EXO Playgroup: National Children’s Day

EXO Playgroup

 

Author : Lulu

Main Casts : EXO member

Support Casts : Sunny as teacher

Genre : Playgroup life, friendship, comedy

Rating : General

Lenght : One shot

Disclaimer : I do not own the casts. Ide cerita murni dari author. Kalau nanti ada kesamaan cerita sama yang lain, cuma kebetulan semata

Synopsis : Murid-murid EXO Playgroup ikut serta dalam perlombaan antarplaygroup di hari anak nasional

***********

“Semuanya tunggu di sini sampai soensaengnim kembali! Jangan kemana-mana! Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo, ingat jangan lari-larian! Kai, jangan ganggu murid playgroup lain! Aigoo, Xiumin, Chen, berhenti main tinju-tinjuan sekarang! Tao, Lay, Suho, jangan duduk di lantai sayang, itu kotor! Ayo berdiri! Yaa, Sehun, Luhan, kalian berdua mau kemana? Cepat kembali ke sini! -_- Kris, kamu awasi mereka! Semua dengar soensaengnim?” ujar Sunny bertubi-tubi sambil mengumpulkan murid-muridnya.

Murid-murid EXO Playgroup memasuki sebuah indoor theme park, tempat mereka akan mengikuti berbagai macam perlombaan antar playgroup se-kota Seoul dalam rangka hari anak nasional. Tempat itu mulai dipadati murid-murid playgroup dan pengunjung lainnya. Masing-masing anak membawa bendera kertas kecil di tangannya yang bertuliskan nama playgroup mereka. Murid EXO Playgroup sendiri terlihat sumringah, tertawa-tawa, melompat-lompat kegirangan, dan penuh semangat. Mereka kemudian sibuk membandingkan seragam murid-murid dari playgroup lain, membandingkan warna dan model bendera yang lain, bahkan membandingkan kecantikan gurunya, Sunny dengan guru yang lain. Perhatian mereka lalu teralihkan oleh berbagai macam wahana permainan, stand makanan dan minuman, badut, balon, serta hal-hal lainnya. Surga anak-anak!

NEE SOENSAENGNIM!” teriak mereka bersamaan sambil mengacungkan jempolnya ke arah Sunny dan mengedipkan sebelah mata.

Sunny mulai mengantri di stand lomba, membuat konfirmasi dengan panitia. Untung saja walau ada beberapa lomba yang jarak waktunya hampir bersamaan, ada kemungkinan ia masih bisa melihat semua muridnya di perlombaan.

Namun, betapa terkejutnya ia saat kembali ke tempat murid-muridnya. Tak ada satu pun di sana. Matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar, kepalanya lalu memutar ke segala penjuru, mencari-cari sosok kecil bertopi dan berblazer pink. Dasar bandel!

“Aiiiiisssshhhh!!!!!!” ヽ(`Д´)ノ

Sunny menghentakkan sebelah kakinya karena kesal lalu terjongkok cemberut dan berteriak-teriak tidak jelas.

Di tengah-tengah theme park tersebut terdapat pilar tinggi raksasa yang di atasnya terpasang empat layar lebar di setiap sisinya. Layar itu lalu menampilkan seorang gadis yang bertugas sebagai MC untuk menyapa pengunjung. Suara MC yang berasal dari speaker di langit-langit theme park memenuhi ruangan. Kerap pengunjung bersamaan menengadahkan kepalanya ke arah layar.

Annyeonghaseyo! Yoo Mi imnida! Selamat datang para pengunjung indoor theme park di hari anak nasional ini, terutama bagi Anda, para guru dan murid-murid playgroup se-kota Seoul yang berpartisipasi dalam rangkaian lomba hari ini. Saat ini bersama saya sudah ada dua murid playgroup yang lucu.”

Sunny menghentikan langkahnya mengitari theme park saat perhatiannya tertuju pada layar besar. Kamera lalu menyorot dua anak bertopi dan berblazer pink sedang melompat-lompat sambil mengibar-ngibarkan bendera playgroup. Omo! Gawat!

