EXO PLAYGROUP: Keep It Clean!

exo-playgroup-keep-it-clean_melurmutia

Author : Lulu (@melurmutia)

Main Casts : EXO member

Support Cast : Sunny as teacher

Genre : Playgroup life, Friendship, Comedy

Rating : General

Length : Oneshoot

Disclaimer : I do not own the casts. Ide murni karya author.

Synopsis : Murid-murid EXO Playgroup ikut serta membersihkan lingkungan playgroup

***************************************

“Hhhh… Capek!” keluh Xiumin yang bahkan belum sampai semenit menyapu kelas.

Hari itu semua murid EXO Playgroup sedang mengikuti pelatihan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Program pembelajaran rekomendasi kepala sekolah inilah yang paling dibenci oleh mereka. Meskipun playgroup mereka terbilang bersih dan steril karena banyaknya cleaning service yang beroperasi, bukan berarti murid-murid tersebut tidak ikut berpartisipasi dalam hal kebersihan lingkungan. Mereka hanya diminta melakukan hal seperti yang biasa dilakukanahjumma-ahjussi cleaning service. Program penumbuhan kesadaran sejak dini. Chen, Xiumin, Baekhyun, dan Chanyeol memutuskan untuk membersihkan kelas.

Mereka menyapu kelas yang sebenarnya sudah bersih, membersihkan lemari kaca dari debu yang sebenarnya tidak berdebu, dan mengeluarkan sampah dari laci meja. Mereka cukup asyik dengan pekerjaan tersebut karena iseng ingin tahu apa yang ada dibalik laci-laci kelas itu. Tentu saja laci milik Suho, Lay, dan Tao yang paling rapi.

“Teman-teman! Lihat sini! Aku dapat lembu putih di laci meja duizhang! >O<” seru Baekhyun kegirangan sambil melompat kecil, mengangkat tinggi-tinggi boneka alpaca Kris.

Saat ketiga temannya itu berbalik, mata mereka seketika berbinar senang. Tanpa waktu lama, semuanya langsung berlari menghampiri Baekhyun sambil menjerit-jerit kencang dan berusaha melompat menggapai-gapai boneka tersebut dari tangan Baekhyun.

“NEOMU KYEOPTA!!!” teriak Chen histeris.

“Sini, lembunya kasih ke aku!!” Chanyeol tidak mau kalah.

“Nggak! Aku dulu yang pegang lembunya!!” Xiumin langsung menerobos.

“Enak saja! Lembunya aku yang dapat duluan!!” balas Baekhyun sambil terus mempertahankan alpaca itu.

Terjadilah adegan saling berebut. Entah apa maksud Baekhyun tadi berseru memperlihatkan boneka tersebut kepada teman-temannya. Saat mereka mendekat, ia justru melarang mereka memegang boneka Kris itu. Sang alpaca yang lucu dengan sadisnya mulai dirampas-rampas oleh mereka. Masing-masing dari mereka tetap ngotot ingin menguasainya. Tiba-tiba aksi mereka terhenti. Mereka terdiam di tempat beberapa saat dan langsung panik.

“Gawat! Topi lembunya copot!” kata Baekhyun sambil meletakkan alpaca itu di meja.

“Bulunya rontok!” tambah Chanyeol dengan ekspresi takut.

Kebalikan dari yang tadi. Sekarang mereka justru saling melemparkan boneka tersebut satu sama lain. Saling tunjuk, saling menyalahkan. Tidak ada yang tahu bagaimana ekspresi Kris kalau sedang marah. Bisa sangat mengerikan.

“Kau yang merusaknya! Ayo, tanggung jawab seperti kata Sunny seonsaengnim!” ujar Chen yang tidak mau tahu dan langsung mengopor boneka itu ke Xiumin.

“Lho? Kok aku?” tanya Xiumin yang pura-pura berlagak.

Akhirnya mereka memutuskan untuk memasukkan alpaca itu ke dalam plastik beserta topi dan bulunya yang berceceran. Bungkusan itu dimasukkan kembali ke dalam laci Kris sambil menghela napas berat. Mereka akan meminta maaf pada Kris ‘nanti’ dan kembali melanjutkan membersihkan kelas. Belum beberapa menit setelahnya.

