EXO Playgroup: Get Well Soon, Soensaengnim!

Get Well Soon Soensaengnim

Title                 : EXO Playgroup: Get Well Soon, Soensaengnim!

Author             : Lulu

Main Casts      : EXO member

Support Casts : Sunny & Jessica as teacher, EXO Playgroup bus driver

Genre              : Playgroup life, friendship, comedy

Rating              : General

Length             : Oneshot

Disclaimer       : I do not own the casts. Ide murni dari author. Bila nanti ada kesamaan cerita dengan yang lain hanya kebetulan semata

Synopsis         : Murid-murid EXO Playgroup menjenguk Sunny soensaengnim yang sedang sakit

Note                : Annyeonghaseyo! Ketemu lagi di seri keempat setelah EXO Playgroup, EXO Cinderella Drama, dan National Children’s Day. Mudah-mudahan masih banyak yang suka. Kali ini sebenarnya agak berbeda. Author juga bingung. Readers nilai sendiri, ya! Umur member EXO masih disamaratakan .__.v

************************

“Itu huruf apa?” tanya Jessica soensaengnim dengan tatapan beku kepada Sehun sambil menunjuk jajaran huruf hangul ‘Sa, Sya, Seo, Syeo, So, Syo, Su, SyuSeu, Sae dan Si’ yang ada di papan tulis.

Wanita yang berdiri di depan mejanya itu membuat Sehun merinding lalu tertunduk takut. Sempat ia tidak menemukan suaranya karena gemetaran. Pasrah dengan keadaannya yang cadel, ia berusaha menjawab dengan nada pelan.

“Huruf Tha, Thya, Theo, Thyeo, Tho, Thyo, Thu, Thyu, Theu, Thae, dan Thi…”

Hhhmmmpppff!!! Terdengar bunyi menahan tawa bersamaan dari anak-anak lain. Sehun memajukan bibirnya dan melempar tatapan dongkol kepada mereka dari sudut matanya. Ini sama sekali tidak lucu!

“Hhhh… Oh Sehun, kamu harus terus latihan pelafalan S-nya, ya! Jadi, kalimat yangsoensaengnim tulis di papan itu bacanya apa?” tanya Jessica lagi.

Sehun mengeja sambil terbata-bata dan menyipitkan mata untuk memperjelas pandangannya terhadap rangkaian hangul di papan tulis.

“Ngg… bacanya… thela.. thelamat… thi… thiang… thoen… thaengnim!”

Ppprrrttt!!! Teman-temannya yang lain cekikikan bahagia sambil menunduk dalam. Sehun bukan main jengkel. Ia memberi tanda kepalan tinju di tangan mungilnya dari bawah meja yang ditujukan untuk mereka. Mari kita lihat siapa yang menertawakannya.

Baekhyun, Chanyeol, Kai, Thiumin, Kyungthoo, Chen, Thuho, thiapa lagi? Awath thaja, yaIni juga Jethica thoenthaengnim-nya apa banget deh! Thehun kan jadi malu thama teman-teman!(╯°□°)╯︵┻━┻

“Kalian semua kenapa tertawa? Nah! Byun Baekhyun, kau ini masih kecil sudah berani-berani pakai eyeliner. Barang itu hanya dipakai untuk orang dewasa. Siapa yang mengajarimu memakainya? Kim Jongin, kamu hitam sekali, ya! Kamu orang asli mana? Atau mungkin suka keluyuran main di bawah terik matahari? Huang Zi Tao, kamu itu tidur jam berapa sih kalau malam? Lihat kantung mata kamu itu tebal sekali. Kamu itu masih kecil kan bisa bahaya untuk anak seumuran kamu kalau tidur larut malam! Park Chanyeol, kamu dari tadi ketawa terus. Sedikit-sedikit cekikikan. Kamu sejak tadi menertawakan apa? Kamu juga, Do Kyungsoo!Soensaengnim lihat dari tadi kamu pelototin soensaengnim terus O_______O Kamu kenapa? Ada yang mau kamu katakan? Atau apa? Bla bla bla…..”

