EXO PLAYGROUP: Happy Anniversary!

Author : Lulu

Main Casts : EXO member

Support Cast : Sunny as teacher

Genre : Playgroup life, friendship, comedy

Rating : General

Length : One Shoot

Disclaimer : I do not own the casts. Ide murni karangan author

Synopsis : Murid-murid EXO Playgroup tidak ingin Sunny meninggalkannya di hari anniversary playgroup-nya

Tolong beri komentar setelah dibaca ^^v

“HUAAAAAA!!!”

Tangisan anak perempuan bertopi dan berblazer pink di depan Kai pun pecah. Air matanya mengalir sederas air terjun. Kedua tangannya mengepal sambil menggosok matanya yang basah. Kai jadi kelabakan sambil mengacak kasar rambutnya hingga berantakan karena frustrasi. Ia hanya tidak sengaja menabrak anak itu dan membuat lollipopnya jatuh ke permainan gundukan pasir di halaman playgroup. Dasar anak perempuan!

“Sudahlah! Hentikan tangisanmu! Aku kan sudah minta maaf. Jatuhnya tadi juga kan belum lima menit,” pinta Kai dengan tidak enak hati.

Kai memungut lollipop yang terjatuh tepat di bawah kakinya. Ia sekilas memandang jijik lollipop yang sudah kotor itu dan membersihkan pelan butiran pasir yang menempel dengan tangan mungilnya. Ia lalu menggosok-gosokkan lollipop itu ke celananya kemudian memastikan apakah permen itu sudah bersih dari kotoran. Ia tersenyum lebar dan langsung menyodorkan lollipop itu kepada anak perempuan tersebut.

“Ini sudah aku bersihkan,” ujar Kai santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Anak perempuan itu sungguh tidak percaya terhadap apa yang dilakukannya. Memangnya siapa yang mau memakannya kembali? Ia terisak dan duduk terjongkok dengan tangis yang kian keras. Kai melongo melihat sikapnya.

YaaYaaYaa!”

Teriakan Kai tidak dipedulikan olehnya. Kai sungguh kesal dan menggeram. Ia membuang lollipop itu ke tempat asalnya dengan segenap emosinya. Kalau sudah begini, apa lagi yang harus dilakukan?

Xiumin dan Chen yang sedang asyik bermain perosotan tiba-tiba berhenti saat melihat Kai dari kejauhan. Begitu pula dengan Chanyeol dan Baekhyun. Mereka seketika turun dari ayunan karena kejadian itu. Keempat anak itu pun menghampiri Kai.

“Kai, kau mengganggu anak perempuan lagi, ya?” seru Xiumin sambil memukul pelan kepala temannya itu.

“Arrghh! Ani! Dia saja yang langsung menangis!” bela Kai untuk dirinya sendiri.

“Bohong! Lihat, lollipop itu buktinya!” gertak Chen dengan suara lengkingnya sambil menunjuk benda tersebut di tanah.

“Ayo, jangan menangis! Cup cup cup!” hibur Baekhyun untuk anak itu. Ia ikut berjongkok di depannya lalu mengusap lembut rambutnya sambil tersenyum bak malaikat kecil yang baik hati. Ia memungut lollipop kotor tadi dan menyodorkannya tepat ke wajah anak perempuan itu.

“Jangan pedulikan Kai. Ayo, makanlah!” bujuk Baekhyun polos.

Melihat hal konyol tersebut, Chanyeol memutar bola mata dan menyingkirkan Baekhyun dari anak perempuan itu. Temannya itu hanya memperburuk keadaan.

“Yang jelas kejadian ini akan aku laporkan ke Sunny seonsaengnim!” kata Chen kemudian.

NADO!” seru Xiumin, Baekhyun, dan Chanyeol bersamaan.

Bola mata Kai seakan mau melompat keluar dan dagunya seakan jatuh saat keempat temannya itu berlari masuk ke playgroup sambil tertawa riang. Kai berseru untuk menahan langkahnya dan ikut mengejar mereka yang sudah jauh menuju ruang guru. Sontak kehebohan terjadi di sepanjang koridor playgroup oleh aksi lari-larian.

SEONSAENGNIM! SUNNY SEONSAENGNIM!”

