sooman appa. Tanpa kusadari, sesungguhnya appa sudah berbuat banyak untukku juga. Aku sudah terlalu sibuk dengan rasa iri dan benci padamu, jadi tidak menyadari hal itu. Maafkan aku ya, Kai”

“Sebelum hyung dan yang lain meminta maaf, aku sudah memaafkan kok”, Kai tersenyum, “Karena aku sayang EXO-K, hyung

“Kami juga menyayangimu, Kai”

The end

Credit : EXO Fans Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s