“Teman-teman! Lihat sini! Aku dapat buku cerita lucu di laci Kai! >O<” lagi-lagi Baekhyun membuat ulah.

Semua kembali mengerumuni Baekhyun. Buku itu bukanlah buku cerita lucu, melainkan buku diary Kai yang masih terisi beberapa halaman. Ia mulai membuka lembar per lembar. Baekhyun, Xiumin, dan Chen menyipitkan mata lalu menunjukkan ekspresi kebingungan. Chanyeol berdecak keras dan mengambil alih diary Kai dengan tulisan warna-warni  yang berantakan itu. Belum lancar membaca? Dasar payah!

“Sini aku bacakan, pabo! Ke… kemarin… sepulang sekolah… Aku pergi ber… belanja baju samaeomma. Terus… pas sampai di rumah langsung… makan malam dan tidur (‘-‘ )” Chanyeol begitu serius membaca.

Mwo? Buku cerita macam apa itu?” tanya Chen bingung.

“Sabar! Masih ada lanjutannya di halaman sebelah! Hari… ini… hari Minggu. Aku, eommaappa, dan noona pergi… piknik di… tepi danau. Setelah itu… kami pulang lalu… makan malam dan tidur (‘-‘ ) Ngg?” Chanyeol mengangkat sebelah alisnya.

“Ihh, membosankan! Tidak ada tuan putri, monster, kelinci kecil, istana, dan sihir,” kritik Xiumin pedas.

Chakkamman! Bagian ini seru! Aku… tadi malam ngompol… di tempat tidur T^T tapi… aku janji sama eomma nggak akan ngompol lagi… Eomma, saranghamnida.”

Sontak Chanyeol menghentikan bacaannya dan tertawa terbahak-bahak bersama yang lainnya sambil memukul-mukul meja. Baekhyun menahan perutnya yang sakit karena candaan itu. Xiumin dan Chen sampai mengeluarkan air mata tidak sanggup menahan tawa. Membuka aib. Kai pabo! \(^O^)/

“Lanjut! Lanjut!” bujuk Baekhyun sambil mengguncangkan pelan bahu Chanyeol.

“Hari ini… aku satu kelompok sama… Tao membuat pigura panda… dari plastisin… Ahh! Ini kan yang kemarin!”

Mereka menyadari peristiwa itu kemarin. Saat itu, yang membuat pigura hanya Tao, sedangkan Kai hanya bermalas-malasan. Mereka kembali tertawa berhambur. Chen tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.

“Ayo kita peragakan adegan kemarin! Biar aku jadi Kai!” usul Chen menggebu.

“Ayo! Ayo! Xiumin jadi Tao-nya!” tambah Chanyeol lagi.

“Aku nggak mau jadi Tao. Aku kan nggak punya kantung mata!” tolak Xiumin seketika.

“Soal itu serahkan saja padaku!” jawab Baekhyun sambil mengacungkan jempol dan mengedipkan mata.

Baekhyun mengeluarkan eyeliner ibunya dari tas. Ia lalu mulai membuat lingkaran hitam tebal di sekitar mata Xiumin. Temannya itu dengan sabar menunggu Baekhyun melukiskan kantung mata palsu di matanya. Setelah selesai, Xiumin langsung melihat ke cermin di dinding kelas.

“Ihhh! Nggak setebal ini juga kale u,u!” protes Xiumin melihat mata hitam besarnya seperti habis ditonjok. Ia sungguh terlihat seperti panda sungguhan.

Baekhyun tidak memerdulikan celotehan Xiumin. Ia ikut melukiskan beberapa efek kumis aneh ke wajah Chen dan Chanyeol bahkan dirinya sendiri. Mereka mulai memainkan drama pendek. Bagaimana Kai tidak melakukan apa-apa saat itu sehingga Tao yang menyelesaikan semua disertai beberapa guyonan aneh ala mereka. Tak henti-hentinya mereka tertawa.