YEEEEEYYYYY!!!” teriak dua anak itu lengking dan sekejap terdengar bunyi mic bising yang memekakkan telinga.

Annyeonghatheyo! Jeoneun Oh Thehun imnida!

Annyeonghaseyo! Xi Luhan imnida!

Otte! Sehun, Luhan, dari playgroup mana sayang?

EXO Playgroup!” seru mereka lantang sambil menunjukkan benderanya.

Soensaengnim-nya dimana sekarang?

Soensaengnim hilang, noona! Tadi aku sama Sehun disuruh nunggu dia ehh tapi nggak kembali-kembali. Cariin soensaengnim juseyo! Nanti soensaengnim bisa nangis.

Pengunjung mulai tertawa dengan tingkah dua anak itu. Wajah Sunny memanas. Ia bahkan bisa mendengar pengunjung lain di sekitarnya sedang menertawakan ‘siapa’ yang dimaksud soensaengnim itu. Tentu saja dirinya! Dan perlu ditegaskan! Siapa sebenarnya yang hilang? Dia atau anak-anak itu? Errrrrr

NOONA, THURUH THOENTHAENGNIM KE THINI JUTHEYO! KATHIHAN THOENTHAENGNIM TERTHETHAT, PATHTI THENDIRIAN DAN KETHEPIAN.

“……………. Ngomong apa sih? -____-

Gelak tawa pun pecah. Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Sehun. Terkadang Sehun berbicara sangat cepat ditambah dengan kecadelannya sehingga membuat orang-orang sering kebingungan berkomunikasi dengannya. Sunny berlari sambil tertunduk malu menuju tempat dimana dua anak itu berada. Ditengah kerumunan orang yang menertawakannya, ia benar-benar tidak sanggup menatap layar besar. Sesampainya di sana, ia masih melihat Luhan dan Sehun diwawancarai oleh MC. Luhan yang pertama menyadari kehadiran Sunny.

“Ahh, soensaengnim!” teriak Luhan mengibar-ngibarkan bendera.

Sunny merasa semua pandangan tertuju padanya berikut tawaan pengunjung. Ia memasang senyum kecil, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, berjalan sambil membungkuk sesekali, dan menghampiri kedua anak itu. Sehun dan Luhan langsung menghambur memeluknya.

“Sudah soensaengnim bilang jangan pergi kemana-mana. Kenapa keluyuran?”

Sehun dan Luhan cuma tertawa-tawa dan tidak menjawab pertanyaan Sunny. Gurunya itu memutar bola mata lalu tersadar oleh sesuatu. Ia melirik jam tangannya.

“Gawat! Lomba fashion show Kris sudah mau mulai!”

Dengan cepat Sunny meraih tangan Luhan dan Sehun lalu mengambil langkah lebar ke arena lomba Kris. Kedua anak itu harus berlari untuk menyesuaikan langkahnya dan berjinjit untuk menyesuaikan tinggi badan.

“Mana Kris?” tanya Sunny dengan napas terengah-engah setibanya di sana.

“Sudah bersiap-siap di dalam,” jawab Lay kebingungan melihat gurunya, Luhan, dan Sehun seperti baru selesai lomba lari.

“Soensaengnim dan kalian berdua dari mana saja?” tanya Kai tertawa kecil.

Sunny mencubit pelan pipi kiri Kai. Anak itu bisa-bisanya! Seharusnya ia yang bertanya begitu. Ternyata Kai dan Lay sudah sedari tadi berdiri di pinggir cat walk menunggu Kris. Kini arena itu mulai ramai dipadati pengunjung dan murid-murid playgroup lain. Begitu acara dimulai, anak-anak peserta lomba itu muncul satu per satu berjalan di atas cat walk dengan hairstyle dan kostum pemberian sponsor. Semua menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil berlenggak-lenggok. Beberapa dari mereka berjalan terlalu dibuat-buat, ada juga yang pemalu. Yaa, namanya juga fashion show anak-anak! Kai, Lay, Luhan, dan Sehun pasti mencibir, menjelek-jelekkan, mengolok-olok tiap peserta dari playgroup lain dan kerap kali terdengar ke telinga para guru, murid, dan orang-orang di sekitarnya. Sunny jadi tidak enak hati. Ingin rasa menyumpal mulut cerewet mereka meski dalam hati ia setuju dengan pernyataan keempat anak itu.

