Baby XO New Member?! (Part 2|END)

Baby XO New Member

Tittle  : Baby XO New Member?!

Author : Hikari Kim

Cast :

  • Lay (EXO M)
  • Suho (EXO K)
  • Chanyeol (EXO K)
  • Kris (EXO M)
  • Mina (AOA)
  • Another EXO’s Member

Genre : Comedy, Romance, Drama

Disclaimer: Mereka milik SM Entertainment dan diri mereka masing-masing hahahaha dan mungkin sedikit terinspirasi dari drama You’re Beautiful hahaha~ oh iya dan lagi ini FF remake dengan cast semua member TRAX sebelumnya dan bisa dilihat disini authornya pun tetap saya juga, tapi karena ada satu dua hal, FF ini diremake ulang >.<

Gadis itu kembali tersenyum dan mulai memetikan senar-senar pada gitarnya, membuat sebuah alunan melodi tertentu. Anehnya, entah mengapa rasa dongkol yang bercokol dalam hati Lay perlahan memudar dikala gadis itu mulai bernyanyi.

Suaranya yang halus ditambah unsur up-beat dari petikan gitarnya yang lincah membuat Lay terpukau. Matanya tak berhenti memandangi gadis itu. Ia benar-benar tersihir dengan permainan gitar solonya. Bukan hanya Lay sebenarnya, hal ini juga terjadi pada semua teman Lay dan juga pengunjung cafe malam itu. Mereka semua hanyut dalam permainan gitarnya yang begitu rapi dan terkesan sangat hidup.

Gadis itu bahkan mampu berimprovisasi pada lagu-lagu yang sedang di-covernya.

Tapi ada lagi hal yang membuat Lay makin tercengang. Lagu kedua yang dibawakannya sekarang adalah lagu dari bandnya. Baby XO! Terlebih lagi lagu ballad itu adalah ciptaannya sendiri.

Lay sempat terpukau macam orang idiot saat melihatnya, menganga tanpa berkedip saat gadis itu melakukan improvisasi disana-sini namun tetap tidak menghilangkan nada asli dari lagu itu. Lay benar-benar takjub.

Sepertinya ia benar-benar melupakan rasa kesalnya kali ini.

“Dia keren!” celetuk D.O sambil ikut bergumam menyanyikan lagu yang sama dengan gadis itu.

“Ya, sangat.” Gumam Lay dengan sangat halus, yang tentunya hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarnya.

Beberapa saat kemudian, pertunjukan pun usai, menyisakan tepuk tangan membahana yang terdengar dari pengunjung cafe. Gadis itu membungkuk kecil dan cepat-cepat kembali masuk ke belakang panggung. Lay yang melihatnya telah pergi berniat untuk menemuinya, tapi ajakan pulang teman-temannya membuatnya harus mengurungkan niatnya.

Dengan perasaan penasaran yang berlebih akhirnya Lay pulang dan bersumpah ia akan kemari lagi menemui gadis itu, entah besok atau kapanpun. Entah karena alasan apa Lay ingin bertemu dengannya lagi, sebab alasan yang ia pendam diawal sepertinya sudah terdistorsi dengan alasan lain.

Niatnya untuk mencari gadis itu untuk menghapus semua foto norak dirinya saat menjadi waria sedikit mulai berubah dengan niat yang lain, bahkan Lay sendiri tidak mengerti hal ini. Pada intinya dia ingin bertemu gadis itu lagi!

“***”

Sesaat setelah sampai dalam dorm, Lay langsung membanting tubuhnya ke atas kasur, menghiraukan ketiga personil Baby XO lainnya yang berada di ruang tengah. Begitu pun dengan mereka yang sepertinya masih marah padanya, terbukti dengan sikap mereka yang mengacuhkannya sekarang.

Lay tak ambil pusing, karena ia tahu sikap marah teman-temannya akan segera reda saat hari berganti. Mereka memang mudah untuk berbaikan kembali.

“Lay!” panggil Suho saat Lay hampir mencapai alam bawah sadarnya.

Lay membuka matanya sedikit, “Kenapa?”

