EXO PLAYGROUP: Do The Right Things

EXO PLAYGROUP_Do The Right Things_melurmutia

Author : Lulu

Main Casts : EXO Member

Support Cast : Sunny as teacher

Genre : Playgroup life, friendship, comedy

Rating : General

Length : Series

Disclaimer : I do not own the casts. Ide murni karangan author

Synopsis : Murid-murid EXO Playgroup menjalankan misi berbuat kebaikan sesuai nasihat Sunnysoensaengnim

Note : Sebenarnya fanfic pendek ini udah aku tulis pertengahan tahun lalu dan seharusnya menjadi seri pertama dari EXO Playgroup tapi karena suatu alasan akhirnya gak jadi dipublish. Setelah dipikir-pikir, gak ada salahnya dipublish sekarang. Maaf kalau struktur kalimat fanfic-nya masih berantakan .__.

Jangan lupa beri komentar setelah dibaca

Don’t plagiarize my post!

Murid-murid EXO Playgroup berhamburan keluar gerbang menuju rumah masing-masing. Beberapa dari mereka masih menunggu penjemput mereka datang. Demikian pula dengan Luhan dan Sehun. Luhan mengipas-ngipas lehernya yang berkeringat dengan topi pink kotak-kotaknya. Siang itu matahari seakan membakar kulitnya. Polusi kendaraan dan debu beterbangan, menambah suasana gerah.

“Luhan, aku hauth. Kita beli bubble tea di thana lagi yuk!” ajak Sehun menarik lengan Luhan.

Sehun seakan tidak menunggu jawaban Luhan dan langsung menarik temannya itu untuk mengikuti langkahnya. Luhan mau-mau saja berhubung ia juga sangat haus. Meskipun stand bubble tea itu cukup jauh dari playgroup-nya.

Seorang nenek tua bungkuk bertongkat muncul di hadapan mereka. Kelihatannya sedang menunggu lampu merah untuk menyeberang jalan. Ia hanya seorang diri di sana. Kedua anak itu menghentikan langkah lalu saling bertatapan. Sepertinya keduanya punya pikiran yang sama.

“Luhan, kau lihat tidak? Halmeoni itu thepertinya layu banget. Ayo kita tolong dia thampai ke theberang jalan. Ini kan berbuat kebaikan. Jadi kita bitha cerita thoal ini bethok di depan kelath. Yuk yuk yuk!” seru Sehun menggebu-gebu, berlari menarik tangan Luhan.

Lagi-lagi Sehun bertindak semaunya tanpa menunggu jawabannya. Mereka sudah berdiri di samping nenek itu. Luhan sebenarnya takut. Biasanya ada ahjussi penjaga playgroup yang membantu mereka menyeberang. Sekarang, ia yang membantu orang lain. Biar bagaimana pun, ia hanya anak kecil. Entah kenapa ia cuma menurut saja. Mau bagaimana lagi -,-

Halmeoni, mari thini tangannya! Biar Thehun bantu nyeberang ya!”

Nenek itu menatap datar dua anak berseragam playgroup di depannya. Percaya diri sekali mereka ya! Bisa-bisa akhirnya malah ia yang membantu kedua anak itu menyeberang -_- Lampu hijau pun berganti merah. Mereka bertiga mulai menyeberang jalan. Nenek itu berjalan lambat dengan susah payah sambil bertumpu pada tongkatnya. Sudah beberapa detik lewat, mereka masih ada di tengah jalan besar, belum setengah jalan sampai ke seberang. Kedua anak itu mulai panik.

Halmeoni, jalannya cepat dikit bitha? Ini udah mau hijau lampunya. Thehun takut nih,” ujar Sehun stres sambil memegang erat tangan nenek itu.

“Huuusssshhh!” Luhan meletakkan telunjuknya di bibir dengan kening berkerut. “Sehun-ah, itu nggak sopan tahu! Kalau halmeoni dengar gimana?”

“Aduh, Lulu! Kalau kita ketabrak teruth gimana?” balas Sehun frustrasi.