Tiba-tiba musik mengalun di setiap kelas dan koridor. Dancing Queen milik So Nyuh Shi Dae. Tidak biasanya musik tersebut diputar di kawasan edutainment anak-anak itu. Pasti ahjussi lagi-lagi iseng mengutak-atik ruang operator. Baekhyun tentu saja bersorak riang!

YeahSo Nyuh Shi Dae noonas!”

Yang lain ikut-ikutan menyusul Baekhyun joget Dancing Queen sambil menyanyi menjerit-jerit. Saat mereka keasyikan dan kelas itu kacau, Sunny berdiri di ambang pintu dengan mulut terbuka lebar dan mata yang membesar melihat tingkah brutal mereka. Mereka menyadari kehadiran Sunny yang menatap mereka dengan tatapan meminta penjelasan sambil melipat tangan. Mereka jadi salah tingkah dan langsung baris berjajar rapi. Wajah polos mereka tertutup noda hitam tebal, membuat mereka nampak seperti segerombolan panda kecil. Sunny sempat tersenyum geli. Apa itu? Eyeliner?

“Kalian sedang apa?” tanya Sunny sambil tertawa dan mengeluarkan eyeliner removal dari tasnya yang entah aman dipakai untuk anak kecil.

“Membersihkan kelas,” jawab mereka pelan sambil menunjuk keranjang sampah kecil berisi sampah plastik kering yang mereka kumpulkan dari dalam kelas.

“Tapi ini apa?” tanya Sunny lagi seraya mengambil eyeliner dari tangan Baekhyun.

Mereka malu menjawabnya. Sunny lalu menjajarkan empat kursi kecil dan menyuruh mereka duduk. Ia lalu berjongkok, membersihkan wajah mereka satu per satu. Mereka dengan sabar menunggu giliran.

“Kebersihan itu harus dimulai dari diri sendiri. Jangan mengotori diri kalian sendiri. Baekhyun, jangan bawa barang begini lagi ya sayang!” -___-

Ne, seonsaengnim!” jawab Baekhyun sambil tersenyum.

Sunny hanya menghela napas. Baekhyun memang anak yang penurut. Ia memang tidak akan membawa barang itu lagi tetapi keesokan harinya ia pasti membawa barang aneh yang berbeda. Dulu ia membawa bebek karet dari kamar mandinya, minyak rambut appa-nya, album I Got A BoySo Nyuh Si Dae milik hyung-nya, dan sekarang eyeliner eomma-nya. Besok entah apa lagi.

Tepat saat wajah mereka sudah kembali seperti semula, ponsel Sunny berdering. Saat ia melihat layar ponselnya itu, raut wajahnya berubah datar dan resah, seakan sama sekali tidak berniat menerima telepon. Anak-anak itu saling menatap kebingungan.

Yeoboseo… Mwo? Kau ada di luar?” Sunny nampak kaget mendengar suara di ponselnya dan langsung keluar kelas begitu terburu-buru tanpa menengok keempat anak itu.

Tentu saja sikap gurunya itu membuat Baekhyun, Chanyeol, Xiumin, dan Chen penasaran. Mereka pun mengikuti langkah Sunny dari kejauhan.

*Sebelum itu…

“Tao siram di sebelah sana. Aku sebelah sini!” ujar Lay sambil tersenyum lembut.

Ne!” jawab Tao singkat.

Lay dan Tao membagi tugas menyiram tanaman dengan alat penyiram kecil di taman bunga playgroup. Saat itu udara pagi sungguh hangat. Membuat suasana nyaman untuk bekerja. Ini adalah rutinitas harian Tao dan Lay walaupun bukan dalam rangka program tersebut. Dua anak itu memang yang paling rajin merawat bunga-bunga playgroup.