“Kau tahu?”

“Tidak,” jawab Lay cepat memotong ucapan Suho.

Suho yang tidak terima disela memukul kepala Lay dengan penggaris kayu yang ia temukan sembarang, “Ya! Dengar dulu sampai selesai!”

“I-iya maaf hyung.” Seru Lay sambil meraba bagian puncak kepalanya yang terasa sakit.

“Kata petinggi agensi, jika kita belum bisa membawa calon personil baru dalam waktu tiga hari, maka comeback kita akan tertunda selama setengah tahun karena persiapan band baru yang akan debut.”

“Ma-maksudnya?” Lay melotot. Sepertinya kesadarannya telah kembali.

“Maksudnya, band yang baru akan didebutkan lebih cepat, bulan depan.”

“Egois sekali mereka!” Seru Lay tidak terima.

Suho mengangkat bahunya acuh, “Begitulah mereka. Yang mereka tahu hanya popularitas anak didik mereka dn berhasilnya penjualan album. Apalagi kalau kita sampai mendapatkan award di ajang bergengsi, maka makin besarlah bayaran untuk anak didik mereka. Artinya, makin besarlah pendapatan mereka.” Jelas Suho panjang lebar.

“Tapi tetap tidak bisa begitu! Gila saja! Dua hari! Bagaimana bisa aku mendapatkan calon personil baru dalam waktu dua hari?!” Lay mulai kalap.

“Kalian bisa mengandalkan kami hyung, ya itu jika kami bisa.” Tiba-tiba saja Chanyeol masuk bersama Kris yang mengekor di belakangnya.

“Walau kau yang diberi tugas untuk mencarinya, kami juga akan membantumu.” Balas Kris

“Ta-tapi bagaimana bisa?” Lay nyaris membenturkan kepalanya ke dinding. Pusing sekali rasanya menghadapi dengan masalah sebesar ini.

Saat kepalanya telah buntu dalam berpikir, entah mengapa bayangan gadis itu kembali. Permainan gitarnya, suara serta nyanyiannya, dan kemampuannya untuk menghipnotis pengunjung cafe terlintas begitu saja dalam benaknya.

Kemudian, Lay tersenyum yakin, “Ah! Kalian semua besok ikut aku ditambah ajak manajer juga.”

Semua laki-laki yang ada disana memandang Lay dengan raut wajah bingung, “Kemana?” tanya mereka bersamaan.

“Aku…. Aku hanya ingin menunjukan kalian sesuatu.” Lay menyeringai kecil. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, yang jelas dia makin mempunyai alasan untuk menemui gadis itu lagi.

“***”

Keesokan harinya, seperti yang telah dijanjikan, Lay mengajak semua nggota band serta manajernya ke sebuah cafe yang terletak di pinggir kota Seoul. Hari ini mereka tidak sibuk karena memang sama sekali tak ada jadwal untuk mereka. Pihak agensi sengaja mem-vakum-kan mereka untuk sementara.

“Kenapa kau mengajak kami makan-makan?” Suho mengangkat sebelah alisnya bingung.

“Diam, dan tunggu sebentar lagi hyung.” Lay sudah memperhitungkan kapan gadis itu akan tampil kembali di atas panggung setelah sempat bertanya pada salah seorang pelayan.

“Kau menunggu pertunjukan seseorang, hyung?” Chanyeol kali ini angkat bicara.

“Jangan bilang kau sudah menemukan calon personil baru?” tanya Kris

“Dia laki-laki seperti apa?”

“Berapa umurnya? Masih mudakah?”

“Dia bermain gitar?”

“Apakah tampan?”

“Kuharap tampan, karena aku jamin IXO akan menjerit-jerit histeris saat kita pertama kali mengenalkannya.”

“Anak itu sungguh beruntung karena dia langsung debut.”

Lay menatap datar saat mendengar pertanyaan-pertanyaan dan ocehan yang keluar dari mulut anggota band serta manajernya.

“Kenapa kau diam saja?” manajernya bertanya pada Lay saat ia merasa tingkah laki-laki itu berbeda. Tidak seperti biasanya. Kini ia lebih terlihat kalem dan tenang.