Semua murid saling bertatapan dalam diam, seakan menyampaikan sinyal ‘ini gawat’, ‘mati kita’, ‘soensaengnim ini cerewet sekali’ satu sama lain setelah mendengar celotehan pedas darinya. Mereka sudah mengetahui dari cerita murid kelas sebelah kalau Jessica soensaengnim ini terkesan dingin dan galak. Mereka yang hanya anak kecil merasa tidak pantas diperlakukan demikian. Mereka masih haus kasih sayang :D Sebenarnya Jessica tidak galak. Hanya penyampaiannya saja yang kurang sreg di hati mereka. Ini adalah pengalaman mereka diajari olehnya dan akan menjadi mimpi buruk kalau Sunny soensaengnim tak kunjung sembuh. Kelas sungguh hening dan tidak ada yang berani berulah. Seandainya Sunny soensaengnim tidak sakit dan datang mengajar, mereka sebebas-bebasnya dapat ber-rock and roll ria di kelas tanpa mengurangi rasa hormat -_-

Sunny soensaengnim, jeongmal bogoshipeoyo!

Hari Minggu pukul 10.00 pagi, murid-murid EXO Playgroup dari kelas Sunny berkumpul di depan gerbang. Mereka terlihat cerah mengenakan pakaian bebas, ransel kecil, dan botol air minum. Bis playgroup dengan body warna-warni sudah terparkir di depan gerbang yang akan membawa mereka ke rumah Sunny untuk menjenguknya. Supir bis playgroup masih sibuk di dalam bis. Entah apa yang ia lakukan sementara anak-anak yang lain masih menunggu temannya yang belum datang di luar bis.

“Lama sekali! Mereka sudah dimana, ya?” keluh Lay sambil mengipas-ngipas wajahnya yang berkeringat dengan telapak tangan. Sebelah tangannya memegang buket bunga favorit Sunnysoensaengnim yang akan ia berikan nanti.

“Iya! Panath nih! Dathar yang lain itu themua lelet! Layu!” umpat Sehun mengibas-ngibaskan ujung bajunya untuk menyejukkan badannya yang kepanasan.

Yaaa! Sehun jangan ngomong gitu! Mungkin mereka sebentar lagi sampai!” seru Luhan memukul pelan bahu Sehun.

“Tinggal Baekhyun, Chanyeol, Kai, Xiumin, Kyungsoo, Chen, dan Suho,” ujar Kris sambil menghitung mereka dengan jarinya.

Dari ujung jalan yang jauh di sana, sosok teman-temannya itu muncul bergerombol. Sehun yang pertama menyadari kehadiran mereka. Wah, kebetulan sekali gerombolan itu yang dulu menertawakannya di kelas. Sekarang saatnya berbuat jahil! Hehehe…

Tiba-tiba Sehun menyuruh dan menarik semua teman-temannya masuk bis dengan terburu-buru. Mereka kebingungan dengan tingkah anak itu. Anehnya, mereka menurut saja. Semuanya pun duduk di kursi bis masing-masing saat Sehun menghampiri supir bis di kursi kemudi.

Ahjuthi, nanti kalau mereka yang di thana itu mau naik bith, ahjuthi langthung jalan thaja, ya! Kita tinggalkan mereka ya ahjuthi.”

Ahjussi itu mengembuskan napas pendek dan menggelengkan kepala. Ia tahu betul watak Sehun yang suka menjahili teman-temannya. Anak-anak lain yang duduk di kursi bis langsung bersorak dan setuju dengan ide jahil Sehun kecuali satu orang.

“Sehun! Nggak boleh begitu! Kasihan kan mereka!” bela Tao kemudian.

“Tao berithik! Udahlah! Nggak apa-apa kok!” bantah Sehun sambil menoleh ke arah Tao lalu tersenyum jahil kepada temannya-temannya di ujung jalan sana.

Di toko kue dekat playgroup, Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, Kai, Xiumin, Chen, dan Suho menatap box kaca jajaran kue yang terpampang dengan ekspresi orang yang belum makan selama berhari-hari. Sadar liur mereka menetes dari ujung mulut yang terbuka lebar, mereka cepat-cepat memutuskan membeli cup cake saja untuk Sunny soensaengnim. Setelah keluar toko, mereka langsung menuju playgroup.