Lampu berganti hijau. Kendaraan mulai memekikkan klakson kepada ketiga orang yang masih di jalan. Karena sudah tidak sabaran, sebuah truk besar langsung melaju begitu saja, mengempaskan angin polusi, dan hampir menyerempet mereka. Sehun dan Luhan kaget bukan main dan langsung memeluk erat sang nenek sambil berteriak.

“HUUAAAAAAAA!!!!!” tangis Sehun kencang.

SALLYEO JUSEYO!!! >O<” teriak Luhan menggila meminta tolong.

Sang nenek hanya diam dongkol dengan tingkah kedua anak itu. Kalau lututnya tidak sakit, sudah dari tadi ia sampai di seberang. Sekarang tubuhnya terkunci oleh kedua anak itu, semakin membuatnya tidak dapat bergerak dari tempatnya ヽ(`Д´)ノ

***

Sementara itu di tempat lain sepulang sekolah…

Kai mengintip dari balik mesin penjual minuman kaleng dengan hati was-was. Di depannya, ia bisa melihat tiga orang temannya, Xiumin, Lay, dan Tao sedang menunduk dikelilingi tiga anak lelaki SD berbadan besar dan tengil yang nampaknya berandal.

“Mana uangnya? Cepet kasih ke aku!” gertak salah seorang anak SD itu.

Bahu mereka bertiga bergetar mendengar geramannya. Mereka lalu berpandangan satu sama lain. Saling melempar pikiran. Kasih nggak ya?

“Sunny soensaengnim bilang kita harus berbuat kebaikan sama orang lain! Nggak boleh jahat kayak hyung!” protes Lay memberanikan diri.

“Betul! Orang jahat nanti ditangkap polisi lho!” tambah Tao kemudian.

Anak SD itu berdecak keras dan tertawa. Sejenak melemparkan pandangannya ke arah lain lalu kembali berbalik menatap murid playgroup itu.

“BACOT! YAAAA!!! CHIGULLE? CEPETAN MANA UANGNYA?”

Tao dan Lay tersentak dan buru-buru mengeluarkan uangnya yang hanya beberapa won dari ransel kecilnya. Mereka memang yang paling tidak bisa melawan. Anak SD itu lalu merampas uang dari tangan mereka dengan senyum jahat penuh kemenangan. Dari kejauhan Kai menggerutu sendiri. Kenapa mereka kasih uangnya? Aish! Payah!

Xiumin sedari tadi hanya menundukkan kepala. Tidak bergerak sedikit pun. Ketiga anak SD itu lalu menghampirinya dengan dagu terangkat.

“Kamu kenapa diam aja di situ?”

“Tapi Xiu memang nggak punya uang hyung! -__-”

Ketiganya lalu merampas kasar ransel Xiumin dan menemukan beberapa bakpao hangat di dalamnya. Anak SD itu tertawa kegirangan. Xiumin berbalik merampas apa yang menjadi miliknya dari mereka dengan mata berapi-api.

Andwae! Jangan ambil bakpaoku! Lebih baik pukul aku daripada harus memberikan bakpao lezat ini padahyung!”

Ketiga anak SD itu saling menatap kebingungan lalu tersenyum sinis. Secepat kilat mereka mengalungkan lengan mereka ke badan Xiumin dan ‘hendak’ melakukan seperti apa yang dikatakan anak playgroup itu. Namun belum apa-apa Xiumin sudah berteriak.

“Kyaaaa!! Jangan pukul aku! AraAra! Ambil saja bakpaonya! T____T” jerit Xiumin menyerah.

Setelah mengambil semuanya, anak-anak SD itu meninggalkan mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Kai berlari menghampiri mereka dengan wajah kesal. Ketiga anak itu terkejut melihat Kai yang tahu-tahu sudah berdiri di hadapan mereka.

“Yaaa! Payah! Kenapa kalian kasih semuanya? Kenapa nggak kalian ngelawan?” seru Kai sambil menunjuk mereka satu per satu.

“Anggap saja kita sedang berbuat kebaikan,” jawab Lay polos.