“Haha…..” Lay tertawa garing. Tidak tahukah mereka kalau yang ditunggu bukan laki-laki, tapi dia WANITA!!

Wanita yang telah menyimpan rahasia memalukan dirinya.

Tak lama, suara tepuk tangan membahana. Refleks semua laki-laki yang datang bersama Lay mengalihkan pandangan mereka kearah panggung. Disana, di atas panggung sana, telah berdiri seorang gadis muda dengan rambut hitam panjang berponi terurai dengan menggendong sebuah gitar sambil membenarkan posisi stand mic yang ada di depannya. Beberapa laki-laki pun muncul di belakangnya dan mulai menempati posisi mereka. Ada yang duduk di belakang satu set drum, memeriksa senar bass yang digendongnya, serta mengecek sound system yang ada di atas panggung sana.

Semua diam, termasuk Lay. Ia merasa kalau hari ini bukan permainan gitar solo seperti kemarin. Gadis itu akan memainkan lagu bersama anggota band lengkap.

Suara petikan gitar gadis itu mengalun, menandai dimulainya sebuah lagu yang akan ia dan teman-temannya bawakan. Suara halusnya terdengar dari sound system dan mengalun begitu saja yang berhasil membuat semua anggota Baby XO—minus Lay—dan juga manajer mereka terkesima.

“Ini kan lagu kita.” Chanyeol berujar yang disetujui oleh anggota band yang lain.

“Sst! Diam! Kalian mau kita ketahuan oleh IXO dan juga stalker?” Lay menyikut lengan Chanyeol yang kebetulan duduk di sampingnya.

Lagu mulai mengalun, sama seperti kemarin, gadis itu melakukan improvisasi yang luar biasa hingga mampu membuat para anggota Baby XO tercengang. Ia behasil meng-cover lagu mereka dengan sangat jenius.

Lay tiba-tiba saja buka suara, “Aku tahu ini hal idiot yang pernah ada. Tapi gadis itu bagus sekali bukan? Aku ingin menjadikannya salah satu personil Baby XO.”

“HAH?!” satu respon yang keluar dari mulut mereka. Bahkan Kris tadi sempat tersedak dan menyemburkan kembali soda yang belum sempat ditelan olehnya.

“Jangan gila, hyung!” Chanyeol berseru.

“Kenapa?” Lay menunjukan tatapan yang seolah mengatakan ‘ini-ide-bagus-bukan?’

“Kau kira ini drama You’re Beautiful? Dan kau akan membuat gadis itu menyerupai lelaki, hyung?” sembur Chanyeol lagi.

“Bukan! Bukan begitu maksudku.” Tidak tahukah mereka kalau Lay punya maksud lain. Dia benar-benar ingin menguasai gadis itu dan juga mengawasinya tentu saja. Karena gadis itu merupakan satu-satunya manusia—selain teman satu genk-nya—yang mempunyai foto dan juga vidio saat ia berubah menjadi waria.

Itu memalukan!

“Lalu bagaimana?” manajernya kali ini yang akan bicara.

“Apakah kau sebegitu frustasinya dengan masalah ini hingga pikiranmu melenceng.” Kris memukul-mukul punggung Lay kasihan.

“Otaknya memang sudah melenceng kok.” Suho menyela.

“Lalu?” tanya manajernya kembali.

“Kita buat gebrakan baru saat comeback kita nanti. Dengan satu wanita yang akan menjadi personil kita yang baru.”

“YANG BENAR SAJA?!!!” seru mereka kompak.

“Dan lagi, gadis itu harus tinggal satu dorm dengan kita.” Tambah Lay dengan pose serius—yang sepertinya gagal.

“YANG BENAR SAJA?! KAU GILA!” lagi-lagi mereka berseru kompak.

“Bagus bukan? Hitung-hitung sebagai pelayan di dorm, dia bisa kita suruh untuk membersihkan dorm yang terlihat seperti kota habis terkena badai.”

“Ah kau benar.” Mereka kompak membenarkan ucapan Lay yang jelas-jelas ngawur.

