Punishment

Title: Punishment

Author: HHR

Lenght : Oneshot

Genre : Comedy, Romance

Main Cast   :

  • Oh Sehun/Oh Sunghee
  • Park Minrin (OC)
  • Kim Jongin (Kai)
  • Xi Luhan
  • Ortu Sehun & Minrin

Note : FF ini asli buatan saya. Maaf kalau ceritanya gaje, typos, kepanjangan, aneh, dan endingnya absurd. Sunghee adalah nama yang sengaja dibuat hanya untuk di FF ini. Yang membaca mohon like nya. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Gamshahamnida.

.

*Punishment*

                Seorang namja yang masih duduk di bangku SMP melesat menggunakan skateboard kesayangannya. Namja itu sudah pasti baru saja pulang dari sekolahnya. Namja itu mengarah ke sebuah jalan yang biasa ia lewati, tapi sayangnya nasib baik sedang tidak berpihak padanya. Terjadi kecelakaan di jalan itu. Orang-orang bergerombol disana sehingga menutup jalan.

Sementara itu seorang yeoja yang mulai berumur melajukan mobilnya dengan kecepatan yang bisa dibilang tinggi. Yeoja itu melesat menuju sebuah jalanan, namun disana baru saja terjadi kecelakaan. Tak habis akal, yeoja itu menuju ke jalanan lain yang agak sepi. Semakin lama ia semakin masuk ke daerah yang semakin sepi.

Jalanan yang dilewatinya memang rawan terjadi kecelakaan. Namja itu berhenti melihat sekeliling. Ia mencoba mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini. Namja itu terus bergerak mencari jalan keluar sambil menghindari orang-orang disekitarnya.

Yeoja itu berhenti di depan sebuah gang kecil di kiri jalan. Tidak terlalu sempit untuk dilewati seseorang, tapi tidak muat jika dilewati kendaraan. Yeoja itu sengaja berhenti seperti menutup jalan menuju gang tersebut. Gang tersebut jarang dilewati karena gang tersebut sempit dan gelap.

Namja itu melihat sebuah gang kecil. Karena ia sudah sering melewati daerah itu ia hafal kemana ujung gang itu berada. Namja itu mengarahkan skateboardnya menuju gang tersebut dan bergegas pergi dari tempatnya semula.

Yeoja berumur itu mengunci semua pintu kecuali pintu tempatnya berada. Ia keluar dari mobilnya dan berdiri di samping mobilnya dengan pintu masih terbuka. Menunggu sesuatu masuk ke dalam mobilnya.

Brak!

Sesuatu –atau lebih tepatnya seseorang—benar-benar keluar dari gang tersebut dan masuk ke dalam mobil yeoja tadi. Yeoja itu tersenyum puas dan masuk ke dalam mobilnya. Yeoja itupun membawa pergi mobilnya dari tempat itu.

Namja itu –dan skateboardnya—masuk dan menghantam pintu mobil yang terparkir di depan gang. Namja itu meringis sambil mengusap pelan kepalanya yang terantuk kaca pintu. Namja itu mencoba untuk keluar, tapi terlambat, yeoja diluar sana sudah masuk dan membawa mobilnya pergi.

“Eomma?” kata namja itu terkejut melihat yeoja yang sedang membawa mobil tersebut. Tapi yeoja itu tetap diam dan fokus pada jalanan.

“Kenapa eomma disini?” tanya namja itu lagi. Yeoja itu tersenyum sinis.

“Berdo’a saja agar dia mengampunimu” kata yeoja itu sambil masih fokus menatap jalanan. Namja itu hanya bisa menelan ludah kecut melihat ekspresi dan mendengar jawaban eommanya. Ia yakin betul siapa orang yang dimaksud ibunya, ayahnya.

**

~at Oh’s family house~

Sehun POV.

“5 kali jadi penyebab tabrakan beruntun, 9 kali menabrak kios orang, 3 kali tawuran, 15 kali kabur dari sekolah, dan 4 kali memecahkan kaca gudang sekolah” Appa terus mengoceh tentang semua kesalahanku. Aku sekarang sedang di sidang di ruang tamu rumah.

Aku hanya bisa cengo mendengarnya. Dapat darimana semua itu? aku hanya diam di depan Appa. Aku sedikit melihat sekeliling, siapa tahu ada yang bisa membantuku. Tapi itu semua nihil.

“Oh Sehun!…” aku langsung diam dan menghadap Appa lagi.

“Kali ini tidak ada toleransi. Kau kuhukum..” aku menelan ludah kecut. Semoga saja hukumannya tidak berat.

“Bersekolah di sekolah di tempat yang sudah Appa tentukan..” aku menghela nafas lega. Untung tidak berat, paling-paling hanya masalah jarak.

“Tapi…” tiba-tiba Appa kembal bersuara.

“Kau harus masuk sekolah dengan indentitas seorang yeoja” mwo? Yeoja? Kenapa tidak sekalian saja suruh aku terjun dari tebing?

“Tapi Appa..”

“Tidak ada tapi-tapian!” kenapa nasibku sial seperti ini?

“Satu lagi..” mwo? Masih ada lagi?

“Kalau ada yang tahu kau namja, akan ada hukuman tambahan dimana kau tidak boleh menolak!” kata Appa tegas. Mati kau, Oh Sehun.

**

~at Sehun‘s room~

“Whahahahahahahaha…” aku menatap sinis pada ponselku yang kubiarkan begitu saja tergeletak di kasur. Seorang namja diluar sana sedang tertawa dengan asyiknya setelah mendengar penderitaanku.

“Sudah puas tertawanya?” tanyaku saat suara tawa itu mulai menghilang.

                “Belum, kusimpan itu untuk ceritamu selanjutnya” jawabnyanya dengan suara cekikikan disela-selanya.

“Jadi bagaimana?”

“Bagaimana lagi?” jawabku tidak semangat.

“Kau benar-benar akan jadi yeoja? Whahahahahahahahaha….” kali ini tertawanya lebih keras.

“DIAM KAU, KKAMJONG!!!” aku membuka jendela dan melemparkan bantalku keluar.

Kai terlihat terkejut mendapati bantalku sudah mencuri satu ciuman darinya. Rumah kami bersebelahan, dan kamar kami saling berhadapan. Jendela kamarnyapun terbuka. Mudah saja untukku melempat barang kearahnya.

Kai adalah teman satu sekolahku. Namanya sebenarnya Kim Jongin, tapi dia biasa dipanggil Kai. Tapi aku punya panggilan tersendiri, yaitu Kkamjong.

“Sehun-a” panggil Kai.

“Mwo?” jawabku dingin.

“Eyy, jangan galak-galak dong..” kata Kai.

“Ne ne Araseo”

“Bagus, yeoja memang tidak bagus kalo galak. Khekhekhe” kata Kai diakhiri dengan tawa khasnya.

Brak!

Dengan sigap ia langsung menutup jendela kamarnya setelah melihatku berdiri dengan tatapan tajam. Hampir saja aku mau melemparkan sebuah kursi kesana. Dari balik kaca jendela kamarnya kulihat Kai tertawa puas. Awas kau Kkamjong!

“Kalo kau cuma mau meledek kututup saja telponnya!” kataku tajam.

                “Camkkanman.. Camkkanman..” kata Kai.

“Waeyo?”

“Bagaimana kalo aku juga bersekolah di tempat yang sama denganmu?”

“Mwo?!” aku jadi bingung dengan orang satu ini.

“Begini, misalkan ada orang yang tahu kau adalah namja, kau mau minta bantuan siapa? Kalo ada aku, aku bisa membantumu menghindar” aku mulai mencerna setiap kata-kata Kai.

“ Lagipula orang tuamu juga pasti butuh seseorang untuk mengawasimu kan? Kau pilih mana, diawasi orang tuamu atau aku? Kalo kau mau, aku bisa meringankan pengawasanku padamu, bukankah kita teman?” sepertinya bagus juga idenya.

“Benar juga sih, tumben otakmu jalan” kataku sedikit mengejek.

“Dari dulu, cadel” sekarang justru giliran Kai yang mengejekku.

“O ya, kau sudah siapkan nama  belum?”

“Untuk apa?” tanyaku polos.

“Tentu saja untuk kau pakai saat jadi yeoja, kalo kau pakai nama Oh Sehun kau akan lebih cepat ketahuan kalo kau ini namja”

“Ooo..” jawabku ber-o-ria.

