Brother in Silence

Title                 : Brother in Silence

Author             : Kim Ara

Genre              : Brothership

Rating             : T

Length             : OneShot

Main Cast        : Sehun, Lay, Luhan

 

 

 

Aku bertepuk tangan melihat mereka di depanku. Mata Luhan hyung berkaca-kaca tapi bibirnya tetap tersenyum pernuh arti. Satu tangannya mengusap bahu Lay hyung, menenangkannya yang menangis sambil berusaha berteriak mengatakan, “thank you so much, i love you all” Aku dan ratusan fans EXO dibelakangku bertepuk tangan makin keras saat mereka berenam membungkuk hampir sepuluh detik.

“chukkae hyung” ucapku, memeluk Luhan hyung saat mereka berenam kembali ke tempat duduk. Ia diam, tapi aku tahu dia hanya tak sanggup bicara karena takut tangisnya pecah.

Lalu aku berhadapan dengan Lay hyung. Kami berpelukan dalam diam. Tiga detik, tanpa kata. Lay hyung mendorongku, melepas pelukan kami lebih dulu. Ia lalu mengangkat tangan hendak mengacak rambutku

“hyung, we’re still on stage!!” tolakku dan langsung menjauh, kami berdua tertawa.

Ia pun berlalu. Aku kini duduk di samping Luhan hyung di ujung kanan jajaran dua belas member EXO, sementara Lay hyung di ujung satunya.

Dan beginilah aku dan Lay hyung. Kami, tanpa siapapun sadari, bergantung pada member lain – terutama Luhan hyung – untuk sekadar memulai percakapan.

“haruskah kita membuat sebuah teaser lagi hanya supaya kita saling menyapa?” gumamku.

~*~

 

Beberapa saat bola masih ditanganku. Kutekut lututku, lalu shoot, dan… masuk. Sudah hampir setengah jam aku dan Lay hyung bermain basket satu lawan satu.

“ya! Lay, Sehun! Be careful!” teriak Luhan hyung yang baru saja datang. Kami tertawa melihatnya panik, takut bola yang baru saja melayang melewati kepalanya itu membuat dua gelas bubble tea yang dibawanya tumpah sia-sia. Tunggu dulu, kenapa hanya dua?.

Aku menoleh, Lay hyung kini sedang melempar bola lagi sambil bicara pada Luhan hyung yang baru saja menaruh nampan dan berjalan ke arahku. Mereka membicarakan hasil pertandingan MU vs. Chelsea yang berakhir imbang semalam. Sepele, tapi kelihatannya seru sekali. Aku mengambil segelas bubble tea yang Luhan hyung acungkan padaku sambil memerhatikan mata mereka yang berbinar seolah ikut tertawa.

“hyung, mau kemana?” tanyaku.

“hun, han, and bubble tea” ia menunjukku, Luhan hyung, dan gelas di tangan kami.

“aku bisa dimarahi paparazzi kalau terus-terusan disini” komentarnya seraya tersenyum.

“sudahlah, aku kembali ke dorm dulu” Lay hyung menaruh bolanya, lalu pergi.

“waeyo?” tanya Luhan hyung, membuatku melepas pandang dari Lay hyung yang menjauh.

“apa Lay hyung, orang yang sedingin itu?” tanyaku ragu-ragu.

“Lay, dingin? Sehun-na, kau bercanda? Dia itu orang gila, kkkkk…”

“yang lain juga berkata begitu, tapi dia yang kukenal rasanya berbeda dari cerita kalian”

“really? Lalu seperti apa Lay yang kau kenal?” tanyanya. Aku menyeruput tehku, berpikir.

“dia kakak yang baik, sangat terlihat kalau dia menyayangiku seperti adiknya sendiri.

Tapi interaksi kami hanya sebatas memainkan bola basket itu, tanpa banyak kata yang terucap” aku menunjuk bola basket yang Lay hyung taruh tadi, Luhan hyung tersenyum.

“santai saja, semuanya perlu waktu. Kau hanya perlu lebih banyak bicara dengan Lay, nanti kau akan tahu kalau dia orang yang menyenangkan”

~*~

 

Perjalanan panjang lagi. Beberapa jam dari sekarang, EXO dan pasukan besar SMTOWN akan berangkat ke Jakarta, Indonesia. Kami pun mulai berkemas.

“ya, ya, yah! Chanyeol-ah! Give me those, NOW!” teriak Baekhyun hyung panik melihat tas kecil berisi underwear miliknya diangkat tinggi-tinggi oleh Chanyeol hyung. D.O hyung dan Kai menoleh, hanya menoleh lalu tertawa. Tak ada satupun dari kami yang berniat melerai. Karena kami sadar, tak akan ada yang menang adu fisik dengan Chanyeol hyung.

Tiba-tiba duakkk! Koper Suho hyung sukses terguling dan menumpahkan isinya. Kami semua tertawa makin keras, tak terkecuali Suho hyung yang mendesah putus asa lalu terkekeh pelan melihat adegan konyol itu.