Lay tertawa puas. Menjadikan gadis itu tawanannya? Haha! Terdengar konyol. Tapi mengingat masalah yang akan timbul saat gadis itu menyebarkan foto serta videonya, dendam kesumat padanya kembali membara.

Mungkin benar, Lay akan bunuh diri jika sampai ada berita yang mengatakan kalau dirinya adalah waria. Hell!

“Menurutku, dia cukup mumpuni,” manajer mereka terlihat menimbang, “kita tunggu hasil rapat dewan petinggi agensi, apakah setuju atau tidak dengan hal ini. Dan kau Lay, segera bawa gadis itu menemui kita di studio.”

“Itu bisa diatur hyung.” Lay menyeringai seram.

“***”

Gadis itu telah menyelesaikan penampilannya dan berniat meninggalkan panggung. Ia sempat melambai kecil pada seorang anak laki-laki yang duduk tepat di deretan pertama.

Kwon Mina namanya, gadis yang mempunyai sebuah rahasia memalukan dari seorang gitaris band yang sedang naik daun di Korea Selatan saat ini. Dialah yang akan menjadi objek sasaran derita dari rencana-rencana sadis yang akan diperbuat oleh Lay nantinya.

“Mina!” teriak drummer yang tadi satu panggung dengannya.

Mina menoleh, “Ya?”

“Habis ini kita minum.”

“Sip!” Mina mengacungkan jempolnya tanda setuju. Ia pun memutuskan untuk kembali masuk ke belakang panggung tanpa membuang waktu lagi.

Sesampainya ia di ruang ganti, Sehun, adiknya telah menunggu di depan pintu ruang ganti sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.

“Nuna!” panggil Sehun semangat.

Mina tersenyum dan kemudian mendekati Sehun, “Ada apa? Kenapa kau kemari?” tanyanya.

“Nuna, aku mau memberikan kunci apartemen. Aku akan menginap di Busan bersama teman-temanku.”

“Ah begitukah?” Mina menekuk bibirnya sedih, “nanti nuna sendirian di apartemen.”

“Cuma tiga minggu nuna. Ini juga demi sekolah.”

“Tapi tiga minggu itu lama Sehun!” Mina memajukan bibirnya kesal.

“Nuna kawaii, kan ada teman-temannya nuna.” Sehun memberi saran.

“Tapi kan kamu tidak ada Sehuna!” Mina kembali merajuk pada adik sepupunya itu.

“Kekekeke….” Sehun terkikik mendengar rajukan Mina barusan, “Nuna! Hati-hati di rumah sendirian ya. Jangan lupa kirim kabar tiap jam. Oke!”

Mina menjebi, “Harusnya aku kan yang bilang begitu.”

“Ya sudah, aku pergi dulu. Di luar Allen dan yang lain sudah menunggu. Dadah nuna!!” Sehun nyengir sambil melambaikan tangannya. Dirinya terus menjauh meninggalkan Mina sendiri di depan ruang ganti.

Setelah yakin adik sepupunya sudah tak terlihat lagi, Mina pun masuk ke dalam sana untuk mengganti semua pakaiannya dan bersiap untuk pulang dan tentunya menghadiri ajakan drummer tadi untuk minum-minum sebentar.

“***”

“Lebih baik aku segera menemui gadis itu.” Lay bangkit dari duduknya diikuti dengan ketiga personil Baby XO lain, termasuk manajer mereka pula.

“Kalau begitu, kami pulang dulu.” Ucap sang manajer.

“Aku yakin kalian tidak langsung pulang, paling tidak kalian tersangkut di sebuah tempat yang cukup menyenangkan.” Lay mencibir sambil menanda kutipkan kata terakhir dalam ucapannya barusan.

“Haha! Kami sudah ada janji, Hyung!” kilah Chanyeol.

“Tuh kan! Tuh kan! Kalian kejam sekali padaku.” Lay hampir saja menangis lebay saat tahu dirinya sama sekali tidak diajak bersenang-senang bersama mereka.