Begitu anak yang lain meninggalkan cat walk, anak lelaki bertubuh tinggi itu muncul. Rambut keemasannya terlihat sangat bergaya, kostumnya membuatnya nampak keren namun tetap tidak meninggalkan kesan anak playgroup. Ia berjalan dengan tegap, penuh percaya diri, dengan senyum khas di bibirnya. Lampu sorot yang mengikutinya makin membuatnya bersinar dan memperjelas wajahnya yang tampan.

Nomor 34, Wu Yi Fan dari EXO Playgroup.

Tepuk tangan dan teriakan-teriakan ala fangirl berdatangan di segala penjuru. Para noona yang melihat Kris dari empat layar lebar di pilar pusat theme park, langsung menuju arena fashion show dan melompat-lompat kegenitan, mengabadikan Kris dengan kamera dan handycam mereka. Sunny juga beberapa kali mengambil foto Kris dan merekamnya. Seketika arena itu menjadi sesak. Kata-kata pujian juga terlontar dari beberapa guru playgroup yang berdiri di sekitar sana. Sunny merasa sangat puas, tersenyum sombong, melipat tangannya di dada, mengangkat dagu, dan memasang ekspresi ‘dia itu murid saya lho, murid saya.’

“YEEEYYYYY!!! URI DUIZHANG!!!” seru keempat anak itu sambil melompat tinggi-tinggi tidak kalah hebohnya di tepi cat walk untuk ketua kelasnya itu.

Moment singkat itu berakhir saat Kris meninggalkan arena. Terdengar desahan penonton bersamaan. Tapi entah kenapa Sunny merasa gaya Kris tadi terlalu berlebihan. Sok tebar pesona -_- Kemungkinan menang sekitar 78%

Ia masih senyum-senyum sendiri saat menyadari Kai, Lay, Luhan, dan Sehun sudah tidak ada di depannya lagi. Begitu ia menoleh ke belakang, mereka berempat tengah serius merundingkan sesuatu sambil berbisik-bisik dengan tangan saling merangkul bahu yang lainnya membentuk lingkaran kecil. Dasar! Apa lagi yang mereka rencanakan? -___-“

Sunny melirik jam tangannya lalu tertegun. Ia yakin ada sesuatu yang dilupakannya. Cukup lama baginya untuk mengingat sampai membuat kepalanya pusing. Saat sesuatu itu berhasil diingatnya, ia menepuk dahinya!

Omo! Suho, Xiumin, dan Tao, aku melupakan mereka!

“Hiiiissssyyy!!” geram Suho sambil menggoyangkan meja saat melihat wajah tampan Kris memenuhi layar lebar di pilar tengah theme park dekat arena lomba mewarnai yang diikutinya sekarang.

“Yaa! Lihat ini karena kau warnanya jadi keluar garis!” bentak Xiumin sambil menunjuk-nunjuk Suho dengan crayon biru mudanya.

“Jangan bertengkar! Waktunya sudah hampir habis. Masih banyak yang belum diwarnai,” kata Tao tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas gambar di depannya.

Di ballroom tengah theme park, mereka dan peserta lainnya mengikuti lomba mewarnai. Satu playgroup diwakili oleh tiga orang. Mereka mendapatkan masing-masing satu meja dan tiga kursi. Arena lomba itu bisa dikatakan sebagai arena terluas dengan jumlah peserta terbanyak. Sepuluh menit lagi waktu yang tersisa bagi mereka untuk menyelesaikannya.