“mianhae hyung…kkkkk” Chanyeol dan Baekhyun hyung segera berjongkok memunguti barang-barang Suho hyung yang berserakan. Tentu saja diam-diam Baekhyun hyung lebih dulu menyelamatkan tas keramatnya itu. Disaat yang sama Luhan hyung menghubungiku.

“ribut sekali, pasti BaekYeol?” komentarnya.

“siapa lagi, hehe…ada apa hyung?”

“nanti bawakan bukuku ya? Lay mau meminjamnya”

“OK, nanti kubawa”

Setelah berkemas, kami berangkat menuju bandara. Lalu di dalam pesawat, aku duduk di samping Luhan hyung sementara Kai dan Lay hyung didepanku.

“kau bawa buku Luhan?” tanya Lay hyung. Aku menyerahkan buku padanya, lalu diam. Menunggu, berharap ada kalimat lain meluncur darinya untuk memecah kekakuan kami.

“Gomawo” well, hanya itu. Aku mengangguk pelan, lalu berniat duduk kembali.

”Sehun…” tiba-tiba Lay hyung memanggilku.

“ne hyung?”

“kalau saat di Hongkong nanti kau kuajak pergi, kau mau?”

“aku? ya…baiklah” Lay hyung tersenyum tipis.

“OK, thanks. Sekarang istirahatlah, perjalanan kita agak jauh kali ini”

~*~

 

Satu jam penuh Sehun dan Lay dalam perjalanan. Lay kini membawa Sehun ke tempat yang agak jauh dari pusat kota Hongkong. Sehun mendongak, membaca tulisan besar yang tertera di pintu gerbang, ‘PURSUIT OF HAPPINESS, orphan dormitory’.

“ayo masuk!” ajak Lay. Sehun lalu melangkah mengikutinya.

Pandangan Sehun memindai sudut demi sudut. Tempat itu berupa bangunan tua bertingkat dua yang tetap terawat.

“itu dia” Lay menunjuk seorang anak yang sedang mengamuk, ingin terbebas dari pengasuhnya. Ia menangis, meronta, minta diijinkan bermain bola dengan kawan-kawannya.

Lay mendekati mereka lalu berjongkok di hadapan bocah enam tahun itu. Menyadari Lay datang, anak itu langsung menghambur ke pelukannya.

“Li mau main sama Xing ge?” tanya sang pengasuh lembut, si anak tak menjawab.

“aku akan menemaninya sebentar” ujar Lay. Wanita perawat itu mengusap kepala anak bernama Li itu, tersenyum pada Lay dan Sehun lalu pamit pergi meninggalkan mereka.

Tangis Li mereda, tapi ia masih menenggelamkan wajahnya di bahu Lay. Lay menggendong lalu mendudukkannya di bangku taman.

“ini Sehun, temanku” Lay mengenalkan Sehun yang duduk di samping Li. Li mendongak, dan entah kenapa Sehun malah tertegun menatapny, sampai-sampai ia tak sadar kalau Lay sempat meninggalkan mereka beberapa saat untuk mengambil gitar.

“ibunya meninggal sewaktu melahirkannya, sang ayah pergi bahkan sebelum tahu kalau Li sudah dalam kandungan. Neneknya akhirnya menitipkannya disini” cerita Lay sambil memerhatikan Li yang memandangi jemarinya memetik senar gitar.

/river flows in you, yiruma/ ucap Sehun dalam hati, mendengar lagu yang Lay mainkan.

“kasihan sekali…sejak kapan hyung mengenal anak ini?”

“sejak dia dititipkan kesini waktu umurnya baru satu tahun”

“aku pikir…anak lain disini juga mungkin memiliki kisah yang sama dengan Li”

“memang ada beberapa yang sama”

“lalu kenapa harus Li?” tanya Sehun, Lay mengangkat kepala menatapnya.

“karena aku dan Xing ge sama…” jawab Li tiba-tiba dan dalam bahasa Korea. Sehun terkejut, begitu pula Lay yang langsung menghentikan petikan gitarnya.

Sebelum Sehun sempat bertanya apa maksudnya, Li sudah lebih dulu bercerita.

“aku dan Xing ge, kami, adalah orang yang istimewa. Kami punya kekuatan rahasia” tutur Li.

“kekuatan itu bisa membuat orang lain selalu sayang, selalu ingin melindungi kami dan menjaga kami supaya jangan sampai terluka” ceritanya sambil menatap Sehun.

Tiba-tiba pandangannya ia alihkan ke kedua kaki mungilnya yang berayun-ayun.