Soensaengnim pasti suka kue ini! Dijamin langsung sembuh setelah memakannya karena kue ini penuh cinta dari Xiumin! Hmmmmm….” kata Xiumin kemudian menghirup dalam-dalam aroma kue dari dalam bungkusannya.

Kyungsoo buru-buru merampasnya dari tangan Xiumin. Takut jangan sampai cup cake itu justru habis diembatnya sebelum tiba di rumah soensaengnim. Lagipula kue ini dibeli patungan. Jadi, bukan dari Xiumin saja.

“Memangnya soensaengnim sakit apa?” tanya Kai polos.

Soensaengnim sedang sakit demam. Jessica soensaengnim kemarin bilang begitu pas aku tanya.Aish! Kau ini bagaimana sih?” jawab Suho dengan nada suaranya yang meremehkan.

Yaa! Aku kan cuma bertanya karena memang tidak tahu! Wae irae?” bentak Kai.

“Tapi sudah satu minggu soensaengnim nggak masuk. Apa sakitnya tambah parah?” tanya Chen dengan nada khawatir.

Molla! Makanya kita jenguk soensaengnim hari ini. Aku sudah tidak tahan sama Jessicasoensaengnim. Apa salah kalau aku pakai eyeliner?,” jawab Baekhyun sambil mengangkat bahu dan menunjuk eyeliner-nya yang tebal dan belepotan di matanya.

Ne! Masa aku dibilang hitam?” protes Kai.

“Masa aku dibilang tukang ketawa?” tambah Chanyeol kemudian.

“Masa aku dibilang belo?” geram Kyungsoo ikut menyetujui.

Mereka sudah hampir sampai di pintu gerbang. Bis playgroup juga sudah menunggu sejak tadi. Tiba-tiba terdengar suara mesin bis menyala. Polusi mulai mengepul dari knalpot besar bis tepat di depan Chen. Anak itu pun seketika tersembur asap hitam.

“Uhuk uhuk uhuk!” Chen terbatuk-batuk di tempatnya berdiri.

Gwaenchana?” seru teman-temannya menghampirinya.

Roda bis perlahan berputar dan mengagetkan mereka yang masih berdiri di luar bis. Dari kaca jendela besar belakang bis, nampak Sehun, Luhan, Lay, Kris, dan termasuk Tao sedang melompat-lompat tinggi, mengangkat-angkat kedua tangan kegirangan sambil tertawa terbahak-bahak ke arah mereka \(>O<)/ Laju bis semakin kencang. Tanpa pikir panjang, anak-anak yang lain langsung mengejar bis dengan ekspresi menyedihkan dan mau menangis sambil berteriak-teriak. Kaki kecil mereka berlari sekencang mungkin. Hal itu menarik perhatian orang-orang sekitar dan tertawa melihatnya. Anak kecil yang mengejar bis.

AHJUSSIII STOP!!! TUNGGU KAMI!!! T^T”

“TEMAN-TEMAN, JANGAN TINGGALKAN KAMI!!!! T___T”

Sehun dan yang lainnya melambaikan tangan dengan girang, mulut mereka seperti mengucap kata ‘da da…’ dan membentuk wajah-wajah aneh untuk mengejek mereka.

Tak lama kemudian bis berhenti dan pintu bis pun terbuka untuk mereka. Sehun dan temannya yang lain masih belum berhenti tertawa keras saat mereka memasuki bis, tak terkecuali ahjussisang supir bis. Kai menjitak dahi mereka satu per satu karena sudah tega mengerjainya. Misi kejahilan Sehun pun sukses! \(^O^)/

Perjalanan mereka cukup singkat. Hanya dalam 30 menit lebih mereka sudah sampai di depan sebuah rumah bergaya futuristik minimalis. Sebuah pohon tinggi besar menambah rimbunnya lingkungan rumah Sunny. Mereka juga bisa melihat bunga favorit gurunya itu berjajar rapi di halaman. Bunga yang persis dibawa oleh Lay.