“Kenapa arena lomba kita penontonnya paling sedikit?” tanya Suho cemberut.

“Memangnya siapa yang mau nonton ‘lomba mewarnai’ yang membosankan?” jawab Tao cuek.

Suho kembali berdecak. Penonton di arena tersebut tadinya tidak berjumlah sesedikit itu kalau saja wajah Kris tidak muncul di layar lebar dan menarik penonton lain untuk melihatnya. Walaupun banyak sekali murid playgroup yang mengikuti lomba tersebut sehingga masih terkesan ramai, ia menganggap bahwa lomba mewarnai itu tidak keren. Sebenarnya ia juga sangat ingin mengikuti lomba fashion show seperti Kris, tapisoensaengnim-nya mengatakan bahwa bakatnya itu di art. Semua hasil karyanya di kelas sangat mengagumkan. Namun Suho tidak peduli. Ia juga ingin dipuja-puja orang layaknya Kris tadi. Kejengkelannya memuncak saat menerima kertas bergambar Angry Bird dari panitia untuk diwarnai. Hal itu semakin mengingatkannya pada Kris dengan segala kesempurnaannya. Kalau ini bukan lomba, ia sudah merecoki kertas gambar tersebut dari tadi.

Yaa! Suho, kau salah mewarnai Blue Angry Bird itu dengan warna merah!” protes Xiumin dengan mulut penuh cake cokelat.

Suho memajukan bibirnya. Anak di depannya itu sejak tadi terkesan mengguruinya padahal kerjanya hanya makan. Partisipasinya dalam lomba sangat sedikit.

“Kau sendiri? Dari tadi tidak ikut mewarnai. Cuma aku sama Tao doang! Wajar kan kalau salah warna! Capek tahu! Capek!!!” seru Suho membela diri.

“Kau sendiri dari tadi ngomel mulu soal Kris. Dasar tukang ngiri!” balas Xiumin sambil mengelap kasar cokelat yang menempel di bibirnya.

“Kau juga dari tadi cuma malas-malasan! Dasar ndut!” seru Suho tak mau kalah.

Tao hanya menggeleng-geleng kepala. Sementara dua anak itu ribut, akhirnya ia yang melanjutkan pewarnaan gambar. Sunny, Kai, Lay, Sehun, Luhan, dan Kris akhirnya muncul di arena lomba tersebut. Sunny menghela napas lega. Untung masih terkejar. Ia masih dapat menyaksikan mereka bertiga. Namun, ketiga anak itu tidak menyadari kehadirannya dan teman-temannya yang lain karena meja mereka terletak di tengah-tengah arena. Sulit untuk menggapainya. Begitu ia hendak memotret mereka bertiga, dari lensa kamera nampak jelas kalau Suho dan Xiumin sedang adu mulut. Apa lagi ini? -__-

Waktu lomba pun selesai. Suho, Xiumin, dan Tao menghambur ke pelukan gurunya. Sunny selanjutnya mencari-cari karya mereka yang dipajang di papan besar dan….

Kertas gambar mereka yang paling kusut. Ada robekan kecil di ujung kertas. Noda cokelat ada dimana-mana. Beberapa warna gambar ada yang keluar garis dan terdapat dua Red Angry Bird. Sepertinya mereka salah memberi warna o___0 Apa yang terjadi? Padahal biasanya karya mereka selalu bagus dan rapi.

Sunny mulai menimbang-nimbang. Hmmm, nampaknya tidak ada harapan menang untuk Suho, Xiumin, dan Tao -__- huff! Berikutnya lomba dance! Ia percaya pada kemampuan Kai, Lay, Sehun, dan Luhan. Kini mereka sudah bersiap di belakang panggung karena sebentar lagi giliran mereka. Setelah memberi nasihat kepada mereka berempat, ia mengambil posisi tepat di depan panggung untuk menonton mereka.

Di sisi lain, Kai kembali mengingatkan Lay, Sehun, dan Luhan. “Jangan lupa kata-kataku tadi!”