“Kau kan punya tugas yang harus kau selesaikan!” tuding Kris.

Bahu Lay melemas seketika, “Baik, baik.”

“Kami percaya padamu, walau terkadang tidak. Oke! Kami pulang dulu. Fighting Lay!” setelah berujar demikian sang manajer pun mulai menggiring anak asuhannya untuk meninggalkan cafe.

Lay melengos sebal dengan muka yang telipat-lipat saat melihat punggung mereka yang telah menghilang di balik kerumunan orang-orang yang baru saja datang.

Dan kini, saatnya Lay mencari gadis itu dan meminta semua foto nista dirinya beserta videonya untuk dimusnahkan. Bagaimana pun caranya dia harus bisa mendapatkannya walau ia harus menaklukan gadis itu dengan cara kejam.

Tiba-tiba saja aura dingin dan gelap menguar-nguar dari dalam dirinya membuat manusia-manusia disekitarnya merasakan hawa-hawa negatif dan jahat.

Mata Lay menyipit, dalam sekali gerakan ia langkahkan kakinya menuju belakang panggung. Sempat terjadi keributan kecil tadi karena salah seorang dari karyawan cafe tersebut melarang masuk siapa pun yang bukan pekerja disana. Dengan sedikit keahliannya dalam melobi dan juga beberapa lembar ratus ribu won yang dilipat-lipat dan diselipkan ke tangan karyawan itu akhirnya Lay bisa bebas masuk kesana.

Ia memperhatikan tiap lorong-lorong yang menghubungkan dengan beberapa ruangan serta dapur. Tapi setelah beberapa menit mencari, Lay akhirnya menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu dengan tulisan…

‘STAFF ONLY’

Baru saja tangannya terjulur untuk membuka knop pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar ke dalam menampakan sosok gadis dengan rambut panjang terurai yang tengah menggendong sebuah tas gitar di belakang tubuhnya.

Mata gadis itu terbuka lebar saat melihat siapa laki-laki yang kini berada tepat di depannya. Tubuhnya membatu seketika. Napasnya tercekat.

Berbeda dengan gadis itu, reaksi Lay cukup tenang malah bisa dikatakan reaksi yang ditunjukannya terkesan dingin. Beberapa detik kemudian sebuah seringaian tercetak jelas di bibirnya. Lay mengulurkan tangannya, hendak meminta sesuatu dari gadis di hadapannya.

“Mana foto-fotoku, hapus semuanya. Kalau tidak nyawamu akan terancam nona.” Kata Lay kelewat dingin.

Mina menelan ludahnya dengan susah payah, “A-aku sudah menghapusnya.” Ucap Mina gugup.

“Bohong! Kau tahu siapa aku kan? Aku tidak akan mudah percaya begitu saja. Mungkin saja kau sudah mengcopy-nya kemana-mana.”

“Ti-tidak begitu.” Mina makin gugup.

“Aku sama sekali tidak percaya. Ikut aku.” Tiba-tiba saja Lay menarik paksa lengan Mina untuk mengikutinya.

Awalnya Mina berontak, namun genggaman tangan Lay makin menguat hingga mampu membuat meringis sakit, “Hei! Pelan-pelan saja!” kata Mina sembari merasakan nyeri di pergelangan tangannya.

Lay menoleh kebelakang sebentar lalu kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke depan, “Ini masalah serius.”

“Kalau begitu maafkan aku, aku akan menghapus semua foto itu begitu juga dengan videonya, dan aku berjanji tidak akan menyebar luaskannya sebelum ku hapus,”

“Jadi benar bukan kau belum menghapusnya?”

Tenggorokan Mina tercekat, “I-iya belum. Aku belum menghapusnya karena aku belum menunjukannya ke Sehun.”

“Sial!” desis Lay.

“Mau kemana kita?” tanya Mina saat Lay menariknya hingga menuju pintu keluar yang hanya diperuntukan khusus bagi karyawan.

“Ke tempat ku.”

“Apa?!” Mina mulai mencoba melepaskan tangannya kembali, “aku tidak mau! Kau mau apa sebenarnya?”