Anak-anak itu memasuki pagar dengan kebingungan dan agak segan. Mereka saling mendorong, menyuruh siapa yang berani masuk untuk menyapa tuan rumah. Kris memutar bola mata melihat sikap teman-temannya yang pengecut dan langsung maju ke depan. Sebagai ketua kelas, ia memang harus melakukannya. Saat Kris mulai berjalan ke arah pintu masuk, anak-anak yang lain mulai mengikutinya dari belakang dengan semangat. Suho hendak membunyikan bel namun sayang ukuran tubuhnya tidak mampu meraih tombol bel. Kris lalu mengambil alih dan menekan bel itu tiga kali sambil berjinjit. Dalam hati Suho menggerutu pada ketua kelasnya itu beserta tinggi badannya yang setinggi tiang bendera di lapangan playgroup.

Tidak lama kemudian, sesosok pria tua membuka lebar kedua pintu putih itu bersamaan dengan kedua tangannya. Awalnya ia keheranan sambil celingukan kanan kiri namun begitu ia menunduk sedikit, segerombol anak kecil itu berbaris rapi di depannya. Enam di depan, enam di belakang. Seakan sudah diatur sebelumnya, Kris lalu memberi aba-aba diikuti anak-anak lainnya.

WE ARE ONE! ANNYEONGHASEYO HARABEOJI!

Orang itu sempat kebingungan melihat tingkah mereka yang mengacungkan jempol lalu membungkuk memberi hormat padanya. Lama-kelamaan ia tersenyum lebar.

Aigoo! Kalian pasti dari playgroup!” tebak orang itu ramah.

NE!” jawab anak-anak tu kompak.

Raut wajah pria tua itu seketika berubah sedih dan pandangannya menerawang. Sesaat murid-murid EXO Playgroup saling tatap karena heran. Tak lama kemudian, pria tua itu kembali tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk. Anak- anak itu masuk dengan sumringah berebutan duduk di sofa, sebisa mungkin memuat-muati sofa hingga penuh. Mau tak mau, Suho harus rela dipangku Kris. Pria tua itu membuka toples kue yang langsung disambar oleh mereka dengan ganas.

Harabeoji, kami mau jenguk Sunny soensaengnim,” ucap Lay sopan. “Bagaimana keadaannya?Soensaengnim baik-baik saja kan? Sudah mau sembuh kan?”

“Apa soensaengnim lagi tidur di kamarnya?” tanya Tao setelah menelan kue di mulutnya.

Sama seperti di pintu masuk tadi, air muka pria tua itu kembali pilu. Perlahan dari kedua matanya, setetes air bergulir turun. Ia seperti tidak sanggup menjawab pertanyaan murid-murid itu. Ia tertunduk sambil menutup wajahnya yang mulai basah oleh air mata. Ia lalu terisak dan membisikkan kalimat permintaan maaf disela-sela tarikan napasnya.

Anak-anak itu menatapnya lurus-lurus dan bergantian memandangi teman-temannya dengan kening berkerut. Hal itu membuat jantung mereka berdegup kencang, bulu kuduk mereka merinding, darah mereka berdesir cepat, dan menimbulkan perasaan yang sangat menakutkan. Kekhawatiran mereka memuncak saat pria tua itu tak henti-hentinya mengucap kata maaf kepada mereka sambil menangis. Apa yang terjadi pada Sunny soensaengnim?

Ha.. harabeoji.. jangan buat kami takut. Sebenarnya ada apa? Apa ada hal buruk yang menimpa soensaengnim?” Luhan memberanikan diri untuk angkat bicara.

Di kursi masing-masing dalam bis sepulang dari rumah Sunny, anak-anak itu terdiam. Tak ada yang bersuara seorang pun. Pikiran mereka seakan sedih, takut, dan benar-benar tidak menduga. Mereka masih bisa merasakan jantung mereka yang seperti meledak usai mendengar penjelasan dari ayah Sunny.