“tapi kekuatan itu kadang menyebalkan, membuat bibi dan paman di panti melarangku bermain bola, petak umpet, memanjat pohon, dan semua permainan yang menyenangkan. Aku marah, aku bosan diam di kamar, aku bosan membaca, aku ingin main, aku ingin berlari…” lanjut Li lirih. Sehun menatapnya agak lama. Lalu,

“kau tahu, banyak hal menyenangkan yang bisa kau lakukan tanpa harus berlari” Li menatap Sehun yang kini mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

“temanku sangat mahir memainkan ini, dan ini menyenangkan”

Li mengambil rubik dari tangan Sehun. Matanya berbinar dan jemarinya langsung memutar-mutar kubus warna-warni itu.

“Li pernah memasak? itu juga menyenangkan”

“hmm..ibu kepala panti pernah mengajariku sesekali” jawab Li tanpa beralih dari rubiknya.

“temanku juga ada yang pintar memasak, kalau mau kita bisa masak bersama”

Li mengangkat wajah, tersenyum pada Sehun.

“Xing ge, temanmu ini baik sekali, aku menyukainya, dan…” ujar Li pada Lay dalam bahasa Mandarin. Sehun tak mengerti apa yang Li katakan, tapi sepertinya Li sudah tidak sedih lagi.

“wuahh..kau berhasil menyusunnya!” komentar Sehun saat Li mengembalikan rubik yang telah tersusun rapi padanya. Sehun lalu mengusap kepala Li.

“Li, ayo kita dengarkan cerita!” panggil pengasuh Li. Li mengangguk lalu turun dari kursi.

“Xing ge, bisakah nanti kita bernyanyi bersama lagi?”

“ya, asal Li janji jangan jatuh atau sakit lagi” jawab Lay, Li mengangguk semangat.

“dan Sehun hyung, lain kali ajari aku menari ya, Xing ge bilang kau hebat seperti Mikael Jeson” kata Li, menyebut Michael Jackson dengan mantap, membuat Sehun kembali tertawa. Li pun pergi menghampiri sang pengasuh.

/rasanya…dia mirip denganku/ pikir Sehun.

“dia juga bilang begitu” komentar Lay, rupanya tanpa sadar Sehun mengucapkan apa yang dipikirkannya itu.

“Li anak yang manis, lincah, bersemangat setiap kali kuajari menari, tapi dia pemalu. Terkadang dia manja, sedikit cengeng dan keras kepala” lanjutnya.

“dan tingkahnya itu persis sepertimu, seperti yang kulihat setiap kali aku memerhatikanmu saat bersama Luhan hyung. Membuatku berpikir mungkin seperti inilah dirimu baginya. Menyenangkan, membuatnya selalu rindu padamu sampai-sampai seringkali aku mendengarnya bergumam pelan ‘Sehun sekarang sedang apa ya?’ saat kalian terpisah” lanjutnya lagi. Sehun tersenyum tipis.

“kenapa hanya menduga? Hyung, kau tak akan pernah tahu aku seperti apa kalau kau hanya sibuk berpikir” komentar Sehun. Lay mengulum senyum sambil memandangi aula terbuka sepuluh meter dihadapannya yang kini mulai dipenuhi anak-anak panti.

“ya, kau benar. Tapi sejujurnya aku bingung harus memulai darimana. Entah kenapa, mencoba berbicara denganmu ternyata lebih sulit dibanding menghapal tarian dalam waktu singkat” jawab Lay membuat mereka terdiam beberapa saat.

“either do I…” ucap Sehun lirih.

Lay memutar kepalanya, menatap Sehun yang juga memandangi aula.

“bagaimana kalau kita mulai dari awal?” usul Lay. Sehun menoleh, diam sesaat, lalu tiba-tiba mengacungkan tangannya dengan semangat.

“annyeonghasaeyo, Sehun imnida” Lay menjabat uluran tangan Sehun.

“anyeonghasaeyo, Yixing imnida”

“bangapsumnida…Yixing hyung”

“ne, bangapsumnida, dan aku belum bilang kalau aku lebih tua darimu” Sehun sekuat tenaga menahan tawa. Mereka menggoyang-goyangkan jabatan tangan itu selama beberapa detik.

“hyung, its ridiculous!” Sehun menyentak dan melepaskan jabatan tangan itu dengan paksa. Tawa keduanya meledak, merasa aneh sekaligus lucu.

“so, Sehun” kata Lay setelah berhasil meredam tawanya.

“aku ingin tahu apa yang sering kau bicarakan dengan Luhan hyung?”

“about life of course, about us. Music, dance, movie, bubble tea, sports, or sometimes…girl”

“semua itu? benarkah?”

“ya, lalu hyung sendiri, apa yang yang sering kau bicarakan dengan yang lain? Kai, Suho hyung, Kris hyung, dan tentu saja Luhan hyung”

“sama sepertimu, tapi tentu saja aku tak pernah membahas bubble tea” Sehun terkekeh. Mereka berdua tersadar, satu-satunya alasan mereka sungkan untuk mendekati satu sama lain hanyalah keraguan dan ketakutan mereka sendiri.

Sehun menatap Lay lagi, “kekuatan rahasia ya?” tanyanya.