“Mereka pasti lebih butuh uang dan bakpao daripada kita,” tambah Tao datar.

Pabo! Itu bukan berbuat kebaikan tapi di-bully, tahu nggak?” balas Kai sambil menepuk dahi mendengar jawaban konyol teman-temannya.

Chakkaman! Kamu sendiri dari tadi kemana? Kita kan tadinya pulang berempat! Jangan-jangan kamu kabur sendiri! WAE IREOHKE?” pekik Xiumin berlebihan sambil menunjuk Kai.

Glek! Memang benar yang dikatakan Xiumin. Lebih tepatnya bukan kabur sendiri, melainkan tidak sempat menarik mereka kabur bersama karena ia sudah kabur duluan. Ya, sama saja sih! Kai jadi salah tingkah.

“Ahh.. i.. itu.. anu.. (.___.)>”

“Jadi dari tadi kamu cuma ngelihatin kita di-bully ya?” tanya Tao dengan nada tinggi.

“Kenapa kamu nggak tolongin kita?” tambah Lay yang langsung berubah kesal.

Belum sempat Kai memberikan penjelasan, ia sudah dikeroyok duluan oleh mereka bertiga.

***

Di tempat lain pula, sepulang sekolah…

“Baekhyun-ah, Chanyeol-ah, lihat! Ada anak kucing terjebak! O___O” seru D.O dari tepi parit.

Anak kucing itu berdiri ketakutan di pipa parit tempat keluarnya air limbah. Genangan limbah di parit itu tidak dalam, namun kotor. Sedikit saja anak kucing itu bergerak, bisa-bisa ia jatuh ke dalam genangan limbah. Misi bagus bagi mereka bertiga untuk diceritakan di depan kelas besok.

“Meoww.. meoww.. cuk cuk cuk..” D.O membuat suara-suara tak jelas dan mengulurkan sebelah tangan untuk meraih anak kucing itu. Sayang sekali tangan pendeknya itu tidak bisa menolong. “Tanganku nggak nyampe.”

Chanyeol dengan percaya diri mengambil alih posisi D.O namun tetap saja usahanya sia-sia. Tangannya juga tidak mampu meraihnya. Tiba-tiba Baekhyun datang dengan membawa sebuah kayu panjang di tangannya sambil tertawa. Ia menggeser kasar Chanyeol dari tempatnya dan mulai menurunkan kayu panjang itu ke arah anak kucing.

“Ngeooooonnggg.. ya, kucing kecil. Ayo manjat di sini!” seru Baekhyun dari atas parit.

Namun, kayu panjang yang dipegangnya mengenai anak kucing itu sehingga nyaris kehilangan keseimbangan.

“WOOOOOOO!!!!!” seru mereka bertiga kaget. Beruntung anak kucing itu tidak jatuh tercebur. Masih berdiri kaku di pipa.

“Baekhyun-ahMicheoseo? Gara-gara kau tadi anak kucingnya hampir jatuh!” omel Chanyeol mengangkat-angkat dagunya.

Ne! Lagian kenapa pakai kayu? Kucing mana yang bisa manjat?” tambah D.O.

Baekhyun mengerutkan kening, memajukan bibirnya, lalu melempar kayu panjang tadi ke sembarang tempat karena kesal.

“Berisik! Pokoknya aku yang bakal tolongin anak kucing itu. Lihat saja! Besok Sunny soensaengnim pasti bangga sama cerita kebaikan aku. Kalian awas aja ya kalau ngambil ceritaku!” ancam Baekhyun mengepalkan tangannya ke arah mereka.

Chanyeol dan D.O hanya bisa saling pandang. Baekhyun kini mencoba meraih anak kucing itu dengan tangannya sendiri. Ia berusaha sekuat tenaga. Sedikit lagi dan… BYURR!

“BAEKHYUN-AH!!! >O<” teriak Chanyeol dan D.O bersamaan.