Sehun dan Luhan mengedipkan mata dan mengacungkan jempol. Lay masih tertegun lugu. Teringat kembali perkataan Kai kepada mereka saat mereka berunding setelah lomba fashion show berakhir…

Smirk?” tanya Lay sambil berbisik.

NeSmirk smile itu senyum ala-ala Kris tadi. Katanya senyum kayak gitu bisa bikin noona-noona bersorak dan tadi terbukti kan?” ujar Kai bersemangat.

Otte!” jawab Luhan mengiyakan.

“Tapi thmirk itu thuthah ahh. Mulutku thampai miring-miring begini,” kata Sehun sambil mempraktikkan.

“Aisshh! Pokoknya waktu dance nanti, kita harus melakukannya! Awas ya!”

 

Di belakang panggung, mereka mengintip peserta lain yang sedang tampil. Keempat anak itu terlihat gugup. Kai sampai meniup-niup tangannya yang dingin. Luhan bahkan mau muntah. Jantung mereka makin berdebar kencang saat giliran mereka sudah tiba.

“Gawat!” seru Sehun mengagetkan yang lain.

“Ada apa?” tanya Lay membelalak.

“Thehun kebelet pipith,” jawab Sehun dengan nada kecil sambil memegang itunya.

Yaa! Kenapa harus sekarang? Pabo! (つ_-) ” geram Kai menjitak dahi Sehun.

Tidak ada waktu lagi. MC telah memanggil mereka ke atas panggung. Sesuai misi, mereka menyunggingkansmirk aneh ala mereka dan sukses membuat penonton bertepuk tangan yang begitu kencang serta bersorak ria. Lebih tepatnya tertawa. Hal itu makin membuat tubuh mereka gemetaran, terutama Sehun. Musik mulai diputar dan keempat anak itu pun dance dengan penuh semangat. Untuk anak seumuran mereka, gerakan rumit yang mereka lakukan itu membuat takjub para pengunjung yang melihatnya.

Sementara merekam aksi mereka di panggung, Sunny menyadari sesuatu. Sehun mulai bertingkah aneh. Ekspresinya seperti ekspresi minta tolong. Ia terlalu berhati-hati pada gerakannya yang seharusnya dengan luwes ia bisa lakukan. Jangan-jangan…

Tiba-tiba di tengah pertunjukan Sehun lari terbirit-birit turun panggung. Kai, Luhan, Lay serta pengunjung lainnya tersontak kaget. Mereka bertiga masih melanjutkan dance dengan profesional #eaaaa ;D Namun semua mata penonton tertuju pada Sehun di setiap langkahnya. Secepat mungkin dengan kaki kecilnya ia menghampiri Sunny yang masih tercengang. Anak itu lalu melompat-lompat kecil sambil berjingkat, menarik-narik ujung baju gurunya itu.

Thoenthaengnim, Thehun mau pipith! ~ ~ \(!!˚o˚)/ ”

Sunny menatap penonton di sekelilingnya dan tersenyum tidak enak hati. Sebisa mungkin ia mengatasi keributan itu. Anak ini betul-betul! Aiiiiiisssshhhh!

Dari dalam wahana kereta api yang melaju di rel yang mengitari sepanjang theme park, Kyungsoo, Baekhyun, Chanyeol, dan Chen memajukan bibir mereka karena kesal oleh tingkah Sehun dari empat layar lebar di tengah theme park.

“Dasar, si cadel itu sudah bikin malu!” gerutu Chen. “Di antara kita, dia memang yang paling berulah! Tidak di sekolah, tidak di sini! Dia itu tuh memang ya bla bla bla asdfghjkl…..”

Sok banget si Chen! Yang lain hanya diam tidak menanggapi omelan Chen yang sedari tadi berkoar-koar sendirian. Kyungsoo dan Baekhyun malah sibuk menyanyi-nyanyi kecil.

“Udahlah, diam aja! Kamu, Kyungsoo, sama Baekkie kan mau ikut lomba nyanyi sebentar. Kalau suaranya hilang nanti gimana? :p Kamu juga nanti bikin malu,” balas Chanyeol.