“apalagi yang bisa kujelaskan? kau tahu, aku pernah mencoba menerangkan pada Li secara ilmiah. Tapi baru kuucapkan hemofilia saja keningnya sudah berkerut bingung” jawab Lay santai, tapi ternyata kata hemofilia itu membuat Sehun kini menatapnya dengan sendu.

“jangan menatapku begitu, aku baik-baik saja”

“ya, asal kau janji jangan jatuh atau sakit lagi”

“hey, itu kata-kataku” protes Lay, dan mereka tersenyum lagi.

“aku tahu aku sakit, tapi aku juga tak mau dianggap orang lemah yang yang tak bisa apa-apa” lanjut Lay.

“kami semua tidak berpendapat seperti itu, bahkan Luhan hyung bilang kau itu orang gila” Dan kekakuan pun mencair, atau setidaknya inilah pertama kali mereka berbincang panjang.

“apa hanya aku yang tahu soal Li?”

“kau dan …”

“Xing ge, ayo ikut kami! Cerita sudah dimulai” teriak Li dari aula. Ia dan teman-temannya kini duduk melingkari seorang story teller.

“dan dia” lanjut Lay. Alis Sehun terangkat /Luhan hyung?/.

Lay dan Sehun melangkah mendekati Luhan yang sudah mulai bercerita.

“lihat, kita kedatangan teman baru, Yixing dan Sehun gege, ayo beri salam” ujar Luhan. Anak-anak pun kompak menyambut mereka. Sehun, Lay, Luhan, serta Li dan pengasuhnya duduk berjajar menjadi pusat perhatian. Luhan siap melanjutkan cerita yang kali ini diiringi petikan gitar Lay dan pengasuh Li yang bertugas menerjemahkan cerita dalam bahasa isyarat. Sementara Sehun mendengarkan terjemahan cerita Luhan dari Lay.

Beberapa saat setelah selesai membacakan cerita, Luhan, Lay dan Sehun pamit. Mereka berdiri di gerbang, melambai, dan disambut ucapan riuh ‘terima kasih gege…sampai jumpa lagi…’ dari hampir seratus anak di panti itu. Kini Luhan, diapit Lay dan Sehun berjalan menyusuri trotoar di pinggir jajaran toko di satu-satunya pasar di daerah itu.

“bagaimana jalan-jalannya?” tanya Luhan pada Sehun di kanannya.

“sangat menyenangkan, beruntung aku punya tour guide sepertimu hyung!” jawab Sehun sambil ber-hi-five dengan Lay.

“lalu bagaimana kabar Li?”

“Li minta aku mengajarinya menari!” ucap Sehun bangga.

“ah iya, ini!” Sehun merogoh sakunya, lalu mengacungkan rubik pemberian Luhan. Baru saja Luhan akan bertanya siapa yang merapikannya, Sehun berkomentar,

“Li yang menyelesaikannya, 10 menit! Padahal dia baru pertama kali memainkannya”.

“Wow! Cool…” alis Luhan terangkat, terkagum-kagum sampai hampir terjerembab gara-gara kakinya menginjak tali sepatunya sendiri. Ia berhenti sejenak, berjongkok, mengikat kembali tali sepatunya sementara Lay dan Sehun berjalan pelan.

“terbukti kan? kalau kau memang berniat merapikannya, rubik ini tak akan berbulan-bulan disakumu dan masih tetap acak-acakan” ucap Luhan tiba-tiba. Sehun dan Lay berhenti melangkah lalu berbalik.

“apa maksudnya itu?” tanya Sehun tanpa senyum, memandangi Luhan yang berdiri lima langkah didepannya sambil melempar-lempar rubik di tangan kiri.

“akuilah, kau kalah dari Li!” ucap Luhan lagi.

Mata Lay bergantian menatap keduanya. Sehun berdiri memandangi Luhan dengan dingin. Lay ingat, Luhan pernah bilang meski Sehun terlihat santai dan cenderung tak peduli, ia sangat tidak suka dibanding-bandingkan. /lalu kenapa Luhan malah sengaja memanas-manasi?/ tanya Lay dalam hati. Tapi tak lebih dari lima detik kemudian pertanyaan itu terjawab. Sekilas dilihatnya bahu Luhan berguncang dan diam-diam ia menggigit bibir menahan menahan tawa. /ah…ini sandiwara/ pikir Lay.

Sehun tentu saja mengakui kekalahan, tapi ia sudah terlanjur ngambek. Bukan karena kalah, tapi kerena Luhan hyung-nya sesaat lalu menganggap ia anak bodoh. Sayang, ia tak punya satupun kalimat protes. Yang terpenting saat ini adalah Luhan hyung-nya itu harus tahu ia marah, pikirnya.

“kenapa kau tak pernah cerita soal Li?” see? Luhan berhasil mengerjainya sampai-sampai dengan lantang Sehun bertanya tanpa memanggilnya ‘hyung’.

“mian, aku lupa” jawab Luhan acuh. Sehun mendengus, lalu bergerak menyejajari Luhan yang kini berjalan mendahuluinya dan Lay.

