EXO Playgroup: Cinderella Drama

EXO Playgroup

Author : Lulu

Main Casts : EXO member

Support Cast : Sunny as teacher

Genre : Playgroup Life, Friendship, Comedy

Rating : General

Length : One Shot

Disclaimer : I do not own the casts. Ide cerita terinspirasi dari animasi Cinderella yang baru-baru ini kutonton. Alur cerita murni karangan author, jadi kalau nanti ada fanfic yang modelnya seperti ini, hanya kebetulan semata. Poster fanfic bukan buatan author ._.

Synopsis : Murid-murid EXO Playgroup bermain drama Cinderella di pertunjukan playgroup-nya

“Sekarang soensaengnim bagikan perannya, ya!” ujar Sunny tersenyum lembut.

“NEEEEEE!!!” teriak murid-murid EXO Playgroup dengan penuh semangat.

Sunny mulai berjalan ke setiap bangku murid-muridnya sambil membawa wadah berisi beberapa gulungan kertas kecil yang di dalamnya tertulis peran masing-masing. Dari kelas mereka akan menampilkan drama Cinderella di pertunjukan playgroup nanti. Sunny juga bingung kenapa harus memilih “Cinderella”, tema percintaan orang dewasa sebagai cerita drama untuk muridnya. Namun, ia tidak terlalu berpikir panjang karena muridnya sangat menggebu-gebu dengan tema tersebut. Toh ia juga sudah mengubah sedikit alur ceritanya yang disesuaikan dengan umur anak-anak playgroup.

Seluruh murid EXO Playgroup sudah mengambil masing-masing satu kertas dengan berapi-api, tertawa riang, berharap dapat peran yang bagus.

“Kalian buka kertasnya bersamaan, ya!” ujar Sunny mengarahkan muridnya.

HANA!! DUL!! SET!!” teriak murid-murid kegirangan sambil menutup mata.

Mereka membuka gulungan kertas perlahan:

Cinderella                                : Luhan

Ibu tiri                                      : Kris

Adik tiri 1                                 : Chanyeol

Adik tiri 2                                 : Baekhyun

Teman Cinderella (tikus) 1     : Lay

Teman Cinderella (tikus) 2     : Tao

Teman Cinderella (tikus) 3     : Kyungsoo

Ibu peri                                    : Suho

Raja                                         : Xiumin

Pengawal raja                         : Chen

Pangeran                                : Sehun

Narator                                    : Kai

Begitu melihat peran mereka masing-masing, beberapa ada yang melonjak senang, ada pula yang manyun. Ekspresi yang tadinya berseri-seri kini berganti cemberut. Kelas mulai ribut oleh kalimat-kalimat tidak setuju dari segala penjuru. Sunny sudah bersiap-siap. Ampun deh! -___-“

Soensaengnim!! Aku nggak mau jadi Cinderella-nya!! Aku kan cowok!!” protes Luhan sambil berdiri.

“Ahh, cocok kok! Kamu kan mukanya memang cantik kayak perempuan! >O<” goda Xiumin yang puas dapat peran sebagai raja.

“Yaa, Xiumin! Jangan godain Luhan, ya! Thehun bitha kethal nih!” bela Sehun tiba-tiba dengan cadel khasnya.

Soensaengnim! Masa aku jadi ibu tiri? Aku cocoknya jadi pangeran dong! Aku kan tinggi,cakep, cool!” teriak Kris mengagetkan.

“Udahlah! Telima aja nathib lo!” cibir Sehun merasa tersindir. “Aku juga thakep, tinggi, putih thuthu, lebih panteth thama Luhan!”

“Tapi dia nggak pantas jadi pangeran, soensaengnim! Masa pangerannya kayak gitu?” balas Kris bertubi-tubi.

Soensaengnim!” teriak Kai sambil mengangkat tangannya. “Narator itu apa sih?” tanyanya kebingungan. Namun, kata “narator” di telinganya terdengar keren.

Belum sempat Sunny menjawab pertanyaan Kai, murid yang lain sudah menyembur.

“Pokoknya aku nggak mau jadi tikus!” teriak Kyungsoo marah-marah. “Jadi tikus jelek ihh!”

“Aku juga!!” protes Lay. “Jadi tikus nggak keren!”

“Soensaengnim! Kok aku jadi ibu peri sih! Malu-maluin aja!” teriak Suho kencang. “Aku maunya jadi pangeran juga!”