Chen sok berdecak. Kereta api masih terus melaju sampai Kyungsoo menemukan sosok Sunny dan teman-temannya yang lain di kejauhan sana sedang melambaikan tangan ke arah mereka. Gurunya itu mencoba berlari mendekati mereka namun sayang kereta api juga semakin menjauhinya.

Soensaengnim!” teriak Kyungsoo dari dalam kereta.

Baekhyun, Chanyeol, dan Chen mengalihkan pandangan mereka ke arah yang dituju Kyungsoo. Begitu melihat Sunny di sana, Baekhyun dan Chanyeol pun berbinar riang dan ikutan memanggil guru mereka bersama Kyungsoo. Ketiga anak itu mengeluarkan kepala dari jendela kereta, melambai-lambaikan tangan, berteriak-teriak tidak jelas. Chen, yang menganggap sikap mereka memalukan, hanya diam duduk di kursinya. Namun, lama-kelamaan ia juga ingin melakukannya. Sepertinya seru! Hehehe…

Chen ikut-ikutan menyembulkan kepala, melambaikan tangan, dan berteriak lengking. Anak itu juga mulai membuat kegaduhan di kereta. Karena terlalu keasyikan, ia tidak menyadari tiang di depan sana yang akan menhantam kepalanya dan bukkk!!

“Awwww!!!” jerit Chen kesakitan lalu dengan cepat duduk kembali ke kursinya. Baekhyun, Chanyeol, dan Kyungsoo yang lalu menyadari adanya tiang itu dari jeritan itu secepat mungkin menghindar. Melihat Chen yang mengelus pelan kepalanya, ketiganya tak kuasa tertawa terpingkal-pingkal.

Chen sungguh kesal melihat tiga orang di depannya itu, tiga anak bertopi dan berblazer pink yang tak henti-hentinya tertawa padanya. Chanyeol dan dua orang pengikutnya itu. Sudah beberapa menit berlalu, mereka masih saja tertawa. Errrrrrrrrrrrrrrr… Kalau saja ia bisa mencopot gigi-gigi mereka satu per satu hingga ompong, siapa lagi yang berani menertawakannya!

Kini Sunny berdiri tepat di hadapan mereka saat kereta api berhenti. Chanyeol, Baekhyun, dan Kyungsoo langsung melompat memeluk gurunya. Chen hanya bisa cemberut dan memajukan bibirnya. Sunny mulai mengomel soal mereka yang menghilang beberapa waktu lalu. Mereka hanya bisa tertawa mendengar cerutukan gurunya itu. Namun, hal itu bukan masalahnya sekarang. Kini, giliran Baekhyun, Kyungsoo, dan Chen yang berlomba.

Seperti biasanya, murid EXO Playgroup yang lain memberi semangat dengan mengibar-ngibarkan tinggi-tinggi bendera di tangan mereka sambil melompat-lompat. Sunny mengepalkan sebelah tangan, mengedipkan mata, bibirnya seperti mengucap kata fighting yang seketika membuat ketiga anak kecil yang berdiri di panggung itu semakin percaya diri.

Mereka bertiga mulai mengalunkan suara emasnya. Tiba-tiba semua orang terdiam, terpaku denganperformance mereka yang… ya, sangat bagus! Tidak disangka, anak kecil seperti mereka, mampu menarik perhatian yang lain dengan suara jernih mereka. Anak-anak itu bahkan melakukan pembagian suara saat bernyanyi. Sunny bisa mendengar komentar-komentar pujian dari penonton lainnya. Tentu saja! Walau bandel, sebenarnya murid-muridnya itu sangat berbakat, selalu bekerja keras, dan pantang menyerah. Bahkan mereka satu-satunya dari EXO Playgroup yang masuk babak final. Sunny benar-benar tidak menyangka. Murid-muridnya bisa melakukannya. Tak henti-hentinya ia tersenyum sambil merekam anak-anak itu di atas panggung. Usai babak final, Sunny bermaksud menghampiri mereka di belakang panggung dan tanpa sengaja mendengar percakapan para guru dari playgroup lain saat berjalan di dekatnya. Gaya-gaya mereka seperti sedang bergosip ria.