“kenapa bisa lupa?”

“lupa ya lupa, mana kutahu bisa begitu” Luhan terus berjalan tanpa menghiraukan Sehun.

“alasan macam apa itu?”

“lagipula itu tidak penting”

“tidak penting bagaimana?”

“kau lupa? Kau itu salah satu Red Cross Youth Ambassador”

“apa hubungannya?”

“kau pasti sering kan menemui anak-anak sakit seperti Li? Untuk apa aku ceritakan lagi kisah yang sama?”

Dan selama hampir sepuluh menit, Lay tersenyum menyaksikan pertengkaran itu. Luhan dan Sehun yang berjalan didepannya sepertinya tak ada yang berniat mengalah.

“tapi aku kan mirip dengan Li, harusnya ia malah mengingatkanku padamu”

“mirip? Kata siapa?”

“kataku” sahut Lay, Sehun dan Luhan berbalik memandangnya. Satu kata itu akhirnya sukses menghentikan debat kusir mereka. Luhan memegangi dagu lalu memandangi Sehun.

“apa?” sahut Sehun.

“kurasa benar. Li manja dan bawel, persis seperti kau!” Luhan mengacak-acak rambut Sehun.

“sama-sama cengeng!” Lay menyejajari Sehun lalu merangkul bahunya.

“keras kepala!” Luhan ikut merangkul atau lebih tepatnya mencekik leher Sehun.

“evil maknae!”

“tapi sedikit-sedikit ngambek!”

“eish…hyung! kenapa kalian jadi berkomplot mengejekku?” Sehun memberontak, melepas paksa rangkulan dua hyung-nya dibahunya. Luhan dan Lay tertawa.

“tapi itu memang benar” komentar Luhan.

“ya, dan itu yang membuat kami menyayangimu” kini giliran Lay mengacak-acak rambut Sehun. Sehun akhirnya tersenyum lagi, acara ngambek-nya selesai.

“now what?” tanya Sehun melihat Luhan mengeluarkan ponsel, dan klik, ia memotret.

“ada couple baru, aku harus mengabadikannya” jawabnya. Lay dan Sehun berpandangan lalu dengan sigap berpose.

Mata Lay memandang melewati bahu Luhan menatap dua orang dibelakangnya.

“Lay, berpose yang benar!” tegur Luhan. Lay kembali berpose, sambil tersenyum jahil.

“ayo kita kerjai Luhan hyung!” bisik Lay pada Sehun.

“OK! Tapi bagaimana?” Sehun dengan semangat mengiyakan.

“serahkan padaku, alihkan saja perhatiannya!” dan di pose terakhir, tangan mereka saling merangkul, saling menepuk bahu dan tersenyum puas.

“hyung, aku ingin lihat fotonya!” Sehun beraksi, sementara Lay mendekati dua orang tadi.

“maaf, bisa bantu saya?” tanya Lay.

Luhan dan Sehun masih sibuk mengomentari foto sampai,

“Luhan gege…” Luhan menoleh. Matanya terbelalak memandangi dua makhluk kurus kering yang kini berdiri dihadapannya. Satu orang berpakaian serba pink dan wig panjangnya berwarna oranye terang, sementara satu lagi berpakaian ketat dengan corak animal print. Lalu yang membuat Luhan sukses berkeringat dingin dan rasanya ingin menangis sejadi-jadinya adalah kaki kedua orang itu berambut lebat dan mereka berkumis.

“duh tampannya…” makhluk pink itu mencolek lengan Luhan.

“lucu sekali sih…” makhluk loreng itu bohong. Luhan benar-benar tidak lucu dengan muka putih pucatnya sekarang.

“m-maaf t-tuan-tuan, ada urusan apa?” ujar Luhan gemetar. Ia baru sadar Sehun ternyata sudah tak ada disampingnya.

“sudah cantik begini masih kau panggil tuan? Ih nakal deh…” si makhluk pink makin agresif. Luhan makin mundur sambil berpikir tega-teganya Lay dan Sehun meninggalkannya.

“o-oke b-bibi, tolong jangan ganggu saya”

“heeeyy…kami ini masih single…” suara sengau itu menusuk-nusuk telinga Luhan.

“panggil kami nona, Luhan gege yang tampan…”

Lalu tepat setelah itu, Luhan memutuskan untuk kabur. Sayang, langkahnya berkali-kali dihadang. Bagaimanapun juga dua orang eksentrik itu tetap saja laki-laki. Akhirnya mereka berkejaran, Luhan berlari berputar-putar sambil berteriak panik.

“kau keterlaluan hyung, bwahahahaha…” Sehun terbahak-bahak di balik punggung Lay.

“hussshh…jangan keras-keras, nanti kita ketahuan, kkkkk…” Lay sendiri susah payah menahan tawanya. Pemandangan Luhan yang berlari histeris dikejar dua makhluk aneh sepuluh meter didepannya dan Sehun itu sulit membuatnya tetap diam dan tidak tertawa.