Sebenarnya uri Soon Kyu mengalami kecelakaan minggu lalu dan sampai sekarang belum bangun dari tidurnya. Ia sedang dirawat di rumah sakit. Harabeoji meminta kepada guru kalian yang lain agar jangan menceritakan hal ini pada kalian. Harabeoji tidak ingin membuat kalian khawatir sampai Soon Kyu bangun nanti. Jeongmal mianhaeyo! Harabeoji mohon kepada kalian untuk terus mendoakan Soon Kyu. Semoga ia cepat bangun. Semoga ia cepat sembuh…

            Kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepala mereka dan semakin menguatkan keinginan mereka untuk bertemu dengan gurunya. Dalam perjalanan itu, tak henti-hentinya mereka memanjatkan doa demi kesembuhannya.

            Matahari sudah semakin tinggi. Bis memasuki halaman rumah sakit tempat Sunny dirawat. Begitu mereka yang terburu-buru beranjak dari kursi dan ingin turun, ahjussi sang supir bis tidak membukakan pintu.

Ahjussi, pintunya belum dibuka!” seru Kris menunjuk daun pintu bis.

“Kalian masih kecil. Pihak rumah sakit pasti tidak memperbolehkan kalian masuk rumah sakit ini untuk membesuk. Biar ahjussi saja yang pergi. Kalian tunggu di sini. Cuma sebentar kok!” jawabahjussi sambil bersiap-siap ingin turun.

Anak-anak itu geram. Mereka langsung menyerbu ahjussi yang masih duduk di kursi kemudi sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya, naik ke pangkuannya lalu menarik-narik baju, celana, tangan, dan kakinya, sambil memasang raut wajah memelas dan memohon untuk ikut masuk ke dalam rumah sakit. Beberapa dari mereka melompat-lompat brutal dalam bis, membunyikan klakson segila mungkin, membuat bis agak sedikit berguncang oleh kegaduhan sehingga orang di sekitarnya menghampiri bis itu dengan ragu. Ahjussi itu mulai kewalahan dan mau saja menuruti permohonan anak-anak itu. Sungguh tidak tegas!

“AYOLAH AHJUSSI! BAWA KAMI IKUT MASUK JUSEYO!!!!!” rengek anak-anak itu.

“I… iya.. iyaa.. neeeeee… arasseoyo! Aduh.. kalian cepat lepaskan ahjussi! -___-“

Kompak mereka bersorak riang dan turun berombongan mengikuti ahjussi yang berjalan di depannya. Di pintu masuk ruang rawat inap itu mereka seketika ditahan oleh dua satpam yang berjaga di depannya dengan alasan yang sama dengan penjelasan ahjussi di bis tadi. Ahjussimemberikan tatapan ‘lihat, apa yang kubilang tadi!’ pada anak-anak itu dan jelas sekali mereka terlihat sangat kecewa.

“PAK SATPAM, KAMI CUMA INGIN MENJENGUK SOENSAENGNIM! APA SALAHNYA?” seru Kris lebay.

“KENAPA CUMA AHJUSSI YANG BOLEH MASUK?” tambah Baekhyun sambil menunjuk sang supir bis.

NE! PADAHAL KALAU ORANG LAIN DIKASIH MASUK. PAK SATPAM GIMANA SIH?” protes Luhan.

“PAK THATPAM NGGAK BITHA NGELAKUIN INI KE KITA! MATHA KITA DILARANG MATHUK? PAK THATPAM JANGAN PILIH KATHIH!” ヽ(`Д´)ノ Sehun tidak sabaran.

Kedua satpam itu tidak berdaya menerima kalimat protes bertubi-tubi dari mereka. Ini bukan masalah pilih kasih, ya! -__- Tapi sesuai peraturan rumah sakit bahwa anak di bawah usia 12 tahun tidak diperbolehkan menjenguk orang sakit. Kekebalan mereka masih rapuh. Semua demi kebaikan mereka.

“Aduh, anak-anak! Rumah sakit ini sarang kuman. Kalian tidak takut? -___-“

“NGGAK! KITA NGGAK TAKUT! NTAR KITA PUKULIN!” geram Kai.

“PAK SATPAM, DEMI SOENSAENGNIM, BIARKAN KAMI MASUK JUSEYO!!!” rengek Suho.