Chanyeol melihat Lay sedang berdiri terpaku di ambang pintu ruang guru dan tentu saja ia tidak mampu mengontrol kecepatan larinya. Saat ingin berhenti, tubuhnya pun menabrak Lay sehingga keduanya tersungkur ke ubin diikuti oleh Xiumin, Chanyeol, Chen, dan Kai. Mereka meringis kesakitan dan perlahan bangkit.

“Kenapa kau berdiri seperti patung di sini? Kita kan jadi jatuh!” keluh Chanyeol kepada Lay.

Sadar akan tatapan seluruh guru di ruangan tersebut tertuju padanya, mereka jadi salah tingkah. Di antara mereka, seorang wanita gemuk dengan umur sekitar 50 tahun ke atas, dengan berbagai macam perhiasan mahal di tubuhnya, berjalan menghampiri anak-anak itu dengan ekspresi mengerikan. Ia membetulkan letak kacamatanya untuk memerhatikan dengan jelas tampang mereka. Anak-anak itu langsung berjajar rapat dan menundukkan kepala karena takut.

Kepala sekolah…

            “Aku sudah putuskan. Setelah kembali dari Amerika kemarin, hari ini aku akan memantau proses belajar di playgroup ini. Aku ingin memulainya dari mereka. Siapa penanggungjawabnya?” kata sang kepala sekolah dengan nada datar dan terkesan dingin.

Anak-anak itu saling melempar tatapan bingung. Sosok guru kesayangannya itu muncul dari belakang kepala sekolah. Ia tersenyum dengan memperlihatkan sikap sopan.

“Saya wali kelas mereka.”

***

Kepala sekolah memasuki ruang musik dengan menyapukan seluruh pandangannya pada penghuni kelas tersebut tanpa kecuali. Ia memerhatikan sekeliling kelas. Bersih, rapi, fasilitas lengkap, sepertinya semua baik-baik saja. Sunny mempersilahkannya duduk di kursi depan. Beberapa dari murid saling berbisik. Apa yang sedang ingin dilakukan kepala sekolah? Baekhyun, Chanyeol, Xiumin, Chen, Lay, dan Kai hanya bisa menghela napas pendek. Jangan-jangan karena kejadian di ruang guru tadi! Sunny memberi kode kepada Kris yang sejak tadi melamun.

“Ahh… BERDIRI!” seru Kris seraya bangkit dari kursi diikuti oleh anak-anak lainnya.

ANNYEONGHASEYO SEONSAENGNIM!” seru mereka bersamaan sambil membungkuk.

Sunny melirik sekilas kepala sekolah yang duduk di ujung sana. Wanita itu sedang menulis sesuatu di papan kertas. Apa ia sedang melakukan penilaian? Gawat!

“Ha… hari ini kita lanjutkan latihan paduan suaranya untuk anniversary playgroup nanti. Siapa yang kemarin malam sudah latihan di rumah?”

“SAYA!!!!” teriak mereka bersamaan sambil mengangkat sebelah tangan tinggi-tinggi. Sunny menutup mata dengan bahu agak terangkat karena kaget oleh teriakan super keras itu.

Seonsaengnim! Tadi malam Luhan bla bla bla…”

“Kalau Suho pastinya bla bla bla…”

“Baekhyun juga kemarin bla bla bla…”

“Bla bla bla………….”

Suasana kelas mulai kacau. Seperti biasa, semua bicara bersamaan tanpa sela. Entah siapa yang pertama ingin didengar sehingga menciptakan keributan. Sunny langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir, menyuruh mereka diam. Untuk kedua kalinya, ia melirik kepala sekolah yang sedang menulis sesuatu di papan kertas. Wanita gemuk itu menggeleng kecil. Matilah!

Ne! Sekarang seonsaengnim minta semuanya duduk di kursi panjang depan piano!”

Mereka sontak bangkit dan berlari berebutan duduk di kursi panjang. Kesannya brutal dan takut tidak dapat tempat. Di depan kelas terdapat dua kursi panjang. Masing-masing kursi diduduki oleh enam anak. Sunny berjalan kaku menuju grand piano hitam. Ia duduk dengan perlahan dan membuka penutup tuts di depannya sambil menarik napas panjang. Dengan tegang ia memerhatikan ekspresi polos dua belas anak yang sudah duduk rapi itu sambil melentikkan jarinya. Semoga berjalan sesuai harapan.

Sesuai pada latihan sebelumnya, sebelum Sunny memainkan intro, Kyungsoo menyanyikan satu bait lagu tersebut dengan begitu merdu. Sunny sampai bergetar dan merinding mendengarnya. Senyumnya perlahan merekah. Lebih matang dari latihan sebelumnya.