Luhan sudah hampir kehabisan napas saat dilihatnya kepala Sehun muncul dari balik gang sempit tak jauh darinya. Tanpa pikir panjang ia segera berlari menghampiri.

“j-jangan n-nona, tolong…Lay…” Luhan langsung bersembunyi dibelakang Lay.

“Luhan gege…sini…” tangan makhluk pink itu menjangkau-jangkau Luhan, tapi Lay buru-buru menahannya. Lebih tepatnya, Lay menyelamatkan telinganya dari teriakan kencang Luhan dan Sehun yang panik seolah akan diterkam hewan buas.

“sudah cukup tuan, pertunjukan sudah selesai, terima kasih” Lay membungkuk sopan.

Dua waria itu mendengus pelan, lalu menghentikan usahanya menggodai Luhan yang kini mencengkeram jaket Lay sampai buku-buku jarinya memutih.

“iiihhh, padahal aku masih ingin main. Hhh, sudahlah, ayo kita pergi…” ajak si mahluk pink.

“ya sudah, tapi lain kali aku ingin main denganmu juga ya anak manis…” makhluk loreng itu sukses mencubit pipi Sehun, membuatnya berteriak lagi.

Kejadian itu benar-benar bukan pengalaman yang menyenangkan bagi Luhan. Tapi syukurlah kini mereka sudah bisa bersantai dan minum bubble tea, bertiga.

“ada yang aneh…” kata Luhan tiba-tiba. Lay dan Sehun yang berjalan didepannya berbalik.

Luhan memandangi kedua dongsaengnya itu sambil memutar memori, lalu pandangnnya berhenti di mata Lay. /kenapa tadi kau tiba-tiba hilang? Kenapa kau mengajak Sehun sembunyi sedangkan aku tidak? Kenapa kau tidak takut menghadapi makhluk aneh itu? Kenapa kau berterimakasih dan membungkuk pada mereka?/ dan kenyataan terakhir itu membuat rahang Luhan melebar.

“you punked me!!”

Lay tersenyum lalu mundur pelan-pelan. Sebelah tangannya menarik lengan Sehun.

“kau juga?” tanya Luhan. Sehun meringis sambil jarinya mengacung membentuk v-sign.

Saat Lay dan Sehun melangkah mundur makin jauh,

“YA!!! YOU TWO!!!”

“Lay hyung, Lariiiiii…”.

~*~

 

Seoul, 20.00 KST. Dua belas member EXO, lengkap, meski duduk terpisah-pisah, kini menghadiri sebuah acara penghargaan. Aku, Lay hyung, dan Kai duduk berdampingan.

“akan ada proyek dengan para dencer lagi?” tanyaku pada Kai

“rumornya begitu, tapi manajer hyung sendiri belum cerita apa-apa” jawabnya.

“siapa saja anggotanya?” tanyaku lagi. Kami berbicara melewati punggung Lay hyung di tengah kami. Kurang sopan sebenarnya, membiarkan Lay hyung yang dengan rela sedikit membungkuk agar Kai dan aku leluasa berbicara. Jadi kami menghentikan obrolan kami tepat saat Minho SHINee yang duduk di sebelah Kai mengajaknya mengobrol.

Dan seperti biasa, dead air itu muncul diantara aku dan Lay hyung. Kulihat ia masih tenang menyaksikan pertunjukan di atas panggung.

“aku dapat telepon dari Li” ucap Lay hyung, setelah sekian lama.

“dia cerita, ibu kepala panti menyuruh mereka menulis, lalu dikirim untuk ikut lomba. Ternyata karya Li menang dan ia diminta membacakan cerita itu di balai kota. Ia bilang orang-orang tersenyum dan bertepuk tangan meriah saat ia selesai membacakan cerita itu” jelas Lay hyung. Aku mengangguk pelan dan tersenyum bangga.

“kau tahu apa yang ia tulis itu?” tanya Lay hyung, aku menggeleng.

“dia menulis tentang kita” Lay hyung menatapku. “dia menceritakan pertemuan kita dengannya tempo hari. Kau ingat?” aku mengiyakan.

“dan dia juga menulis tentang kelakuan kita setelahnya, termasuk perkenalan konyol itu” Kami berdua tertawa mengingatnya.

“dia bilang, Xing ge…kau harusnya bisa lebih akrab dengan Sehun hyung karena kalian sama-sama orang baik” tawaku terhenti. Kualihkan pandanganku menatap panggung.

“lalu saat kutanya apa judul tulisan itu, dia jawab Brother in Silence” lanjut Lay hyung. “judul yang tepat” aku mengangguk-angguk, bingung harus berkomentar apa lagi.

“ya, i do think so” komentarnya.

Dan, dead air lagi. Pandangan kami kini tertuju pada pertunjukan di panggung.