Baekhyun tercebur ke parit yang kotor itu. Begitu ia bangkit, seragamnya sudah teresap air limbah, lumut-lumutan, dan aroma tak sedap. Chanyeol dan D.O melompat-lompat ketakutan, berlarian mondar-mandir di tepi parit, tidak melakukan apapun yang bisa menolong Baekhyun saking kagetnya. Warga setempat berdatangan ke tempat mereka, mengeluarkan Baekhyun yang sudah menangis di bawah, berikut anak kucingnya. Mission failed! -__-

***

Di tempat lain satunya lagi, sepulang sekolah

Chen dan Kris masih berdiri menunggu penjemput mereka di depan gerbang. Hawa panas kota Seoul terus menyerang. Chen masih mengipas-ngipas wajah dengan sebelah tangannya sampai ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak jauh darinya, seorang wanita sedang berdiri kebingungan dengan koper besar yang dibawanya. Kepalanya memutar ke segala arah seperti mencari-cari sesuatu. Sepertinya ia tersesat. Yang paling membuatnya senang adalah wanita itu seorang bule. Ini kesempatan bagus untuk cerita kebaikan besok! Menolong wanita bule! Keren!

“Kris! Kris! Kris!” seru Chen mengguncang-guncangkan hebat tubuh Kris. “Bahasa Inggrisnya ‘permisi, ada yang bisa aku bantu’ apa ya?”

Kris yang merasa terusik dengan ulah Chen dengan segan memberitahunya hingga beberapa kali. Chen melompat-lompat kegirangan. Tanpa pikir panjang, Chen berlari begitu saja meninggalkannya. Kris kebingungan sendiri dan penasaran sehingga ia ikut berlari mengikuti Chen di belakangnya. Temannya itu lalu berhenti di hadapan seorang wanita yang… astaga! -___-“

Execiuse me, bule noona! May I helpeu you?

Wanita itu terdiam tidak mengerti melihat anak kecil bertopi dan berblazer pink di depannya sedang tersenyum lebar.

Mianhaeyo adek. Kamu ngomong apa ya? Noona nggak ngerti,” jawab wanita itu kebingungan.

Chen malah tambah kaget karena wanita itu bisa berbahasa Korea. Ia masih menatap kakak berambut pirang itu saat Kris tiba-tiba menarik lengannya dan membisikkannya sesuatu.

“Mworaneungoya?” bisik Kris malu seekali melirik ke wanita tadi.

“Mwoya?” tanya Chen tidak mengerti.

“Ya, kau salah! Noona ini bukan bule, tapi penderita albino,” jelas Kris tidak enak hati.

“Albino?”

“Ne! Orang albino itu bergaya seperti bule, tapi sebenarnya bukan bule.”

Chen menatap beberapa detik ke arah Kris. Otaknya tidak terlalu dapat menerima setiap kata dari penjelasan Kris tadi.

“Maksud lo?”

“Itu juga aku nggak ngerti -__- udahlah! Pokoknya noona ini bukan bule!”

Walapun tidak mengerti penjelasan Kris, yang jelas Chen kecewa berat bahwa orang di depannya itu bukan bule. Ia mendesah keras. Bagaimana ini? Ia sudah terlanjur menawarkan bantuan. Ia langsung teringat perkataan soensaengnim-nya bahwa berbuat kebaikan harus didasarkan dengan hati tulus, bukan untuk dihitung-hitung. Ya, nggak ngerti juga sih Sunny soensaengnim ngomong apa. Nggak keren deh!

Wanita itu ternyata menanyakan letak suatu jalan kepada Chen. Anak itu mangut-mangut lalu bersedia menemani wanita itu ke tempat tujuan. Memaksa tepatnya.

“Kamu cukup tunjukkan arahnya saja dari sini. Tidak perlu sampai mengantar noona.”

Gwaenchana noona. Biar Jongdae temani. Jongdae tahu tempatnya kok. Nggak jauh.”

Dengan segan wanita itu mengikuti kemana anak kecil itu membawanya pergi. Bagaimana bisa ia dituntun oleh seorang murid playgroup? Bisa gawat kalau anak ini pergi jauh-jauh dari tempatnya tadi. Dimana orangtuanya? Sudah 15 menit berlalu mereka lewati dengan berjalan kaki. Ini gawat. Wanita itu baru berpikir. Betapa bodohnya ia membiarkan anak kecil ini ikut dengannya.