“Jangan-jangan belum?” tanya Kai lagi.

“Memang belum” jawabku polos.

“Dasar cadel”

Sehun POV end.

**

**

**

1 years later.

~at Exotic High School~ (author kehabisan stok nama)

“Jadilah yeojachinguku” kata seorang namja sambil memberikan sekotak coklat dan bunga.

Yeoja di depannya memperhatikan namja itu dari atas sampai bawah.  Mereka sedang berada di atap sekolah sebelum jam pelajaran dimulai.

Yeoja itu sangat cantik dengan rambut hitam panjangnya, kulitnya yang putih, dan badannya yang tinggi. Ia juga punya nilai akademis yang cukup bagus. Membuat namanya semakin dikenal diantara siswa-siswi disekolahnya.

Banyak namja di Exotic High School yang memperebutkannya. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menarik perhatian yeoja itu, tapi sayang, kebanyakan dari mereka berakhir dengan penolakan.

Ia meraih dua benda yang diberikan namja di depannya. Namja itu menunjukkan raut wajah senang melihat yeoja itu menerima hadiahnya.

“Mian, aku tidak suka subaenim. Gomawo hadiahnya” kata yeoja itu santai. Namja di depannya langsung membatu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut yeoja tadi dengan lancar.

Yeoja itu langsung meninggalkan namja yang membatu itu sendirian. Seorang yeoja lain berbadan sedikit lebih pendek sudah menunggunya di balik pintu menuju atap.

“Eotteokhae?” tanya yeoja cantik tadi sambil menuruni tangga.

“Tumben kau tidak sesadis biasanya?” tanya yeoja berambut pendek.

“Hehe, kurasa sesekali aku juga harus lembut pada mereka, lagipula dia sudah memberiku ini” jawab yeoja cantik itu sambil tersenyum dan menunjukkan barang bawaannya.

Yeoja cantik itu merasa sedikit bosan dengan dunianya. Setiap hari ada saja namja yang mendekatinya. Dan kebanyakan dari mereka tidak mudah menyerah. Sangat gigih untuk mendapatkan yeoja tadi.

Dan karena kepopulerannya itu tidak sedikit yeoja yang iri padanya. Bahkan beberapa pernah mencoba mencelakainya. Hanya seorang yeoja bernama Park Minrin yang benar-benar mau berteman dengannya. Minrin adalah yeoja unik yang tidak memperdulikan kepopuleran di kalangan siswa.

Cklek

Deg!

“Sunghee-aaa..” ada beberapa namja yang ternyata sudah menunggunya turun dari atap. Yeoja cantik itu –Oh Sunghee—dan Minrin—langsung terdiam melihat gerombolan masa di sepan mereka.

“Sunghee-a, eotteokhae?” tanya Minrin.

“Seperti biasanya, KABUUUR…” Sunghee dan Minrin langsung lari secepat mungkin menjauhi gerombolan itu.

**

~at Sunghee’s class~

Suasana kelas waktu itu terlihat damai. Belum terlalu banyak yang datang. Kebanyakan siswa yang sudah berangkat lebih memilih keluar kelas bersama teman mereka.

Di bangku paling belakang seorang namja berkulit coklat duduk. Ia sedang menikmati dunianya sendiri ditemani sebuah musik yang mengalun melalui ponselnya. Ia biasa dipanggil Kai.

Gruduk.. gruduk..

Sebuah kegaduhan terdengar diluar kelas. Suara tadi menandakan aktivitas namja-namja aneh di sekolah mereka sudah dimulai.

Glodak!

Brak!

“Hah.. hah.. hah..” dua orang yeoja masuk dengan nafas terengah-engah. Keduanya langsung menutup pintu dan mengganjalnya dengan tubuh mereka.

“Kalo begini terus.. hah.. bisa-bisa.. hah.. kakiku jadi berotot.. hah..” kata Minrin dengan nafas masih tidak teratur.

“Kalian dari mana?” tanya Kai sambil mendekati mereka. Mereka berdua menunjuk ke atas sambil masih mengatur nafas.

“Dari plafon?” tanya Kai dengan polosnya.

Pletak!

Sebuah jitakan dari Sunghee berhasil mendarat di jidat Kai.

“Dari atap, babo!” Kai mengusap kepalanya yang terkena jitakan manis dari Sunghee.

Mereka bertiga –Kai, Sunghee, dan Minin—adalah 3 sejoli tak terpisahkan. Bisa dibilang 2 diantara mereka cukup terkenal. Selain Sunghee, Kai dikenal si gelap tukang tidur yang mampu menyedot perhatian yeoja-yeoja di sekolahnya.

Tapi tanpa sepengetahuan kebanyakan siswa di Exotic High School ini, mereka bertiga sebenarnya partner in crime. Sunghee bisa berupah drastis dari yeoja cantik yang sangat diidolakan menjadi yeoja cuek dan usil. Beberapa kali mereka menjadi dalang kejahilan di sekolah mereka, tapi untungnya tidak ada yang tahu hal itu.

“Sunghee-a, apa yang kau bawa itu?” tanya Kai melihat coklat dan bunga di tangan Sunghee.

“Ini bom” kata Sunghee dengan santainya. Ia lalu berjalan menuju mejanya dan menaruh hadiah tadi disana

“Kau mau menjadi teroris, ha?” tanya Kai.

“Iya, jadi teroris hatimu” kata Sunghee sambil menoel Kai. Kai dan Minrin hanya diam melihat kelakuan temannya satu itu.

“Sepertinya dia terlalu banyak menonton acara gombal” kata Minrin yang dibalas anggukan dari Kai.

“Sudahlah lupakan, mumpung ada coklat ayo kita makan” kata Seunghee sambil membuka kotak coklat pemberian sunbaenya tadi.

Seperti biasa, Kai dan Sunghee – yang lebih sering dapat hadiah—memang selalu membagi 3 hadiah makanan yang diberikan siswa lain padanya dan memakannya bertiga dengan Minrin. Karena bagi mereka hadiah itu rejeki yang seharusnya dinikmati dengan teman.

**

Sehun POV.

Hoam…

Aku menguap cukup lebar. Sedari tadi aku sudah beberapa kali menguap, dan semakin lama semakin lebar saja mulutku. Wu Songsaengnim sedang berkotbah mengenai pelajaran paling membosankan di dunia, bahasa Inggris.

Suasana kelas menjadi tenang –sangat tenang—saat Park Songsaengim mulai berbicara di depan. Bukan karena memperhatikan, tapi karena mereka sudah melayang di alam mimpi. Coba saja kau lihat barisan belakang, pasti mereka sudah selesai membuat peta benua Asia.

Aku menyandarkan badanku pada kursi dan melebarkan kakiku, berusaha sesantai mungkin. Aku sebenarnya ingin tidur, tapi sayangnya aku duduk di barisan agak ke depan. Bunuh diri namanya kalo aku sampai ketiduran. Alhasil aku harus berjuang melewati setiap detik, menit, hingga jam paling membosankan dalam hidupku.

Pluk.

Aku merasa ada yang menyentuh pundakku. Aku menoleh dan menemukan sebuah kertas yang dikepal jatuh di dekat kakiku. Saat kubuka kertas itu ternyata kosong. Aku menoleh ke belakang mencari tahu pelaku pelemparan. Tapi sayangnya yang kulihat hanya wajah-wajah siswa lain yang sudah tertidur.

“Hey!” sepertinya ada yang berusaha memanggilku, tapi lagi-lagi aku tidak menemukannya. Jangan bilang dia penghuni kelas? Kurasa tidak mungkin, bagaimana bisa makhluk tersebut melempariku dengan kertas.

“Sehun cadel!” oke sekarang aku 100% yakin siapa yang melempariku, si Kkamjong.

“Wae?” tanyaku sambil menoleh padanya.

“Benarkan dudukmu!” kata Kai sambil berbisik. Sebenarnya aku agak sulit mendengarnya, tapi dari gerak bibirnya kurasa dia ingin aku membenarkan posisi dudukku.

“Memangnya kenapa?” tanyaku dengan watadosnya.

“Kau tidak merasakan dingin diantara kakimu? Kau lupa sedang menggunakan seragam apa, eoh?” tanyanya.

Benar sih, ada rasa semilir gimana gitu diantara kedua kakiku. Mungkin karena diluar sedikit mendung. Tapi tadi dia bilang apa? Seragam? Memang ada apa? Aku melihat kebawah dan mengecek seragamku.