Suara langkah kaki yang sedang berlari ke arah mereka semakin terdengar jelas. Belum sempat mereka menoleh, nampak Kai dan Sehun yang tiba-tiba menyerobot alat penyiram mereka dan langsung mengambil alih tugas. Tao dan Lay tentu saja keheranan melihat aksi mereka. Tidak biasanya anak-anak pemalas itu jadi sangat rajin. Dari arah belakang, Sunny seonsaengnim berjalan ke arah taman hendak masuk ke koridor kelas.

Annyeonghaseyo, Sunny seonsaengnim!” sapa Kai sambil membungkuk pelan dan tetap melanjutkan menyiram tanaman.

Theonthaengnim, lihat! Thehun thedang menyiram bunga,” seru Sehun sambil melambaikan tangan.

Annyeonghaseyo! Wah, Kai dan Sehun pintar sekali menyiram bunga pagi-pagi. Kalian memang anak yang rajin. Seonsaengnim bangga!” puji Sunny sambil mengelus pelan kepala mereka.

Di belakang mereka, Tao dan Lay berdiri melongo. Kedua anak itu melihat Kai dan Sehun bersemu senang karena mendapat pujian dari Sunny. Jadi, tadi mereka merebut alat penyiram cuma karena mau dapat pujian? -,-

“Tao dan Lay, jangan hanya berdiri di situ sayang! Ayo, bantu temannya bekerja. Seonsaengnimke kelas dulu, ya!” ujar Sunny seraya berlari kecil memasuki koridor.

Tao dan Lay tidak sempat mengatakan tentang hal yang sesungguhnya. Mereka terlihat sungguh menyedihkan dan nampak seperti anak pemalas. Padahal tadinya mereka yang mengerjakan semuanya. Kenapa justru Kai dan Sehun yang dapat pujian? (;A;)

Kai dan Sehun melirik ke arah Lay dan Tao. Dua anak di depannya itu hanya diam dan sepertinya di mata mereka terpancar api yang siap menyeruak keluar. Kai dan Sehun jadi salah tingkah. Mereka berdua langsung meletakkan alat penyiram itu di depan kaki mereka dan berlari ke permainan kolam pasir menghampiri teman lainnya.

“Hhhhhh…” desah Kai dan Sehun memegang kedua lutut kecilnya dengan napas terengah-engah.

Yaa! Kalian berdua kenapa?” tanya Kyungsoo yang sedang berjongkok mengatur rapi mainan sekop dan ember di kolam pasir.

AniMworaneungoya?” Kai bertanya balik sambil ikut berjongkok di samping Kyungsoo.

“Ahh, aku sedang mengatur alat-alat ini. Hmmm, huuuuuffffffffff!!!!” Kyungsoo meniup pasir yang melekat di sisi luar ember mainan.

Refleks Sehun langsung memalingkan muka. Namun, terlanjur sudah. Kyungsoo tidak sengaja meniupkan pasir itu tepat di depan wajahnya. Anak itu mengerjapkan mata berkali-kali dan menggosoknya kuat-kuat. Begitu ia tidak tahan, ia akhirnya menangis.

“HUUAAAAA!!! THAKIT!!! PEDITH!!! MATA THEHUN KEMATHUKAN PATHIR!!!”

Sehun berlari berputar tak keruan ke sembarang tempat dengan penglihatannya yang samar-samar. Secara tidak sengaja, ia menabrak Suho yang memeluk sekeranjang sampah minuman plastik. Kaki Suho pun tersandung hingga ia tersungkur. Untung saja ia tidak terluka. Sehun terlihat mulai berlari ke halaman belakang playgroup yang sepi. Ketika hendak bangkit, Suho melihat sepasang kaki di depannya. Sepatu dan celana pria muda di depannya itu kotor terkena sisa air minuman dari keranjang sampah Suho. Dengan terburu-buru, Suho langsung berdiri penuh rasa penyesalan. Ia berkali-kali membungkuk minta maaf pada orang itu.

JeosonghamnidaJeongmal jeosonghamnida!” pinta Suho dengan takut, tidak berani menatap orang tinggi di depannya.

AISH! Lihat ini! Kau sudah mengotorinya. Makanya, kalau jalan lihat ke depan!” gertak pria muda itu tidak berperasaan.