Ahh… Kyungsoo…

Jemari Sunny dengan lincahnya mulai menari di atas tuts hitam putih itu. Chen dan Baekhyun pun ikut menyusul Kyungsoo melantunkan bait berikutnya, menghasilkan melodi yang begitu indah. Luhan, Suho, Lay, dan Xiumin pun memainkan bagiannya, menciptakan nada yang harmoni.

Sejauh ini sangat bagus…

Masih menunggu giliran bernyanyi, Sehun yang duduk paling pinggir merasa tidak nyaman. Ia seperti tidak duduk sepenuhnya. Dilirik Luhan yang duduk di sebelahnya.

“Luhan, gether thedikit bitha? Ini kurthinya thempit thekali. Thehun mau jatuh,” bisiknya ke telinga Luhan.

Luhan dengan tidak sadar langsung berhenti bernyanyi dan menyuruh Kyungsoo, Chen, Baekhyun, dan Lay di sebelahnya untuk bergeser. Konsentrasi anak-anak itu sempat buyar, membuat Sunny mengerutkan kening sambil terus memainkan piano. Pada saat itulah agak sedikit timpang. Kris, Chanyeol, dan Tao langsung menyeruak menyanyikan bagiannya dengan suara agak keras, menggebu-gebu, tidak menyatu dengan yang lainnya. Disusul Kai dengan suara datarnya dan Sehun dengan artikulasi yang belepotan. Sunny terbelalak kaget. Kyungsoo, Baekhyun, Chen, dan yang lainnya seharusnya bisa menutupi kekurangan mereka seperti latihan sebelumnya. Apa yang mereka lakukan?

Benar saja! Kini anak-anak itu tidak fokus lagi. Ada yang melihat kanan kiri, menunduk, menguap, menggaruk-garuk punggung, cekikikan, bahkan menggigit kuku saat bernyanyi!

“OHOK OHOK OHOK!!!”

Chen tiba-tiba berteriak memegang lehernya dengan kedua tangan dan mulut terbuka lebar. Semua anak-anak itu kaget dan seketika mengerumuninya. Sunny beranjak dari piano dan menghampiri Chen.

Gwaenchanayo?” tanya Sunny dengan sangat cemas memegang kedua pipi Chen.

“Sepertinya ada yang masuk ke kerongkongan Chen,” tebak Kyungsoo yang duduk di sampingnya.

“Mungkin debu,” kata Tao sambil memerhatikan Chen yang masih terbatuk-batuk.

“Mungkin lalat,” tambah Xiumin iseng membuat yang lainnya tertawa. Chen langsung saja memukul bahunya dari belakang.

“Chen cuma tersedak kok. Seonsaengnim tidak perlu khawatir!” jawab Chen sambil tersenyum.

Mendengar jawaban Chen, Sunny mengembuskan napas lega dan tersenyum lebar kepadanya. Pelajaran musik pun kembali dilanjutkan dan sepanjang waktu itu pun semua berjalan lancar walau tidak semulus awalnya.

Bel tanda kelas berakhir pun berbunyi. Anak-anak itu pamit dan keluar ruangan dengan tertib. Kepala sekolah beranjak dari kursinya dan memberi kode kepada Sunny untuk ke ruangannya setelah anak-anak itu pulang. Sunny mengiyakan permintaannya. Wanita itu berjalan duluan ke ruangannya meninggalkannya di ruang musik. Sunny pasrah akan keputusan orang itu terhadap dirinya dan dengan lesu meraih tasnya dari meja. Baru ia akan keluar kelas saat Lay tiba-tiba muncul kembali di depan pintu dengan mata berkaca-kaca. Sunny seakan bisa membaca pikiran anak itu. Ia hanya tersenyum dan berjongkok di depan anak itu untuk menyesuaikan tinggi badan.

“Kenapa Lay belum pulang?” tanya Sunny lembut.

Air mata anak itu jatuh satu-satu. Sunny terdiam dan hatinya ikut tertekan. Mungkin anak itu sudah mendengar semuanya saat ia berdiri di ambang pintu ruang guru tadi.