Omo! Aku lupa aku sekarang adalah yeoja. Secepat kilat aku langsung duduk dengan benar dan mengatupkan kedua kakiku. Semoga saja tidak ada yang melihatku tadi. Aku menoleh kearah Kai dengan tatapan horor.

“Apa kubilang. Untung aku di belakangmu, coba kalo aku di depan dan melihatnya, bisa mimpi buruk bertahun-tahun tuh” kata Kai diselingi ejekannya seperti biasa.

“Sebagai tanda terimakasih, kau akan dapat JITAKAN MANIS dariku” kataku sambil memberi penekanan pada bagian ‘jitakan manis’.

“Tidak usah repot-repot, orang baik tidak butuh imbalan” katanya merendahkan diri. Dasar item.

Biar keperjelas sedikit. Aku Oh Sehun, anak yang mendapat hukuman dari Appaku untuk bersekolah menjadi yeoja. Dan saat menjadi yeoja namaku berubah menjadi Oh Sunghee. Nama yang kudapatkan melalui perdebatan alot dengan Kai.

Kalian sudah tahu Kai kan? Dia sahabatku, dan karena bujuk rayunya akhirnya aku mau saja diawasi dia. Dan jadilah dia bersekolah di tempat yang sama denganku, bahkan kami sekelas.

Ternyata ada untungnya juga membawa Kai kemari. Sekolah ini cukup jauh dari rumahku. Beruntunglah Kai yang punya saudara di sekitar sini. Ia bisa menumpang di rumah saudaranya. Kenapa aku tidak ikut Kai? Karena ternyata hanya tersisa 1 tempat untuk orang lain.

Alhasil aku harus mengalah dan menyewa rumah sendirian. Untung Appa masih baik padaku mau membayarkan uang sewanya. Di sekolah ini hanya Kai yang sejak dulu sudah aku kenal. Appa pintar sekali mencari tempat yang tidak kukenali.

Dan tentang Minrin, dia adalah sahabatku yang tulen yeoja, bukan sepertiku. Tidak kusangka saat aku menjadi yeoja, aku akan jadi sepopuler ini. Banyak yeoja sok manis yang mendekatiku karena ingin ikutan mejeng, tapi tidak dengan Minrin. Dia yeoja cuek tapi punya pemikiran maju, dia bahkan tidak berduli aku terkenal atau tidak. Itu yang membuatku, Kai, dan Minrin menjadi sahabat.

“Anak-anak, ada tugas untuk kalian..” kata Wu Songsaengnim tiba-tiba.

“Kalian buat satu kelompok terdiri dari 3 anak, saya sudah menulis acak nama-nama orang di sekolah ini, minggu depan kalian harus mendeskripsikan orang tersebut lengkap.” guru ini benar-benar sadis. Semua yang tertidur langsung bangun diikuti dengan suara “Ha?!” yang menggema di seluruh kelas. Tentu saja aku satu kelompok dengan Kai dan Minrin.

“Perwakilan kelompok silahkan maju” kelas langsung ramai dengan beberapa anak yang dipaksa kelompoknya maju memilih.

Aku menoleh kearah Kai, mengisyaratkan agar dia maju. Ternyata bukan hanya aku, Minrin juga memilih Kai. Sepertinya dengan berat hati Kai berdiri dan mengambil satu kertas.

Aku dan Minrin menunggu di kursi kami. Kai kembali dengan wajah yang.. errr.. sulit diartikan, antara senang dan bingung. Kai memanggil Minrin untuk membaca kertas itu, memastikan ia benar membaca nama yang tertera disana. Okey, feelingku mulai tidak enak.

Ekspresi Minrin saat membacanya juga sama seperti Kai. Aku berdiri dan menghampiri mereka mencoba membaca kertas itu. Tapi saat aku mendekat pandangan mereka justru semakin aneh.

“Waeyo?” tanyaku polos.

Kai langsung menghadapkan kertas tersebut kearahku. Aku membaca setiap huruf disana dengan teliti. Oke, ini benar-benar mimpi buruk. Aku menoleh ke Minrin dan Kai. Mereka berdua masih pada ekpresi mereka sebelumnya. Aku benar-benar sial.

Sehun POV end.

**

Sekarang adalah jam istirahat makan siang. Seperti biasa, jiwa-jiwa kelaparan siswa Exotic High School akan membludak. Membuat kantin penuh sesak dengan gerombolan siswa lapar.

Sunghee, Kai, dan Minrin sudah duduk manis di salah satu meja yang disediakan. Sunghee duduk sendirian menghadap Minrin dan Kai yang duduk bersebelahan. Bukan karena ada apa-apa, tapi ini sengaja untuk mengerjai Sunghee.

“Ya! salah satu dari kalian duduklah di sebelahku” minta Sunghee.

“Sirreo, aku tidak mau diomeli si anak Cina satu itu” jawabMinrin.

“Sama, lagipula pantatku terlanjur menempel di kursi” kata Kai santai sambil merapatkan pantatnya ke kursi.

“Sunghee-a” sang objek pembicaraan tiba-tiba muncul dan duduk di samping Sunghee.

Dia adalah Xi Luhan. Anak pindahan dari Cina. Dia adalah ketua OSIS di Exotic High School. Banyak yeoja yang menyukainya, tapi ia hanya menyukai Sunghee. Dia satu-satunya orang yang masih tetap gigih mendekati Sunghee meski sudah pernah ditolak.

Inilah alasannya Minrin duduk di sebelah Kai. Karena sudah pasti Luhan akan mendatangi Sunghee. Sengaja agar Luhan bisa duduk di sebelah Sunghee. Sunghee menatap tajam kedua temannya yang malah tertawa cengengesan melihatnya dengan Luhan.

“Kenapa sunbae disini?” tanya Sunghee datar.

“Memangnya tidak boleh? Kulihat tidak ada yang duduk disini” jawabnya polos.

“Tadinya Minrin mau duduk disini, tapi karena ada sunbae dia jadi di sebelah Kai” kata Sunghee menggunakan Minrin sebagai alasan.

“Aniyo Sunbaenim, duduk saja disana. Aku duduk dimanapun bisa kok” jawab Minrin mempersilahkan Luhan.

“Kau tahu Sunbae, itu hanya akal-akalan Sunghee saja. Dia sebenarnya canggung duduk di sebelahmu, makanya dia menggunakan Minrin sebagai alasan” kata Kai membuat Sunghee makin tajam menatapnya. Sementara Minrin dan Kai tertawa puas melihat hasil kerja mereka.

“Sunghee-a, tidak usah cangung. Bukannya kita sudah dekat?” kata Luhan sambil merangkul Sunghee. Sunghee hanya membalas dengan tersenyum singkat.

“Awas kalian!” bisik Sunghee sambil menatap tajam kedua temannya. Sementara tangan Minrin dan Kai bertoss ria dibawah meja saking senangnya.

“Minrin-a, kau ingat tugas dari Wu Songsaengnim?” tanya Kai. Minrin menoleh ke arah Kai dan melihatnya sedang menunjuk Sunghee pelan.

“Benar” Minrin yang mengerti maksud Kai langsung mengacungkan jempol.

“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Sunghee curiga.

“Kau ingat tugas dari Wu Songsaengnim tadi kan?” tanya Minrin sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum penuh arti.

Bagaimana mungkin Sunghee lupa. Huruf-huruf itu seakan tanpa dosa terangkai membentuk sebuah nama nista. Nama yang sebenarnya sangat malas untuk Sunghee menemui sang pemilik. Xi Luhan.

**

~at roof~

“Aigoo, lelahnya” keluh Minrin sambil memposisikan dirinya senyaman mungkin. Kai sudah tepar di lantai sementara Sunghee meremas-remas selembar kertas dengan brutalnya.

Mereka mendapat tugas untuk menanyai semua tentang Xi Luhan. Si ketua osis yang sangat gigih mendekati Sunghee. Sebenarnya Sunghee sangat malas berurusan dengan namja satu ini. Tentu saja karena Luhan akan sangat kesenangan melihat Sunghee mencarinya.

Dan sayangnya benar dugaan Sunghee. Luhan memang dikenal seperti belut, cukup sulit untuk dikejar. Luhan bisa pergi tiba-tiba tanpa sepengetahuan siapapun. Dan inilah yang terjadi sekarang.