Suho tersentak. Pria muda itu mulai memakinya panjang lebar. Kata-kata yang dilontarkannya sungguh tidak pantas, menusuk dalam, membuat Suho sakit hati. Suho memerhatikan ke sekelilingnya. Ia menjadi pusat perhatian anak-anak lain. Mereka menatap Suho dengan tatapan iba. Namun, hal itu justru membuat Suho semakin terpuruk. Air mata anak itu mulai jatuh satu-satu.

Yeoboseo, Soon Kyu-ya! Aku ada di luar sekarang. Segeralah ke sini!” kata pria muda itu dengan nada tinggi pada seseorang yang diteleponnya.

Setelah orang itu selesai menelepon, ia kembali melanjutkan makiannya dan memperburuk keadaan. Kyungsoo, Kai, Lay, dan Tao yang ada di sekitar sana langsung berlari mengerumuni Suho, menenangkan temannya itu, dan balas memasang ekspresi kesal kepada pria muda tersebut. Kris juga ikut menurunkan keranjang sampah minuman yang dipeluknya dan berjalan ke arah Suho. Ia berdiri tepat di depan temannya itu untuk melindunginya.

“Teman kami sudah minta maaf. Ini juga karena ketidaksengajaan. Kami mohon hyung berhenti menggertak teman kami!” pinta Kris sopan namun dengan nada dingin.

Pria itu tertawa kecil, tidak menyangka anak itu akan berkata demikian. Kris menatap tajam pria muda itu. Saat ia hendak membalas untuk kedua kalinya, Suho memegang sebelah bahunya dari belakang. Ia menoleh dan melihat Suho menunduk sambil menggeleng pelan menahan tangis. Kris ikut terdiam.

Seperti kata Sunny seonsaengnim, pria sejati adalah pria yang sangat tahu bagaimana mengendalikan perasaan di saat yang tepat. Pria sejati tidak mudah mengeluarkan air mata. Pria sejati adalah yang tahan banting… Gwaenchana… Aku tidak apa-apa…

            “Kenapa kau ada di sini?” tanya Sunny keheranan menghampiri pria muda itu. Ia menyadari sesuatu yang aneh sedang terjadi. “Suho, kenapa menangis?”

Pria muda itu langsung menarik sebelah tangan Sunny dan berjalan menjauhi anak-anak itu. Sunny sungguh kaget. Tangannya sakit diremas oleh pria yang menyeretnya dengan kasar. Namun, pandangannya masih mengarah kepada anak muridnya itu.

*Di halaman belakang playgroup

Aigoo, Sehunnie! Coba aku lihat matanya,” kata Luhan lembut sambil mendekatkan pandangannya ke mata Sehun.

“Mata yang ini uhuhuuuu…” jawab Sehun yang masih tersedu-sedu berlinang air mata.

Luhan meniup-niupkan lembut mata anak itu dengan perlahan. Pengobatan tradisional ala anak kecil. Entah ampuh atau tidak -__- Sehun mulai agak tenang saat Luhan mulai mengobatinya.

“Bagaimana? Udah nggak sakit?” tanya Luhan tersenyum. Sehun mengangguk kecil dan membalas senyuman Luhan. Ia lalu menunjuk mata yang satunya.

“Yang thebelah thini juga ditiup jutheyo,” pinta Sehun modus.

Luhan dengan polosnya kembali melakukan hal serupa sesuai permintaan temannya itu. Sehun kelihatannya sudah pulih seperti semula.

“Gomawoyo! Luhan lagi ngapain?” tanya Sehun ikut berjongkok bersama Luhan di depan kandang kelinci.

“Aku memberi makan kelinci. Soalnya jarang ada yang ke sini. Kasihan kelincinya!” jawab Luhan menyodorkan seuntai dedaunan yang langsung dimakan oleh kelinci putih kecil.

“Luhan nggak uthah khawatir. Thehun bitha bantu kathih makan kelincinya.”