“seandainya Luhan hyung disini, aku pasti tahu kita harus bicara apa” ucap Lay hyung lagi diselingi tawa kecil.

“ya, i do think so” kataku.

“kalian aneh!” komentar Kai membuat aku dan Lay hyung menoleh menatapnya.

“pantas saja aku jarang melihat kalian bersama. Your conversation is too awkward” Aku dan Lay hyung refleks berpandangan, lalu tersenyum, senyum licik.

“wanna try my sheet?” ucap Lay hyung.

“wae?” tanya Kai bingung, tapi tetap saja ia menurut untuk bertukar tempat duduk.

“kita akan bermain, kalau aku menyebutkan satu kata kau harus sebutkan kata lain yang berhubungan. Urutannya, Sehun, kau, aku, Sehun lagi, dan seterusnya” kata Lay hyung.

“OK!” ucap Kai.

“tapi ada syaratnya, kalau kau mengucapkan kata kasar atau tidak sopan, kau kalah”

“tak masalah, lalu apa hukuman bagi yang kalah?”

“jadi budak dalam sehari” ucap Lay hyung, aku dan Kai berpandangan, lalu mengangguk.

“kita mulai” Lay hyung menepuk tangannya dua kali, memberi ritme untuk permainan kami.

“K-POP” kataku.

“EXO” jawab Kai

“Two Moons” ujar Lay hyung.

“Chanyeol” jawabku.

“Baekhyun” Kai bersemangat menyebutkannya.

“SNSD” jawab Lay hyung.

“Seohyun”

“Yonghwa” jawab Kai membuat Lay hyung mengangguk-angguk.

“CN-BLUE”

“Juniel” kataku mantap sambil mencondongkan badan ke Kai.

“Babo” ucap Kai percaya diri sambil ikut-ikutan mencondongkan badan ke Lay hyung. Aku dan Lay hyung langsung tersenyum, menghentikan tepuk tangan kami, lalu ber-hi-five.

“wae?” tanya Kai bingung.

“kau kalah” kata Lay hyung.

“MWO? WAE?”

“kau berkata kasar pada Lay hyung” kataku.

“berkata kasar apa, aku hanya menyebutkan babo (bodoh), itu kan judul lagu mereka”

“ya, tapi kau mengatakannya pada Lay hyung”

“tidak”

“ya, kau mencondongkan badanmu ke arahnya”

“tapi…” dan selama beberapa saat aku dan Lay hyung memaksa Kai mengaku kalah.

“aku tak mau kena hukuman!” tolak Kai.

“its OK, tapi kujamin fotomu akan tersebar di internet besok pagi” kata Lay hyung.

“foto apa?”

“di Thailand” jawab Lay hyung percaya diri. Alis Kai bertaut.

“naked! Tanpa selembar benangpun!” tegas Lay hyung.
“YA! HYUNG! Kau…” tiba-tiba manager hyung menyuruh kami segera menuju backstage. Kami akan perform, jadi terpaksa Kai menunda protesnya.

Esoknya, Kai benar-benar jadi budakku dan Lay hyung. Ternyata lebih puas dilayani Kai dibandingkan dilayani pramugari cantik manapun.

“mana fotonya?” Kai menagih foto yang Lay hyung jadikan ancaman kemarin. Aku dan Luhan hyung – yang sudah kuberitahu semuanya – langsung mendekat penasaran. Lay hyung merogoh sakunya lalu mengacungkan selembar foto polaroid.

“apa ini?” tanya Kai dengan nada tinggi, benar-benar marah sepertinya.

“fotomu di Thailand” foto Kai yang tersenyum ceria sambil memeluk seekor gajah.

“kau bilang aku… tapi disini aku pakai baju”

“aku hanya bilang aku punya foto, naked. Sekarang lihat gajahnya! Dia telanjang kan?” Luhan hyung dan aku langsung tertawa terbahak-bahak, membuat seluruh member menoleh pada kami. Kai mendecakkan lidah, dan menatap Lay hyung dari atas sampai bawah.

“IGE? EISH..HYUNG! JINJJA!” Kai susah payah menahan amarahnya. Tawa pun terurai saat Lay hyung menjelaskan apa yang terjadi antara kami bertiga pada member lain – tentu saja diselingi protes dari Kai – lalu Xiumin hyung dan Baekhyun hyung  mengusap-usap kepala Kai, mengasihaninya. Tapi akhirnya ia ikut tertawa juga bersama kami semua.

~*~

 

Kembali pulang, akhirnya. Dongsaeng team (Chen, Chanyeol, D.O., Tao, Kai, Sehun) kini bergeletakan sembarangan di ruang tengah asrama mereka.

“most popular EXO couple” ucap Tao keras-keras, membacakan judul sebuah artikel di internet dari ponselnya, sambil merebahkan diri di sofa besar dan memeluk boneka panda.

“siapa urutan pertama?” tanya Kai, telentang dilantai dengan mata terpejam.