Luhan yang tahu mereka bertiga membutuhkannya pun memanfaatkan keadaan. Ia mengeluarkan jurus belutnya untuk membuat mereka bertiga kualahan mencarinya. Berputar-putar hanya untuk menemukan jawaban bahwa Xi Luhan sudah pulang dari sekolah.

Mereka bertiga seusai pelajaran langsung menuju kelas Luhan. Sesampainya disana suasana kelas sudah sepi. Karena Luhan adalah ketua OSIS maka mereka melanjutkan dengan ke ruang OSIS. Tapi ruang OSIS pun sama, sepi. Orang terakhir disana bilang Luhan sering mengunjungi kantin sebelum pulang. Dan saat mereka sampai di kantin, lagi-lagi berita buruk yang mereka dapatkan, Luhan sudah pulang.

“Aish, orang itu benar-benar” omel Sunghee. Ia lelah bercampur kesal mencari Luhan.

Ia membayangkan wajah Luhan yang tertawa jika melihat mereka bertiga kualahan mencarinya. Membuat Sunghee siap untuk menghajarnya. Semakin menambah kesal perasaannya saja.

“Kita berputar-putar sekolah, dan ternyata dia sudah pulang” kata Kai sambil tidur-tiduran.

“Bagaimana kalau besok saat istirahat kita temui dia?” tanya Minrin.

“Waktu istirahat kita terbatas. Yang ada kita kehabisan waktu mencari dia” kata Sunghee.

“Ya sudah, kalau begitu besok saja pulang sekolah” kata Kai dengan entengnya.

“Ya, semoga saja tidak melelahkan seperti tadi” kata Minrin.

**

**

**

5 days later.

~at roof~

“Aku bosan..!!” teriak Minrin sekeras-kerasnya. Ia lagi-lagi mengeluh tentang tugas dari Wu Songsaengnim. Minrin lalu menjatuhkan dirinya sembarangan di lantai. Masa bodoh dengan kotorya atap.

“Sama, dan aku lelah seperti ini” keluh Kai. Sudah pasti ia yang pertama kali membaringkan badan sesampainya di atap.

“Membuat pola kemana dia pergi, sudah. Menanyai temannya, sudah. Mencegatnya di suatu tempat, sudah. Dan kenapa semuanya gagal?!” Sunghee mengacak rambutnya pelan sambil ikutan berbaring seperti ketiga temannya.

“Sudah 5 hari kita mengejar Luhan Sunbaenim, tapi dia benar-benar seperti belut, sulit dikejar” keluh Kai lagi. Mereka bahkan sudah mencoba bertanya tentang kepribadian Luhan pada temannya, tapi hasilnya yang mereka tahu hanya informasi umum Luhan.

“Kalau hanya informasi umum bisa-bisa nilai kita sedikit” tambah Minrin yang dibalas anggukan kedua temannya.

Luhan benar-benar lihai dalam menjadi belut. Awalnya ia yang selalu mendekati Sunghee, kini giliran Sunghee yang memutar orak mencarinya. Luhan bahkan sengaja tidak mendekati Sunghee beberapa hari ini untuk melancarkan misinya.

“Sunghee-a, kau punya nomor ponsel Luhan Sunbaenim kan?” tanya Kai.

“Kalau aku punya nomornya, bukankah seharusnya dari kemarin kita sudah bisa bertemu dengannya” jawab Sunghee datar.

“Kenapa tadi kita tidak tanya temannya saja?” tanya Sunghee.

“Sudah terlambat. Kalau kau mau, temui saja dia sendiri, aku sudah capek. Lagipula mungkin saja orangnya sudah pulang” jawab Kai pesimis.

“Eh, tunggu, bukankah kita punya alamat Luhan Sunbaenim?” kata Minrin tiba-tiba. Kai dan Sunghee menoleh dengan tatapan polosnya.

“Kenapa kita tidak tanya langsung ke rumahnya?” lanjut Minrin.

“Bagaimana kalau dia sedang tidak di rumah?” tanya Sunghee. Jujur ia masih malas berurusan dengan Luhan.

“Bagaimana kita tahu kalau belum mencoba. Kajja”

**

~at Luhan’s Apartement~

“Kau yakin ini alamatnya?” tanya Sunghee.

“Kurasa begitu, semoga saja begitu” kata Kai sambil mengecak alamat yang tadi ia catat dari teman Luhan.

“Luhan Sunbaenim hebat juga” kata Minrin kagum.

Disanalah mereka, di depan sebuah gedung apartement mewah. Hanya orang-orang yang memang punya uang berlebih yang mampu tinggal disana. Menurut alamat yang mereka miliki, Luhan tinggal di salah satu apartement di sana.

Mereka pun masuk ke gedung besar itu. baru sampai di lobi, sudah terlihat jelas bahwa ini tempat orang-orang berduit tinggal. Mereka masuk ke lift dan memencet lantai dimana Luhan tinggal.

Ting.

Lift terbuka. Mereka bertiga berjalan mencari nomor tempat Luhan. Apartement Luhan berada di ujung lorong, agak jauh dari lift. Mereka berdiri di depan sebuah pintu besar yang mewah.

Ting tong.

Kai memencet bel di depan pintu apartement Luhan. Beberapa menit mereka menunggu tapi pintu belum juga dibuka.

Cklek.

Akhirnya pintu apartement tersebut terbuka. Dari baliknya menyembul sebuah kepala yang sudah tidak asing lagi bagi mereka.

“Annyeong Luhan Sunbaenim” kata mereka bertiga sopan.

“Oh, kalian. Semangat juga kalian mengejarku, bahkan sampai kesini. Hahaha” Luhan tertawa renyah melihat perjuangan mereka.

“Silahkan masuk” Luhan membuka pintu lebih lebar agar mereka bisa masuk.

Mereka bertiga satu persatu masuk. Mereka sedikit terkagum-kagum melihat isi dalamnya. Sangat luas dan mewah. Luhan pasti adalah anak orang terpandang.

Mereka pun duduk di sebuah sofa setelah dipersilahkan Luhan. Beberapa menit kemudian Luhan kembali dari dapur. Ia membawa 4 gelas minuman dingin dari sana.

“Memang kalian dapat tugas apa sampai segigih ini mencariku?” tanya Luhan dengan watadosnya.

“Kami diminta untuk menceritakan semua hal tentang Sunbae” jawab Minrin apa adanya.

“Tolong Sunbae jangan kabur lagi, tugas ini harus dikumpulkan besok dan kami hampir kehabisan waktu” kata Sunghee to the point.

“Haha, baiklah. Karena kalian sudah disini, apa yang ingin kalian tahu? Lagipula ini kan menyangkut nilai Sunghee” Sunghee hanya menunduk sambil memijit jidatnya pelan.

Mereka membagi tugas, Kai dan Sunghee yang bertanya sementara Minrin yang mencatat. Tentu saja Kai tidak terlalu banyak bertanya karena pertanyaan Sunghee pasti dijawab lebih rinci dan jelas. Itu memudahkan kerja Kai tapi membebankan bagi Sunghee.

**

“Gamshahamnida Sunbaenim” kata mereka bertiga sambil membungkuk.

Setelah sekitar 35 menit bertanya-tanya akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Tentu saja itu karena ada Sunghee yang bertanya. Mereka pun berpamitan pada Luhan dan segera pergi.

“Hoah.. akhirnya..” seru Sunghee sesampainya di luar.

“Kurasa Luhan Sunbaenim tidak seburuk itu..” kata Minrin mengingat semua hal buruk yang selalu dikatakan Sunghee tentang Luhan.

“Mwo? Tidak seburuk itu?” tanya Sunghee.

“Nde, dia cukup ramah menurutku” kata Minrin lagi.

“Tentu saja ramah, bukankah ada Sunghee di depannya” kata Kai sambil menyikut Sunghee pelan.

“Aish, kalian ini benar-benar..” Sunghee mengangkat tangannya mencoba menjitak kedua temannya. Tapi bukan Kai dan Minrin namanya kalau tidak menhindar dari serangan Sunghee.

Tes. Tes . Tes.

Setetes demi setetes air hujan mulai turun. Langit memang sudah terlihat mendung sejak beberapa jam yang lalu. Dan sayangnya hujan baru tutun tepat saat mereka bertiga keluar dari rumah Luhan.

“Mwo? Hujan?” Sunghee mengadahkan tangan merasakan tetes hujan mengenai tubuhnya.