“Tadi pagi, Lay mau mengganti air vas bunga seonsaengnim di ruang guru. Tapi… tapi… Lay janji akan berusaha lebih giat lagi… Asalkan seonsaengnim jangan pergi…”

Sunny menarik pelan anak itu ke dekapannya. Ia tahu anak itu berusaha keras menahan tangisnya. Ia menepuk-nepuk punggung anak itu lembut.

Seonsaengnim janji tidak akan pergi.”

***

Sunny mencuri pandang pada kepala sekolah yang duduk di depannya. Ia resah dan ingin cepat-cepat keluar dari ruangan kepala sekolah tempatnya sekarang. Siapa yang tahan duduk berlama-lama dengan orang yang paling disegani di playgroup itu? Walau rekan kerja, jurang pemisah antara mereka sangat lebar sehingga sulit mengakrabkan diri dengan tipe wanita sepertinya.

“Aku sudah melihat semua rekaman pengajaranmu dari video ini dan juga saat di ruang musik tadi. Aku juga mendengar desas-desus tentang kinerjamu di tempat ini dari guru yang lainnya. Apa kau pernah mendengarnya?”

Sunny tidak tahu harus menjawab apa. Bukankah jelas sekali kalau jawabannya iya. Hampir tiap hari ia digunjing oleh guru lainnya karena berpikir tidak becus dalam mengurus murid-muridnya. Sang kepala sekolah kembali angkat bicara.

“Apa menurutmu itu benar?”

Darah Sunny berdesir cepat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mulai gugup.

“Saya akan berusaha lebih baik lagi untuk anak-anak itu,” jawab Sunny seadanya.

Wanita gemuk itu menatap Sunny sejenak seraya menyodorkan kertas hasil penilaian tadi ke depannya. Sunny tidak sanggup untuk melihatnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan mata basah.

“Kau tahu EXO Playgroup ini sudah kental di masyarakat sebagai yang terbaik di Seoul. Sebisa mungkin mereka dididik bukan hanya sebagai awal untuk melanjutkan ke sekolah dasar, namun untuk menemukan bakat mereka sendiri dan juga… bagaimana mereka harus bersikap!”

Kata-kata itu begitu menusuk di hati Sunny. Ia sungguh tidak sanggup membendung air matanya.

“Kau bisa lihat kertas itu sekarang dan bereskan mejamu.”

***

Di hari anniversary EXO Playgroup itu, semua berkumpul di hall playgroup. Murid-murid paduan suara sudah bersiap di belakang panggung dengan kostum keren mereka. Namun, tetap ada mengganjal.

“Mana Sunny seonsaengnim?” tanya Suho sambil mengintip dari balik tirai merah panjang ke bangku penonton.

“Kenapa belum datang? Jangan-jangan seonsaengnim lupa kalau hari ini kita mau tampil,”ujar Kris ikut-ikutan mengintip.

Isshh, pabo! Mana mungkin seonsaengnim lupa?” jawab Suho sinis.

Semua mulai gelisah melihat murid-murid dari kelas lain disemangati oleh wali kelasnya masing-masing. Mereka saling bertanya dan beberapa kali mengecek kursi penonton. Ia tidak ada di sana.

Perasaan Lay kian berkecamuk. Jangan-jangan hal itu terjadi. Tidak mungkin! Bukankahseonsaengnim-nya sudah berjanji padanya untuk tidak meninggalkannya? Lay sudah tidak tahan tahan lagi. Ia mulai mengumpulkan teman-temannya satu per satu. Ia harus mengatakan yang sebenarnya.

Wae?” tanya mereka kebingungan.

Lay tiba-tiba terisak dan mulai menceritakan setiap detail dalam ingatannya tentang kejadian di ruang guru sampai kelas musik berakhir. Perlahan semuanya terdiam lesu mendengar penjelasannya dan tidak mengatakan apapun. Jinjja?

Perasaan baru kemarin mereka bernyanyi bersama. Kenapa tiba-tiba harus pergi? Kenapa tidak mengatakan sepatah kata pun? Mereka pun tersadar oleh sesuatu. Tentu saja seonsaengnim tidak mengatakan apapun karena ia memang tidak ingin. Bukankah kepergiannya disebabkan oleh mereka sendiri? Karena kenakalan mereka?

Tapi hari ini adalah anniversary…

Seonsaengnim sendiri yang mengatakan bahwa di hari anniversary playgroup adalah hari jadi spesial ketika semua orang akan berkumpul untuk bersuka cita. Saling berbagi kebahagiaan. Itu berarti tidak ada perpisahan. Kenapa semua harus terbalik?