SOENSAENGNIM!! AKU NGGAK MAU JADI NARATOR!!” pekik Kai membuat semuanya terdiam. Ia sudah tahu arti perannya. “Kata Tao kalau jadi narator itu nggak dapat peran di atas panggung. Cuma ngomong di belakang panggung doang!”

“Sekali-sekali nggak dapat peran bisa kale!” ujar Chanyeol.

“Iya. Teasernya aja udah banyak banget dibanding aku. Sesekali jangan mau eksis mulu napa ahh!! Pikirin kita-kita juga dong!” balas Baekhyun kemudian. *Abaikan kalimat ini* ._____.

“Maksud lo?” balas Kai.

“Kok aku jadi pengawal raja? Artinya jadi pembantu Xiumin dong! Ogah deh soensaengnim!!” Chen ikut-ikutan protes.

Sunny mulai kerepotan menenangkan murid-muridnya yang bising. Kalau kelas sudah adu mulut begini, susah untuk ditenangkan. Ia memasang jari telunjuknya di bibir sebagai peringatan untuk diam, berteriak-teriak sampai suaranya habis, sampai memukul-mukul meja. Huffff!!

Aigoo! Murid-murid soensaengnim seharusnya bisa terima perannya dong. Soensaengnim jamin deh kalau nanti sudah mulai latihan, kalian pasti bisa menikmati peran kalian sendiri. Nggak usah ada bertengkar, pokoknya semua nanti harus bisa kompak dan kerjasama yang baik. Tidak peduli apapun peran kalian, kalau kalian berusaha yang terbaik untuk peran tersebut, hasilnya nanti akan baik pula. Bagaimana? Setuju kan?” Sunny memberi nasihat.

Semua saling pandang sejenak. “NEE, SOENSAENGNIM!!!” jawab mereka agak lesu.

Hari pertunjukan pun tiba. Para orangtua, keluarga, tamu undangan, dan penonton lainnya sudah memenuhihall. Beberapa dari mereka memberi semangat kepada anak masing-masing di belakang panggung. Acara pun dimulai. Dari kelas lain menampilkan pertunjukan musik ansambel yang begitu merdu, paduan suara yang terdengar sangat kyeoo, sampai beberapa tarian yang indah. Tepuk tangan penonton bergemuruh. Teriakan-teriakan dukungan memekikkan telinga. Sunny sampai deg-degan melihat penampilan murid lainnya di atas panggung. Beda sekali dengan murid-muridnya yang bandel -____-“

Pokoknya mereka tidak boleh bikin malu! Sunny bergumam dalam hati.

Pementasan terakhir dari kelas Sunny pun dimulai. Lampu dimatikan. Tirai panggung perlahan terangkat ke atas. Suara Kai dari ruang operator menggema di segala ruangan menggunakan pengeras suara.

Pada suatu hari, hiduplah se.. seorang anak bernama Cinderella. Ia tinggal bersama ibu tiri dan dua saudara tirinya. Ia dijaaa.. dijaa.eh ini bacanya gimana sih? Oh, ya! dijahati oleh mereka bertiga.Huffff!!!

Suara bisikan Kai terdengar penonton membuat semuanya tertawa. Lampu sorot menerangi satu anak dengan kostum kumuh yang sedang berpura-pura mengepel lantai menggunakan kain lap. Luhan terlihat sangat cantik. Penonton berteriak histeris >O< Dari ujung panggung lainnya, Chanyeol dan Baekhyun berjalan ke tengah panggung.

“Cinderellaaaa!!” teriak Chanyeol dengan suara berat khasnya. Kecil-kecil kok suaranya udah bass? ._____.

“Cinderella!! Eyeliner aku mana?” tanya Baekhyun ganyante sambil mengibas rambut palsunya.

“Kok nanya ke aku?” jawab Luhan jutek.

“Gak usah bohong ya! Kamu kan ngambil punya dia!” tuduh Chanyeol sadis sambil nunjuk-nunjuk Luhan.

“Aku laporin eomma biar tahu rasa! Eommaaaaaaaa!!!” teriak Baekhyun kencang.

Sunny menarik napas panjang. So far so good-lah! Kris berjalan memasuki panggung dengan dress panjang dan sanggul palsu. Baekhyun berlari kencang ke arah Kris eomma-nya dan kesandung. Beruntung badannya langsung ditahan Kris. Chanyeol tiba-tiba menghampiri.

“Baekkie, gwaenchanayo?” tanya Chanyeol dengan wajah serius penuh cemas.

Gwaenchana!!^^” jawab Baekhyun sambil tersenyum.