Kedua anak polosnya itu sedang asyik-asyiknya bermain saat dua orang di seberang sana muncul. Mereka terlihat sedang bertengkar mulut dengan nada pelan tetapi pembicaraan mereka dapat terdengar begitu jelas. Teman-teman yang lainnya pun berkumpul. Kesepuluh anak itu langsung menyeret Luhan dan Sehun bersembunyi di balik gedung.

“Kenapa seonsaengnim dimarahi sama orang itu?” tanya Luhan ingin tahu.

“Huuusssshh.”

            Anak-anak itu bersamaan meletakkan jari telunjuknya di bibir ke arah Luhan, menyuruhnya untuk tutup mulut. Luhan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

            “Kupikir kau serius. Apa tawaranku belum bisa mengubah keputusanmu?”

            “Kau selalu memaksaku dan selama ini terus mengutamakan kehendakmu. Aku tidak mau dengar lagi!”

            “Tapi semua hasil desainmu pasti bisa membuatmu lebih baik. Lebih dari sekarang ini. Bergabunglah denganku, Soon Kyu-ya! Kita akan sukses. Kau tahu aku mencintaimu, kan? Menikahlah denganku!”

            Beberapa dari anak-anak yang menguping itu ada yang mengerutkan dahi tidak mengerti. Namun, ada juga yang mukanya langsung memerah malu mendengarnya. Peristiwa yang sebenarnya tidak patut dilihat anak seumuran mereka.

Seonsaengnim mau menikah,” bisik Chen pelan.

“Menikah itu apa?” tanya Lay polos kepada Kris.

Pabo! Menikah itu kalau ada namja dan yeoja pakai baju megar di pesta!” Kai menyeruak.

“Hah? Salah! Menikah itu seperti di acara MBC Uri Gyeolhon Haesseoyo (We Got Married) yang suka dinonton eomma,” bantah Kyungsoo sang korban variety show.

“Salah! Menikah itu kalau hidup bahagia selamanya seperti di buku cerita,” Baekhyun ikut berargumen.

“Kalian semua salah! Menikah itu seperti eomma dan appa. Mereka sudah menikah,” Kris angkat bicara.

Semua mata tertuju bangga ke Kris, sang ketua kelas. Sebenarnya, penjelasan mereka semua sudah benar. Ya, sama saja! -___-

“Kojimal! Kau hanya memanfaatkanku. Aku sudah tahu semuanya. Kebohonganmu sudah tidak bisa kau tutupi lagi. Aku tidak akan meninggalkan playgroup ini hanya demi menambah kekayaanmu.”

            “Mwo? Jadi sepanjang hidupmu kau hanya ingin terus bergelut bersama anak-anak nakal itu? Membuang mimpimu menjadi designer ternama? Sampai kapan kau akan jadi freelance designer dan tetap mengurus bocah-bocah yang tidak tahu bersikap itu?”

“… jadi kau yang membuat Suho menangis?”

“Kau seharusnya lihat apa yang anak itu lakukan padaku!!!”

“… semua sudah jelas. Kita berhenti saja.”

“Soon Kyu, ya!”

“Kau menyakiti Suho. Kau bahkan bisa lebih menyakitiku. Tidak seharusnya kau datang ke sini membawa kekacauan bagi anak-anak itu. Kita akhiri di sini saja.”

Pria itu tertawa dalam amarahnya. Ia menatap Sunny seakan ingin melampiaskan semua luapan emosinya. Ia kemudian berbalik dan beranjak dari halaman belakang playgroup. Sunny perlahan mengikutinya dari jarak yang cukup jauh. Pria lalu menendang semua keranjang sampah kecil yang berjajar di dekat gerbang. Sampah kering yang dengan susah payah dikumpulkan anak-anak itu kembali bertebaran, membuat takut para guru, cleaning service, serta anak-anak lainnya di sana. Ia masuk ke mobilnya dengan kesal dan melajukannya kencang. Dari celah pagar pembatas playgroup, Sunny menatap kosong mobil yang menjauh itu hingga hilang dari pandangan. Semua menghampiri Sunny yang berdiri mematung.

“Sunny-ssi, kau baik-baik saja?” tanya ahjumma cleaning service sambil memegang sebelah bahunya.