“Kasihan mereka, walau berbakat, tidak mungkin bisa menang!”

Langkah Sunny terhenti sejenak. Ia memutar kepala ke arah sumber suara. Guru-guru itu, apa mereka sedang membicarakan muridnya? Kening Sunny mengeryit. Ia memutuskan untuk menguping sebentar.

“Iya. Sudah jadi rahasia umum dari tahun-tahun sebelumnya kalau peserta dari Earth Playgroup yang selalu menang. Tidak peduli bagaimana pun hasilnya. Semacam ada permainan dari playgroup itu dan pihak penyelenggara lomba.”

            “Benar sekali. Sebenarnya percuma saja lomba ini diadakan kalau dari awal pemenangnya sudah ditentukan. Tiga anak bertopi dan berblazer pink itu siap-siap saja kalah. Padahal mereka sudah bernyanyi dengan baik sekali ya tadi.”

            “Kasihan sekali. Jadi, bisa dibilang penampilan EXO Playgroup tadi hanya semacam formalitas saja ya!”

            “Iya. Sayang sekali. Tapi apa semua itu benar? Kalau begitu, kenapa tidak ada yang menghentikan permainan curang ini?”

            “Tidak punya bukti jadi tidak bisa melakukan apa-apa.”

 

            Sunny terdiam. Otaknya berusaha mencerna obrolan para guru tadi. Benarkah? Kalau dipikir-pikir saat babak final tadi, lawan dari playgrup lain bisa dibilang tidak sebagus muridnya. Ia bahkan memiliki ekspektasi tinggi, kepercayaan diri bahwa muridnya-lah, Baekhyun, Kyungsoo, dan Chen yang berhak menyandang gelar juara. Ia tidak mau tinggal diam begitu saja. Begitu ia ingin membereskan masalah tersebut, kakinya kembali berhenti melangkah. Benar kata para guru itu. Tidak ada bukti nyata sehingga tidak ada yang bisa dilakukan. Baik! Ia akan menunggu saat pengumuman pemenang diumumkan saja. Belum tentu juga hal tersebut benar, kan?

Di pikiran Sunny kembali teringat saat-saat anak-anak itu latihan vokal bersamanya. Bagaimana mereka bernyanyi dengan sepenuh hati, bagaimana mereka tersenyum, bagaimana mereka berusaha mendengarkan arahannya tentang cara bernyanyi yang baik, bagaimana mereka berjanji untuk menang. Sunny menutup mata. Bagaimana kalau anak-anak itu kecewa?

Soensaengnim?” panggil Chen yang sudah ada di depannya.

Soensaengnim kok melamun?” tanya Kyungsoo dengan raut kebingungan.

Soensaengnim, tadi kami bagus kan? Yeyyyy!” seru Baekhyun mengibar-ngibarkan benderanya.

Sunny menatap ‘dalam’ mereka bertiga yang kembali kebingungan dengan sikap gurunya itu. Sunny tersenyum lembut dan membelai pelan kepala mereka. Ya, mereka sudah menampilkan yang terbaik.

Namun, sesuai dugaannya. Saat pengumuman pemenang lomba di akhir acara, bukan nama mereka bertiga yang disebut. Baekhyun, Kyungsoo, dan Chen berteriak kaget, begitu juga teman-temannya yang lain. Penonton tak kalah herannya dengan hasil keputusan juri mengenai hal tersebut. Sunny bisa melihat murid-muridnya terdiam lesu, semangat mereka yang menggebu-gebu tadi pun sirna, ekspresi kecewa terpampang jelas saat melihat lawannya menerima piala yang tingginya melebihi tinggi badan mereka. Suasana ini sungguh membuat Sunny tidak sanggup melihat murid-muridnya seperti itu.