“Ada dua alasan kenapa aku menyeretmu. Satu sudah kuucapkan tadi dan yang kedua menyusul setelah kau sampai ke dorm kami.”

“Tidak mau!”

Sempat terjadi adegan tarik-menarik antara Lay dan juga Mina selama beberapa saat. Mina yang kukuh serta Lay yang agak keras kepala sama-sama tidak mau mengalah membuat mereka terlibat pertengkaran kecil.

“Aku mau pulang! Lepaskan!” jerit Mina saat mereka telah sampai di depan gang yang sepi, karena memang saat ini jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.

“Ikut!”

“Tidak mau!” Mina dengan sekuat tenaga menginjak kaki kanan Lay hingga berhasil membuat laki-laki itu menjerit sakit serta melepaskan cengkraman tangannya.

Melihat kesempatan baginya untuk kabur sudah di depan mata, Mina dengan sekuat tenaga berlari menjauh meninggalkan Lay yang tengah meringis sakit memegangi kakinya. Lay pun akhirnya tersadar pada detik berikutnya. Matanya melebar saat melihat punggung Mina yang mulai menjauh.

“Hei tunggu!” teriak Lay.

Lay pun memutuskan untuk berlari mengejarnya. Terjadi selama beberapa saat adegan kejar-kejaran antara mereka. Mina terlonjak kaget saat melihat Lay yang sebentar lagi akan berhasil menyusulnya, maka dari itu sekuat tenaga ia menambah kecepatan larinya.

Lay menyeringai, “Kau kira kau bisa lolos dariku heh?!”

Sayang sekali, sekuat apapun Mina berusaha berlari menghindari Lay, laki-laki itu ternyata mempunyai kecepatan lari yang cukup tinggi sebab saat ini terlihat beberapa langkah lagi ia telah berhasil menyusul Mina di depan.

Mina yang mulai panik memutuskan untuk berbelok saat ia melihat sebuah gang kecil di depannya. Ternyata caranya ini cukup berhasil karena jarak Lay yang berada di belakangnya makin melebar. Mina tersenyum puas kali ini.

Ia makin menambah kecepatannya saat ia memutuskan untuk menyebrangi sebuah jalan raya yang saat ini cukup sepi karena tak nampak satu pun dari tadi kendaraan yang melintas. Tapi sayang, saat ia berada di tengah jalan kakinya tersandung dan ia pun jatuh terjerembab.

Lay berhenti tiba-tiba saat melihat Mina terjatuh, dengan sedikit khawatir ia berlari mendekati gadis itu, “Kau tidak apa-apa?” Lay pun mendekatinya dan kemudian berjongkok di depannya.

Mina tidak menjawab, hanya ringisan sakit yang keluar dari mulutnya. Mendengar hal itu Lay mendesah kesal, dengan malas ia pun memutar tubuhnya hingga memunggungi gadis itu.

“Ayo naik, kakimu pasti terkilir.”

Mina tercengang, “Hah?”

“Ayo cepat naik ke punggungku, kau mau disini terus-terusan? Atau berjalan dengan menyeret kakimu seperti itu?”

Mina tampak berpikir sebentar, “Ah baiklah,” ia pun akhirnya menyerah, pelan-pelan ia memutuskan untuk naik ke punggung Lay walau awalnya tadi hatinya sempat menolak.

“Jangan banyak bergerak, dan pegangan yang kencang.” Titah Lay saat ia mencoba untuk bangkit berdiri, Mina yang berada di punggungnya pun terkaget dan tadi ia sempat memeluk erat leher Lay hingga laki-laki itu nyaris kehabisan nafas.

“Ka-kau mau membunuhku?” tanya Lay sambil mengusap-usap lehernya pelan, “ternyata kau berat juga.”

Mina yang kesal atas perkataan Lay barusan pun memukul pundak Lay lumayan keras hingga berhasil mengundang jeritan dari mulut laki-laki itu.

“Kita mau kemana?” tanya Mina bingung saat ia menyadari Lay melangkahkan kaki seenaknya, menuju kearah berlawanan dengan arah apartemennya.