Tiba-tiba dua wanita bule tua kerabat seorang pasien di sana menghampiri kedua satpam itu. Kelihatannya mereka hendak menanyakan suatu hal dan menghujaninya dengan bahasa Inggris tanpa celah hingga satpam itu tercengang tidak mengerti apapun. Kesempatan emas! Anak-anak itu beserta sang supir bis langsung saja mengendap-endap melewati pintu masuk lalu berlari kencang memasuki lorong rawat inap dan berbaur dengan pengunjung lain. Mereka tertawa lepas, membayangkan ekspresi satpam itu kemudian. Segalanya berubah saat mereka mencium bau obat-obatan yang menusuk hingga mereka membuat ekspresi lebay lalu menutup hidung dan mulut. Luhan bahkan mau muntah.

Ahjussi menepuk dahinya. Ngeri membayangkan mereka akan tertular berbagai macam penyakit, lalu orang tua mereka protes, dan ia dipecat dari playgroup karena kejadian ini. Benar-benar bandel!

Sementara  ahjussi menanyakan nomor kamar inap Sunny di lobby, bocah-bocah itu tertegun saat seorang wanita muda yang cantik memasuki lobbyDress pink selutut sederhana yang dikenakannya sangat pas di tubuhnya. Kakinya jenjang. Kulitnya putih bersih. Rambut panjang kecoklatannya yang bergelombang dijepit setengah. Wajahnya di-make up natural. Senyumnya ikut merekah saat dua orang suster menghampirinya. Ia lalu memberikan bungkusan makanan kepada mereka.

Semua seperti tersihir oleh kecantikan dan kelembutan wanita itu kemudian memasang pandangan sayu, kecuali satu anak yang secara spontan menarik seluruh temannya untuk bersembunyi di balik sofa dan vas raksasa lalu menyuruh mereka untuk diam. Raut wajah anak itu cemas. Suho sampai meringis karena cengkeraman tangan anak itu yang terlalu kuat di lengannya.

“Kai-yaMworaneungoya? Kenapa kita harus sembunyi darinya? Kau mengenalnya?” bisik Chanyeol pelan.

“Tentu saja! Orang itu… uri eomma… dia pasti mengantarkan makan siang untuk appa. Appa-kuseorang dokter di sini,” jawab Kai yang ketakutan bila eomma-nya melihatnya di tempat itu.

o____0 HEEEE? Anak yang lainnya kaget minta ampun. Mereka bergantian melototi Kai lalu berganti memerhatikan ibu anak itu, dan kembali lagi ke arah Kai. Begitu seterusnya hingga Lay dan Tao menahan tawa sambil menutup mulut akan perbedaan yang mencolok dari mereka berdua. Kris bahkan tertawa tanpa suara sambil memegang perutnya. Mata Chen sampai berair karena kegelian. Kai jadi geram -____-“

YAAA!!! Wae? Ada yang salah? Hah?” gertak Kai menggigit bibir bawahnya.

“Aduh kkamjong nggak usah bohonglah! Masa noona cantik seperti dia sudah punya anak?” ejek Chen yang mulai terpingkal-pingkal. “Kalau pun ada, anak noona berhati malaikat itu ya nggak berandal dan somplak >O<!!!”

NeNoona-nya putih, masa anaknya hitam dekil. Nggak nyambung! Benar juga kata Jessicasoensaengnim sewaktu di kelas. Jangan suka main dibawah terik matahari. Boleh ngakak? \(^O^)/” tambah Xiumin meledakkan hati Kai.

Kai kini melihat teman-temannya yang bisa-bisanya begitu bahagia mengejeknya habis-habisan disaat soensaengnim sedang menderita. Tak terkecuali tiga bocah pendiam itu. Tao, Lay, dan Kris. Dasar! Diam-diam menghanyutkan! Kai kembali menjitak satu-satu dahi mereka. Biar tahu rasa!