Entah karena terlalu percaya diri, terpaksa menerima bantuan, lupa, atau sama sekali tidak tahu arah, Chen memperlambat langkahnya. Ia menelan ludah. Diperhatikannya bangunan dan lingkungan sekeliling. Semuanya tampak asing. Kris yang Cuma ikut-ikutan keihatan bengong. Dari gelagat anak itu, nampaknya ia mulai hilang arah. Wanita itu mengembuskan napas lalu kembali mennyakan jalan kepada orang sekitar. Ternyata tempat tujuan sudah mereka lewati. Wanita itu mengembuskan napas berat. Ia merasakan ujung baju ditarik-tarik oleh Chen. Anak itu memasang ekspresi malu.

Noona, bisa antarkan aku kembali ke EXO Playgroup?”

***

Keesokan harinya, di kelas

Ini aneh. Tidak biasanya murid-muridnya seperti ini. Hanya diam sambil memandangi teman-temannya yang lain. Biasanya mereka berlomba-lomba mengangkat tangan dan maju ke depan kelas dengan percaya diri.

“Hayo, siapa yang mau naik cerita?” ajak Sunny sekali lagi sambil mengitari kelas.

Sebenarnya mereka sangat menggebu-gebu dengan tema ini. Namun, mereka merasa gagal dalam berbuat kebaikan yang sesungguhnya sehingga tidak ada hal yang bisa mereka ceritakan, kecuali semua kejadian memalukan yang mereka alami kemarin.

Ujung mata Sunny menangkap bayangan anak di sampingnya mengangkat sebelah tangan, Suho dengan mata berbinar. Sunny tersenyum lembut sambil menepuk tangan.

“Suho, naik ke depan juseyo!”

Teman-temannya yang lain saling berbisik. Entah perbuatan baik apa yang telah diperbuat Suho mengingat mereka yang gagal dalam berbuat kebaikan. Suho menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, menarik napas panjang, dan mulai bercerita.

Eomma pernah berbuat baik yang seperti apa?”

“Hmm, apa ya? Eomma pernah membantu seorang nenek tua menyeberang jalan, saling berbagi sesuatu dengan teman eomma yang kurang mampu, menyelamatkan anak kucing yang terjebak, membantu menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, nggg apa lagi ya?”

“Susah sekali! Joonmyun belum sanggup yang seperti itu eomma.”

“Sayang, kebaikan itu banyak kok! Yang paling ringan adalah bagaimana Joonmyun melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain tersenyum bahagia. Menurut Joonmyun, perbuatan baik apa yang sudah Joonmyun lakukan selama ini?”

 

Suho terdiam dan terlihat berpikir keras. Ia menggeleng tidak tahu. Lebih tepatnya tidak mengerti. Ia masih mencerna kata-kata ibunya. Kemudian jutaan kebaikan itu terbesit kembali dalam ingatannya. Kebaikan yang telah ia buat. Suho tersenyum lebar. Kini ia mengerti. Ternyata begitu sederhana.

 

“Di ulang tahun eomma kemarin, aku memberinya kejutan saengil chukkahamnida dengan membuat kartu ucapan buatanku sendiri…….”

Semua mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Suho dengan seksama. Kelas sangat tenang saat itu. Tidak ada yang melakukan aktivitasnya sendiri.

Eomma saat itu tersenyum manis sekali setelah menerima kartu ucapan itu dariku. Eomma lalu memeluk dan mencium kedua pipiku. Eomma juga berterima kasih dan bilang kalau eomma sangat sayang padaku. Bagiku bisa membuat eomma tersenyum adalah suatu kebaikan yang sangat besar……..”

Setelah Suho mengakhiri ceritanya, Sunny memecah keheningan dan bertepuk tangan. Ia tersenyum bangga kepada Suho. Teman-temannya yang lain pun ikut bertepuk tangan kencang dan tersenyum senang.

Credit : mydearexo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s