“Bagaimana kalau kita berteduh dulu?” usul Minrin.

“Tapi sekarang sudah sore, aku sudah capek ingin cepat pulang” keluh Sunghee.

“Coba lihat langitnya, mendungnya gelap sekali, sepertinya hujannya akan lama. Kalau kita menunggu yang ada kita tidak akan pulang” lanjutnya.

“Ya sudah, kita terjang saja hujannya” kata Kai.

“Mwo?!” Minrin dan Sunghee sepertinya tidak yakin dengan usul Kai.

“Bukankah katamu ini akan lama, kalau begitu kita terjang saja dan pulang” kata Kai lagi.

“Kajja” mereka bertiga pun langsung berlari menerjang hujan pulang ke rumah masing-masing.

**

~at Sehun’s house~

Sehun keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Ia baru saja sampai rumah setelah berlari pulang melewati hujan. Dengan handuk di atas kepalanya, Sehun mengeringkan rambutnya.

Sekarang ia sudah mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana selutut. Seragam, tas, beberapa buku, wig, semuanya basah kuyup. Ia menaruh barang-barangnya yang basah di depan kipas angin semalaman agar cepat kering.

“Haching!” Sehun tiba-tiba bersin.

“Aish, ini pasti gara-gara kehujanan” runtuknya.

“Kalau sampai besok aku flu, awas kau Kkamjong!” serunya kesal. ia meruntuki dirinya yang mau-mau saja mengikuti kata Kai dan berakhir dengan bersin-bersin malamnya.

**

**

**

The next day.

~at Exotic High School~

Sunghee berjalan gontai melewati lorong menuju kelasnya. Wajahnya terlihat lemas dan matanya terlihat sayu. Aura suram terpancar dari badannya. Semua siswa di lorong dibuat takut oleh aura Sunghee. Seakan-akan yeoja itu bisa menerkam dan membunuh diapa saja yang mendekat.

Bruk.

Tanpa sadar Sunghee menabrak seorang namja di depannya.

“Mianhae” kata namja itu sambil membungkuk pelan. Sunghee menoleh pelan kearah namja tadi.

“Gwaenchana..” kata Sunghee pelan dan datar seperti setan di film-film horor. Namja itu menelan ludah kecut dan langsung kabur dari tempat itu.

**

Jam pelajaran sudah dimulai. Sekarang adalah jam pelajaran olahraga. Sekelompok murid sebuah kelas sudah berada di lapangan basket di sekolah tersebut. Kelas tersebut adalah kelas dimana Sunghee belajar.

Tapi ada yang berbeda kali ini. Keadaan kelas yang biasanya ramai –apalagi diluar kelas—kini berubah menjadi sunyi senyap. Seakan-akan semua murid disana sedang beradu ‘siapa paling lama diam’.

Sebuah lingkaran mistis terbentuk. Siswa yang berada di dekat Sunghee memilih sedikit menjauh dari sumber aura suram disana. Menyisakan lingkaran sepi diantara Sunghee. Sementara sang sumber ‘kesuraman’ di kelas tersebut hanya cuek. Ia berdiri mematung sambil menundukkan kepala, rambut panjangnya menutupi sebagian besar wajahnya, membuatnya terlihat mengerikan.

Mereka sekarang sedang berlatih lay up. Murid-murid dibagi 2, namja dan yeoja, masing-masing berbaris menunggu giliran berlatih memasukkan bola ke keranjang.

“Awas!” tiba-tiba seorang namja berteriak. Sebuah bola basket melayang kearah barisan yeoja.

Duag!

Bola tersebut tepat mengenani kepala Sunghee. Semua yang melihat itu langsung menatap Sunghee dan terjadi keheningan di lapangan tersebut.

Sunghee masih diam bahkan setelah bola basket mengenai kepalanya. Sedetik kemudian ia akhirnya mengangkat wajahnya dan tersenyum. Senyumnya berbeda, senyum polos dan mengerikan. Semua yang melihatnya bergidik ngeri.

Bruk.

Seketika itu juga Sunghee pingsan.

**

~at Sehun’s house~

“Akhirnya kau bangun juga. Kau tadi pingsan atau tidur? Lama sekali” kata Kai melihat Sehun membuka matanya. Sudah sekitar 2 jam –mungkin lebih—sejak Kai membawa Sehun pulang. Sekarang ia berada di kamar Sehun.

“Kau ini kenapa bisa sakit sih? Kau tahu, susah payah aku membopongmu kesini, kau itu berat sekali!” keluh Kai.

Sehun dipulangkan awal karena badannya demam tinggi. Dengan rayuan maut milik Kai akhirnya ia juga diijinkan ikut pulang lebih awal untuk menjaga Sehun. Sekarang Sehun sedang berbaring di kasurnya. Di jidatnya bertengger sebuah handuk basah.

“Mana bisa orang sakit disalahkan, ini manusiawi” elak Sehun.

“Kalo sudah tau sakit jangan masuk sekolah dong, untung boleh langsung pulang, coba kalo masuk UKS, bisa ketahuan kau” ceramah Kai panjang lebar.

“Tapi nyatanya..”

“Sudah jangan banyak bicara!” Kai langsung menyumpalkan sebuah termometer ke mulut Sehun

“Khau thepelti eomma-khu thaja (kau seperti eomma-ku saja)” kata Sehun semakin cadel dengan termometer di mulutnya.

“Sudah diam saja! Ucapanmu makin aneh tau” ledek Kai. Sehun mendengus sambil menatap tajam Kai.

“Aku bawakan makanan sebentar” Kai langsung keluar dari kamar Sehun.

.

~beberapa menit kemudian~

Brak!

Pintu kamar Sehun dibuka tiba-tiba. Sang pemilik kamar yang sedang tiduran langsung duduk saking kagetnya.

“Sehun-a, dimana kau menyimpan makananmu? Kenapa hanya ada mie instan?” tanya Kai.

“Mhemhang tidhak adha”

“Mwo? Tidak ada?”

“Nhe, akhu belhum belhi makhanan (ne, aku belum beli makanan)” kata Sehun lagi.

“Dan obat?” tanya Kai.

“Akhu jugha tidhak punya obhat (aku juga tidak punya obat)” jawab Sehun sedikit kesusahan. Kai mencoba mencerna kata-kata Sehun yang lebih cadel dari biasanya.

“Aish, ya sudah aku mau keluar sebentar. Ganti pakaianmu sana, atau kau memang betah jadi yeoja” kata Kai lagi sambil keluar dari kamar Sehun. Mendengar kalimat terakhir Kai, Sehun memperhatikan pakaiannya. Ia masih menggunakan seragam sekolah lengkap, bahkan wignya pun masih ia pakai.

Kai mengambil beberapa lembar uang dari tasnya. Baru saja ia mau melangkah keluar ia teringat sesuatu. Kalau dia pergi keluar, lalu siapa yang menjaga Sehun?

Memang sih Sehun bisa jaga diri sendiri di rumah, tapi itu kalau dia sedang sehat. Masalahnya sekarang dia sedang demam tinggi. Beberapa menit ia berfikir sampai akhirnya sesuatu menghentikannya.

Ting tong.

Mendengar bel rumah Sehun berbunyi, Kai pun membuka kan pintu. Ternyata yang datang adalah seorang penolong baginya. Park Minrin.

“Minrin-a, untung kau datang” kata Kai menyambut yeoja yang datang.

“Apa Sunghee sudah baikan?” tanyanya.

“Coba kau cek dia sendiri, kamarnya ada di dekat ruang makan. O ya, sekalian tolong jaga dia, aku mau keluar membeli makanan dan obat. Gomawo” kata Kai sambil menepuk pundak Minrin dan langsung pergi.

Minrin masuk ke rumah Sehun. Ia mengamati rumah tersebut sambil terus berjalan. Rumah tersebut tidak terlalu rapi, bahkan terkesan seperti rumah yang dihuni namja.

“Rumah Sunghee ternyata tidak terlalu rapi, padahal dia yeoja populer. Ckckck” gumam Minrin. Jelas saja tidak terlalu rapi, yang ada di rumah itu adalah namja, sendirian pula.

Mengikuti petunjuk dari Kai, Minrin pun menuju sebuah kamar di dekat ruang makan. Binggo, ia menemukan sebuah kamar dengan tulisan ‘DO NOT DISTURB’ di pintunya. Minrin pun memutar knop dan membuka pintu kamar tersebut untuk mengemban tugas dari Kai.