Tawa penonton pecah. Insiden tersebut sungguh diluar perkiraan. Guru lain menatap Sunny dengan senyum meremehkan. Sunny mulai keringat dingin! Mati gue! -____-“

“Ini eomma bawa undangan pesta dansa besok. Kita bertiga mau pergi,” kata Kris tetap dengan gaya cool.

Baekhyun dan Chanyeol melompat kegirangan lalu menjulurkan lidahnya ke arah Luhan.

“Luhan! Eh, salah! Cinderella!! Kamu jaga rumah saja!!” perintah Kris kemudian.

MWO?” tanya Luhan mengangkat alis. “Tapi aku mau ikut juga!”

Baekhyun dan Chanyeol mendorong tubuh Luhan hingga terjatuh. “Kamu nggak usah ikut! Gaun bagus aja nggak punya!”

“Apaan sih! Nggak usah dorong beneran kek!” teriak Luhan tidak sadar.

Lagi-lagi penonton tertawa. Para guru ikut tertawa dan mulai mencibir Sunny. Sunny menepuk dahinya (つ_-) Butuh ekstra kesabaran untuk melatih mereka bermain drama dan ia tidak ingin melihat hasilnya seperti ini.

Kris, Chanyeol, dan Baekhyun berjalan sambil tertawa terbahak-bahak meninggalkan Luhan sendiri. Luhan mulai meneteskan air mata *air mata sungguhan* lalu suara Kai kembali memecah suasana haru.

Cinderella sangat sedih.. lho? Kok nggak nyala? *Kai mengetuk pelan microphone* tes tes tes hana dul set!Eh? Cinderella sangat sedih kemudian datanglah tiga tikus dan ibu peri untuk menghiburnya.

 

Kyungsoo, Tao, dan Lay yang sudah bersiap sedari tadi memasuki panggung sambil merangkak dengan kostum tikusnya. Penonton kembali hiruk pikuk dan bertepuk tangan. Ketiganya menghampiri Luhan yang terkapar.

Aigoo! Cinderella sabar aja ya!” kata Tao sambil tersenyum.

“Nanti ibu perinya datang kok! Bentar lagi lihat aja!” hibur Kyungsoo sambil menepuk-nepuk bahu Luhan.

“Hah? Mana?” tanya Luhan kebingungan sambil celingukan.

“Itu tuh di sana. Dari tadi udah gelantungan,” jawab Lay menunjuk samping atas panggung.

Tiba-tiba lampu panggung menyala kelap-kelip. Asap mulai berhembus. Seorang anak berpakaian renda putih ala ibu peri dengan tongkat bintang datang ke tengah panggung dengan badan melayang seolah-olah terbang di langit. Anak itu tampak sangat manis. Penonton menjerit-jerit tidak jelas.

Nuguseyo?” tanya Luhan pura-pura terkejut sambil mendongakkan kepalanya ke arah ibu peri.

“Aku ibu peri Suho. Aku guardian angel Suho!” jawab Suho agak takut-takut. Badannya kaku, tidak berani bergerak, ia hanya menggerakkan bola matanya untuk melihat Luhan.

“Ibu perinya kok kayak mau nangis?” tanya Lay polos membuat penonton tertawa geli mendengarnya.

“Ibu perinya pucat! Sakit ya, Bu?” tambah Kyungsoo dengan wajah datarnya.

“Ibu perinya gemetaran!” kata Tao ikut-ikutan.

Suho menggerutu dalam hati. Pastinya karena takut ketinggian. Ia hanya digantung tanpa pengaman apapun. Kemungkinan terburuk ia bisa jatuh tiba-tiba. Tali yang menggantungnya sudah membuat badannya terasa sakit. Ucapan tiga tikus itu makin membuatnya geram. Awas, lihat aja nanti ya! “Apa sih? Nggak kok!” bela Suho untuk dirinya sendiri.

Luhan menggeleng-gelengkan kepala lalu tersadar bahwa dialog berikutnya adalah gilirannya. “Ibu peri tolongin Cinderella dong! Mau ikut pesta dansa juga tapi nggak ada gaun!”

“Tenang saja! Ibu peri kasih gaun, ya!” ujar Suho sambil menggerakkan kaku tongkat bintangnya.

Dari tongkat tersebut, keluar semacam kertas-kertas kecil berkilauan sebagai efek sihir. Lampu kembali diredupkan. Asap menyelubungi tubuh Luhan. Kain panjang membentang menutupi tubuh anak itu. Satu menit berlalu, semua efek sihir itu hilang. Sampai lampu dinyalakan, penonton menemukan Luhan yang belum selesai berganti gaun. Sontak penonton tertawa lepas.