Usai eomma Kai berlalu, mereka keluar dari persembunyiannya. Tiba-tiba appa Kai yang berjas putih muncul dengan perawat yang mengikutinya di belakang. Dengan terburu-buru, mereka kembali bersembunyi. Setelah appa Kai pergi, dengan kesal mereka keluar dari balik sofa dan vas raksasa lagi. Datang pula segerombolan suster sambil tertawa-tawa memainkan spoit bekas. Dongkol mereka kembali bersembunyi lagi. Ada-ada saja yang menghalangi mereka.

“Aku nggak mau disuntik pakai itu kalau ketahuan sembunyi di sini!” resah Kyungsoo sambil mengintip dari balik sofa.

Para suster itu menghilang di balik dinding. Baiklah! Kali ini mereka harus langsung ke kamarsoensaengnim. Mereka secepat mungkin berlari keluar dan tiba-tiba berpapasan dengan sekelompok perawat yang berlari mendorong tempat tidur pasien yang tertutup kain seutuhnya tak bernyawa. Orang meninggal. Mereka langsung tersentak takut setengah mati, berteriak lantang, dan lari bersembunyi seperti orang gila ke tempat semula.

“Tempat ini menakutkan! Thehun mau pulang! Eommaaaaaa…… ~ ~ \(!!˚o˚)/” rengek Sehun tersedu-sedu dalam hati setuju dengan pernyataan ahjussi supir bis dan satpam tadi.

Andwae! Kita sudah sejauh ini! Cepat kita ke kamar soensaengnim!” bujuk Luhan.

Kali ini sudah tidak ada rintangan yang menerjang. Mereka berhasil menemukan ruangan Sunny dengan kemampuan membaca mereka yang seadanya. Dengan ragu Kris memutar gagang pintu dan masuk diikuti yang lainnya di belakang tanpa menimbulkan suara.

Kamar tersebut cukup luas dan dibagi menjadi dua bagian dengan pembatas sebuah tirai putih polos yang melintang tinggi. Bagian ruangan yang mereka lihat pertama kali adalah ruangan untuk para penjaga dan penjenguk. Sofa besar dan meja, TV, kulkas kecil, dispenser, penghangat ruangan, dan peralatan lainnya. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Baik si penjaga pasien maupun ahjussi sang supir bis.

Perhatian mereka langsung tertuju pada sesuatu dibalik tirai putih itu. Dengan tegang mereka berjalan mendekat, menyibak tirai dengan hati-hati, dan DEG! Hati mereka seakan berguncang hebat. Sunny sedang terbaring di tempat tidur dengan mata terpejam dengan kepala dibalut perban. Alat bantu pernapasan, cairan infus, dan benda-benda aneh lainnya yang mereka sama sekali tidak mengerti menyelubungi tubuh gurunya itu. Kyungsoo menatap miris benda yang mengeluarkan bunyi tiap beberapa detik di depannya. Benda tersebut sama persis yang ia lihat bersama eomma-nya kemarin di serial drama MBC TV. Bila layar pada benda itu menunjukkan garis lurus dan terdengar bunyi monoton panjang, maka orang yang terbaring disampingnya akan meninggal.

Mereka berdiri berdua belas mengelilingi Sunny di tepi tempat tidur dengan mata yang mulai berkaca-kaca, memerhatikan dengan seksama kondisi soensaengnim-nya, bagai kurcaci yang menunggu putri salju untuk bangun. Nampak memar yang tidak sedikit membekas di kulit putih Sunny. Mereka sungguh tidak mampu membayangkan apa yang dirasakan gurunya saat terjadi kecelakaan itu. Takut, terkejut, terlonjak, tidak menyangka, dan rasa sakit…

Suho yang berdiri persis di ujung dekat kepala Sunny langsung mengulurkan tangannya ke wajah Sunny sambil berjinjit. Disapukan pelan tangan mungilnya ke pipi halus gurunya. Ia berbisik di telinganya, memanggilnya untuk segera siuman. Saat ia melakukannya, dadanya sakit karena menahan tangis. Ia kemudian terisak, bahunya bergetar, dan air matanya jatuh melimpah ruah. Sambil mengusap pipinya yang basah, Lay meletakkan setangkai bunga favorit Sunny dari buket ke tangannya. Anak lain yang melihat apa yang dilakukan Suho dan Lay juga tak kuasa menangis sambil menunduk.