“Pulang,”

“Maksudku pulang kemana? Apartemenku bukan ke sebelah sana.”

“Siapa bilang pulang ke apartemenmu? Aku mau pulang ke apartemenku.”

“Hah?! Apa-apaan kau?” Mina memukul-mukul pundak Lay tidak terima.

“Diam atau kau kulempar.” Satu kalimat dari Lay tadi berhasil membuat Mina diam membatu.

“Kita pulang ke apartemenku dulu dan aku akan menjelaskannya padamu disana. Paham?” Lay bertanya dengan nada yang begitu otoriter yang berhasil membuat Mina mengangguk patuh.

“***”

BRAKK!

“Aku pulang!”

Lay menendang pintu apartemennya dengan paksa hingga berhasil manusia-manusia disana yang kebetulan tengah menyantap ramen di ruang tengah menyemburkan kembali makanan yang bahkan belum sempat tertelan. Kini mereka memandang aneh pada sosok Lay yang tengah menggendong seorang gadis.

“Hyung! Gadis mana lagi itu?” tanya Chanyeol dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.

“Sial!” Lay merengut.

Mina kini tengah tertidur pulas dalam dekapan Lay, gadis itu bahkan sudah tertidur saat di dalam taksi. Lay yang tidak tega untuk membangunkannya pun langsung membawanya begitu saja.

“Yah! Jangan terus-terusan melihatku seperti itu!” Lay yang tidak terima ditatap dengan penuh selidik seperti seorang terdakwa oleh teman-temannya pun berubah murka.

“Siapa saja tolong bantu aku, di bawah masih ada barang gadis ini yang tertinggal, gitarnya kuletakan di lobi. Tolong ambilkan, aku akan menidurkannya dulu.” Ucap Lay sambil lalu. Ia pun kemudian berjalan dengan lumayan cepat menuju kamarnya, jujur dua tangannya kini yang tengah menyangga leher serta bagian belakang lutut Mina terasa pegal luar biasa.

Setelah sampai di dalam kamarnya, dengan hati-hati Lay meletakan tubuh gadis itu agar ia tidak terbangun. Sesudahnya, ia pun melepaskan sepasang sepatu boots yang menutupi kakinya,  ”Ternyata kakinya benar-benar terkilir,” gumam Lay saat melihat luka lebam kebiruan di mata kaki gadis itu.

“Ini pasti sakit.” Sempat ada pemikiran untuk menyentuhnya tadi, namun dengan cepat ia urungkan.

Lay pun bangkit dari posisi jongkoknya dan kemudian meninggalkan gadis itu sendirian di dalam kamar sementara dia sendiri memutuskan untuk bergabung bersama personil Baby XO lain di ruang tengah.

“Hyung! Dia siapa?” tanya Chanyeol saat dirinya melihat Lay yang sudah keluar dari kamarnya.

“Bukankah dia yang bernyanyi di cafe tadi?” ucap Kris anteng yang dibenarkan oleh Suho sendiri.

“Memang—” belum sempat Lay melanjutkan ucapannya, Chanyeol dengan cepat memotongnya.

“Apa kau berbuat mesum kepadanya?”

“UHUK!!” Lay tersedak kaget, “Sial! Aku bukan orang macam itu!”

“Lalu?” tanya ketiga manusia disana—minus Lay—dengan kompak.

“Kita akan mengujinya besok di studio.” Seringai tercetak jelas di wajah Lay saat ia mengucapkan kalimatnya.

“STUDIO?!”

“Jadi kau benar-benar berniat menjadikannya member Baby XO?”

“Mungkin kepalanya terbentur.”

“Jika nanti dia dibenci IXO bagaimana?”

Lay sepertinya tak memperdulikan ocehan-ocehan yang keluar dari mulut teman-temannya. Yang ia pikirkan hanya satu, gadis itu. Gadis itu entah mengapa terus-terusan berada dalam pikirannya, apalagi saat penampilannya yang sukses membuatnya terkesima. Benar-benar mengesankan.

END

Click Here for Previous Chapter

Credit : SM Town Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s