“Aisshh!!” Luhan kelabakan oleh tawaan noona-noona di depannya. Waktu yang diberikan untuk berganti pakaian terlalu singkat. Tapi, Luhan tidak menyerah. Dengan cepat gaun tersebut sudah ia kenakan dan kembali berakting ria. Ia berputar-putar di tengah panggung di kelilingi Lay, Tao, dan Kyungsoo.

“Ibu peri, kamsahamnida!” Luhan melompat-lompat kegirangan sambil memegang kedua pipinya.

“Tapi kamunya harus pulang sebelum jam 12 malam ya! Kalau nggak, sihirnya bakal mati, arasseo?” nasihat Suho kemudian.

Setelah Luhan mengiyakan, Suho ditarik ke balik panggung. Ia mulai bernapas lega. Penonton tertawa melihatnya. Suho tidak mau ambil pusing lagi karena perannya sudah berakhir. Sunny sudah benar-benar tidak sanggup melihat murid-muridnya. Ia serasa mau pingsan. Kai kembali membacakan narasinya.

Cinderella pun berangkat ke istana. Sesampainya di… *Kai menjauh dari microphone* HAA.. HAA.. HAATSYIIII!!!! Aigoo!! Sesampainya di istana, Cinderella melihat begitu banyak yang datang dengan gaun yang indah. Ia lalu mencari pangeran.

 

Penonton kembali terbahak-bahak oleh Kai sang narator. Setting panggung kemudian menampilkan ballroomistana yang megah, beberapa anak-anak perempuan figuran sebagai tamu undangan, serta musik klasik yang merdu. Dari samping panggung, Sehun berjalan memasuki ruangan. Kostum pangeran dan mahkota yang dikenakannya membuatnya tampak sangat tampan. Ia berjalan dengan ekspresi serius ke tengah panggung sontak membuat penonton heboh ala fangirl. Sehun menyunggingkan senyum.

“Sehunnieeee!!!” teriak beberapa gadis remaja centil.

“Sehunaaaa. Lihat noona di siniiiii!!!” jerit gadis-gadis yang lainnya.

Xiumin dan Chen ikut masuk panggung dengan langkah cepat dan tegas lalu menghampiri Sehun. Nampak Chen dengan keranjang makanan di tangannya memasang wajah kusut.

“Pangeran, sudah pilih teman yang bagus diajak dansa?” tanya Xiumin sok raja. Ia mengunyah pisang dari keranjang yang dibawa Chen.

“Belum dapat, appa!” jawab Sehun sambil membungkuk pelan. Penonton kembali bersorak.

Chen ikut-ikutan mengambil pisang dari keranjang dan melahap sampai mulutnya penuh. Sementara mengunyah, ia melihat Luhan yang mondar-mandir di atas panggung.

“Pangeran Sehun, coba ajak anak itu,” usul Chen kepada Sehun sambil menunjuk Luhan.

Bagian penonton bergemuruh, bertepuk tangan, histeris saat Sehun menghampiri Luhan sambil tersenyum, menggenggam tangannya dan berdansa ala anak kecil mengitari panggung. Kedua anak itu tampak sangat menikmati moment tersebut. Musik mengalun mengiringi langkah mereka. Beberapa dari noona-noona itu mencoba mengabadikannya lewat foto ataupun video. Sunny menahan napas. Yaa, bagus sekali! Setidaknya bisa bernapas lega sesaat.

“Luhan! Sehun! Fighting!” teriak Sunny pelan dari kursinya sambil mengepalkan tangannya ke atas. Begitu sadar guru lain memerhatikannya, ia jadi salah tingkah dan kembali bersikap wajar.

Bunyi lonceng berbunyi. Luhan menghentikan langkahnya. Ia menatap jam besar di panggung. Sudah pukul 12 malam. Sehun berakting kebingungan.

Waeyo?” tanya Sehun dengan alis terangkat.

“Aku harus pulang!” jawab Luhan singkat lalu berlari ke samping panggung.

“Tunggu, jangan pulang dulu!” cegah Sehun sebisa mungkin.

Luhan tidak sadar larinya terlalu cepat sehingga belum sempat ia melepaskan satu sepatunya, ia sudah tidak di atas panggung lagi. Luhan mulai nervous. Mati deh!

“YAAA, LUHAN!!!” pekik Sehun membuat suasana hening. “KAMU LUPA MELEPATH THEBELAH THEPATUMU DI THINI!!”