Soensangnim, ini kami datang menjengukmu. Soensaengnim, ayo bangun juseyo! Jangan tidur terus. Bogoshipeoyo! Kelas sangat hening tanpa soensaengnim. Apa soensaengnim mendengar kami?

Mereka terus menunduk, membiarkan butiran air itu jatuh dari pelupuk mata, dan membisikkan doa kecil. Mereka kembali teringat saat-saat kebersamaan mereka. Bagaimana soensaengnimmengajarinya membaca, menulis, melukis, menyanyi, menari, menemukan berbagai hal baru dengan penuh kesabaran. Nasihat-nasihat, canda tawa, dan senyuman manisnya terus bermunculan di kepala mereka, membuat hati mereka semakin perih. Bagaimana kalau semua itu pergi? Bagaimana kalau soensaengnim pergi dan tidak kembali? Andwae!

Jeoseonghamnida, soensaengnim! Maafkan kami!

Kami selalu membuat soensaengnim marah

Kami janji akan jadi tidak akan nakal lagi

Karena itu soensaengnim harus bangun

Jadi nanti bisa lihat kami jadi anak baik

Tuhan, selamatkan soensaengnim juseyo

Kami mohon jangan ambil soensaengnim

Kami sayang soensaengnim

Jeongmal saranghamnida

Dari pandangannya yang kabur karena air mata, Lay sangat yakin melihat jemari lentik Sunny bergerak beberapa kali. Lama-kelamaan, kelopak mata Sunny terbuka perlahan. Anak-anak itu masih tetap melongo lugu tak percaya lalu senyum sumringah penuh rasa syukur langsung terlukis di wajah mereka, meruntuhkan semua rasa takut dan khawatir. Tuhan mendengar doa mereka.Soensaengnim bangun. Benarkah? Sungguh? Jinjjayo?

Dari jendela kamar, Kai melihat sosok wanita tua berjalan masuk ke arah ruangan. Sebelum wanita itu membuka pintu ia menggebu-gebu menyoraki yang lain dengan suara pelan untuk segera bersembunyi di balik sofa ruangan tersebut. Setelah wanita itu masuk, mereka bisa melihat ia menangis bahagia atas kondisi Sunny serta langsung menghubungi dokter dan suster dari telepon yang tergantung di dinding dekat tempat tidur. Selang beberapa detik, seorang dokter dan suster satu per satu memasuki ruangan untuk memeriksa Sunny. Nampak pula ahjussisupir bis bersama mereka. Bocah-bocah itu hanya memerhatikan dari balik sofa.

Sungguh sebuah keajaiban. Anak-anak itu langsung tertawa bahagia mendengar perkataan sang dokter bahwa gurunya yang sudah melewati kondisi kritis atau entah apa kata dokter itu yang artinya gurunya akan sembuh. Luapan bahagia mereka justru menarik perhatian orang-orang itu. Anak-anak itu terkesiap, bola mata mereka membesar, lalu menutup mulut rapat-rapat dengan kedua tangan, namun percuma.

Gawat! Mereka berjalan mendekat. Mereka menyadari kehadiran kita. Ketahuan!

“Omooo… Apa kalian murid-murid Soon Kyu?” tanya wanita muda itu kaget melihat segerombolan bocah dengan mata merah, memasang ekspresi polos, dan pipi basah.

YAAA!!! Kalian ternyata di sini. Kalian sedang apa duduk di situ? Ahjussi tadi mencari kalian kemana-mana!” pekik ahjussi supir bis.

Dokter muda tampan itu kaget. Anak-anak itu adalah murid-murid dari sang pasien? Murid-murid Sunny? EXO Playgroup? Kalau begitu, jangan-jangan anak itu juga ada di antara mereka dan benar saja!

“Jongin, apa yang kau lakukan di tempat ini? Bagaimana bisa kau di sini?” seru sang dokter dengan kening berkerut.

Kai mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap orang itu, dan tersenyum nyegir dibuat-buat.

“Eh, appa! Jongin bisa jelaskan!” <(.____.)

 

Full Credit : EXO Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s