“Khau thudhah kembalhi? Chefat thekalhi.. (kau sudah kembali? Cepat sekali..)” kata seorang namja di dalam kamar tersebut sambil membelakangi Minrin. Merasa tidak mendapat jawaban, namja itu membalik badannya.

Minrin diam terkejut. Di depannya berdiri seorang namja dengan termometer di mulutnya. Namja itu hanya menggunakan celana selutut dengan seragam yeoja bertuliskan ‘Oh Sunghee’ tergeletak di sekitar kakinya. Tidak berbeda dengan namja itu. Dia juga diam melihat ke arah Minrin.

“KYAAAAAAA… YADOOOOOONG..!!”

**

Kai berjalan dengan santainya menuju rumah Sehun. Di jalan ia merasa ada sesuatu di rumah sahabatnya itu. Tapi namanya juga Kai, ia tetap saja berjalan dengan santainya.

“Aku kembali..” Kai masuk ke rumah Sehun dengan santai.

“Hwaaa..!!”  tiba-tiba seorang namja yang masih bertelanjang dada berlari keluar kamar sambil berteriak. Di belakangnya seorang yeoja dengan brutal melempari namja tersebut dengan bantal dan memukul-mukul namja itu dengan guling besar milik Sehun.

“What the hell?” Kai terkejut melihat adegan ala Tom & Jerry di depannya. Kai pun reflek mengeluarkan ponselnya dan merekam hal di depannya.

“Ya! kau apakan Sunghee, ha?! Aku tahu dia cantik, tapi kau jangan berani macam-macam padanya, dasar yadong!!” teriak Minrin yang mengejar Sehun yang berlari berkeliling rumah.

“Ya! dengarkan aku dulu” Sehun berusaha menghindar dari amukan Minrin sambil mencoba menjelaskan.

“Ya! Kkamjong! Kenapa kau hanya diam? Bantu aku!” perintah Sehun pada Kai.

“Kata siapa aku diam, aku sedang membantumu tau”

“Membantu apa?!”

“Membantumu mengabadikan momen langka ini. Whahaha” kata Kai sambil tertawa melihat Sehun.

“KKAMJONG!!”

Bruk!

Sebuah guling besar yang tadi digunakan untuk memukuli Sehun terlempar dan mendarat di kepala Sehun. Membuat sang pemilik kepala oleng dan jatuh. Saat itu juga Minrin langsung menghujani Sehun dengan pukulan bertubi-tubi dengan guling di dekatnya.

“Ya! sekarang jelaskan apa yang kau lakukan pada Sunghee, dasar yadong!” kata Minrin galak.

“Kkamjong!” Sehun berteriak memanggil Kai lagi, tapi kali ini dengan wajah memelas.

“Sudah Minrin, biar aku ceritakan yang sebenarnya” Kai tiba-tiba menengahi pertengkaran antara Tom & Jerry di depannya.

**

                “Jadi kau ini adalah Sunghee?” tanya Minrin pada Sehun.

“Ne”

“Nama aslimu adalah Oh Sehun?”

“Ne”

“Kau disini karena dihukum appamu, dan karena itu juga kau merubah identitasmu?”

“Ne”

“Kai disini untuk mengawasimu?”

“Ne”

“Dan kau sebenarnya adalah namja?”

“Ne”

Tiba-tiba Minrin berhenti bicara dan diam seperti patung. Sehun menggerak-gerakkan tangannya di depan Minrin mengecek apakah Minrin masih sadar atau tidak.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

“Whahahahahaha…” reaksinya sama dengan Kai, tertawa. Minrin bahkan tertawa sambil memegang perutnya. Sepertinya ini begitu lucu bagi Minrin.

“Seriously?” ekspresi Minrin yang awalnya tertawa tiba-tiba berubah menjadi datar. Kai dan Sehun hanya diam sambil menatap Minrin.

“Itu sudah yang paling jujur” kata Sehun.

“Woa, daebak. Kau hebat juga, membohongi namja satu sekolah” kata Minrin kagum.

“Kecuali aku tentunya” kata Kai menambahi.

“Kira-kira bagaimana reaksi Luhan Sunbaenim kalo dia tahu?” kata Minrin. Seketika itu juga mereka bertiga membayangkan yang terjadi pada Luhan.

Minrin membayangkan Luhan akan menggeruk-garuk tembok, pundung di pojokan, atau bahkan sawan selama 3 hari. Sehun membayangkan Luhan akan pulang ke negaranya dan trauma pada yeoja tinggi dan putih. Sementara Kai membayangkan Luhan akan

“Khekhekhe..” mereka bertiga saling bertatapan sambil tersenyum evil. Membayangkan jika itu benar terjadi.

“Minrin-a, karena kau sudah tahu, kau mau kan merahasiakannya?” kata Sehun memelas.

“Tenang saja, aku akan diam. Lagipula tidak akan ada untungnya aku membocorkan ini” kata Minrin meyakinkan.

**

Jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam. Kai sengaja menginap di rumah Sehun untuk menjaganya. Bagaimanapun seseorang harus menjaga orang sakit, apalagi orang sakit yang tinggal sendirian.

Kai dan Sehun sekarang sedang menonton sebuah acara TV.

“Jadi sekarang bagaimana?” tanya Sehun pada Kai.

“Maksudmu?”

“Aish, kau kan disini untuk mengawasiku, tapi belum sampai setahun ternyata aku sudah ketahuan. Jadi sekarang kau mau melapor ke Appaku atau tidak?” tanya Sehun lagi.

“Sebenarnya aku bisa saja langsung melaporkanmu, tapi karena kita teman jadi aku akan diam kalau kau mau” kata Kai.

Drrrt..

Tiba-tiba ponsel Sehun bergetar. Di layarnya terpampang tulisan bahwa ibunya menelpon.

“Yeoboseyo” Sehun mengangkat telpon dari Eommanya.

“Yeoboseseyo Sehun-a..” sapa suara yeoja di sebrang sana dengan ramah.

“Eomma tumben telpon?”

“Memangnya kenapa? Eomma kan ingin tahu keadaan anak Eomma, kau baik-baik saja kan?”

“Ne, Eomma, hanya sedikit flu saja”

“Makanya, jaga kesehatanmu. O ya, bagaimana hukuman dari Appa?”

Deg.

Sehun langsung diam. Ia bingung mau menjawab apa pada Eommanya. Sehun melirik sekilas pada Kai yang dijawab dengan tatapan tidak tahu ala Kai.

“Kau belum ketahuan kan?” tanya Eommanya lagi. Sehun makin diam menjawabnya.

“Eemm, itu..” Sehun menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Jangan bilang kau sudah ketahuan?”

Jger.

Sehun langsung diam seribu bahasa. Seperti ada petir yang menyambar pikirannya. Bagaimana bisa Eommanya tahu. Sehun mencoba mencari alasan, tapi seketika itu juga otaknya seperti tidak bisa digunakan berfikir.

“Itu..”

“Jadi kau ketahuan ya. Sepertinya Eomma harus menyiapkan hukuman tambahanmu sekarang”

“Darimana Eomma tahu aku sudah ketahuan?” tanya Sehun bingung.

“Hey, Eomma sudah merawatmu dari kecil, tentu saja Eomma tahu hanya dari mendengar suaramu” Sehun langsung menepuk jidatnya mendengar kata-kata dari sang Eomma.

“Lalu hukumanku yang sekarang?”

“Yah daripada susah-susah memindahkanmu ke sekolah lain, lanjutkan saja sekolahmu. Nanti setelah lulus baru kau akan dapat hukuman tambahan” kata Eommanya dengan santai.

“Yasudah, Eomma tutup telponnya. Cepat sembuh chagi” kata Eommanya kembali lembut.

“Ne, annyeong eomma” Sehun menutup telpon dengan lesu.

“Waeyo?” tanya Kai.

“Ternyata Eommaku sudah tahu” jawab Sehun lesu.

“Mwo? Bagaimana bisa?” tanya Kai tidak percaya.

“Molla, katanya Eommaku sudah tahu dari mendengar suaraku”

“Wah, Eommamu benar-benar hebat”

“Lalu sekarang bagaimana? Kau akan pindah sekolah?” tanya Kai lagi.

“Aniyo, aku masih harus melanjutkan ini dan hukuman tambahanku nanti setelah aku lulus” kata Sehun semakin lesu.