Tawa penonton kembali pecah. Kali ini terkesan berkepanjangan dan tak terkontrol oleh teriakan Sehun barusan. Lidah anak itu berhasil membuat penonton terpingkal-pingkal. Dan parahnya Luhan kembali ke tengah panggung untuk melepas sepatunya dan kembali berlari ke samping panggung. Sunny sudah mau mati. Tidak mau menatap guru yang lain lagi -____-“

Pangeran pun kehilangan teman dansanya dan hanya punya sebelah sepatu anak itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya dengan berkeliling ke seluruh penjuru negeri untuk menemukan temannya itu. Yess!!! Berhasil!!! Sukses!!!

Nampak Baekhyun dan Chanyeol duduk centil di kursi menatap Sehun dengan penuh harap. Sehun akhirnya tiba di rumah mereka untuk membawakan sepatu kaca. Chen, sang pengawal raja memasangkan sepatu ke kaki Chanyeol.

“Aduh, ini kakinya kebesaran -___-“ protes Chen kepada Chanyeol. Ia sungguh tidak ikhlas memainkan perannya.

“Sini biar aku coba!” seru Baekhyun merampas sepatu tersebut dari kaki Chanyeol dan dipakainya sendiri.

“Tuh kan nggak cocok juga, ishh!!” gerutu Chen sambil melipat tangan. Sehun berakting menghela napas panjang kecewa.

Tiba-tiba Luhan berseru dari ujung panggung. “Tunggu! Itu sepatuku!”

Sehun terkejut dan langsung mengenali anak di depannya itu. “Lho kamu kan yang kemarin malam!”

Wajah Luhan berseri-seri. Begitu sepatu itu dipakainya dan sangat pas, ia dan Sehun melompat-lompat kegirangan sambil berpegangan tangan. Semua anak-anak pun berkumpul menuju panggung tanda pertunjukan berakhir.

“Ternyata kau orangnya!” kata Sehun berbinar. “Kamu mau kan jadi teman aku kalau aku ulang tahun nanti?”

“Ne!” jawab Luhan tegas.

“Pethtanya thebental malam jadi kamu haluth thiap-thiap dali thekalang!” ujar Sehun kemudian. Penonton kembali tertawa.

Pangeran pun menemuuuu *Kai menjauhi microphone lagi* HOOOAAAEEEMM!! menemukan Cinderelladan mereka pun berteman untuk selama-lamanya.

 

Penonton masih kebingungan oleh ending dramanya. Sunny menutup wajahnya karena malu. Para guru kemudian menghampirinya dengan senyum meremehkan.

“Aduh, soensaengnim! Murid-muridmu masih perlu dilatih lagi!”

“Mereka sepertinya tidak terlalu paham apa yang mereka lakukan tadi, ya!”

“Ahh, bukan salah anak-anak itu, tapi kau yang tidak bagus mengarahkan mereka!”

Sunny tertunduk diam, ia sudah tidak dapat berpikir lagi. Apa yang dikatakan para guru itu benar. Bukan salah anak-anak itu, tapi sudah menjadi tanggung jawabnya untuk mendidik mereka dengan baik. Ia merasa gagal dan putus asa. Tiba-tiba dari atas panggung, Kai muncul dengan mic di tangannya bersama teman-temannya yang lain.

Sunny soensaengnim, mianhamnida! Tadi kami banyak lakukan kesalahan seperti di waktu latihan. Kami minta maaf ya, soensaengnim! Kami janji akan berusaha lagi! Soensaengnim, fighting! Saranghamnida!

 

Sunny tertegun melihat murid-muridnya yang menyemangatinya dari atas panggung. Dengan mata berkaca-kaca, ia tersenyum dan berjalan menghampiri mereka. Murid-muridnya lalu berlari memeluknya erat dan tertawa bersama. Penonton kemudian berdiri dan memberikan standing ovation kepada mereka. Sungguh di luar dugaannya. Hal itu menyadarkannya bahwa ke depan nanti ia juga akan berjuang untuk murid-murid bandel kesayangannya itu ^^~ Apapun adanya mereka, ia juga sangat menyayangi murid-muridnya.

Credit : mydearexo

2 thoughts on “EXO Playgroup: Cinderella Drama

  1. DEMI APAAAA INI NGAKAK! sumpah yg part “YAAA, LUHAN!!!” pekik Sehun membuat
    suasana hening. “KAMU LUPA MELEPATH
    THEBELAH THEPATUMU DI THINI!!” ngakak gile ahaha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s