“Sunny, ada apa lagi ini? Kau mengenal orang itu? Siapa yang akan bertanggung jawab dengan semua sampah ini?” tanya Jessica seonsaengnim dengan tidak sabaran.

Sunny hanya membungkuk meminta maaf dan bergegas membersihkan semua sampah yang berserakan dibantu oleh ahjumma cleaning service.

“Kau! Apa saja yang kau lakukan? Kenapa kau membiarkan orang itu masuk?” bentak Jessica pada security di gerbang playgroup.

“Saya sudah larang kok seonsaengnim. Tapi, orang itu ngotot bilang sudah buat janji,” bela sisecurity mencari-cari nama orang itu di daftar nama.

Sunny mulai menjelaskan semuanya agar tidak ada perpanjangan masalah lagi. Saat persoalan tersebut selesai, bel pulang pun berbunyi. Semua keluar gerbang satu per satu. Kedua belas murid Sunny mulai nampak mengelilingi gurunya yang masih sibuk membersihkan sisa sampah.

Seonsaengnim tidak jadi menikah? Apa karena Suho?” tanya Suho dengan wajah bersalah.

“Suho!!!” Sunny shock mendengarnya. Ia lalu berjongkok di depan Suho sambil memegang kedua bahu anak itu. “Siapa bilang seonsaengnim mau menikah?”

“Tadi di halaman belakang,” Xiumin keceplosan.

“Jadi kalian menguping lagi, ya?” tebak Sunny sambil menepuk dahi. “Suho kan tidak salah apa-apa. Seonsaengnim hanya tidak suka sama orang yang… hmm, bagaimana menjelaskannya? -___- sama orang yang suka membuang sampah sembarangan. Tadi orang itu menendang keranjang sampah, kan? Itu kan tidak terpuji! Jangan ditiru, ya sayang! Kalian hari ini sudah bekerja keras. Seonsaengnim hargai usaha kalian.”

Anak-anak itu saling menatap sambil tersenyum lebar. Dapat pujian lagi dari seonsaengnim.

“Kalau Suho sudah besar, biar Suho yang menikah sama seonsaengnim. Suho kan suka menjaga kebersihan,” ujar Suho polos.

“Suho!!!” Kali ini wajah Sunny bersemu semerah-merahnya. Kenapa anak itu bisa berkata asal seperti itu? Baginya kan hal itu bermakna sangat dalam -___- Ani! Dari mana ia mempelajari kalimat seperti itu?

Andwae!!! Cuma Thehun yang boleh menikah thama theonthaengnim kalau thudah bethar!”

“Nggak! Tapi aku yang menikah sama seonsaengnim!” bantah Chanyeol.

Semua mulai mengerumuni kaki Sunny sambil terus mengoceh membuat pengakuan sepihak. Sunny tersenyum geli melihat tingkah polos mereka.

Aku percaya suatu hari nanti kalian akan sukses di bidang kalian masing-masing dan menemukan gadis yang akan membuat jantung kalian berdebar tiap kali kalian bertemu dengannya, gadis yang kalian ingin terus berada di sisinya, gadis baik hati yang kalian ingin lindungi dengan seluruh hidup kalian, gadis cantik yang benar-benar kalian cintai…

Seonsaengnim, di antara kami berdua belas, seonsaengnim mau menikah dengan siapa?” tanya Luhan menggebu-gebu.

Pertanyaan Luhan membuat semuanya terdiam sambil menelan ludah. Mereka memasang wajah penuh harap. Berharap untuk dipilih. Sunny kembali tersenyum dan pura-pura berpikir sambil menatap ke langit. Ia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. Tingkah Sunny justru membuat semuanya tegang. Bagaimana kalau seonsaengnim tidak memilihnya? Siapa yang paling spesial di antara mereka bagi seonsaengnim? Inilah yang mereka tunggu-tunggu!

“Hmm… Sudah diputuskan! Seonsaengnim nanti mau menikah sama…..”

.___.v

 

Full Credit : EXO Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s