“HunHan tentu saja” ujar Chen, duduk di kursi pijat, matanya juga terpejam. Tao langsung membuat bunyi klik dengan jarinya, membenarkan ucapan Chen.

“top three?” tanya D.O., berbaring telungkup di lantai dan dagunya menopang pada boneka besar ‘Shaun The Sheep’.

“HunHan, BaekYeol, TaoRis” jawab Tao. Chanyeol yang sedang beradu punggung dengan Sehun langsung mengangkat tangan dan bersorak “manse…”.

Hyung team (Xiumin, Luhan, Kris, Suho, Lay, Baekhyun) yang sudah rampung membersihkan diri kini menarik-narik para dongsaeng, memaksa mereka segera bangun, mandi, dan merapikan koper mereka yang berserakan menghalangi jalan.

“taruh ponselmu!” paksa Kris.

“iya, iya, sebentar, aku sign out dulu” ujar Tao. Sebelum Tao benar-benar menaruh ponselnya, ia membuka lagi page EXO couple tadi. Penasaran, siapa couple diurutan terakhir.

“sejak kapan couple ini eksis?” gumam Tao membaca tulisan LayHun/SeXing couple.

“siapa hyung?” tanya Kai, mencondongkan kepala ikut melihat foto itu.

/wow..aku tak pernah tahu mereka pernah berfoto seperti ini/ pikir Tao memandangi empat foto couple itu. Jumlah yang sedikit untuk dijadikan bukti kalau mereka couple.

“abaikan saja…” sahut Kai malas.

“hyung, lihat!” Tao menunjukkan foto itu pada Luhan yang baru kembali dari dapur.

“apa pendapatmu?” tanya Tao lagi. Sehun yang sedang di dapur dan mendengar percakapan itu langsung memiringkan kepalanya melihat ke ruang tengah. Pandangannya bertemu dengan Kai. Kai mengangkat telunjuk, menunjuk Sehun kemudian menggerakkannya di leher, seolah berucap ‘mati kau!’. Sehun meringis dan mengacungkan v-sign.

“aku tak akan mau memberi satupun vote untuk couple ini!” semburnya sambil melotot pada Sehun di dapur. Sehun terkikik geli.

“bukan itu, maksudku, aku tak pernah melihat mereka berfoto seperti ini. Menurutmu dimana mereka ini?” Tao menunjuk-nunjuk gambar.

“mungkin hasil editan, bisa saja kan?” jawab Luhan, Tao mengangguk-angguk.

“kubilang, taruh ponselmu!” Kris sekarang merebut ponsel Tao, lalu melemparkan handuk putih besar ke wajah Tao dan Kai.

“kalian berdua, mandi sana!” perintah Kris, Tao dan Kai pun patuh.

“boleh kupinjam?” tanya Luhan, menunjuk ponsel Tao di tangan Kris.

“ini, jangan dikembalikan sebelum mereka membereskan koper-koper ini setelah selesai mandi nanti” kata Kris. Luhan mengacungkan jempolnya memberi sinyal OK!.

Luhan duduk di ambang pintu, tersenyum memandangi empat foto hasil jepretannya yang ia unggah beberapa waktu lalu ke sebuah page di internet itu. Bukan melalui akun pribadinya, bukan lewat ponselnya, dan bukan lewat jaringan internet di Korea. Tapi di Hongkong, saat ia mendapat salah satu pengalaman paling unik dalam hidupnya. Ia lalu membuka ponselnya sendiri, menyamakan alamat page dengan yang tertera di ponsel Tao, lalu jarinya meng-klik. Satu vote dari Luhan untuk LayHun/Sexing couple.

“hyung, sedang apa disini?” tanya Sehun, menggosok-gosok kepalanya dengan handuk.

“Sehun? sudah kau rapikan semuanya?” Sehun mengangguk, lalu duduk di samping Luhan. Luhan memberikan ponselnya dan menunjukkan foto-foto itu.

“kau mengunggah foto ini?” tanya Sehun.

“kau memberi vote juga? Tadi kau bilang…” tanya Sehun lagi.

“aku meralat ucapanku begitu melihat foto ini lagi. Kurasa kalian memang cocok” kata Luhan, lalu melanjutkan, “kau masih akan bilang kalau Lay itu dingin?”.

“apa? tentu saja tidak. Dia jelas lebih gila daripada yang kubayangkan” kata Sehun, pandangannya langsung terhenti pada foto saat ia dan Lay saling merangkul bahu.

“tapi mungkin kami akan selalu jadi Brother in Silence, seperti kata Li” lanjut Sehun lagi, kali ini sambil membuka ponselnya sendiri dan mengetikkan alamat page yang sama. Lalu satu klik dari jarinya menambah satu vote lagi untuk LayHun/SeXing couple.

“eventhough…in silence…but we’ll always be brother” ucapnya lirih.

“ya, brother in silence…” suara itu membuat Sehun dan Luhan berbalik. Dan disana Lay berdiri sambil tersenyum.

END

Credit: EXO Fanfiction Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s