Sontak Suho berlari meninggalkan hall dan diikuti oleh anak-anak lainnya. Langkah Suho membawa mereka menuju ruang guru. Pintu ruangan itu tidak terkunci. Tanpa pikir panjang Suho membuka pintu dan perlahan masuk bersama teman-temannya.

Mereka berdiri terpaku di ambang pintu. Dari jauh, meja gurunya itu bersih dari peralatan kantornya. Tidak ada satu pun yang tertinggal. Bahkan vas dan bunga kesayangan seonsaengnim pun tidak ada. Kosong. Anak-anak itu sungguh tidak menyangka dan seketika menangis bersama di ruangan tersebut. Semua karena mereka.

Seonsaengnim benar-benar pergi… Mianhamnida, seonsaengnim! Tapi kami benar-benar tidak ingin seonsaengnim pergi… seonsaengnim, kembalilah…

            “Kalian! Sedang apa kalian di sini?”

Suara itu sontak membuat mereka bangkit dari tundukannya. Suara yang sangat dikenalnya. Suara yang saat ini mereka sangat ingin dengar. Mereka serempak memutar kepala ke belakang. Ekspresi mereka langsung berbinar.

SEONSAENGNIM!!!”

Mereka tumpuk-tumpukan berebut memeluk gurunya itu lalu menangis meraung-raung. Sunny tersenyum lembut dan menyambut mereka.

Seonsaengnim kan sudah janji tidak akan pergi. Kita kan tidak boleh ingkar janji,” hibur Sunny kemudian.

“Tapi kenapa meja seonsaengnim kosong?” tanya Chanyeol terisak.

“Ahh… Seonsaengnim nantinya dapat meja baru yang lebih besar dari kepala sekolah. Rencananya akan datang besok. Jadi, seonsaengnim langsung kosongkan meja lama itu. Seonsaengnim juga ke sini untuk mengambil barang yang tertinggal.”

“Jadi, seonsaengnim benar-benar tidak pergi?” tambah Luhan kemudian.

“Memangnya seonsaengnim mau pergi kemana? Ini kan hari anniversary! Kenapa harus berpisah?” jawab Sunny membuat kesedihan anak-anak itu sirna.

Mereka melepas pelukannya dan melompat-lompat kegirangan dengan mata yang masih basah. Sungguh hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi mereka.

Aigoo, lihat wajah kalian! Mata kalian sudah bengkak karena menangis. Ingusnya keluar semua. Bajunya juga jadi kusut. Ayo, cepat kembali ke hall!”

***

“Kenapa kau kaget?”

Pertanyaan sang kepala sekolah membuat Sunny bingung setelah melihat papan kertas dari hasil penilaian pengajaran. Ia membisu sambil menatap tidak percaya kepada wanita gemuk di depannya. Ia tidak dipecat?

“Satu hal yang tidak dimiliki oleh guru lain selain dirimu. Kau membuat anak-anak itu begitu mencintaimu. Aku juga tidak tahu bagaimana kau melakukannya.”

Sunny berusaha untuk mengerti ucapan wanita itu. Namun, pikirannya masih kacau.

Nde?”

“Mungkin mereka bisa mendidik murid-murid mereka dengan baik namun belum tentu anak-anak itu belajar untuk mencintai mereka. Itulah sebabnya aku mempertahankanmu. Kau punya cara sendiri untuk mendidik anak-anak itu yang guru lain tidak ketahui. Bukannya cinta adalah yang terpenting dalam sistem pembelajaran? Setiap kali mereka membicarakanmu di depanku, dalam hati aku hanya tertawa kepada mereka. Kau tahu? Karena aku ada di pihakmu.”

Sunny benar-benar terharu. Benarkah pujian itu ditujukan untuknya? Bibirnya perlahan membentuk sebuah senyuman.

Kamsahamnida!” jawab Sunny pendek. Entah apa lagi yang harus diucapkannya untuk mewakili perasaannya.

***

Dua belas anak itu berjalan ke hall bersamanya sambil bernyanyi riang. Kedua tangan Sunny digenggam erat oleh Sehun dan Luhan menuju tempat itu. Dalam perjalanan singkat ke tempat itu, begitu banyak canda tawa. Memang benar apa yang dikatakannya. Anak-anak itu begitu mencintainya.

 

Full Credit : mydearexo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s