“Selamat menikmati hukumanmu” kata Kai sambil menepuk pundah Sehun pelan.

**

**

**

3 years later.

~at Exotic High School~

Suasana sekolah saat itu ramai. Sangat ramai karena bukan hanya siswa sekolah tersebut yang berada di sana. Beberapa wali murid kelas 3 mulai berdatangan. Hari ini adalah hari kelulusan mereka.

Raut wajah puas, bahagia, dan sedih bercampur di wajah setiap siswa disana. Kebanyakan dari mereka memilih berkeliling bersama teman mereka, bahkan ada yang berencana untuk pergi bersama sebelum akhirnya mereka terpisah.

Begitu pula dengan Sunghee. Sekarang sudah saatnya Sunghee kembali menjadi Sehun dan menjalankan hukuman barunya. Sehun sebenarnya sudah tidak memikirkan kira-kira hukuman apa yang nanti akan dia dapat.

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Jujur saja, sebenarnya Sehun cukup menikmati hukumannya selama menjadi Sunghee. Ia bisa berpikir dengan cara lain dari biasanya.

Sehun masih sedikit tidak percaya ia sudah melewati hukumannya selama 3 tahun. Sudah banyak hal yang ia lewati bersama kedua temannya. dan sebenarnya antara Sehun dan Minrin mulai tumbuh rasa suka.

“Jadi kita akan berpisah ya?” kata Kai sambil menghela nafas. Ia menerawang ke langit. Entah apa yang sekarang ia lihat.

Mereka bertiga –Sunghee, Kai, dan Minrin—sedang berada di atap. Berbaring menatap langit seperti kebiasaan mereka sebelumnya.

“Hmm, rasanya aku masih belum ingin pisah” kata Minrin pelan. Mereka bertiga menghela nafas berat.

“Aku jadi ingin mengulangi kejahilan kita” kata Sunghee tiba-tiba.

“O ya, kau akan kembali jadi namja kan?” kata Minrin sambil menoleh ke arah Sunghee.

“Hah, kita tidak akan lagi mengenal Sunghee si yeoja cantik incaran Luhan Sunbaenim lagi deh” kata Kai menambahi.

“Aish, kalian ini senang sekali melihatku dengan si anak Cina itu” kata Sunghee sambil mendengus yang dibalas dengan tawaan senang Minrin dan Kai.

Lagi-lagi hanya diam yang menyelimuti mereka. Masih berat bagi Sehun dan Minrin. Terutama karena mereka mungkin tidak bisa saling bertemu lagi.

**

**

**

A fiew days later.

Minrin’s POV.

Aku kini sedang berdiri di depan cermin. Seorang yeoja seolah-olah berdiri dibalik sana. Jujur saja, pada awalnya aku seperti tidak mengenali yeoja itu. Yeoja itu cantik, sampai-sampai aku berfikir dia bukan bayanganku.

Aku menggunakan dress warna biru langit selutut dengan cardigan putih. Rambutku yang biasanya kuikat kini kubiarkan terurai. Dan bahkan sekarang aku menggunakan wedges setinggi 5cm pemberian eomma. Kalau dilihat-lihat ternyata aku cantik juga ya. Hahaha.

Aku keluar menuju balkon, menikmati hembusan angin yang menyejukkan. Baru saja aku lulus SMA, sekarang adalah saat untuk anak-anak seusiaku menikmati masa-masa sibuk untuk menjadi seorang mahasiswi. Begitu pula denganku.

Aku menarik nafas sepanjang yang aku bisa dan membuangnya. Aku kini berada di villa milik keluargaku di daerah pegunungan. Suasana disini sejuk. Apalagi di sini agak jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Sebenarnya di otakku ada rasa penasaran. Appa dan eomma mengajakku ke villa dan menyuruhku berdandan. Appa bilang aku harus menuruti semua katanya. Kata mereka akan ada tamu penting, tapi mereka tidak mau bilang siapa. Sebenarnya siapa orang itu? Sepenting apakah dia?

“Meow..” tiba-tiba  aku mendengar suara seekor kucing. Aku menoleh pada sebuah pohon tua di dekat balkon kamarku.

“Omo, Uno!” panggilku. Uno, kucingku tersangkut di atas pohon. Bagaimana dia bisa disana? Uno dalam bahasa Prancis berarti satu. Kuberi dia nama itu karena dia kucing pertama yang kumiliki dan satu-satunya temanku bicara, biarpun aku tahu dia tidak akan mengerti ucapanku. Uno adalah kucing betina ras campuran berbulu belang.

“Meow..” Uno kembali mengeong. Dia memperlihatkan wajah memelasnya padaku.

“Sebentar chagi, eomma datang..” yup, aku selalu memposisikan diriku seakan-akan Uno adalah anakku.

Aku sedikit mengangkat rokku dan memanjat pagar balkon. Untung saja aku memakai celana pendek di dalam, jadi bisa bergerak bebas deh. Aku mengambil ancang-ancang untuk lompat. Pohon tempat Uno berada tidak jauh dari balkon kamarku, dan sudah berkali-kali aku melompat ke pohon itu, jadi melompat kesana bukanlah hal sulit.

1..

2..

3..

Aku meloncat menuju dahan besar terdekat. Hap! Akhirnya aku sampai. Kubilang apa, ini mudah untukku. Aku memanjat menuju tempat Uno berada.

“Dapat kau” seruku saat berhasil mendapatkan Uno.

Kresek.. kresek..

O ow, feelingku mulai tidak enak, sepertinya dahan tempatku berada tidak kuat. Aku mencoba menjaga keseimbangan sambil berpindah menuju dahan yang lebih kuat.

Krak!

“Hwaaaa…” terlambat, keseimbanganku oleng dan jatuh bersama dahan yang tidak kuat tadi. Tempatku berada tadi cukup tinggi, kalau aku jatuh seperti ini dijamin pasti akan sangat sakit.

Aku menutup mataku rapat-rapat sambil memeluk Uno. Aku hanya bisa berharap lukaku nanti tidak terlalu parah, apalagi sampai meninggal. Oh God, aku masih muda dan terlalu cantik untuk mati sekarang. Oke, kuakui yang terakhir itu terdengar narsis.

Brak!

“Au..” aku meringis pelan saat sampai di tanah. Kaki kiriku terasa sangat sakit. Kau baru sadar aku lupa melepas wedgesku. Baboya!

“Uno!” Uno tiba-tiba saja pergi dari pangkuanku sesaat setelah menyentuh tanah. Namanya juga kucing, pasti lebih sigap.

Uno pergi mengejar seekor kucing berbulu kuning keemasan di sekitar taman. Ia pasti mendatangi pacarnya. Uno sudah besar rupanya.

Ya! Park Minrin! Ini bukan saatnya memikirkan Uno dan pacarnya, sekarang bagaimana aku masuk kembali ke rumah tanpa ketahuan kalau baru saja jatuh dari pohon.

Aku meraih batang pohon tadi untuk membantuku berdiri, tapi kenapa itu rasanya sulit sekali?. Aku menggerak-gerakkan tanganku meraih batang pohon, tapi sepertinya aku meraih sesuatu yang lain. Aku melihat kearah apa yang kupegang. Tangan? Siapa?

Aku mendongak melihat tangan siapa itu. Tangan halus dengan jari-jari panjang dan ramping. Jangan bilang itu tangan eomma.

“Aigoo..”

Aku diam melihat siapa sang pemilik tangan. Rasanya jantungku seperti habis berlari 3km, oke kurasa itu cukup berlebihan. Oh God, help me.

**

Sehun’s POV

Aku hanya diam sambil melihat keluar jendela. Pemandangan diluar sana bagus. Cukup bagus untuk membuang fikiran burung tentang apa yang akan terjadi nanti.

Aku sekarang mengenakan kemeja putih, celana hitam dan blazzer. Appa dan Eomma memintaku menggunakan pakaian yang cukup formal, tapi aku menolaknya. Begini saja sudah cukup formal untukku. Lagipula mau pakai apapun aku selalu terlihat bagus. Hahaha.

Appa dan eomma membawaku ke rumah teman appa. Sesuai perjanjian, karena aku gagal menyelesaikan hukuman appa, jadi aku hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Appa dan Eomma.

Kami mulai masuk ke sebuah villa mewah milik teman Appa. Villa ini luas sekali. Selain rumah bertingkat yang cukup mewah, disini juga ada taman kecil di sekitarnya. Teman Appa pasti sangat kaya. Aku kagum melihat tempat ini.