Baekhyun lalu tertunduk dalam. Bahunya bergetar. Tangannya mulai mengelap air matanya yang mengalir deras. Ia enggan mengangkat kepala dalam tangisnya. Sunny lalu berjongkok di hadapannya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, ia benar-benar tidak sanggup melihat muridnya seperti ini.

“Baekhyun sayang,” panggil Sunny lembut sambil berusaha melepas kedua tangan Baekhyun dari matanya. Usahanya sia-sia. Baekhyun mengeraskan tangannya, enggan mengangkat kepalanya. Tangisnya kian keras. Isakan itu makin membuat Sunny ikut terharu.

Soen.. Soensaengnim! Baek.. Baekhyun.. nggak menang! Baekhyun.. Baekhyun kalah! Suara Baekhyun.. jelek!” ucap Baekhyun terbata-bata dalam tangisnya.

Kyungsoo dan Chen perlahan menyusul Baekhyun meneteskan air mata. Dada Sunny terasa sesak karena ikut menahan tangis. Ia berusaha menghibur mereka bertiga, kembali mengelus pelan puncak kepala mereka, membawa mereka ke pelukannya.

Aigoo! Siapa bilang suara kalian jelek? Kalian sudah masuk babak final itu sudah luar biasa sekali sayang. Dengar kata soensaengnim! Kekalahan jangan membuat kalian bersedih, tetapi harus dijadikan pelajaran untuk terus menjadi yang lebih baik nanti, ya sayang? Soensaengnim bangga kok sama kalian,” ujar Sunny memberi nasihat. Ia bisa merasakan anggukan mereka dalam dekapannya.

“HUAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!”

Hee? Tangis Sehun pecah. Sontak Sunny kembali kaget. Semua murid EXO Playgroup pun ikut-ikutan menangis keras tak terkecuali Kris, lalu menghambur ke pelukan Sunny dengan berdesak-desakan. Sunny kemudian tertawa kecil dengan tingkah mereka itu.

“Pemenang lomba basketball yaitu nomor urut 47 atas nama Park Chanyeol dari EXO Playgroup.”

Sunny membelalak, begitu pula murid-muridnya. Perhatian mereka teralihkan oleh suara MC tadi. Begitu teringat bahwa Chanyeol mengikuti lomba basket, Sunny menepuk dahi karena lupa menemani muridnya yang satu itu karena kejadian Sehun dan Luhan di layar lebar tadi. Sunny meminta maaf kepada Chanyeol. Muridnya yang hiperaktif itu hanya tertawa kecil, memperlihatkan jajaran giginya yang rapi.

Permainan lomba yang diikuti Chanyeol sebenarnya sederhana. Tiap anak hanya diminta memasukkan bola basket ke ring dalam waktu tertentu. Yang paling banyak memasukkan bola, dialah pemenangnya. Dari tinggi badannya yang tak terkontrol, Chanyeol sudah pasti menang telak dari playgroup lain. Hehehe….

Begitu Chanyeol naik panggung menerima piala, suasana haru tadi berubah ceria. Saat Chanyeol sudah siap difoto dengan piala itu, Baekhyun langsung lari naik panggung ingin berfoto bersama dengan pose andalannya, V sign di tangannya. Tidak mau kalah, teman-temannya yang lain menyusul ke tempat Chanyeol. Fotografer hanya menggelengkan kepala. Saat semua telah siap, Sunny sambil nyegir ikut-ikutan naik panggung diiringi gelak tawa murid-muridnya dan penonton lain. Fotografer itu memutar bola mata dan menghela napas.

Semua sudah dalam posisi masing-masing. Sunny berjongkok memeluk Chanyeol yang memegang piala di sampingnya, dikerumuni murid-muridnya yang lain dengan pose gila, ekspresi bahagia, dan jepret!!!

Dan bintang kita hari ini, Park Chanyeol ^^v

 

Full Credit : mydearexo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s