Aku pun turun setelah appa memarkirkan mobil kami. Aku melihat sekeliling dari tempatku, benar-benar bagus. Taman dan rumahnya dibuat sedikit bergaya ala Eropa klasik yang dipadukan dengan gaya modern. Aku jadi ingin melihat lebih banyak tempat ini.

“Appa, eomma, boleh aku melihat-lihat sebentar?” tanyaku.

“Ne, 1 jam lagi masuklah ke dalam” jawab appa. Aku mengangguk dan mulai menuju ke belakang villa.

Benar-benar tempat yang bagus. Disini sangat sejuk, apalagi dengan rumput dan pepohonan yang menambah kesan teduh. Aku rasa aku akan betah berlama-lama disini.

Aku berhenti di sebuah bangku taman di bawah pohon besar. Sepertinya pohon ini sudah cukup tua. Aku duduk dibangku tersebut dan menutup mataku, menikmati sejuknya udara disana.

Kresek.. kresek..

Suara apa itu? aku membuka mataku dan melihat sekeliling. Tidak ada siapapun kecuali hewan-hewan kecil yang memang biasanya berada di sebuah taman. Pasti hewan-hewan itu. Aku menyandarkan punggungku pada sandaran bangku taman itu lagi.

Krak!

“Hwaaaa…” aku membuka mataku lagi. Kini yang terdengar suara seorang yeoja berteriak. Suaranya seperti dari atas pohon. Aku berdiri dan melihat dimana yeoja itu.

Brak!

“Au..” yeoja itu meringis saat ia sampai di tanah. Ia berada tepat di balik pohon di belakang bangku taman. Perlahan aku mendekatinya, mungkin dia butuh bantuan.

“Uno!” ia berteriak pada seekor kucing belang yang tadi sepertinya jatuh bersamanya. Kucing itu pergi entah kemana. Sementara itu yeoja tadi masih meringis sambil memijit kaki kirinya pelan. Pasti kakinya terkilir karena terjatuh.

Aku seperti pernah mendengar suaranya. Aku semakin mendekatinya, memastikan siapa yeoja itu. Ia terlihat cukup sederhana untuk pemilik villa bagus ini, tapi ia juga terlihat sangat menawan.

Aku menjulurkan tanganku. Baru saja aku mau menawarkan bantuan, ia sudah memegang tanganku. Ia sepertinya bingung dengan kedatanganku. Yeoja itu melihat tanganku untuk beberapa saat. Pelan-pelan ia mendongakkan kepalanya dan melihat kearahku.

“Aigoo..”

Deg!

Dia seperti.. Minrin? Aigoo.. kenapa ia bisa jadi cantik begini? aku diam melihat penampilannya hari ini. Aku belum pernah melihat Minrin menggunakan dress. Apa benar ini dia?

Sekarang dia terlihat sangat feminim dan cantik. Baru pertama ini aku melihat yeoja dengan wajah semanis ini. Hey! Sudah berapa lama aku melamun?

“Butuh bantuan?” kataku basa-basi sambil membantunya berdiri. Oh Sehun, tentu saja dia butuh bantuan, dia baru saja jatuh dari atas pohon. Aku meruntuki diriku sendiri yang melontarkan pertanyaan aneh.

“Nde, gomawo” balasnya.

Aku mengalungkan lengan kirinya dan memapahnya. Aku menuntunnya menuju bangku taman. Ia masih pakai sepatu, pasti gara-gara itu kakinya terkilir. Ia masih meringis bahkan saat aku membantunya duduk.

“Sebelah mana yang sakit?” tanyaku sambil berjongkok di depannya. Dia menunjuk kaki kirinya, tepat dibawah mata kaki.

Aku menarik kakinya, melepas sepatunya dan memijitnya pelan. Ia sedikit meringis, sepertinya sangat sakit. Aku kembali memijit kakinya, tapi kali ini agak lebih keras.

Pletak!

“Pelan-pelan, babo! Kau kira terkilir itu tidak sakit?!” sekarang aku yakin dia Minrin.

“Salah sendiri manjat pohon masih pakai sepatu, tinggi pula” sergahku.

“Hehe.. aku lupa melepasnya tadi” jawab Minrin sambil cengar cengir.

“Masih untung aku mau bantuin malah dijitak, mana balas budimu?” kataku sambil berdiri.

“Kau mau bonus jitakan lagi?”

“Tidak terima kasih, aku sudah kenyang”

“Kau kenapa ada disini?” tanyanya. Aku mendongakkan wajahku menatap kearahnya.

“Kau bertanya padaku?” pertanyaan anehlah yang justru keluar dari mulutku.

“Bukan, tapi rumput di sebelahmu. Tentu saja kau, Oh Sunghee”

“Eits, namaku bukan Sunghee”

“O ya, lupa, siapa namamu?” dasar Minrin pelupa.

“Sehun”

“Nah, itu maksudku” kata Minrin. Dasar pelupa.

“Kenapa kau disini?” lanjutnya mengulangi pertanyaan tadi.

“Orangtuaku mengajakku kesini, ada urusan dengan teman Appa katanya” jawabku. Mendengar jawabanku Minrin terlihat memperhatikan penampilanku.

“Wae?” tanyaku dengan polosnya.

“Aniyo” jawabnya singkat.

“Kau sendiri?”

“Nanti kau juga tau” jawab Minrin singkat.

Lagi-lagi aku dan Minrin diam. Sesekali aku melihat Minrin meringis kesakitan.

Tiba-tiba seseorang datang ke arah kami. Seorang yeoja dengan pakaian mirip seragam berjalan dengan sopan kemari. Dia membungkuk pelan sebelum akhirnya bicara.

“Maaf tuan, nona, kalian diminta datang ke ruang makan” katanya sopan.

“Kau bisa berjalan?” tanyaku sambil membantu Minrin berdiri. Sepertinya dia masih agak kesulitan berjalan.

Aku mengalungkan tangan kirinya ke bahuku dan membantunya berjalan. Pelan-pelan kami mengikuti yeoja itu masuk. Yeoja itu menunjuk ke sebuah ruangan di dalam sana.

“Tunggu..” kata Minrin pelan. Aku pun menghentikan langkahku.

“Wae?”

“Disini biar aku jalan sendiri” kata Minrin sambil melepas tangannya dari pundakku.

“Kau bisa?” tanyaku khawatir.

“Harus bisa. Eommaku bisa ceramah kalau melihatku masuk dengan kaki terkilir, apalagi sampai dipapah” katanya.

Kami pun masuk ke ruangan yang ditunjukkan yeoja tadi. Aku dan Minrin membungkuk pelan saat pertama masuk. Disana kulihat Appa dan Eomma duduk bersebelahan dan di depan mereka sepasang namja dan yeoja yang mulai berumur. Kurasa mereka Appa dan Eomma Minrin.

“Akhirnya kalian masuk juga” sambut Appa Minrin.

Kulihat Minrin berjalan agak lamban mengingat kakinya yang sakit. Tapi dia cukup hebat menyembunyikan rasa sakitnya. Aku dan Minrin pun duduk di samping kedua orang tua kami.

“Karena mereka sudah datang, bagaimana kalau kita langsung ke pokok bahasan” kata Appa Minrin lagi.

“Sebenarnya begini, karena keakraban keluarga kita dan untuk memajukan bisnis satu sama lain..” kata Appa terpotong di tengah.

“.. Jadi kalian berdua akan kami jodohkan” lanjut Appa.

“MWO?” aku dan Minrin langsung bertanya dalam waktu bersamaan.

“Ternyata kalian kompak juga” kata Eomma Minrin. Aku menoleh padanya pelan. Sepertinya ada semburat merah di pipinya.

“Minrin, Appa sudah bilang kali ini dengarkan Appa, jadi jangan membantah” titah Appa Minrin.

“Ne” Minrin hanya menjawab singkat sambil tertunduk.

“Sehun, kau juga sedang dalam hukuman, jadi kau tidak boleh menolak” kata Appa tegas.

“Ne Appa, aku sudah tahu” jawabku.

Aku melihat ke arah Minrin yang tadi tertunduk. Sepertinya dia bukan meratapi nasib, tapi dia tersenyum. Lagipula, kurasa aku juga setuju dengan hukuman Appa kali ini.

*End*

Credit : EXO Fanfiction Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s